
Mira membuka mata, saat wangi segar semerbak tercium, seolah menandakan seseorang sudah mandi. Dan benar saja, Rayyan tengah duduk di pinggir ranjang, menungguinya bangun. Senyum tampannya langsung merekah menyambut kelopak mata bidadarinya yang terbuka.
" Sudah bangun hem?"
" Mas mau kemana?" Tanya Mira saat melihat Rayyan sudah rapi, bahkan blazer berwarna navi sudah melekat di tubuh tegapnya, menambah nilai plus dari penampilan Rayyan yang memang sudah tampan sejak lahir.
" Ada janji sama pak Markus. Enggak lama, paling jam 9 mas sudah pulang." Jawab Rayyan.
" Emang sekarang jam berapa?" Mata Mira melihat celah-celah dimana sinar dari luar bisa masuk ke dalam kamar.
" Sudah siang ya mas! Ya, ampun kenapa gak bangunin sih." Mira meraih selimut dan menyibakkan begitu saja, rasa dingin yang langsung mengenai kulitnya, menyadarkannya jika dia dalam keadaan tak berpakaian, bahkan sehelai benangpun tidak ada yang menempel, dan itu membuat Mira kembali membungkus tubuh dengan selimut, apalagi melihat Rayyan yang tersenyum-senyum melihatnya, menambah rasa panas menjalar ke wajahnya.
" Mas ihh.... Senyum-senyum! Sana berangkat!" Mira mengusir Rayyan yang masih duduk santai di pinggir ranjang.
" Kamu cantik!" Rayyan menyibak helaian rambut berantakan yang berurai di wajah Mira, jelas Mira makin malu.
" Udah sana berangkat!" Mira menepis tangan Rayyan yang malah bermain-main dengan wajahnya.
" Ikut yuk, sarapan di luar aja."
" Tapi aku belum mandi mas, ntar mas malah telat ketemu sama pak Markusnya, gara-gara nungguin aku."
" Masih ada waktu 20 menit, cukup untuk siap-siap." Rayyan melihat jam yang melingkar di tangannya.
" Mas ajalah yang pergi, aku di rumah aja ya.' Tawar Mira, matanya menatap memohon pada Rayyan, tetapi bukan Rayyan jika mudah mengalah.
" Apa mau dimandiin nih, biar cepet." Mata Rayyan menatap menggoda, dan itu jelas membuat Mira kesal, artinya Rayyan tetap menginginkan dia ikut pergi.
" Iya... Iya, aku siap-siap dulu. Mas keluar gih."
" Kenapa?"
" Ya aku mau mandi."
" Mandi ya mandi aja, emang apa masalahnya?" Rayyan menjawab seolah tidak tahu bahwa Mira tak nyaman dengan keberadaannya disaat keadaan seperti itu.
" Kalau mas enggak keluar, nanti tambah lama aku selesainya." Rajuk Mira, membuat Rayyan terkekeh, kemudian beranjak dari duduknya.
" Mau dibantu enggak?"
" Apanya?"
" Jalannya?" Mata Rayyan, ya ampun bisa seperti itu melihatnya, membuat Mira ingin menampol biar jadi jelek tuh manusia.
" Enggak, aku bisa sendiri." Sambil membungkus selimut ke tubuh Mira, dia beranjak turun, namun ia berhenti saat merasakan rasa sakit di daerah intinya, membuatnya harus terdiam di tempat.
" Kenapa yank?" Rayyan memperhatikan espresi wajah Mira yang hanya diam.
" Sakit?" Tebaknya, tetapi pertanyaan itu malah seperti ejekan ditelinga Mira.
" Enggak, biasa aja!" Mira melangkah pelan, sambil menahan rasa nyeri dan lemas yang bercampur menjadi satu, terlalu lama berjalan, seolah jarak pintu tak kunjung dicapai, membuat Mira kesal.
Rayyan hanya tersenyum memperhatikan cara berjalan Mira yang seperti bebek, lucu!
Tapi lama-lama tak tega dia melihat hasil perbuatannya yang mengakibatkan sang istri tercinta susah berjalan. Tanpa aba-aba, Rayyan membopong tubuh Mira masuk ke kamar mandi. Reflek Mira menjerit saat merasakan tubuhnya melayang, tetapi saat tahu Rayyan membopongnya, membuat Mira jadi malu.
" Sakit banget ya."
" Sakit aja, enggak pakai banget!" Mira malu mengakui kalau emang sakit, apalagi dia merasakan bagian pribadinya yang membengkak, jelas akan membuatnya susah untuk berjalan.
" Mas, aku di rumah aja ya?"
Rayyan hanya tersenyum, tahu Mira saat ini dalam keadaan tidak nyaman. Dia meletakkan tubuh masih berbalut selimut itu di atas dudukan toilet. Kemudian ia beralih mengisi bathup.
