I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Tidak ada kesempatan kedua untuk rasa sakit



Disayang-sayang, habis itu ditendang... Begitulah nasib Rayyan saat ini.


Tangisan lega dari keluarga besar beserta para asisten setia pecah tak kala melihat sosok yang sedang berdiri di depan pintu, menyambut kedatangan keluarga yang sudah berderai air mata.


Pelukan demi pelukan yang menyiratkan ketakutan akan kehilangan bergantian Rayyan dapatkan.


" Dasar anak nakal! Kenapa gak kasih kabar kalau gak jadi pergi?" mama memukul punggung Rayyan berkali-kali.


" Emang om pergi kemana sih?" Tanya si Gea.


" Om ke kantor, kena macet. Jadi udah ketinggalan pesawatnya." jawab Rayyan sambil mengacak-acak rambut Gea.


" Trima kasih tuh sama macet, jangan cuma ngumpat doank kalau kena macet." Mathew gantian bersuara, suara kesalnya membuat Rayyan terkekeh.


" Papa hampir minta satu batalyon untuk turun nyariin kamu." Papa memeluk lagi Rayyan untuk yang kedua kali. Belum puas rasanya memeluk anaknya setelah hampir sehari dilanda kekawatiran.


" Salahnya gak telpon!" Celetuk Rayyan setelah mereka berpisah.


" Siapa yang tahu kalau kamu ternyata ketinggalan pesawat!" Mama Sarah kesal dengan Rayyan yang menyalahkan entah siapa, yang pasti mama Sarah tidak terima.


" Makanya besok lagi biasakan kasih kabar Ray kalau pergi, jangan cuma menghilang gitu aja. Sudah mau nikah, jangan cuma mikirin diri sendiri, sudah ada orang rumah yang kawatir, selain orang tua." Ucap si abang Nathan menasehati.


" Iya... Maaf." Cengiran Rayyan makin membuat sebal mama Sarah.


Baru sadar jika tak melihat keberadaan Mira.


" Mira mana ma?"


" Pulang ke bengkel sama Dony sama Sigit." Jawab mama.


" Sigit?" Rayyan mengernyit.


" Dia datang demi adik tersayang."


Gerrr... Tersayang, apaan! Mana bisa begitu?


Ada getar perih sedikit menyelip di sela-sela nafas beratnya, membayangkan Mira lebih memilih pulang dengan Sigit, ketimbang menjumpainya lebih dulu. Lalu suara kawatir dan isak tangis tadi itu apa? Rayyan memaku.


" Kasihan dia hampir pingsan gara-gara kamu, sebaiknya datangi dia, kayaknya tadi kurang sehat. Dony bawa ke Tomy langsung, makanya gak ikut kesini."


" Dia sakit ma?"


" Siapa yang tak sakit jika harus membayangkan sesorang yang berarti menghilang tanpa kabar, apalagi kabar terakhir adanya cuma pesawat meledak! Coba bayangin gimana rasanya, kamu tuh ya, emang minta disentil kayak gini." Mama menghajar Rayyan habis-habisan.


" Sampai enggak ingat makan, nggak ingat minum lebih dari 12 jam, kamu bayangin sendiri gimana rasanya! Dasar anak kurang ajar!" Mama berlanjut memukul punggung Rayyan berkali-kali.


" Maaf ma..... Maaf."


" Kamu pikir cukup dengan maaf, enggak tahu gimana rasanya kami nunggu kabar kamu disana, hampir gila. Mau nafas aja enggak sempet, setiap ada yang datang, selalu kabar dari kamu yang ditunggu, eh kamunya malah enak-enakkan di kantor. Mbok ya bilang besok lagi, jangan seenak udelnya kayak gitu."


" Iya ma maaf." Rayyan hanya bisa mengungkapkan maaf, dan pasrah dengan pukulan bertubi-tubi yang ia dapatkan dari mama Sarah.


" Udah ma mukulnya?" Tanya Rayyan ketika mama sudah terengah-engah, kecapekan.


" Pergi kamu! Sana temui Mira, kasihan dia."


" Iya, Rayyan pergi ya, assalamualaikum."


Semua mata hanya bisa menatap sambil menggeleng melihat bagaimana Rayyan berjalan keluar rumah sambil berlari.


" Tom, kamu dimana?" Rayyan menelpon Tomy.


" Di bengkel."


