I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Sigit Dan Mira part 2



Mira terhuyung, jatuh ke samping namun selamat. Walaupun tangannya yang tak siap harus terkilir, karena menahan berat tubuhnya.


Ia berusaha bangun, dirasakan pergelangan tangannya nyeri. Ia mengibas-ngibaskan tangan menyapu tanah yang menempel dipakaiannya, dan sikunya juga terasa perih, ada goresan aspal yang melebar disana.


Setelah ia bisa berdiri, ia mencari keberadaan Sigit. Sudah banyak warga yang keluar rumah, berkerumun. Karena gelap, pandangan Mira terbatas. Bahkan kini ia sendiri tak bisa melihat dimana Sigit. Begitu ia oleng karena dorongan Sigit, dia sendiri tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya.


" Mbak tidak apa-apa?" Tanya beberapa warga yang menghampirinya.


" Tidak, saya baik-baik saja. Hanya tangan saya sakit."


Mira menunjuk pergelangan tangannya yang mulai membengkak.


" Itu terkilir." Seorang warga hendak melihat lebih jelas kondisi tangan Mira, namun fokus Mira sekarang hanya pada Sigit.


" Dimana teman saya?"


Mira ikut melihat, mencari keberadaan Sigit ditengah warga yang bergerombol berkerumun melihat kondisi korban.


Ia melihat ada sesorang tergeletak, dari kejauhan. Matanya nanar, pikirannya mulai kacau, bahkan ia sekarang tak bisa berhenti untuk tidak berpikir tentang kejadian buruk tentang Sigit.


" Mas Sigit" Mira berteriak, langsung berlari menuju tubuh yang tergeletak itu, bahkan orang-orang yang berkerumun itu langsung menyingkir mendengar Mira berteriak dan berlari.


Mira langsung berjongkok untuk melihat dari dekat, menyentuh tubuh bersimbah darah berbalut jaket hitam. Namun tangannya berhenti akan menyentuh, ketika wajah itu ternyata bukan wajah Sigit. Seketika dia beringsut mundur.


" Nyawanya tak tertolong mbak."


Mira menggeleng, namun matanya sekali lagi berkeliaran mencari sosok Sigit.


" Dimana temanku?"


Mira membelah kerumunan warga yang semakin bertambah. Kini matanya berpusat pada sosok lain yang sedang dikerumuni warga juga. Ia makin panik saja. Jika yang tadi bukan Sigit, berarti yang ini.....


OH.... tidak... Tidak, Ya Tuhan, jangan biarkan ini terjadi.


Mira langsung menerobos masuk begitu saja, bahkan ia hampir jatuh jika saja tak di tolong oleh warga.


" Hati-hati mbak."


Mira tak menghiraukan peringatan orang itu, ia langsung menutup mulutnya ketika melihat kondisi Sigit yang tak jauh beda dengan orang yang tadi ia lihat. Namun, ia melihat jemari tangan Sigit yang masih bergerak. Segera Mira mendekat. Memegang tangan itu, dan menyibak wajah tertutup poni.


" Mas Sigit." lirihnya.


" Mas..... bertahanlah."


" Tolong... Tolong, dia teman saya, dia masih hidup. Saya harus membawanya ke rumah sakit. Tolong saya."


Mira meminta orang-orang yang berkerumun untuk membantunya, namun ucapan warga membuatnya kecewa.


" Maaf mbak, kami harus menunggu polisi, karena kecelakaan ini menyebabkan korban meninggal."


Mendengar itu, emosi Mira langsung tersulut. Ia tak bisa menahan diri lagi. kepanikan yang ia rasakan melihat Sigit yang merintih membuatnya tak bisa lagi menahan amarah.


" Apa kalian akan menunggunya mati juga!" Teriak Mira, sambil membantu menyangga kepala Sigit yang terus mengalir darah. Entah bagaimana kejadiannya, ia tak ingat sama sekali.


" Tolonglah, dia sekarat. Bantu saya bawa ke rumah sakit." Mohonnya .


