I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Heeemmmm!



" Mas, kalau menurut mas nih ya, mas Mathew itu suka enggak sama Ajeng?"


Rayyan hanya mengedikkan bahu, tandanya dia juga tidak tahu. Rayyan meletakkan hp dan ikut berbaring di sisi Mira, mereka sama-sama terlentang.


" Dingin gitu dia kalau sama Ajeng, tapi giliran sama Khansa kok beda." ucap Mira.


" Mas juga enggak ngerti, mungkin emang sengaja dia begitu agar Ajeng tidak salah paham."


" Salah paham gimana?" Mira tanpa sadar berganti posisi miring, dan meletakkan tangan melingkar ke perut Rayyan. Rayyan tersenyum, senang karena Mira mulai luwes bersikap terhadapnya. Tangan Rayyan menjadi bantalan untuk kepala Mira, otomatis lengannya langsung memeluk bahu Mira.


" Mungkin dia cuma kasih jarak, agar tidak menganggu Ajeng. Tahu sendiri Dony mundur gara-gara dia."


" Berarti bagus dong, tidak ada penghalang agar mereka bisa menikah."


" Kita enggak ngerti apa yang ada dipikiran mereka yank, yang mas tahu akan banyak rintangan untuk Mathew jika menikah dengan Ajeng."


" Kok banyak rintangan, selagi mereka mau menerima satu sama lain, bukan kah semua bisa dipermudah mas?"


" Itu kalau kita, tapi mereka berbeda sayang."


" Pertama, Mathew sudah salah dengan menghamili Ajeng lalu pergi begitu saja setelahnya. Kedua, orang tua Ajeng belum tentu mau menerima Mathew karena alasan yang pertama. Ketiga, Mathew itu bukan anak orang sembarangan, dia disini karena berlindung dari keluarganya yang memaksa dia harus menikah dengan anak rekan bisnis ayahnya. Dia itu anaknya Ramdani Sanjaya, tahu enggak pengusaha sekaligus pejabat yang punya pabrik kain hampir diseluruh Indonesia dan beberapa di luar negeri."


" Kalau pengusaha aku enggak tahu, tapi kalau pejabat yang sedang nyalon jadi Gubernur di Sumatra Barat aku tahu."


" Ya itu bapaknya Mathew!"


" Hah! Serius mas?' Mira sampai bangkit untuk melihat keseriusan Rayyan.


" Dia diusir sama orang tuanya karena menolak pernikahan itu, bahkan orang tuanya minta rekan-rekan bisnisnya untuk tidak menerima dia di perusahaan manapun. Tapi papa mana bisa begitu. Papa sendiri adalah salah satu rekan bisnis dari orang tuanya Mathew, bahkan beberapa kali sempat kerja sama saat Mathew sendiri yang jadi CEOnya."


" CEO? Apa itu?" Polosnya Mira keluar pemirsah, tapi Rayyan maklum karena pekerjaan Mira tidak pernah berhubungan dengan perusahaan dan di sekolah umum, istilah CEO tidak ada pembahasannya.


" CEO itu chief executive officer, dalam bahasa lain direktur utama, kayak bang Nathan di perusahaannya papa." Jelas Rayyan dan Mira hanya bisa ber 'oh' ria mendengar penjelasan suaminya itu.


" Kenapa dia enggak mau nikah sama rekan bisnisnya, bukannya dengan begitu dia bisa memperluas jaringan usaha keluarganya? Apa kerena calonnya enggak cantik?"


" Bukan masalah cantik sayang, tapi orang menikah itu masalah hati."


" Aku cantik enggak mas?" celetukan Mira membuat Rayyan diam sebentar. Bukan saatnya memuji atau merayu saat ini, karena jika dia sudah membahas tentang istrinya maunya tidak ada pembahasan lain yang menganggu konsentrasinya menikamati kecantikan sang istri, dan itu sangat tidak dia inginkan, soalnya merayu sang istri itu butuh mental yang kuat. Apalagi posisi istrinya yang terlihat cantik saat memandanginya dari atas, membuat Rayyan membayangkan posisi woman on top. Ngeres bener pemikiran lu bang!


" Mau bahas kamu apa Mathew? Pilih mana?" Bukan jawaban yang di dapat, malah pertanyaan yang membuat Mira harus memilih.


" Masih penasaran sama hidupnya mas Mathew." Jawab Mira.


" Ya udah kita lanjut bicara tentang Mathew."


" He'em." Mira kembali merebahkan tubuhnya di tempat semula. Dan Rayyan mulai membahas tentang Mathew.