Rayyan langsung melesat bukan dengan mobil, tapi motor. Mathew menyusul kemudian.


Kelebihan menggunakan motor adalah cepat sampai ditempat tujuan. Itu yang Rayyan suka.


Tapi entah kenapa tadi pagi dia ingin menggunakan mobil saat akan kebandara, dan akhirnya harus terkena macet dan tertinggal pesawat. Beruntungnya, karena terlambat dia bisa terhindar dari kecelakaan.


Menaiki anak tangga 3 sekaligus, sudah tidak sabar ingin berjumpa dengan sang kekasih.


Rayyan menangkap pemandangan diluar ekspetasinya. Dia kira Mira akan berbaring lemah, dengan Tomy yang sibuk dengan stetoskopnya, serta Dony dan Sigit berada didekat Mira, nyatanya tidak sama sekali.


Bahkan di lantai atas tidak ada orang sama sekali, sepi!.


Rayyan mengedarkan pandangan kesekeliling, mengamati setiap ruangan yang ia datangi. Tetap sama dengan saat dia pergi tadi pagi. Bahkan makanan utuh milik Mira tadi pagi masih ada di atas kompor tertutup penutup makanan.


Beralih ke kamar, Rayyan mencoba memutar knop pintu. Terbuka, itu berarti Mira tidak ada di dalam.


Kemana mereka?


Rayyan menghubungi Tomy.


" Tom, kamu dimana? Kamu bilang tadi di bengkel?"


" Aku udah pulang, ni baru belok ke rumah. Ada apa?"


" Mira kemana?"


" Di rumah sakit, drop dia."


" Kok gak kasih kabar?!" Rayyan panik, nada suaranya terdengar meninggi.


" Emang kamu tanya apa?"


" Makanya orang belum sempat ngomong jangan maen putus aja." Sungut dokter Tomy.


" Ya udah, aku tutup ya, aku mau ke rumah sakit." Pamit Rayyan.


" Gak tanya di rumah sakit mana?"


" Di rumah sakit tempat kamu kerja kan?"


" Bukan, di rumah sakit Polri Jakarta."


" What! Kok disana?" Rayyan terkejut, jadi panik sendiri dia sekarang.


" Keburu lemes dia waktu keluar bandara, jadi Dony langsung bawa kesana." jelas dokter Tomy.


" Thanks, aku berangkat sekarang."


Telepon terputus, Rayyan kembali berlari menuruni anak tangga.


Mathew yang baru parkir malah bingung melihat Rayyan buru-buru.


" Mau kemana lu!"


" Jakarta!" Singkat padat, tapi enggak jelas.


" Mira dirawat disana."


Mathew si asisten yang cepat tanggap langsung menggeret Rayyan yang sudah bersiap mengontak motor.


" Gue anterin, gak bagus nyetir dalam keadaan kalut."


Ucapan Mathew ada benarnya, Rayyan memilih menurut dan masuk ke mobil.


Walaupun akhirnya di jalan Rayyan lebih banyak marah-marah sama Mathew gara-gara dia merasa Mathew bawa mobil serasa bawa becak.


Sabar bang, itu cuma perasaanmu aja...


🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹


" Jadi dia sekarang bagaimana?"


" Aku tidak tahu."


" Aku pikir kalian balikan."


Senyum samar terlihat dari bibir seorang gadis yang sedang duduk bersandar di ranjang rumah sakit " Tidak ada kesempatan kedua untuk rasa sakit Ajeng." Ucapnya kemudian.


ckek


" Mas."


Rayyan langsung berlari menghambur memeluk Mira tanpa melihat sekeliling.


Perasaannya lega ketika bisa bertemu kembali dengan Mira.


" Kamu baik-baik saja kan?"


Mira ingin tertawa, tetapi hanya senyum yang tak bisa Rayyan lihat karena mereka sedang saling memeluk.


" Harusnya aku yang tanya."


" Begitu ya...." Rayyan melonggarkan pelukannya, menarik diri untuk melihat wajah Mira yang tersenyu menatapnya, kemudian kembali menarik tubuh Mira mendekat labih erat.


" Mas, aku gak bisa nafas ini." Mira memukul pelan punggung Rayyan, membuat Rayyan terkekeh.


