
Rencana berangkat pagi hari gagal karena hujan. Beginilah hambatan terbesar bepergian menggunakan motor, yaitu cuaca. Maksud hati biar cepat sampai, dan bisa meminimalisir macet, malah hujan. Jadilah Rayyan dan Mira berangkat menjelang siang.
" Aku pamit bu." Mira mengambil tangan bu Reni, menempelkannya di kedua pipinya sebelum berakhir dengan mencium tangan ibunya.
Ibu menarik Mira ke dalam pelukan " Hati-hati di jalan, sering beri kabar ke ibu." pesan bu Reni.
Mira mengangguk, berpindah ke Sigit yang berada di samping ibunya di depan pintu rumah.
" Mas, aku pamit. Titip ibu ya."
Sigit tersenyum, mengangguk dan membiarkan tanganya dicium oleh Mira. Ada keihlasan di matanya menerima kenyataan bahwa gadis di depannya ini adalah adiknya.
" Hati-hati."
" Iya."
Rayyan bergantian menyalami ibu dan Sigit, kemudian bersiap dengan motornya untuk membawa Mira kembali.
" Aku berangkat bu, mas." Mira melambai saat motor Rayyan mulai melaju menjauh dari rumah.
" Pengangan yank." Rayyan menarik tangan Mira untuk melingkar di pinggangnya.
Keuntungan naik motor bersama pasangan yaitu, bisa sambil bermesraan.
" Mas, kok enggak ngebut?" Tanpa Mira.
" Biar lama nyampenya." alasan Rayyan. Mira memukul punggung Rayyan pelan.
" Alasan."
" Lagi yank, pukulin kayak tadi."
" Malas ahh, enakan nyender gini." Mira menempel di punggung belakang Rayyan. Rayyan tersenyum senang, sambil memegang tangan Mira yang bertautan di perutnya.
" Mas, nyetir yang bener." Mira mengingatkan.
" Ini juga bener."
" Tangannya ini lho."
" Biarin." Rayyan tetap dengan menyetir sambil memegang tangan Mira.
" Mas, kok ngantuk ya." ucap Mira, sambil berusaha menahan matanya agar tidak terpejam.
" Apa kita istirahat dulu?"
" Gaklah, lanjut aja. Ntar nyampenya lama lagi kalau harus berhenti." Tolak Mira.
" Tapi tidur di atas motor bahaya yank."
" Iya juga sih" Mira mengingat sesuatu yang ia bawa di dalam tasnya " bentar mas." Mira melepaskan tautan tangannya, membuat Rayyan harus melepas tangan meletakkan di stang motor.
" Mau permen enggak?"
" Emang kamu enggak puasa?"
" Hehehe enggak, badan aku enggak enak."
" Kecapekan itu."
" He'em."
" Tau gitu mas bawa mobil."
" Pake motor juga enggak papa." Jawab Mira, tangannya terulur, menyuapi Rayyan dengan permen yang sudah ia kupas dari belakang.
" Ya gak papa, orang adanya."
" Hehehe." Mira malah tertawa.
" Senderan lagi aja." Pinta Rayyan.
" Enggaklah, malah ngantuk kalau nyender." Tolak Mira.
" Ya udah, yang penting pegangan."
Mira melingkarkan tangannya kembali.
" Mas ngebut ya, biar cepet nyampenya. Enggak takutkan?" Tanya Rayyan.
" Apa yang mau ditakutin, kalau sama mas, aku percaya pasti aman."
" Yakin?"
" He'em." Mira mengangguk.
" Ya udah, yang bener pegangannya."
" Iya."
" Siap ya."
" Iya siap."
Rayyan melihat ke belakang sebentar, kemudian menambah kecepatan motornya, membelah jalanan Ibu Kota. Mencari jalur alternatif untuk menghindari kemacetan, terkadang melambat untuk melihat Mira yang ternyata tidur menyender dipunggungnya.
Rayyan melambat, kemudian berbelok ke kafe untuk istirahat.
Motor yang tak bergerak membuat Mira membuka mata.
" Sudah sampai mas?" Mira mengedarkan pandangan kesekeliling, ternyata belum sampai.
" Belum, istirahat dulu ya, bahaya kamunya tidur ."
" Ngantuk." Jawab Mira malas.
" Cari minum dulu, yuk turun." Ajak Rayyan.
Mira turun, begitu juga Rayyan.
