
" Encus alan-alan nyuk..." Ajak Geby pagi itu.
" Mau kemana sayang?" Mira menghampiri Geby yang sudah berhenti main, dan terlihat bosan.
" Oma."
" Mau ke rumah oma?" Mira memastikan kemauan Geby, bocah gembul itu mengangguk.
Mira keluar menemui Sigit yang sedang merapikan rumput taman bersamaan Nano.
" Mas Sigit, Geby minta ke tempat oma, gimana ya?" Tanya Mira pada Sigit.
" Aku telpon oma dulu ya, biasanya kalau siang begini oma ke toko." jawab Sigit.
" Ya."
Sigit melakukan panggilan ke oma.
Oma yang sedang kedatangan tamu dari jauh meminta maaf pada tamunya untuk mengangkat panggilan dari Sigit.
" Sebentar ya jeng, aku angkat ini dulu."
" Oh ya, silahkan jeng Sarah."
Oma tidak pergi tetap di ruang tamu saat menerima panggilan dari Sigit.
" Apa Git?"
" Geby minta ke rumah oma."
" Antar aja ke rumah, oma tidak ke toko hari ini. Ajak Mira ya."
" Iya oma, Terima kasih oma."
" Sama-sama Sigit."
Setelah telpon berhenti, oma melanjutkan kembali ngobrol dengan teman lamanya yang sudah lama tak bertemu.
" Ada pekerjaan atau apa jeng Hardi di Bogor?" Tanya mama Sarah pada bu Hardi. Sebenarnya namanya adalah Siti, tapi karena nama suaminya adalah Suhardi, jadi sekarang panggilannya menjadi bu Hardi.
" Cuma kunjungan ke tempat anak saya, semenjak menikah kan langsung pindah ke Bogor karena dapat pekerjaan disini."
" Maaf lho jeng gak bisa hadir waktu mantu, tapi saya kirim kado sampaikan?" Mama Sarah pura-pura menyesal, sebagai basa-basi karena merasa tidak enak, diundang tapi tidak datang. Sekarang malah bertemu di rumah.
" Datang kok, trima kasih lho jeng. Saya suka sama hadiahnya." Ucap bu Hardi.
" Sudah isi belum menantunya?"
" Belum jeng, mereka tidak sempat pacaran, jadi mungkin perlu waktu dulu agar lebih mengenal."
" Lha kok gak pacaran dulu?" Mama Sarah jelas penasaran.
" Iya jeng, mereka saya jodohkan."
" Hari gini masih maen jodoh-jodohan jeng Hardi, kasihan anaknya lho."
" Lha gimana ya jeng Sarah, mumpung ada tawaran dari besan yang punya jabatan tinggi, siapa tahu dengan menikahkan anak-anak, nanti anak saya bisa punya jabatan kayak mertuanya."
" Emang kerja apa anak sama menantunya jeng?" Tanya mama Sarah.
" Dokter, dan mertuanya itu direktur rumah sakit besar di lampung. Dan terbukti jeng, sehabis menikah anak saya langsung diterima kerja di rumah sakit miliknya yang ada disini." Dengan bangga bu Hardi memamerkan kesuksesan anaknya.
" Oh... Begitu."
" Kalau anak jeng Sarah sudah menikah semua?"
" Masih satu."
" Oh... Kerja apa, bantu bapaknya diperusahaan pasti."
" Enggak jeng. Cuma yang sulung aja yang bantu, kalau si Rayyan ikut balapan."
" Balapan motor?" Tanya bu Hardi.
" Iya jeng, ini juga sudah persiapan, sudah dilokasi."
" Sayang banget ya jeng Sarah. Bukannya lebih menjanjikan ikut diperusahaan daripada ikut balapan motor. Berapa sih hasil dari balapan begitu, paling cuma 1 atau 2juta aja." Kata bu Hardi. Mama Sarah hanya mengangguk, tak ingin mengatakan atau menjelaskan apapun tentang perkataan bu Hardi.
" Makanya anak saya, saya jodohkan. Setidaknya masa depannya cerah. Apalagi istrinya itu juga seorang dokter. Pasti mereka akan bahagia dengan pekerjaan mereka."
Ucapan bu Hardi sekali lagi hanya diangguki oleh mama Sarah. Dia adalah tipe orang yang menghargai setiap pemikiran orang lain, walaupun kadang itu salah menurutnya.
" Kalau saya terserah anak-anak jeng." Ucapnya kemudian.
Suara mobil yang berhenti, disusul dengan suara pintu yang ditutup membuat kedua ibu itu terdiam, kompak memandang arah pintu masuk untuk mengetahui siapa yang datang.
Suara dua manusia berpangkat cucu itu seketika membuat suasana menjadi ramai.
" Jangan lari-lari Gea, Geby nanti jatuh." Mira buru-buru mengejar kedua anak asuhnya, bahkan tas keperluan mereka ia tinggal di mobil.
Sigit membantu membawakannya masuk.
" Wah cucu oma ternyata yang datang, sama siapa?" Oma berdiri, menyambut kedua cucunya dengan merentangkan tangan, memeluk punggung kedua cucunya dengan posisi berjongkok, hingga membuat tubuhnya hampir terjengkang ke belakang, karena hentakan dari tubuh kedua cucunya.
" Hati-hati oma." Mira dengan sigap menopang dari belakang agar tak jatuh.