" Biar aku aja mas." Mira merasa tidak nyaman, Rayyan menyiapkan keperluan mandinya, tapi Rayyan tetap melakukan itu.
" Sudah, masuk sini."
" Mas keluar geh, masa iya mau lihat aku mandi?"
" Yang mandi istrinya aja ya enggak papalah, kecuali istri orang lain, baru itu enggak boleh."
" Malu tahu mas, keluar sana, ntar gak jadi mandi nih!"
" Bisa sendiri?"
" Bisalah."
" Yakin?"
" Seyakin-yakinnya, udah sana keluar."
" Ya udah, mas tunggu di kamar ya." Rayyan akhirnya mengalah dan beranjak keluar.
" Mas...."
" Hem." Rayyan kembali menengok.
" Aku enggak ikut ya, please!"
" Kasih tau dulu alasannya."
" Sakit ininya." Jawab Mira pelan, dan itu membuat Rayyan tersenyum, sebelum akhirnya dia mengalah.
" Iya, kamu istirahat aja di rumah, enggak usah masak, nanti mas bawain aja. Paling lama jam 9 mas udah pulang."
Mira mengangguk.
" Mas berangkat ya, bisa sendiri kan?"
" Iya, bisa. Mas hati-hati."
Rayyan kembali dan mengecup kening Mira.
" Mas berangkat ya."
" Hem."
Rayyan keluar, meninggalkan Mira yang sekarang senyum-senyum sendiri, merasakan bahagianya dia saat ini. Hingga tanpa sadar bahwa pintu kamar mandi masih terbuka, sedangkan dia sudah membuka selimut penutup tubuhnya. Dan Rayyan malah kembali, otomatis dia berteriak sambil menyembunyikan daerah terlarangnya yang tak mampu tertutup hanya oleh dua tangannya.
" Mas udah lihat semua, ngapain malu." Rayyan menatap lucu, bagaiman Mira berusaha menutupi gunungnya yang malah menyembul kesana kemari.
" Mas kenapa balik lagi sih!" Mira langsung masuk ke bathup, bersembuyi diantara busa sabun.
" Cuma mau nutup pintu, ada Ajeng."
" Hah! Ajeng, kenapa dia kesini?"
" Ngajak kamu ke rumah sakit, katanya mau kasih imunisasi gitu."
" ** maksudnya?"
" Itu paling."
" Suruh tunggu bentar, mas cepet tutup pintunya biar enggak kelamaan aku mandinya."
" Iya, nanti pulang dari rumah sakit mas yang jemput, tunggu kalau mas belum datang, jangan pulang."
" Iya."
" Mas berangkat ya." Untuk kesekian kalinya Rayyan pamit lagi.
" Dah sayang."
" Iyaaaa..... Sudah sana pergi, jangan lupa tutup pintu!"
Rayyan menutup pintu, namun kembali membuka.
" Apalagi?!"
" Luv you."
" Iyaaa..... Sudah sana.... Sana, berangkat, pamit bolak balik, cuma muter-muter doank." Sungut Mira, si Rayyan malah tergelak, hingga Ajeng merasa jengah menunggu sambil mendengar pasutri sambleng.
" Mir..... Aku belum pulang lho... Buruan, Khansa nungguin" Teriak Ajeng.
" Noh mas, Ajeng udah manggilin tuh."
" Iya... berangkat ya."
" Hem."
" Jemputnya di tempat Ajeng aja. Aku ikut pulang ke rumah dia."
" Iya... dah ya, mas telat ini." Rayyan melesat pergi setelah pintu benar-benar tertutup.
" Dasar!"
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
Ajeng memperhatikan bagaimana Mira berjalan, ingin tertawa tapi takut dosa.
" Ngapain senyum-senyum?"
" Nggak papa, lucu aja lihat kamu jalan kayak bebek.... Hihi." Akhirnya Ajeng tertawa kecil.
" Berapa kali gol tuh, sampai susah begitu?!" Ledek si Ajeng, membuat Mira sewot.
" Nggak usah bahas begituan, kayak enggak pernah aja." dengus Mira.
" Tapi aku enggak separah itu juga kali jalannya."
" Gimana mau kayak gini, kamu kan enggak sadar waktu itu, paling cuma sekali celup doank... Ups!" Mira langsung menutup mulutnya yang kelepasan bicara.
" Bisa juga kamu bahas begituan." Ajeng terkekeh, melihat perubahan sahabat polosnya itu.
" Gak usah bahas gituan lagi ih, yang lain kenapa?"
" Bahas apa emang yang lebih menarik selain begituan?" Ledek Ajeng, mereka kini masuk ke mobil Ajeng menuju rumah sakit.
" Harusnya kamu enggak perlu jemput aku, aku yang kesana aja, masa iya dokter jemput pasien."