Ia berusaha bangkit, membangunkan tubuh Sigit untuk dipapah, sayangnya tubuh Sigit yang lebih tinggi darinya membuatnya kesusahan.


Semua warga tidak ada yang mau mendekat saat itu.


" Jika nanti polisi datang, saya yang akan bersaksi, sekarang saya mohon bantu saya, teman saya harus dibawa ke rumah sakit. Tolong.... tolong saya."


Mira merangkul tubuh Sigit, berusaha menahan tubuh itu agar bisa ia topang. Kadang mulutnya memohon dan berteriak meminta pertolongan warga.


Beruntung dua orang laki-laki langsung menerobos dan membantu Mira.


" Pak Nathan, opa."


Seketika Mira merasa lega, karena Sigit mendapat pertolongan. Tergesa ia berlari menyusul bosnya yang menggotong tubuh Sigit masuk ke dalam mobil.


Mira membuka pintu mobil dengan sigap, lalu masuk untuk membantu dari dalam. Ia sudah tak peduli lagi dengan keadaannya yang berantakan. Yang ia pikirkan sekarang adalah keselamatan Sigit.


Pak Nathan dan opa langsung masuk ke dalam mobil, dengan pak Nathan yang mengemudi.


Beruntung rumah sakit tak terlalu jauh, 15 menit mereka sudah sampai.


Sigit langsung dibawa ke unit gawat darurat, sedangkan Mira yang belum merasa tenang diajak duduk oleh opa.


" Minumlah." Opa menyodorkan botol minum untuk Mira, namun opa terkejut ketika melihat kondisi tangan Mira yang membengkak.


" Kamu terluka Mira?"


Mira sebenarnya berusaha untuk kuat demi Sigit, sayangnya setelah melihat Sigit dibawa ke UGD, tubuhnya serasa tak bertulang. Ia hampir roboh, jika opa tidak membawanya duduk. Namun tetap saja, akhirnya dia harus kehilangan keseimbangan dan kesadarannya secara bersamaan.


" Dokter... Nathan.. Tolong Mira."


Nathan langsung meminta perawat yang lewat untuk membawa Mira juga. Karena sekarang Mira pingsan dalam keadaan duduk bersender pada dinding.


Suasana menjadi tegang, karena dokter tak kunjung keluar dari UGD.


Nathan dan opa bahkan bingung sekarang harus bagaimana.


" Belum opa." Jawab pak Nathan, ia belum bisa berpikir sebelum mengetahui keadaaan pekerjanya.


Dokter keluar, membuat Nathan dan opa segera berdiri dan siap mendengar kondisi Sigit dan Mira.


" Untuk pasien bernama Sigit, kami harus segera melakukan operasi. Ada pendarahan dibagian kepala. Dan juga kami butuh donor darah untuk pasien, karena golongan darah pasien sangat langkah dan rumah sakit tidak memiliki stok darahnya. Jika keluarga ada yang memiliki golongan darah sama, harap segera menghubungi pak." jelas dokter.


" Memang golongan darahnya apa dok?" Tanya opa.


" Rh-null pak, bahkan sangat disayangkan golongan darah ini sangat jarang ditemukan. Karena kemungkinan yang memiliki jenis golongan darah ini kurang dari 50 orang, itupun di dunia. Jadi kami hanya bisa menyarankan untuk segera menghubungi keluarga. Karena ada kemungkinan faktor genetik bisa menolong untuk menemukan pendonor." Saran dokter.


" Nathan segera hubungi keluarga Sigit."


Nathan sendiri sebenarnya juga bingung harus bagaimana menghubungi keluarga Sigit, karena dia juga tidak memiliki nomor keluarganya. Satu-satunya cara adalah Nano.


Beruntung setelah ia menghubungi Nano, Nano langsung menghubungi orang tua Sigit yang ada di Tangerang.


" Mereka mungkin akan tiba malam ini pak." Nano yang mendapat kabar dari pak Nathan langsung menyusul ke rumah sakit.