" Yuk."
Rayyan menggendeng tangan Mira masuk ke kafe setelah melepas helem.
" Mau minum apa?" Tanya Rayyan begitu mereka sudah duduk berdampingan. Sengaja tak berhadapan, biar tak berjarak. Idih.... Modus.
" Ada kopi item enggak?" Tanya Mira.
" Yang lain geh yank." Rayyan keberatan dengan permintaan Mira.
" Biar enggak ngantuk lho mas."
" Jus aja ya."
" Enggak nyambung mas, masak Iya orang ngantuk suruh minum jus."
" Kopi enggak bagus untuk kesehatan."
" Tapi bagus untuk ngilangin ngantuk."
" Ihh... ngeyel kalau dibilangin." Rayyan gemes sendiri jadinya.
" Coklat panas aja ya." Tawar Rayyan.
" Iya, tapi mas yang minum." ucap Mira.
" Kok gitu?"
" Ya mas minum coklat panas, aku minum kopi item." Jawab Mira tak mau kalah.
" Sekali ini aja." ucap Mira kemudian.
" Bener?"
Mira mengangguk. Barulah mereka memesan minuman. Mira kopi hitam, dan Rayyan jus alpukat. Kebalik enggak sih? Tapi emang iya sih, disaat ngantuk dan waktu tidak memungkinkan untuk tidur, ya enaknya minum kopi hitam yang panas, begitu seruput... Hemmm, ya ampun segernya....
" Seger banget kayaknya yank?" nilai Rayyan saat melihat Mira menikmati kopi hitam yang masih mengepul.
" Mau coba? Enak lho." Mira menggeser cangkir ke samping.
" Enggaklah, ini aja." Rayyan mengambil jus alpukat dan menyeduh minuman yang murni hanya buah, tanpa tambahan gula, susu ataupun es. Bisa bayangin gimana rasanya. Enggak seger banget, tapi itu Rayyan lakukan karena dia sedang mempersiapkan diri untuk kembali berlaga. Jadi dia harus menjaga pola makan, dan menerapkan gaya hidup sehat.
Setelah minuman habis, mereka kembali melanjutkan perjalanan.
" Pakai ini, biar enggak ngantuk." Rayyan memasang handset ke telinga Mira setelah memutar musik dari hpnya. Barulah membantu Mira mengenakan helem.
" Udah siap?"
" Sudah."
Rayyan memandang perutnya yang dilingkari lengan Mira. Barulah melajukan motor, membelah jalanan kota Jakarta.
Butuh waktu hampir 3 jam. Catatan waktu abnormal untuk Rayyan berada di atas motor dengan jarak Tangerang Bogor. Mengingat dia tidak sedang di lintasan, tapi jalanan umum, apalagi membawa seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya.
" Kok ke bengkel mas?"
" Iya. Biar deket nganter kamu kerja."
" Emang mas mau kemana?" Mereka menaiki tangga menuju lantai atas.
" Mulai besok mas udah rutin latihan. Jadi lebih deket kalau dari sini."
Mira berhenti di tengah tangga. Belum sempat berucap, Rayyan memegang tangannya membawanya naik.
Mereka melepas jaket dari tubuh masing-masing. Sedang Mira langsung ke kamar untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket karena debu jalanan.
Tak lama dia keluar, mendapati Rayyan yang juga sudah mandi dan berganti pakaian.
" Mas kok udah mandi?"
" Di bawah ada kamar mandi." Jawab Rayyan.
" Mau minum?" Mira mengeluarkan minuman dingin dari kulkas.
" Yang anget aja."
Mira meletakkan kembali botol minuman dikulkas. Kemudian mengambil gelas untuk air hangat sesuai permintaan Rayyan.
" Trima kasih" Rayyan menerima gelas dari tangan Mira " Sini." Rayyan menepuk tempat di sampingnya.
" Mulai besok kita mungkin jarang ketemu. Mas udah mulai latihan lagi." Rayyan mengawali pembicaraan.
" Emang mas enggak tidur disini? Katanya mas latihan deket sini? Emang kaki mas udah sembuh? Katanya mau berhenti?" Mira memberondong Rayyan dengan pertanyaan.
" Mas emang tidur disini, tapi untuk beberapa hari ke depan, mas ada proyek di luar negeri, jadi mas harus pergi."
