I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Ragu



Perpisahan sejatinya membawa duka....


" Yank, kok enggak nangis? Mas mau berangkat ini." Rayyan memandang Mira yang juga sedang bersiap untuk berangkat ke toko.


Make up yang dikenakan Mira kali ini menjadi sorotan Rayyan.


" Jangan tebel-tebel bedaknya!"


" Jangan pakai warna yang itu lipstinya!"


" Alisnya itu.... Ih.... Kenapa harus dibentuk segala, kan alis kamu udah bagus yank."


Setiap apa yang Mira perbuat dengan wajahnya, Rayyan selalu mangatakan jangan! Mira hanya diam, tak menggubris keberatan Rayyan dengan dandanannya. Toh, biasanya dia berdandan seperti itu setiap hari dan Rayyan juga melihatnya, tapi kenapa hari ini dia bawel?!


" Yank, enggak usah pakai make up kenapa sih?" Rengek Rayyan ketika Mira sudah selesai berada di depan kaca, dan hasilnya memang seperti biasanya, cantik!


" Di toko peraturannya begitu mas!" Jelas Mira.


" Tapikan enggak harus make up juga, yang penting kan bagaimana cara kerjanya."


Mira tersenyum " Mas udah siap semua yang mau dibawa? Sarapan dulu yuk, tadi mas Mathew udah kirim sarapannya." Ajak Mira.


" Pinter bener ngalihin omongan." Rayyan beranjak dengan malas dari duduknya di atas ranjang.


Mira keluar dari kamar lebih dulu tanpa menunggu Rayyan yang enggan keluar kamar.


" Sini." Mira melambai, memanggil Rayyan untuk duduk.


Rayyan mendekat, bergelendot di samping tubuh Mira.


" Berat tahu mas." Mira berusaha menahan, agar tidak tumbang.


" Ikut mas aja sih yank." Rengek Rayyan, tak bergeming dengan posisinya, walaupun Mira memintanya untuk duduk tegak.


" Sarapan dulu mas, nanti ketinggalan pesawat." Bujuk Mira.


" Ketinggalan biarin, males banget rasanya mau pergi."


" Ya udah aku aja yang pergi, ini udah jam toko buka lho, mau sarapan apa enggak!" Mira hampir hilang kesabaran menghadapi Rayyan yang bergelendot manja, tapi susah dibujuk.


" Suapin."


" Buka mulutnya."


" Mas aja." Rayyan tiba-tiba bangkit dan duduk dengan benar, mengambil alih piring dan sendok dari tangan Mira.


" Aaaa." Rayyan menyodorkan satu suapan untuk Mira.


" Lho kok gitu? Ini gimana?" Mira menunjuk sarapan untuknya yang masih di atas meja.


" Nurut aja kenapa sih yank." Keluh Rayyan.


" Ya udah aaa." Mira membuka mulutnya, tak tega melihat wajah Rayyan yang memelas.


" Nah gitu dong." Rayyan tersenyum setelah memasukkan makanan ke mulut Mira, kemudian untuknya sendiri.


" Nanti mas enggak kenyang lho!"


" Makan kamulah." Jawab Rayyan asal.


" Mau jadi kanibal."


" Jadi ngeri bayanginnya yank, masih makan ini."


" Iya.... iya... Aku makan sendiri ya." Mira mengambil piringnya sendiri.


" Ini aja barengan." Rayyan masih kekeh.


" Nanti mas enggak kenyang."


" Kan bisa nambah punya kamu."


Akhirnya Mira hanya mengalah, berdebat dengan Rayyan memang harus siap mengalah, walaupun bukan berarti kalah.


" Minum." Rayyan memberikan gelas setelah selesai menyuapi Mira.


" Enggak nambah?" Tanya Mira, melihat Rayyan meletakkan piring di atas meja.


" Enggak, udah kenyang." Jawab Rayyan.


" Mau aku suapin?"Tanya Mira.


" Suapin ini aja.... cup." Rayyan malah mengecup bibir Mira.


" Maaaasss!" Pekik Mira, tak siap dengan serangan dadakan dari Rayyan.


" Yuk, berangkat." Rayyan bersiap mengambil kopernya.


" Bentar, beresin ini dulu." Mira membereskan piring bekas sarapan, membawanya ke dapur.


Rayyan menarik tangan Mira, membawa turun.


" Aku bisa jalan sendiri mas."


Rayyan melepas tangannya, berganti meletakkan tangannya merengkuh pundak Mira, membimbing Mira menuruni tangga. Tak ada pilihan, lebih baik menurut.


Mobil Rayyan berhenti di parkiran toko. Hari ini dia menggunakan mobil, entah dari mana mobil itu, perasaan Mira kemarin sore belum ada mobil di garasi.


