
" Om berangkat, jangan nakal, nurut. Kasihan encus kalau kamu nakal. Adik juga lagi sakit."
Pesan untuk Gea, saat Rayyan akan melangkah keluar rumah kakaknya.
" Mir, titip ya." Rayyan memandang Mira yang hanya mengangguk.
" Maklum aja, kalau kadang mereka rewel, namanya juga anak-anak."
" Iya mas. Memang mas mau pergi kemana?" Tanya Mira.
" Emang encus gak pernah lihat TV ya? Gak punya TV apa di rumah?" Tanya Gea.
" Sut... Gea gak boleh gitu!" Rayyan menutup mulut Gea, yang dirasa ucapanya kurang sopan.
" Kerja."
" Jauh?"
" Ke Portugal encus." Jawab Gea saat mulutnya sudah bebas.
Mira menatap tak percaya. Pandangannya mengisyaratkan banyak pertanyaan.
" Nanti kalau udah musim balapan, kita nonton bareng, aku kasih tau." Ucap Gea.
" Balapan?" Mira masih bingung, namun pikirannya langsung terhubung dengan beberapa foto yang menghias rumah oma.
Mira masih belum nyambung.
" Om Ray ini rider handal, sayangnya penutupan musim kemaren malah jatuh waktu mau finish."
Kok mirip sama pembalap Rayyan Aquino? Batin Mira.
Masa sih?
Mira memandang wajah Rayyan yang kadang membuang pandangannya saat bertemu pandang dengan Mira.
" Balap motor G...?" Tanya Mira pada Gea.
" He'em." Gea mengangguk tanpa menunggu Mira menyelesaikan ucapannya.
" Oh.. My... God..." Mira menutup mulutnya, memandang tak percaya jika yang berada di dekatnya selama dua hari ini adalah rider jagoannya.
" Jadi mas Rayyan ini, orang asli yang biasa ikut balapan?"
" Bukan." Jawab Rayyan.
" Berarti cuma ngefans sampai punya nama sama gitu?"
" Ya."
Kenapa Mira bertanya begitu, karena dia tak percaya bisa bertemu dengan pembalap kelas dunia.
" Sudah saya duga, paling cuma penggemar. Secara RA emang top bgt banget. Kalau nonton suka tegang sendiri. Cuma sayang, kemaren sempat kecelakaan, padahal tinggal dikit lagi sampai finish."
Rayyan memandang tak percaya pada Mira yang menjadi banyak bicara, tentang seorang rider yang adalah dirinya. Sayangnya manusia di depannya ini malah mengaggapnya penggemar juga, karena memiliki nama sama.
Rayyan ingin sekali mengajak Mira menyaksikan langsung balapan kali ini, namun itu tidak mungkin.
" Encus gak percaya?" Gea bertanya.
" Om ini rider yang jatuh waktu itu. Aku aja ikut nunggu di rumah sakit, tapi gak boleh masuk."
jelas Gea.
" Mana mungkin sayang." Mira malah memandang gemas pada Gea.
Rayyan juga memandang sama gemasnya pada Mira.
" Ok, om berangkat dulu, sampai ketemu tahun depan." Pamit Rayyan pada kedua ponakannya.
" Mbak Sri, pamit ya, Nano, Sigit."
" Hati-hati mas, moga menang."
" Belum, masih karantina dulu, latihan juga masih disini." Ucap Rayyan.
" Jadi benar, mas Rayyan ini rider pembalap motor itu?"
Semua mata memandang pada Mira, termasuk Geby dalam gendongannya.
" Astaga..." Mira benar-benar merasa dunianya begitu Amazing... 😲😲
Namun kemudian dia malu karena sekarang jadi bahan perhatian dari semua penghuni rumah.
" Berangkat ya." Pamit Rayyan.
" Semoga menang." akhirnya Mira ikut mendoakan, membuat sesuatu di dalam tubuh Rayyan berterbangan seperti kupu-kupu.
" Trima kasih."
" Dah... Semua."
Rayyan masuk ke dalam mobilnya yang berisi perlengkapan yang dibutuhkan, karena dia tidak akan pulang sebelum musim tahun depan berakhir.
Mira memandang dari balik kaca yang terbuka, ada helem dengan nomor yang sama dengan rider jagoannya. Masih belum percaya, tapi nyata.
Hanya tersenyum, walaupun hatinya begitu gembira. Begitulah Mira.
Tin
Mobil keluar dari gerbang yang langsung ditutup oleh Sigit.
" Ayo cus masuk." Gea menggandeng tangan Mira yang menggendong Geby, dan Mira mengikuti.
Hidupnya seolah terasa lebih berwarna sekarang, mendapat kejutan bertemu dengan sang idola, bahkan bekerja di tempat kakaknya.
Mimpi apa aku semalam?
Dreet...
Satu pesan dari nomor yang tak dikenal masuk ke hpnya.
Keluar... Aku di tak jauh dari gerbang
Mira bingung nomor siapa itu? Dan dia merasa tak kenal siapapun disini. Dan gerbang, dia tak paham gerbang siapa yang dimaksud oleh pengirim pesan.
Mira memasukkan kembali hp ke dalam kantongnya. Tak berniat meladeni pengirim pesan.
Drett..
Mira Adinda, keluar sekarang, bawa Gembrot, saya tunggu di luar. RA.
" Mas Rayyan? Ada apa ya?"
Ternyata nomor yang menghubunginya adalah Rayyan. Mira menengok kesana kemari, mencari Sigit atau mbak Sri, ternyata Sigit sudah naik ke atas, begitu pula Nano dan mbak Sri.
" Cus, aku ikut om Sigit ya." Gea langsung berlari ke atas tanpa menunggu persetujuannya.
