
Mira adalah orang awam yang tidak begitu paham dengan aktivitas para rider sebelum melakukan aksi balap. Terutama cek kesehatan yang saat ini dilakoni Rayyan, dengan dirinya, Mathew yang kemaren datang dan Dony mendampingi seluruh kegiatan Rayyan menjelang beraksi di sirkuit yang sudah dipadati oleh para menggemar olah raga motor ini.
" Kok tesnya mendadak mas?'
" Untuk antisipasi, siapa tahu ada yang pakai doping. Akan berbahaya jika tidak dideteksi dari sekarang." Penjelasan yang masuk akal. Karena ajang ini sangat berbahaya, dan fatal akibatnya jika para rider berada di bawah pengaruh obat, sebab kontrol dirinya pasti akan sangat terganggu.
" Mas gak pernah pakai begituan kan?" Mira iseng bertanya, dia yakin suaminya tidak akan menyentuh barang haram itu, mengingat betapa sang suami begitu menjaga pola hidup.
" Pakai semalem." Ada senyum dikulum, yang menyiratkan sesuatu yang aneh dalam pikiran Rayyan dan Mira bisa menebak apa isi dari kepala suaminya itu yang mengarah pada kegiatan ranjang mereka semalam.
Lebih baik diam, jangan membahas doping lagi!
Mira, tak menyadari bahwa dirinya yang diminta memegang payung untuk Rayyan atas permintaan Rayyan sendiri bahwa dirinya sedang menjadi sorotan kamera. Jika saja dia tidak paham bahasa inggris, mungkin dia akan diam seperti orang bodoh yang tak tahu bahwa dirinya sedang diperbincangkan. Tapi tidak, walaupun hanya lulusan sekolah umum, tetapi Mira cukup fasih berbahasa inggris. Hingga berkali-kali Mira menutup wajahnya dengan topi yang sengaja dipakaikan oleh Rayyan sebelum mereka kini berada di garis start bersama para rider lain yang di dampingi oleh para gadis payung yang adalah para model kelas dunia.
Rayyan hanya tersenyum ketika kamera mengarah padanya, tangannya otomatis melambai untuk menyapa para penggemarnya yang menyaksikan lewat layar kaca.
" Ini kenapa kok ditutup?" Rayyan membenarkan posisi topi yang diturunkan menutup wajah cantik sang istri.
Jangan di bayangkan Mira akan mengenakan baju sexy seperti para gadis pembawa payung lainnya, karena Rayyan tentu tidak rela tubuh istrinya di lihat oleh banyak orang. Mira saat ini mengenakan kostum team, itu juga atas permintaan sang suami, kostum yang netral digunakan ditempat yang tepat.
Mathew mendekat, memberikan botol minum dan tisu saat cuaca benar-benar terasa panas, kerena balapan di gelar siang hari, saat matahari sedang terik-teriknya.
" Minum." Rayyan memberikan botol untuk Mira sebelum akhirnya dia menghabiskan sisa yang masih ada. Menyeka keringat sang istri yang menuruni pelipis Mira.
" Mas, malu jadi sorotan tuh."
" Kenapa emang, biarin aja!" Rayyan malah cuek dirinya menjadi sorotan beberapa mata dan kamera yang terus mengarah pada sepasang suami istri itu.
" Masih lama enggak sih?" Mira merasa tak nyaman, karena ini bukanlah keahliannya untuk memamerkan senyum saat menjadi sorotan publik yang mendunia.
" Bentar lagi, tuh sirinenya udah mulai bunyi."
Rayyan mulai melepas kacamata, memberikan pada Mathew, kemudian berganti menggunakan helm berhias nomor yang sama dengan motor yang akan diajaknya bertempur.
" Doakan yang terbaik." Pinta Rayyan.
" Pasti! Doa ku selalu untukmu dari dulu." Mira tersenyum.
" Oh ya...! Mas lupa kalau kamu penggemar yang pengen banget jadi istri idolanya, sampai datang langsung ke rumah." ucapan yang membuat Mira melotot.
" Enggak gitu ya... Enak aja!" Mira menyangkal sesuatu yang emang tidak ada benarnya. Bisa-bisanya Rayyan mengatakan begitu.
" Iya juga enggak papa yank, ikhlas kok mas, lahir dan batin." Rayyan terkekeh, melihat reaksi kesal sang istri.
" Senyum yank, ada kamera tuh." Mira otomatis langsung mengarah pada arah telunjuk Rayyan, tetapi sesuatu mengejutkannya ketika benda kenyal menyetuh pipinya, dan itu jelas membuat Mira malu. Rayyan menciumnya di hadapan kamera, itu artinya seluruh dunia melihat mereka.
" Doping yank." Rayyan nyengir, Mira murka.
Tiba saatnya para gadis payung meninggalkan sang rider, begitu pula Mira yang ikut keluar lintasan, meninggalkan sang suami. Hanya pesan " Hati-hati" Yang ia ucapkan dan tangan mengepal menandakan semangat yang ia berikan untuk sang suami tercinta.