" Maaf." Rayyan melepas, mengusap sayang kepala Mira, baru mau mendekat, maksud hati ingin mendaratkan kecupan, tubuh Rayyan membeku mendengar deheman suara tak asing.


" Ingat ada orang disini bos!" Suara Dony yang berdiri di ujung ruangan sambil menimang bayi mungil dalam dekapannya. Dan Sigit berada di sofa, lalu wanita cantik memakai jas putih, berkalung stetoskop yang menggantung di lehernya.


Rayyan menyipit, seolah meminta penjelasan.


" Don.....?" Pertanyaan itu ia tujukan pada Dony.


" Dia dokter Ajeng. Ingat oma pernah bilang kalau aku sudah tunangan, ya dia orangnya." Jawab Dony santai, sambil membetulkan posisi bayi yang sekarang menemplok di dada sampingnya.


Rayyan beralih ke dokter yang berdiri di seberang ranjang Mira.


" Saya Ajeng." Ajeng mengulurkan tangan, tepat di atas tubuh Mira.


" Rayyan." Rayyan menjabat tangan Ajeng, setelah terlepas Rayyan menatap Dony meminta penjelasan.


" Dia itu sahabat aku dari lampung mas, kami juga sekolah di tempat yang sama." jelas Mira.


" Tapi bagaimana dia bisa bertemu Dony?"


Rayyan bingung, Dony hanya terkekeh.


" Kami bertemu, karena kasus yang sedang menimpa dia."


" Kasus?"


" Ya, kasus ONS yang pernah aku critain."


Rayyan mencoba mengingat..... cukup lama, sampai dia berhasil mengumpulkan kepingan puzzle tentang cerita Dony, yang sedang menangani kasus cinta satu malam di sebuah klub yang mengakibatkan kliennya hamil.


" Dia klien kamu?"


Hanya anggukan Dony, cukup memberi jawaban tentang pertanyaan Rayyan.


" Dia itu yang menikah sama mas Bobby." Jelas Mira.


" Dia mantan istri Bobby."


Ajeng hanya tersenyum kikuk, bagaimanapun sekarang dia menjadi objek pembahasan.


" Ya, hanya istri pura-pura. Begitu sandiwara berakhir, ya sudah. Saya kira mas Bobby bisa kembali ke dia setelah bercerai. Tapi sekarang saya cukup paham mengapa Mira lebih memilih anda, pak Rayyan." Ucap Ajeng.


" Apa saya setua itu?" Rayyan terlihat tidak suka dengan panggilan yang Ajeng berikan, setidaknya jika karyawannya yang memanggil, itu wajar. Tapi di luar dunia kerjanya, dia tidak terbiasa dengan panggilan pak.


" Paman Rayyan mungkin lebih cocok, Ajeng. Bahasa untuk anakmu." Celetuk Mira.


" Ya.... ya.... mungkin itu lebih baik." Rayyan mengangguk-angguk, tanda dia tak keberatan di panggil paman, setidaknya terdengar lebih enak ditelinga.


" Lalu bagaimana sekarang kabarnya dokter dengan calon istri saya."


Buk...!


Pukulan di punggung mendarat tiba-tiba, dan itu dari Mira.


" Bener kan yank, kalau bukan calon istri, terus apa?"


Mira melengos, membuang muka, malu dengan pengakuan Rayyan, yah... walaupun tak dipungkiri dia senang juga.... Munafik dikit bolehlah.... 😉


" Lamaran aja belum, ngaku-ngaku calon istri!" Celetuk Mathew dari arah pintu masuk.


Sontak seluruh pandangan mata dari semua orang yang ada di dalam ruangan itu mengarah padanya. Tak terkecuali pandangan Ajeng yang terkejut dengan kehadiran seseorang yang sudah hampir satu setengah tahun ia cari, ternyata saat ini muncul dihadapannya.


" Kamu...!" Suara itu bergetar, membuat semua orang memusatkan perhatian pada dokter Ajeng yang sudah merah padam, siap mengeluarkankan segala sesuatu yang sudah ingin meledak!


🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹


Hayo..... Jangan lupa vote ya sayang-sayangkuh...😍


Akuh syuka komen kalian di part sebelum ini, suer, ingin kuulang lagi bikin begituan.... Rasanya gimana gitu bisa buat adegan menguras emosi, tapi ujung-ujungnya.... zonk!


Wes, gitu aja, selamat membaca....


Luv U all


FILLIA