" Kalau kaki udah baikan, cuma sedikit nyeri. Jangan kawatir, masih ada waktu 2 bulan. Makanya mas tanya, mau ikut apa enggak?" Mira tak menjawab.
" Latihan juga masih di deket sini, di sentul tuh, kelihatan dari sini." Rayyan menunjuk sirkuit yang terlihat dari atas tempatnya duduk bersama Mira " Kamu bisa lihat dari sini kalau mau lihat mas latihan. Apa mau ikut sekalian juga boleh." Mira tetap diam.
" Mas emang mau berhenti setelah selesai satu musim ini. Dan balapan besok hanya untuk memenuhi undangan panitia, sekaligus acara perpisahan sama riders yang lain. Ikut ya?"
Mira diam, hanya memandang wajah Rayyan dengan segala kegundahan dihatinya.
" Kok ngliatinnya gitu sih yank?" Rayyan jadi bingung dengan diamnya Mira, apalagi sekarang Mira hanya menatapnya, sejurus kemudian Mira malah meninggalkannya.
" Yank." Panggil Rayyan, beranjak mengikuti Mira yang berjalan cepat ke kamar. Sayangnya belum sempat menggapai tangan Mira, pintu kamar sudah tertutup. Dan Rayyan tahu, tidak ada kemungkinan pintu itu bisa terbuka kalau bukan Mira yang membuka karena pintu yang otimatis terkunci begitu tertutup. Dan kunci cadangan Dony yang membawa.
" Shit!" Rayyan mengacak-acak rambutnya.
" Yank....." Dia mengetuk-ngetuk pintu kamar, berharap Mira mau membuka. Tapi nihil, tak ada tanda-tanda atau jawaban.
Rayyan kembali ke sofa, mencari hp untuk menghubungi Dony.
" Don, kamu dimana?"
" Di kantor." Jawab Dony.
" Kunci cadangan kamar dimana?"
" Ada di laci kamar bos."
Rayyan langsung berlari ke bawah, tanpa menunggu panggilan berakhir.
Begitu menemukan kunci yang ia cari, ia langsung ke atas, mencoba membuka pintu dengan kunci cadangan. Sayangnya kunci yang terpasang dari dalam, membuat kunci cadangan tak bisa digunakan.
" Yank. Buka dong pintunya." Rayyan menggebrak-gebrak pintu dengan tangannya. Tapi Mira tetap tak menyahut.
Hampir 10 menit, pintu tertutup, dan Rayyan kini bersender di depan pintu kamar dengan posisi ngelesot..... Mengenaskan bener lu bang! Kayak suami lagi berantem sama istri... hahaha.
Ceklek
Pintu terbuka, Mira keluar dan mendapati Rayyan duduk di depan pintu.
" Mas ngapain duduk disitu?" Mira terkejut, yang tak kalah bingung Rayyan. Ia langsung bangkit.
" Bukannya tadi kamu marah sama mas?"
Tanya Rayyan dengan wajah bingungnya, yang ditanya juga bingung.
" Marah? kenapa marah?" Mira berjalan, dan duduk lagi di sofa. Rayyan memandang tak percaya sikap santai Mira yang dia kira marah.
" Terus tadi itu kenapa? Jalan buru-buru masuk kamar?" Rayyan masih berdiri di depan pintu.
" Perut aku mulas mas, kembung ini." Penjelasanan Mira membuat tubuh Rayyan yang menengang beberapa saat lalu langsung melemas. Dia berjalan menuju sofa dengan lunglai tapi juga lega.
" Mas kira kamu marah."
" Marah kenapa?"
" Ya marah gara-gara mas mau ikut balapan, terus mau pergi ngurusin proyek."
Mira malah tertawa, Rayyan jadi gemes sendiri. Langsung direngkuhnya Mira dan di dekapnya kuat-kuat.
" Mas, gak bisa nafas ini." Mira berontak, berusaha lepas.
" Habisnya kamu itu lho, nyebelin." Rayyan melepas dekapannya, membiarkan Mira bersungut-sungut gara-gara dirinya.
" Nyebelin gimana? Orang aku tadi mules beneran kok." Jawab Mira, sambil membenarkan rambutnya yang acak-acakkan.
" Ya harusnya bilang dulu, main pergi gitu aja setelah mas ngomong, kesannya kayak orang marah." dengus Rayyan.
" Kenapa harus marah." Mira memperhalus nada biasanya.