" Mathew itu sangat berkompeten dalam bidangnya, jadi papa merekrut dia tanpa sepengetahuan orang tuanya. Dia bekerja di belakang layar, enggak terang-terangan ke kantor. Setelah berjalan beberapa tahun kayaknya kalau enggak salah 2 tahun, papa minta Mathew untuk jadi manager mas, waktu itu mas baru mulai debut. Cara Mathew yang cekatan, terus kerja dia yang bertanggung jawab jadi pertimbangan papa buat nyariin mas manager yang kompeten. Di lain sisi juga dengan sering pergi ke luar negeri dan pindah-pindah akan mempersulit keluarganya untuk menemukan dia."


" Tapikan dengan jabatan bapaknya, identitas mas Mathew bisa dilacak mas."


" Itulah papa, cyber squad-nya enggak bisa diremehkan."


" Apalagi itu cyber squad?"


" Tentara cyber, kerja mereka itu dibidang internet, sejenis perang internet, lawannya ya para hacker sama peretas-peretas yang rata-rata handal di bidangnya."


" Wow, yang begituan ya?"


" Rata-rata perusahaan menggunakan itu untuk melindungi data dan sesuatu yang dianggap penting dan rahasia, termasuk Mathew."


" Tapi kok sampai enggak ketahuan kalau dia cuma ada di sini mas?"


" Dia sendiri hackernya, jadi mudah buat dia untuk memanipulasi data dia."


" Owww..... Sepintar itu dia?" Puji Mira dengan kekaguman tingkat tinggi.


" Tapi itu sudah berjalan hampir 15 tahun, sekarang orang tuanya sudah berhenti mencari karena adiknya yang menggantikan posisinya di perusahaan dan menikah dengan wanita itu."


" Terus?"


" Terus sekarang gantian bahas kamu." Rayyan mengalihkan tubuhnya agar miring, kini dia bisa memandang dengan jelas wajah cantik istrinya.


" Bahas aku? Aku kenapa?" Mira bingung.


" Kamu cantik." Rayyan menyentuh ujung hidung Mira, kemudian pipi halusnya, kemudian bibirnya. Mira hanya memandang wajah suaminya yang tersenyum dengan sinar mata yang lembut.


" Kalau aku ganteng ya enggak lucu dong mas." Ambyar! Rayyan bermaksud berlaku romantis, tetapi si istri sepertinya tidak bisa diajak romantisan dengan menggunakan kata-kata rayuan atau pujian bertajuk menggombal.


" Iya...." Akhirnya Rayyan hanya mengalah, kemudian menjauhkan tangannya yang sudah menyentuh beberapa bagian wajah Mira.


Mira tersenyum, kemudian bangkit setengah telungkup dengan menyangga dagu menggunakan tangannya, matanya memandang mata Rayyan yang datar.


" Apa?"


" Mas ganteng kalau ngambek." Senyum merekah dari bibir Mira membuat dada Rayyan berdesir, kekecewaan yang sempat mampir langsung sirna. Kini dia ikut menyangga wajahnya yang sedang berbaring miring dengan satu tangannya, dan tangan yang lain menyapu helain rambut panjang Mira yang menjuntai menutupi sebagian wajahnya.


" Kamu itu, belajar darimana ngerayu mas kayak gini hem?"


" Dari mas lah, emang boleh dari orang lain?!" ucapan yang membuat Rayyan langsung meraup tubuh Mira dan menguncinya dengan tubuhnya.


" Jangan coba-coba. Belajar dari mas aja, ayo... Mas ajarin cara lain biar mas enggak gampang marah."


" Emang gimana caranya?"


" Gak bisa nafas tau mas, pelan-pelan kenapa?" Rayyan terkekeh, sebelum akhirnya menuruti permintaan Mira yang ingin pelan-pelan menurutnya , karena menurut Mira itu masih belum pelan, sehingga Mira kembali protes.


" Jangan kenceng-kenceng!" Rayyan menjauh dari wajah Mira, raut wajahnya sedikit kesal karena aksi protes yang dilayangkan Mira.


Bukan protes karena Rayyan yang terlalu terburu-buru sebenarnya, tetapi karena Mira yang belum siap.


" Terus yang kayak mana? Coba kasih contoh!" Menekan sedikit rasa kesalnya, Rayyan meminta Mira memulai lebih dulu.


" Masa guru minta contoh sama murid, mana bisa begitu!" Mira malah terkikik, maksudnya mengerjai Rayyan akhirnya berhasil.


" Ya udah sini...!" Rayyan menarik tubuh Mira, merebahkan ke kasur dengan begitu pelan dan lembut, membuat Mira menahan tawanya.


" Malah ketawa."


" Lucu liat mas kayak nidurin bayi, pelan bener."