Dokter keluar dari ruangan Sigit dengan sangat tergesa. Membuat semua yang menunggu merasa semakin panik.


" Kami harus segera melakukan operasi pak, karena kondisi pasien semakin memburuk. Bagaimana dengan pendonor apa sudah ditemukan?" Tanya dokter.


" Belum dokter, kami sedang menunggu keluarga pasien." Jawab Nathan.


" No, telpon lagi sudah sampai mana mereka!"


Nathan jadi tak sabar juga sekarang, terlalu kawatir karena dia harus bertanggung jawab mengingat kedua pasien adalah karyawan di rumahnya.


" Masih sampai Jakarta pak." Jawab Nano setelah menelpon kembali keluarga Sigit.


" Sudah ditanyakan pada pihak keluarga tentang pemilik golongan darah yang sama dengan pasien?" Tanya dokter. Nano cepat tanggap dan langsung menghubungi kembali keluarga Sigit.


" Mereka bilang ibunya punya golongan darah yang sama dokter." Nano menjawab setelah mendapat info dari keluarga.


" Bagus, saya harap kedatangan mereka segera. Karena ini sangat darurat."


Mira keluar dari ruang perawatan. Dia sadar dan langsung mencari keberadaan Sigit. Ia melihat dokter yang sedang berbicara dengan bosnya dan Nano.


" Bagaimana keadaan teman saya dokter?" Mira langsung bertanya tanpa merasa tidak enak dengan keberadaan bosnya.


Rasa bersalahnya karena membuat Sigit celaka lebih mendominasinya saat ini.


" Anda teman yang tadi bersama dengan pasien?" Dokter melihat baju Mira yang masih bernoda akibat darah Sigit.


" Iya dokter saya." Jawab Mira.


" Sebaiknya anda istirahat dulu."


" Saya baik-baik saja. Bagaimana keadaaan teman saya?" Mira mengulang pertanyaan yang sama.


Belum sempat menjawab seorang perawat menghampiri dokter, menginformasikan bahwa Sigit kritis.


" Siapkan operasi sekarang."


Dokter kemudian masuk mengikuti perawat, keadaan kian mencekam dengan berlalu lalangnya beberapa dokter dan perawat yang keluar masuk ruangan tempat Sigit ditangani.


" Bagaimana dengan golongan darahnya dokter?"


Mira tak sengaja mendengar percakapan itu, langsung menghentikan dua orang yang berprofesi sebagai dokter.


" Maaf dokter, memang pasien perlu donor darah?" Tanya Mira.


" Iya dek, dan golongan darah pasien ini sangat langka. Pihak keluarga yang memiliki golongan darah sama belum sampai, sedang kondisi pasien makin gawat."


Mengingat golongan darah, Mira pernah mendonorkan darahnya saat ada pasien di kampungnya. Ia ingat bahwa golongan darahnya bisa diberikan pada siapa saja. Dan dokter waktu itu juga menyebutkan bahwa golongan darahnya disebut sebagai golden blood, karena sangat istimewa, bisa diberikan pada siapa saja tanpa terkecuali.


" Mungkin saya bisa membantu dokter." Ucap Mira.


" Memang golongan darah adek apa?" Tanya dokter.


Mira mengeluarkan ktp dan kartu golongan darahnya dari tas. Memberikannya pada dokter.


Dokter meneliti kedua kartu itu, menatap heran pada Mira.


" Apa adek ini keluarga pasien?" Tanya dokter.


" Bukan dokter, saya teman kerjanya." jawab Mira.


" Golongan darahnya cocok, kita lakukan transfusi sekarang."


Semua yang mendengar perkataan dokter menatap tak percaya pada Mira, termasuk oma dan bu Rita yang baru saja datang.


Dengan begitu Mira langsung dibawa masuk oleh dokter ke ruang khusus.


Meninggalkan beberapa manusia yang menyimpan teka-teki tentang golongan darah yang dimiliki oleh Sigit dan Mira yang kata dokter adalah golongan darah terlangka, namun keduanya memilikinya.


🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹


Bersambung... Next...