I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Jalani aja Dulu



Emang dasarnya orang kampung, Mira langsung memegangi perutnya yang sejak pertama masuk pesawat sudah tidak bisa diajak kompromi. Belum lagi dengan suara bising ditelinganya saat lepas landas, membuat kepalanya terasa berdenyut.


Dony memperhatikan Mira yang duduk dengan espresi tegang seperti menahan sesuatu.


" Mbak Mira tidak apa-apa?"


Mira hanya menjawab dengan gelengan. Jika sampai membuka mulut, entah apa yang akan keluar dari sana. Bukan jawaban, tapi seluruh isi dalam perutnya. Dan pastinya, ini sangat memalukan. Itulah mengapa Mira takut naik pesawat, selain jet lag, tapi dia juga phobia ketinggian.


Dony mengambil sesuatu dari dalam tasnya, memberikan pada Mira.


" Minum ini mbak, biar perutnya enakan."


Mira mengangguk, kemudian mengambil obat berbentuk pil bulat berwarna pink dari tangan Dony. Meminumnya dengan air mineral yang dibagikan oleh pramugari.


Lama-lama, matanya terpejam dan rasa kantuk lebih dominan, membuat Mira menyandarkan kepalanya pada jendela kaca di sebelahnya.


Dony mengambil foto Mira, bermaksud mengirimkannya pada Rayyan saat pesawat sudah mendarat nanti, tentu hanya ingin mengejek bosnya itu maksud Dony.


50 menit kemudian, di bandara Soekarno-Hatta, Mira membuka mata setelah merasakan tepukan beberapa kali pada bahunya.


" Sudah sampai ya mas Dony?" Mira memperhatikan orang-orang yang berjalan keluar. Ia langsung mengambil tasnya dan mengikuti Dony keluar.


" Kalau masih pusing, kita cari minuman hangat dulu ya mbak."


Bukan tanpa alasan Dony menawari Mira untuk mencari minuman hangat, karena dari awal masuk pesawat sampai sekarang, Mira masih terlihat menahan sesuatu di perutnya, dan itu sangat terlihat dari wajah tegangnya.


" Ini, minum dulu mbak."


Mereka duduk di kantin bandara, tapi sepertinya Mira memang harus mengeluarkan isi perutnya, jika tidak dia akan terus merasa mual dan pusing.


" Perlu ke toilet?" Tanya Dony, Mira mengangguk lagi. Belum mau berbicara.


Dony mengantar Mira sampai pada pintu bertuliskan toilet, menunggu sambil mengotak-atik hpnya, mengirimkan sesuatu pada Rayyan, terkadang muncul tarikan diujung bibirnya.


Lihat mas, calon istrimu teler naik pesawat - Dony


Begitu melihat Mira keluar, Dony langsung menghampiri.


" Trima kasih ya mas Dony." Barulah Mira bisa berbicara.


" Pulangnya kalau bisa jangan naik pesawat lagi ya mas, enakan naik bus." Mira mengungkapkan ketidaknyamanannya saat itu.


" Hitung-hitung latihan mbak." Jawab Dony.


" Mas Rayyan itu kalau ke luar negeri atau ke luar kota, selama bisa dijangkau dengan pesawat, dia pasti selalu menggunakannya. Selain menghemat waktu, juga menghindari macet."


Mereka kembali duduk di kantin, baru Mira menyesap minuman yang tadinya panas kini menjadi hangat.


" Yang aku takutkan ya begini mas Dony, mabuk. Untung tadi aku tidur di dalam pesawat, kalau tidak..... Entahlah, aku tak bisa membayangkan apa jadinya." Ucap Mira.


" Emang kenapa mbak?"


" Aku takut ketinggian, makanya sebisa mungkin aku menghindari naik pesawat."


" Kenapa tidak bilang mbak?"


" Malu Hehehe....."


" Untung tadi aku tidur mas Dony, jadi tidak apa-apa."


Mira menyesap lagi sampai habis minumannya, meletakkan gelas kosong ke atas meja.


" Kita berangkat sekarang." Ajak Dony, Mira berdiri.


" Kalau naik motor, gak papa mbak?"


" Lebih nyaman setidaknya daripada naik pesawat. Emang kita naik apa ke Bogor?" Tanya Mira. Dia tetap mengikuti Dony yang berjalan menuju parkiran bandara.


" Kita naik motor aja mbak, menghindari macet." Dony menghampiri motor sport. Memberikan helem untuk Mira.


" Sudah siap ternyata." Mira langsung mengenakan helem di kepalanya.


" Mas Rayyan yang minta mbak." Jawab Dony.


" Begitu?"


" Ya, katanya suruh latihan naik motor juga. Takutnya naik pesawat mabuk, mungkin naik motor enggak."


" Bisa aja. Yuk."


" Sudah siap?"


" Sudah."


Motor melaju keluar dari area parkir, dan berhenti sebentar untuk membayar. Kemudian dengan sigap Dony kembali melajukan motor menuju jalanan padat kota Jakarta.


" Kalau naik motor sama mas Rayyan pegangan mbak, kalau enggak nanti bisa kabur." Kata Dony, yang merasa Mira tidak berpegangan padanya, bahkan menjaga jarak darinya. Padahal naik motor sport sangat tidak mungkin untuk menyisihkan jarak antara pengemudi dan penumpang, tapi entah, nyatanya Mira bisa melakukannya. Dony geleng-geleng sendiri sambil mencari celah untuk laju motornya di tengah-tengah jalanan padat kendaraan.


🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹


" Apa kabar Mira?"


" Baik oma." Mira menyambut tangan oma Sarah dan menciumnya.


" Mabukkah naik pesawat?" Tanya oma, Mira hanya tersenyum.


" Pingsan juga oma." Dony yang menyahut, membuat oma merasa kasihan melihat Mira.


" Kamu memang tidak bisa naik pesawat?"


" Bisa oma, hanya takut aja mabuk kayak tadi, untung bisa tidur."


" Ya sudah ayo masuk, istirahat dulu, baru ke rumah sakit. Gea langsung semangat lho Mir, waktu denger kamu mau datang."


" Syukurlah kalau begitu oma."


" Oh ya Dony, masuk dulu. Pulangnya habis ngopi, minta bi Ijah buatin ya."


" Iya oma." Dony melewati pintu samping untuk masuk ke dapur, mencari bi Ijah. Kebiasaanya kalau datang ke rumah oma. Entah apa maksudnya.


" Minum dulu." Oma menuangkan jus untuk Mira.


" Trima kasih oma."


Oma duduk di samping Mira, menatap Mira yang sedang meneguk jus pemberiannya. Ditatap begitu, membuat Mira merasa tidak enak.


" Ada apa oma?" Mira menurunkan gelas dan memeganginya.


" Kenapa kamu jadi seistimewa ini untuk Gea, belum lagi si Rayyan." ucap oma.


" Oma pikir, sebaiknya emang kamu tidak pergi dari sini, kalau tidak, oma yakin ada yang tidak bisa bernafas, setelah tidak mau makan."


" Gea ngamuk tiap hari. Makan aja susahnya minta ampun. Dia bilang mau Encus, sampai Rita cari suster baru, tapi tetap aja Gea ngamuk." Keluh oma.


Mira tentu jadi tak enak hati mendengar ucapan oma.


" Kamu bekerja lagi ya untuk Gea." Rayu oma.


" Tapi tangan Mira belum sembuh oma. Dan lusa, ibu mau ijab kabul. Mira juga sekarang punya usaha walaupun kecil sih."


" Ya, enggak apa-apa. Usaha kamu biar ibumu yang nerusin, nanti oma bantu tambah modal biar semakin besar. Tapi kamu kerja lagi ya, ini demi kelangsungan keturunan oma, Mira."


" Kok, kelangsungan keturunan oma?" Mira merasa aneh mendengar ucapan oma.


" Ya iya, tapi itu nanti. Sekarang kamu mau dulu kerja untuk Gea sama Geby. Bantu yang ini dulu, baru nanti bantu oma ngurusin keturunan oma selanjutnya."


" Oma ini... Mira gak ngerti maksud oma."


" Ya, pelan-pelan aja, nanti kamu juga akan tahu maksud oma. Yang penting sekarang jawab iya dulu."


" Iya, kenapa oma?" Mira makin tak mengerti arah pembiacaraan oma.


" Iya, jadi Encus Geby ma Gea."


" Iya... Tapi Mira pikir-pikir dulu ya oma." Jawab Mira.


" Jangan lama-lama mikirnya."


Mira mengangguk, dia sendiri meminta ijin ibunya untuk berangkat tadi siang aja susah, apalagi kerja lagi, mana boleh.


" Mira." Panggil oma.


" Ya, oma."


" Apa kamu serius sama dia?" Takut-takut oma menginterogasi Mira, makanya dia menggunakan nama Rayyan dengan sebutan "Dia".


" Maksud oma, 'dia'....?" Mira menatap oma yang langsung mengangguk, membuat Mira menunduk. Perasaannya berkecamuk, tak karuan. Bagaimana tidak, pasti sekarang oma akan membuatnya mundur dari Rayyan. Pikiran negatif itu kini membayang di seluruh kepalanya.


" Jangan berikan hadapan palsu padanya Mira." Ucap oma dengan nada lirih.


" Dia itu bukan laki-laki yang mudah untuk tertarik dengan perempuan. Tapi semenjak melihat fotomu, dia terlihat lain."


" Oma pikir dia hanya main-main, tetapi makin kesini, oma melihat keseriusan dalam dirinya."


" Tapi Mira hanya gadis miskin oma." Mira memberanikan diri untuk menatap oma.


" Kalau Tuhan mau, Dia juga bisa membuat oma kehilangan semuanya Mira. Jadi jangan pernah berpikir kalau harta bisa menjadi penghalang."


" Yang oma mau hanya anak-anak oma bahagia. Oma bersyukur diberi kelebihan materi, tapi bukan berarti semua itu adalah segalanya untuk oma. Tapi lebih dari itu, harta sebenarnya yang oma punya adalah keluarga oma."


" Jadi oma minta, jangan buat Rayyan kecewa telah memilihmu. Oma takut dia seperti Gea, mogok makan gara-gara kamu tinggal pulang."


" Tapikan Gea bukan mas Rayyan oma."


" Dia bukan mogok makan, tapi mogok nafas kalau sampai kamu meninggalkan dia Mira."


Ada perasaan senang, berbunga-bunga di hati Mira mendengar oma mengatakan demikian, tapi dia juga tidak bisa berbuat apapun, kecuali menjalani saja saat ini sebagaimana seharusnya. Toh, Rayyan juga sedang tidak disini. Akan lebih baik jika biarkan saja dulu, jalani dulu dan nikmati dulu. Semua akan ada waktunya.