Seseorang memandang Mira terkejut, hingga ia langsung berdiri. Melihat gerak-gerik Mira yang sedang mengambil alih tangan anak-anak yang ia tahu adalah cucu temannya itu.
" Jeng, ini cucu saya. Anaknya Nathan." Mama Sarah mengenalkan kedua cucunya, menggandeng untuk dibawa mendekat ke tempat duduk.
Namun bu Hardi ternyata tak menggubris ucapan mama Sarah, tetapi menatap tajam pada sosok Mira yang juga menatapnya.
" Ternyata kamu disini." Sinisnya.
Mama Sarah terkejut mendengar ucapan penuh emosi dari tamunya, kemudian mengikuti arah pandangan bu Hardi yang menatap tajam Mira.
" Jeng Hardi kenal dengan Mira?" Tanya mama Sarah.
" Dia itu manusia sok jual mahal, yang hampir merusak rumah tangga anak saya." Bu Hardi menuding telunjuknya ke arah Mira.
Mama Sarah tak mengerti dengan apa sebenarnya yang terjadi antara Mira dan teman lamanya. Yang dia tahu hanya keduanya berasal sama-sama dari Lampung.
" Kamu sengaja mengikuti anak saya hah?!" Bu Hardi berjalan menghampiri Mira yang tak bergeming sedikitpun.
" Kamu mau balas dendam sama anak saya hah?" Hardiknya, semakin tajam saja pandangan matanya. Mira hanya menahan nafas, berusaha untuk tidak terpancing dengan ucapan bu Hardi.
" Gea Geby masuk ya, sama bi Ijah."
Kedua anak itu menggangguk menurut dan langsung mencari bi Ijah di dapur.
" Hati-hati jeng, anaknya dijaga. Takutnya dirusak juga oleh perempuan ini."
Mama Sarah memandang Mira, kemudian tangannya yang mengepal, seolah menahan sesuatu.
" Maaf bu Hardi, saya disini hanya bekerja. Jadi tolong jangan berburuk sangka terhadap saya." Mira berusaha mengucapkannya dengan kesabaran yang masih tersisa.
" Alah alasanmu sajakan itu! Tak mau menerima uang saya, tapi ternyata malah mencari mangsa untuk dapat yang lebih. Masih kurang ternyata uang yang saya tawarkan. Kamu butuh berapa lagi? Bilang sekarang akan saya berikan, asal kamu tinggalkan tempat ini!"
" Ini rumah saya jeng, jadi hanya saya yang berhak menentukan siapa yang harus tinggal atau keluar dari rumah saya." Ucapan tegas mama Sarah membuat Mira dan bu Hardi mengalihkan pandangan dan kini menatap wajah mama Sarah yang berekspresi tenang.
" Ya jeng Hardi, Mira hanya bisa keluar dari rumah saya jika saya yang mengijinkan. Karena dia disini berada di bawah tanggung jawab keluarga Aquino. Dia juga dilindungi hukum jika saya berbuat semena-mena terhadap pekerja saya."
" Jika jeng Hardi punya urusan pribadi dengan Mira, seharusnya jeng Hardi selesaikan dengan baik dan tahu tempat. Kasihan Mira, jika itu terjadi diluar rumah saya, maka ia akan dipandang orang lain dengan pandangan yang merendahkannya, dan itu sangat tidak baik jeng Hardi."
Bu Hardi merasa bahwa dirinya sekarang terpojok dengan ucapan mama Sarah.
" Kita bertamu di rumah orang, jadi selayaknya kita juga berlaku sebagai tamu jeng."
Bu Hardi merasa tersinggung kini dengan ucapan temannya itu, namun ia juga membenarkan bahwa dia adalah tamu.
" Baiklah kalau begitu, saya permisi!"
Dengan tergesa ia mengambil tasnya dan pergi berlalu dari rumah mama Sarah, namun sebelum itu ia menghampiri Mira.
" Segera tinggalkan kota ini, jika tidak ingin ibumu mengalami kesusahan gara-gara dirimu!" Ancamnya.
Mendengar nama ibunya dibawa, Mira tak bisa lagi menahan emosinya.
" Berani menyentuh keluarga saya, maka anda akan mengerti akibatnya. Saya sudah menjauh dari anak anda bu Hardi yang terhormat, tapi maaf saya juga tidak tahu jika anak anda juga berada disini. Dan juga pekerjaan saya tidak akan membuat saya bertemu dengan anak anda, jadi jangan kawatir."
Mama Sarah tak bisa berdiam lagi melihat sesuatu yang bertentangan dengan hidupnya, yaitu melihat penindasan terhadap kaumnya. Walaupun itu juga dilakukan oleh perempuan.
" Silahkan pergi dari rumah saya bu Siti."
" Ya, saya juga sudah tidak betah satu ruangan dengan perempuan murah seperti dia.Permisi!"
Bu Hardi langsung pergi begitu saja.
" Are you Ok?" Mama Sarah mengelus lengan Mira.
" Saya tidak apa-apa oma." Mira berusaha untuk tersenyum. Namun mama Sarah melihat bahwa Mira sedang tidak baik-baik saja.
" Kita ke dalam, ke kamar saya. Biar anak-anak sama bi Ijah dulu. Ada yang mau saya bicarakan sama kamu."
" Iya oma."
Mira mengikuti mama Sarah yang mengajaknya ke kamarnya. Dia sudah pasrah jika karena kejadian ini, dia harus angkat kaki meninggalkan pekerjaannya.
Ya Allah, kuatkanlah aku.