" Puft!" Rayyan langsung berguling ke samping, mengatur detak jantungnya yang mulai tak beraturan karena kesal. Jika saja Mira tidak memegangi tangannya, dia ingin memunggui Mira untuk menyembunyikan wajah merahnya karena kesal.


" Kalau ngambek tambah ganteng lho." Mira bergerak miring, menatap Rayyan sambil menopang kepalanya dengan satu tangan.


" Hai.... Ganteng, hadap sini dong." Rayyan memalingkan muka, tapi Mira menggoda, aduh mana tahan, pakai ngusap-usap dada lagi, tahan enggak ya...


" Maasss...."


Suaranya lembut bener, tapi jaimlah masa ngambek cuma bentar, siapa tahu dapat bonus kayak kemaren kan lumayan. Tapi semua memang tak sesuai dengan ekspetasi, nyatanya si istri ternyata malah molorrr!


Keesokan paginya Rayyan masih melanjutkan acara ngambeknya. Dan Mira tetap cuek, dia masak seperti biasa, sarapan seperti biasa bahkan mengepak barang-barang yang akan dibawa besok tetap dengan ekpresi yang biasa. Sedangkan Rayyan berusaha untuk tetap bertahan dengan perasaan kesalnya. Jadinya mereka diam dalam kerjasama. Hingga tiba saatnya Rayyan harus menanyakan barang yang belum ketemu dan harus dibawa, yaitu dompetnya.


Mira cuek saja mondar-mandir kesana kesini, melewati Rayyan berkali-kali, tapi wajah coolnya tetap stay and santai.


" Nih dompetnya, nyari ini kan? Makanya bilang, jangan diem-diem bae." Mira mengulurkan dompet milik Rayyan, tapi bukan dompet yang Rayyan pegang, melainkan tangan Mira yang membuat Mira langsung oleng dan jatuh di atas pangkuan Rayyan.


" Jangan gini mas." Mira meronta, tak nyaman.


" Kamu kenapa sih?" Rayyan jengah Mira menolaknya.


" Ditunda dulu ya marahnya, maaf aku lagi M."


" M? Apaan?" Rayyan cengo.


" Lagi menstruasi, masa iya harus dipanjangin." dengan wajah malunya Mira mengatakan keadaan dirinya.


" Jadi semalem kamu kayak gitu karena lagi itu?"


" He'em."


" Astaga! Kenapa enggak bilang, kan mas jadi salah paham."


" Malu."


" Emang sekarang enggak?"


" Kepepet, habis mas diem aja, lama-lama enggak enak didiemin."


Rayyan memeluk erat tubuh Mira, meletakkan dagunya diperpotongan leher Mira.


" Besok lagi bilang aja enggak usah malu, mas kan suami kamu sekarang. Lebih baik bilang daripada buat salah paham. Dari sekarang belajar terbuka, jangan ada yang ditutupi. Semua itu untuk kebaikan kita, keutuhan rumah tangga itu terletak pada kejujuran sayang, ngerti?!"


" Iya ngerti, maaf ya mas."


" Hem."


" Kok cuma hem?"


" He'em."


" Luv you mas."


" Heee!" Rayyan malah terkejut dengan ucapan Mira. Menarik lehernya kebelakang gantian memutar tubuh Mira untuk menghadangnya.


" Bilang apa tadi? Ulangi!" Rayyan menatap penuh harap.


" Luv you mas, suamiku sayang.... Cup!" Sentuhan bibir lembut mengiringi akhir kalimat terindah untuk mas Rayyan. Tak menyangka istrinya bisa seromantis ini.


" Luv you to istriku sayang.... Emmuach!"


🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹


Hayo, siapa yang ngiri...?


Otor udah lama ya enggak nyapa kalian disini. Mudah-mudahan kalian semua sehat dan semangat, bisa lanjut terus baca karya otor yang kalian kasih julukan somplak tapi otor suka hehehe.... Suka-suka kalianlah mau bilang otor apa, yang penting kalian happy.


Terima kasih untuk segala bentuk dukungan kalian dari vote, tips, hadiah, komentar lucu-lucunya yang gak kebales tapi pasti otor baca, makanya selalu nunggu komen dari kalian yang ehem baper sama kelakuan bang somplak sama mis jahil, mudah-mudahan keturunannya besok enggak sesomplak dan sejahil ortunya ya... Kalau bisa yang alim n solehah kayak otornya..... Wkwkw!


Jangan protes sama judulnya yang enggak nyambung! Ingat jangan protes!😂😂


Wes ngunu wae.... Selamat membaca part selanjutnya..... Luv you all....


Salam


FILLIA