Seolah waktu mengijinkannya untuk menemui seseorang yang sedang menunggunya di luar sana.
Mira melangkah keluar, berjalan mendekati gerbang, melihat ada mobil Rayyan terparkir di jalan samping.
Dengan menggendong Geby, dia keluar menghampiri Rayyan yang membuka pintu samping kemudi, menyuruh Mira masuk ke dalam.
" Ada apa mas?" Mira tak langsung masuk.
" Masuk dulu."
Ragu, Mira akhirnya masuk dengan Geby yang masih bergelendot di tubuhnya.
" Om... Ayyan..." Mata Geby memandang Rayyan dengan senyum ceria. Sedang Mira memandang Rayyan bingung.
Cukup lama tak ada suara, kecuali celotehan Geby, membuat Mira semakin bingung.
" Mas... Ada apa ya?" tanya Mira, karena Rayyan belum juga mengatakan apapun, hanya sesekali memandang wajah Mira.
" Katanya mau pergi." Mira mengingatkannya.
" Ya." Jawaban singkat disertai hembusan nafas berat mengisyaratkan bahwa ada beban yang sedang ditanggung pelakunya.
Rayyan memandang sendu pada Mira, dan Mira memandang ganti dengan tatapan tak mengerti.
" Apa?"
" Om.." Geby ikut memanggil, membuat Rayyan tersenyum sedikit, sebelum kembali menatap Mira. Yang ditatap jelas saja kebingungan, begitu pula otornya.... 🤔🤔🤔
" Mira...." Akhirnya Rayyan memulai, dan Mira mendengarkan.
" Bagimu mungkin ini aneh, terdengar konyol dan mungkin kamu juga akan menganggap aku gila." Rayyan berhenti, memberi jeda kalimatnya, memandang kesegala arah lewat kaca mobilnya. Ada kekawatiran saat akan mengucap kelanjutan kalimatnya.
" Ncus...." Geby merengek, karena kepanasan. Mesin mobil dinyalakan oleh Rayyan, otomatis AC juga hidup. Menutup otomatis kaca mobil yang tadi terbuka, agar di dalam terasa dingin.
Mira menggerak-gerakkan tubuh Geby agar nyaman dan benar, setelah hawa panas berganti sejuk, kini balita itu terdiam.
" Mas, kayaknya aku masuk deh, Geby mulai gak nyaman ini."
" Sebentar aja ya, dengerin dulu."
" Buruan."
Rayyan mengatur sendiri nafasnya agar tak gugup.
Dia bertekad akan mengatakan perasaannya saat itu juga, urusan ditolak itu belakangan.
Dia tahu, waktunya tak banyak, karena akan butuh berbulan-bulan untuk tak bisa memandang wajah Mira. Dan itu pasti menyikasanya.
Apalagi dengan memendam perasaannya, itu akan menjadi seperti memikul 20 ton baja. Berat banget kan?? 😎😎
Maka dengan segala keberaniannya ia bertekad untuk mengatakan seluruh isi hatinya.
" Mira...."
" Apa sih mas?"
Rayyan memberanikan diri untuk mengambil tangan Mira. Setidaknya dia ingin mengatakan lewat sentuhan tangannya tentang kesungguhan hatinya.
Mira memandang aneh dengan tangan Rayyan yang menggenggam tangannya, ingin melepas dengan memutar-mutar tangannya, namun Rayyan tak melepaskannya.
" Sebentar saja."
Mira akhirnya membiarkan tangan Rayyan menggenggam tangannya, walaupun hatinya tak nyaman dengan itu.
" Setidaknya biarkan aku mengatakan ini, agar aku juga lega, dan pergi dengan tenang." Ucapnya serius.
" Mas ini ngomong apa? Kayak mau pergi jauh gak kembali." Mira merasa aneh dengan kata-kata Rayyan.
" Ya aku memang akan pergi jauh."
" Tapikan kembali lagi." Mira meyanggah ucapan Rayyan yang tak logis menurutnya.
" Ya, tapi yang aku katakan ini menyangkut hidup dan matiku."
" Bercanda mas?" Mira malah tertawa.
" Tertawa saja, karena semua orang pasti menganggap ini lucu. Tapi satu hal yang pasti bahwa perasaan ini bukan lelucon."
Keseriusan yang diucapkan Rayyan membuat Mira berhenti tertawa.
" Makanya buruan." ucap Mira.
Rayyan memandang serius kepada Mira, mengulurkan satu tangannya yang bebas dari tangan yang menggenggam tangan Mira, menahan pipi Mira agar tetap melihat ke arahnya. Mira menurut walaupun agak risih dengan perlakuan Rayyan.
" Dengarkan baik-baik."
Rayyan mengumpulkan keberaniannya untuk memandang mata Mira.
" Aku menyukaimu Mira Adinda."
Rayyan menatap mata Mira, ingin melihat espresi wajah itu, setelah mendengar pengakuannya.
Namun tak ada apa-apa di wajah itu, tetap sama seperti tadi. Datar dan tak berekspresi.
" Jangan katakan apapun sekarang, aku hanya memberitahumu apa yang ada dalam hatiku."
Rayyan melepas semua yang bertaut pada tangan dan wajah Mira, menunduk tak berani menatap mata yang masih menatapnya.
Hanya berharap yang terbaik, setidaknya dia sudah berusaha jujur. Baginya jujur adalah langkah awal segala kabaikan, walaupun dia sendiri tak yakin.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
Ayo dukung babang Rayyan, kasihan dia.... 😢😢😢
Yang setuju mereka jadian kasih like, komen, juga vote hadiah sama voucher, sayang daripada hangus, ayo kasih ke babang Rayyan aja, karena sepertinya perjuangan mereka masih panjang....
Jempolmu semangatku...
Salam Fillia