" Marah karena mas bilang mau ikut nglintas lagi." Jawaban yang membuat Mira menghela nafas.
" Kejadian kemarin emang bikin Mira kawatir mas, tapi bukan berarti Mira harus menjadi penghalang untuk mas."
" Mira dukung apapun keputusan mas Rayyan, yang penting mas bisa jaga diri. Pulang dalam keadaan sama seperti berangkat. Itu aja udah buat aku seneng mas." Ucap Mira.
" Beneran?"
" He'em. Tapi jangan bohongin Mira lagi kayak kemarin. Bilangnya disana baik-baik, enggak tahunya pulang enggak ada yang baik."
" Maaf." Rayyan jadi merasa bersalah mengingat kejadian itu.
" Mas cuma enggak mau kamu kawatir." Rayyan membawa Mira menyender padanya, mengelus lengan Mira dengan sayang.
" Tapi nyatanya aku gak bisa tenang, dari pagi waktu kejadian itu mas. Pikiran aku kayak terjadi sesuatu sama kamu. Apalagi waktu itu foto mas yang di meja jatuh, padahal enggak kesenggol, terus bingkainya retak."
" Kamu ngerasain kayak gitu?" Tanya Rayyan, Mir mengangguk, terlihat dari gerakan kepala Mira yang menyender padanya. Ada rasa bahagia yang menjalar dihatinya, ketika Mira mengatakan itu, seolah ada firasat kuat, seperti ikatan batin antara dirinya dan Mira. Membuatnya yakin bahwa Mira memang orang yang selama ini ia nantikan.
" Trima kasih ya."
" Untuk?"
" Untuk apapun yang kamu kasih untuk mas."
" Apa aja memang?"
" Cintamu, sayangmu, ketulusanmu, terus apa lagi ya...." Rayyan berpikir sejenak.
" Emang cukup Mira kasih itu?"
" Enggak sih."
" Terus apa lagi?"
" Entar aja yang lainnya nyusul."
" Kapan?"
" Kalau waktunya sudah tiba."
" Kapan?"
Mira mendongak, menatap rahang kokoh milik Rayyan. Melihat Mira menatapnya, Rayyan jadi menunduk, menatap netra yang selalu ingin ia lihat dan rindukan.
" Saat kita halal nanti."
Mira langsung nyungsep ke dada bidang Rayyan, menyembunyikan wajahnya yang sudah memanas.
" Yank."
" Hem." Mira masih bertahan dengan persembunyiannya.
" Lihat sini geh."
" Enggak." Mira masih belum bisa menetralkan perasaannya, degup jantungnya seakan hampir meledak. Tangan Rayyan terulur, menyibak rambut yang menutupi wajahnya.
" Lihat mas geh, masa mas suruh lihat kepala belakang kamu."
Mira tetap menahan kepalanya, ketika Rayyan mencoba mengangkatnya.
" Malu." ucap Mira.
" Cuma sama mas aja malu."
" Justru mas itu yang buat Mira malu, gimana sih, gak perasaan banget." Mira menjauhkan wajahnya sambil bersungut.
" Lihat mana wajah malunya." Rayyan mengambil sulur yang menjuntai menutupi wajah Mira, menyelipkan di belakang telinga Mira. Menahan agar wajah itu tetap menatapnya, dengan kedua tangannya.
Mata bertemu, mengunci setiap pergerakan, hanya hati yang bicara seolah ingin mengatakan bahwa hanya rasa terdalam dari dia insan yang telah menemukan tempatnya untuk saling berbagi. Menyingkirkan segala perbedaan, mengikis jarak yang mungkin akan memisahkan, menyakinkan satu sama lain bahwa mereka adalah satu dan tak akan terpisah.
Setiap sentuhan adalah bentuk komunikasi jiwa agar semakin dekat, agar lebih mampu mengikat, menyelami setiap keinginan, menghilangkan setiap keraguan.
Dan untaian kata dari bibir yang mampu menggetarkan sebagai penyaluran rasa yang tak harus dipendam, agar tidak ada rasa sakit, untuk saling terbuka dan membuka, agar semuanya terasa jelas dan mudah dipahami.
Semua yang bergejolak, setiap sentuhan dan untaian kata akan terangkai indah dan terdengar merdu dalam alunan syair bertuliskan.
" I LOVE YOU."
" I LOVE YOU TOO."