" Mira turun ya." Mira hampir membuka pintu, tetapi Rayyan menghentikan pergerakan tubuh Mira dengan menarik tangan Mira.


" Apa mas?" Mira terdiam.


" Kamu enggak mau ngucapin selamat tinggal?"


Mata Rayyan malah menatap dalam ke mata Mira yang menatap penuh tanya.


" Kamu kenapa sih mas?"


" Enggak tahu, kenapa kayak ada yang aneh."


" Apa?"


Rayyan menggeleng. Ada sirat lain dari pandangan Rayyan, ada ketakutan tapi entah apa.


" Apa mas tunda aja ya perginya?"


" Emang enggak papa?"


" Ya paling cuma dicap gak konsisten sama mereka."


" Daripada ragu, mending enggak usah pergi mas."


Rayyan melepas tangannya, beralih memegang setir, mengetuk-ngetuk seolah sedang berpikir.


Keraguan lebih besar, bukan karena berat berpisah dengan Mira, namun kata hatinya mengatakan jangan pergi, sedangkan dia harus pergi saat ini.


Hp berdering, Rayyan memeriksa.


" Iya halo."


" ......."


" Ya, saya segera kesana."


Rayyan meletakkan hp di saku blazer hitam yang ia kenakan.


" Mas, berangkat ya, sudah ditelpon sama pihak bandara."


" Hati-hati." Jawab Mira. Rayyan memandang lama ke Mira yang terheran dengan tingkah aneh Rayyan.


" Ngapa sih mas?"


" Pengen lihat kamu aja."


" Iya, tapi kenapa?"


" Kangen!"


" Belum juga berangkat."


" Mas kan udah bilang, deket kamu aja kangen, apalagi jauh." Rayyan mengulur tangan, mengambil sulur rambut Mira yang keluar dari jepitan.


" Mas bilang cuma seminggu, setelah itu kan ketemu lagi." jawab Mira.


" Kamu enggak mau peluk mas?" Entah kenapa Rayyan berbeda kali ini, Mira sendiri jadi bingung dengan Rayyan yang aneh. Apakah karena mereka akan berjauhan, tapi mengapa sorot mata Rayyan mengatakan lain....


" Masss."


Rayyan menarik tubuh Mira, memeluk erat.


" Sebentar aja."


Mira bingung ada apa dengan Rayyan, tapi tangannya terangkat, membalas pelukan Rayyan.


Cukup lama, mereka saling memeluk, bahkan pelukan Rayyan semakin lama, semakin erat, membuat Mira semakin bingung.


" Mass."


Rayyan perlahan menarik diri, mengusap air mata yang hampir jatuh.


" Kamu kenapa mas?"


" Enggak papa, kelilipan." Rayyan mengerjap-ngerjap. Mira jadi bingung, mana ada kelilipan di dalam mobil, jendela saja tertutup rapat.


" Mas... Kalau ragu jangan pergi." Mira mengelus pundak Rayyan.


" Kamu mau mas enggak pergi?"


Mira jadi semakin bingung. Dia penangkup wajah Rayyan.


" Ingat aku menunggu mas pulang, jangan kawatirkan yang belum terjadi. Minta perlindungan Allah mas, insya Allah semuanya akan baik-baik saja."


Rayyan mengambil tangan Mira yang ada dipipinya. Menciumnya lama.


Kembali hp Rayyan berdering.


Rayyan tahu itu darimana dari pandangan sekilas yang ia jatuhkan pada layar hpnya.


" Mas berangkat ya. Jaga diri baik-baik, jangan lupa makan yang bener, butuh apapun bilang sama Dony." Pesan Rayyan.


Berat, tapi harus.


" Mas juga hati-hati. Jangan lupa kasih kabar." pesan Mira. Dia mendekat, meninggalkan satu kecupan dipipi yang seketika membuat Rayyan merasa lebih tenang. Senyum terukir dibibir Rayyan ketika Mira menarik diri.


" Aku turun, mas hati-hati."


Rayyan mengangguk.


Memastikan Mira masuk ke dalam toko, baru dia mulai menjalankan mobil.


Berpikir positif, mengenyampingkan segala rasa yang membuatnya berat, Rayyan melaju menuju bandara Soekarno-Hatta.


Mudah-mudahan belum tertinggal, karena jadwal penerbangan tinggal 1 jam lagi, sedangkan dia saat ini masih berada di jalan raya Jakarta Bogor, itu berarti dia masih berada di Bogor, sedangkan jarak tempuh Bogor-Jakarta tak bisa dipastikan dengan kata seharusnya, jika keadaan macet maka akan semakin lama waktu yang dibutuhkan.