Detik berikutnya, suara geberan motor yang mulai menggema, itu artinya sesaat lagi para rider akan melesat, memacu kendaraan melintasi sirkuit Catalunya yang berada di kota Barcelona, Spanyol. Sirkuit pertama yang menjadi saksi sejarah debutnya seorang Rayyan Aquino, dan kini akan menjadi yang terakhir saat dia memutuskan untuk mengakhiri petualangannya dilintasan.
Kini para rider sudah melaju, suara motor memenuhi seluruh arena, berpacu dengan lawan, waktu dan ambisi.
Jatuh cinta bagi seorang rider itu sama seperti mengajak si kuda besi untuk bertempur.
Begitu sudah berada di garis start, maka tidak ada pilihan lagi untuk mundur. Harus terus melaju hingga garis finish, itu adalah tujuan utamanya. Menang itu adalah bonusnya.
Mira sampai tak bisa bernafas menyaksikan secara langsung aksi sang suami yang bergerak lincah, melakukan beberapa trik untuk menyalip motor lain yang berada di depan. Jika di rumah dia akan menonton sambil bobok santai, tapi disini, kakinya hampir lemas saat sebuah insident yang menimbulkan motor tergelincir keluar area, disusul rider yang jatuh lalu bangkit mengejar motor, berharap masih bisa digunakan untuk melaju, dia begitu ngeri menyaksikan itu langsung dengan matanya, tapi bukan itu yang menjadi fokusnya sekarang. Sosok yang berada di urutan 3 adalah sosok yang tak boleh lepas dari pandangan matanya, dimana dia memberikan dukungan penuh pada jagoan sekaligus pujaan hatinya.
Terkadang Mira sampai ikut miring saat motor Rayyan berada di tikungan hingga lutut Rayyan nyaris menyentuh aspal, walaupun sejurus kemudian kembali tegak, dengan membetulkan posisi duduknya saat berada di jalanan lurus. Terlihat beberapa kali sang jagoan menengok kebelakang untuk melihat jarak antara dirinya dengan rider lain, sebelum akhirnya mengambil langkah untuk melakukan teknik overtaking yaitu menyalib pembalap lain yang berada di depannya, hingga kini dia berada di posisi ke 2, sedangkan sekarang sudah berada di laps terakhir, tinggal beberapa meter, akan mencapai garis finish, itu artinya dia harus puas dengan menduduki podium ke 2, dengan jarak yang cukup jauh dari rider yang berada di depannya, Rayyan harus tetap fokus agar tidak tersalib oleh rider lain, tetapi fokusnya buyar saat percikan api begitu saja keluar dari belakang motor yang berada cukup jauh di depannya. Rayyan tahu, itu berarti rekan dan lawannya sedang mengalami masalah dengan mesin motornya. Otomatis laju motor lawannya itu melambat, dengan kondisi seperti itu, seharusnya rider itu harus segera mengambil langkah untuk menyelamatkan diri, tetapi terlambat, mesin meledak dan rider itu melambung tepat saat dia melintas di samping motor yang remuk. Beruntung sempat menghindar, Rayyan langsung menepi tepat saat roda motornya mencapai garis finish. Dia langsung berlari meninggalkan motornya tanpa menghiraukan apapun lagi, yang ada dipikirannya adalah rekannya yang tak bergerak terkapar di pembatas.
Suasana tegang menyelimuti area lintasan, penonton sontak berdiri, menyaksikan detik-detik insiden memilukan itu terjadi tepat di depan mata.
Rayyan melepas helm yang di pakainya, sebelum akhirnya histeris meminta pertolongan team medis yang segera berlari membawa tenda dan peralatan lainnya.
Bukan lagi kemenangan yang jadi fokus bagi semua yang ada disana, tetapi bagaimana insiden tadi harus merengut nyawa seseorang.
3 bendera penanda dikibarkan sekaligus kuning, merah dan bendera papan catur.
Red flag artinya balapan harus dihentikan, biasanya jika cuaca buruk atau insiden tertentu.
Bendera kuning artinya adanya insiden kecelakaan saat balapan.
Bendera papan catur atau chequered flag Race selesai dengan pembalap pertama yang sampai di garis finish sebagai pemenangnya.
Bukan tanpa maksud Rayyan langsung berlari setelah menghentikan motornya tepat di garis finish, melainkan karena dia melihat keganjilan saat percikan api bermula, sang rider beberapa kali terlihat melepas tangannya untuk memegang bagian depan tubuhnya. Dan setelah diadakan pemerikasan, ternyata rider tersebut mengalami serangan jantung, sehingga kontrol dirinya maupun motor tak berfungsi.
Balapan penutupan musim yang seharusnya menjadi moment yang paling ditunggu oleh para pembalap dan pecinta olah raga motor itu akhirnya harus berduka dengan gugurnya salah satu pembalap terbaik.
Rayyan, dengan senang hati mempersembangkan podium pertama bagi dia yang sudah menang disana, dan dengan bangga mundur teratur dari dunia motor yang sudah membawanya pada kesuksesan itu.
Perpisahan yang seharusnya dipersiapkan untuk Rayyan kini mereka rayakan dengan mengantar rekan mereka di tempat peristirahatan terakhir. Dan hanya ucapan selamat jalan sebagai bentuk simpati kepada sesama pejuang di area lintasan. Semoga damai di Surga, itulah doanya.