" Apa yang bisa aku lakukan untuk membantah bos besar, selain menuruti." Ajeng tersenyum, melihat Mira bingung dengan ucapannya.
" Siapa bos besar?"
" Papanya Khansa, dia itu aneh! Minta aku ngurusin kamu, biar dia yang ngurusin Khansa."
" Waduh, jadi beban nih aku."
" Bukan gitu Mir, dia cuma bertanggung jawab sama pekerjaannya, apalagi sebentar lagi kalian sudah terbang, makanya dia minta tolong aku buat percepat apapun yang bisa dikerjakan, termasuk ini."
" Kalian menikah mendadak, seharusnya kamu imunisasi sebelum menikah, tapi sekarang juga gak papa, belum isi kan?"
" Isi apa?" Mira tak paham.
" Isi bocah." Ajeng to the point.
" Aku bersyukur Jeng dapat suami kayak mas Rayyan, walaupun kita bareng-bareng setiap hari, dia tahu cara jaga aku kayak mana."
" Bahkan semalem aja dia gak maksa aku buat begituan."
" Hah! Serius kamu Mir?"
" Ya wajarlah orang berpikir seperti itu, aku maklum kok, apalagi kalian setiap hari lihat kami semesra itu, tapi bukan berarti kami sebebas itu juga Jeng. Dia tahu batasan-batasan mana yang boleh sama yang dilarang sebelum halal."
" Masih ada enggak laki-laki yang begitu Mir? Sayangnya aku sudah tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan pria yang bisa bertanggung jawab seperti itu. Semua yang aku tahu mereka mengecewakanku. Mas Bobby, mas Dony dan papanya Khansa, mereka tipe sama, hanya memikirkan diri sendiri tak bisa merasakan sudut pandang aku kayak gimana?"
Mira ikut prihatin dengan apa yang terjadi dengan Ajeng.
" Tapi sekarang kamu punya Khansa, dan mas Mathew bisa kok jadi pria yang kamu harapkan, asalkan kamu bisa membuka diri. Dia itu pria baik Jeng, bukan laki-laki brengsek seperti apa yang dia katakan, kamu hanya salah paham menilai dia."
" Coba kamu pikir, selama dia bertemu Khansa, apa dia seperti laki-laki brengsek yang suka main perempuan?"
" Aku salut lho sama dia Jeng, bisa jaga dan rawat anak bayi seusia Khansa semalam utuh. Tidak banyak laki-laki seperti itu, bisa dibilang hanya 3 diantara 10. Apa itu tidak bisa jadi pertimbangan untukmu menerima dia?"
" Yang jadi masalah itu sekarang bukan aku Mir, tapi dia!" Ajeng mulai bicara.
" Kenapa dengan dia?"
" Dia hanya butuh anaknya, bukan ibunya!"
" Kok aneh?"
" Ya mana aku tahu, nyatanya dia emang gitu. Nyaman aja kalau lagi sama Khansa, kaya enggak sadar aku ada diantara mereka."
" Cie... Saingan sama anak sendiri nih, cayo Ajeng, kamu pasti bisa dapatkan bapaknya."
" His! Apaan kamu itu Mir! Enakkan gini aja deh, daripada nikah. Bebas mau apa aja enggak ada yang nglarang, nggak ribet. Pengen anak udah punya, jadi hidupku udah sempurna begini ketimbang harus berharap dari sesuatu yang tak pasti, dan itu menyakitkan."
" Ya, itu terserah kamu aja. Kamu berhak atas hidup kamu, tapi ada baiknya kamu mencoba memberi kesempatan untuk papanya Khansa. Biasanya laki-laki akan kasih tameng pada perempuan yang terlalu mandiri Jeng, mereka lebih suka kalau dibutuhkan. Mungkin dari pandangan mas Mathew kamu itu terlalu dingin, apalagi dengan latar belakang hubungan kalian yang cukup rumit, mungkin dia tidak berharap banyak dari kamu, bisa dekat dengan anaknya aja dia bersyukur. Itu sih yang aku lihat dari dia."
" Kamu lihat darimana?"
" Dari dia sendiri, dia yang bilang waktu itu."
" Dia bilang begitu?"
" He'em."
" Kenapa dia enggak bilang sendiri sama aku?"
" Enggak berani dia, katanya kamu kayak macan!"
" Iya.... Dia emang gak salah bilangin aku macan." ucap Ajeng dengan santai.
" Kok kamu santai aja dibilang macan? Marah apa kek, kok malah happy aja."
" Marah kenapa emang nyatanya aku ini macan kok, gak ada yang salah dia bilang aku gitu."
Mira malah kesal sendiri sekarang, itu membuat Ajeng malah terkekeh.
" Mau tau enggak apa itu macan?"
" Emang apa?"
" Mamah Cantik!"
" Astoge, pengen muntah aku!" 😲😲