I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Doa dalam Sebuah Nama



Seluruh keluarga besar menggerutu karena tak bisa ikut menunggui proses kelahiran anggota baru.


" Masa iya, mau lahiran suruh ngempet ma, ya enggak bisalah." Tetep ngeles si Rayyan.


" Ya paling enggak telpon mama, kasih tau yang lain kalau sudah mau lahir." Mama masih kesal.


" Ya tadi waktu pada pulang emang sudah ada tanda-tanda kan?"


" Maksudnya pas udah di kamar bersalin Rayyan." Gedek sendiri si mama, karena Rayyan tetap tak mau disalahkan.


" Udah ma, yang pentingkan semuanya sehat, lahir dengan lancar dan selamat." Papa Jo menengahi.


" Bukan dengan lancar dan selamat pa, tapi dengan dokter dan perawat."


Pletak!


" Ampun deh, ngomong sama anak ini." Mama jengkel dengan Rayyan yang selalu menjawab.


" Mir, dimana dedeknya?" Mama beralih ke Mira yang masih berbaring, walaupun sudah dipindahkan ke kamar perawatan.


" Masih di ruang bayi ma. Masih di incubator. Beratnya masih kurang, jadi sementara dirawat di sana dulu." Jelas Mira.


" Enggak papa, yang penting sehat semua."


" Mama mau lihatlah, ngintip dari kaca kelihatan kan?"


" Kelihatan ma, tapi kalau masuk belum boleh."


" Iyalah, dari kaca aja, enggak papa." Ucap mama Sarah antusias, kemudian keluar diikuti papa Jo dan Nathan.


Baru keluar, keluarga dari Mira datang.


" Sudah lahiran mbakyu, ayuk lihat bayinya." Ajak mama Sarah pada dua ibu Mira.


" Weleh, kok nilapne ( Mengalihkan perhatian)" Ibu Santi langsung ikut mama Sarah menuju kamar bayi, tetapi bu Reni ikut para laki-laki masuk kamar perawatan Mira, agar tidak terkesan menggerombol di depan kamar bayi.


" Selamat ibu baru." Ibu Reni mencium pipi Mira, seraya memeluk putrinya itu.


" Trima kasih bu, ibu mana?" Mira tak melihat bu Santi saat bu Reni dan yang lain masuk.


" Ibumu masih melihat bayi sama mbak Sarah." Jawab bu Reni.


" Selamat dek, udah resmi jadi ibu." Sigit mendekat, menyalami Mira.


" Ma kasih mas, cepet nyusul." Mira melirik ke Sania yang berada di samping Sigit.


" Jangan kawatir, tunggu kabarnya aja." Ucap Sigit.


" Iyalah, gak dikabari awas!" Ancam Mira.


" Weh, induk ayam mulai galak!" Ledek Sigit.


" Jangan mulai Git!" Bu Reni memperingatkan.


" Maaf nyak, gak tau kalau orang habis melahirkan bisa galak kayak induk ayam." Sigit menyingkir, ketika tangan Mira menggapainya.


" Belum tahu aja nanti kalau udah nikah, si malu-malu meong bisa berubah jadi singa." Mira melirik lagi Sania yang hanya tersenyum.


" Awas Git, perempuan kalau udah ganti identitas galaknya enggak ketulungan. Banyak KDRTnya, dikit-dikit mukul, dikit-dikit nyubit." Suara Rayyan dari pintu masuk sambil membawa jus yang diminta Mira.


" Beda kayak waktu pacaran, nurut, manis, kalem, suka malu- malu gemesin. Giliran udah nikah, ya ampun galaknya hadewww!"


" Aku disini mas." Mira menatap tajam sang suami yang malah senyum-senyum.


" Mas tahu kamu disitu sayang. Enakan ngomongin orangnya di depannya daripada di belakang, nyakitin."


" Tapi enggak gitu juga kali mas, jujur banget." Mira mendengus.


" Emang jujur itu kadang menyakitkan sayang." Rayyan tersenyum lagi, membuat Mira ingin menampol wajah tampan yang sedang mengejeknya itu.


" Lihat Git, dulu waktu pas pacaran, wajah begitu itu gak kelihatan. Tapi sekarang wajah garang udah jadi suguhan setiap hari." Bisik Rayyan pelan ke Sigit.


" Mas, aku masih dengar." Protes Mira.


" Iya, mas tahu. Nih minum dulu jusnya, sesuai permintaan nyonya." Ucap Rayyan, serasa mengulurkan botol berisi jus lemon untuk Mira.


" Ma kasih mas."


" Sama-sama sayang." Rayyan mengusap kepala Mira dengan sayang.


" He'em... Ada orang disini Ray." Papa Jo udah balik dengan yang lain.


" Dari tadi kan emang banyak orang kan disini pa." Rayyan berucap yang sebenarnya.


" Iya, tapi mesranya itu lho bikin ngiri."


" Lah ngapa ngiri, kan ada mama." Rayyan menunjuk mama Sarah di sebelah Sania.


" Udah tua mah, udah berkurang mesranya." Papa Jo bersungut.


" Kurang darimana haaaa! Tiap hari mi...... a."


Papa Jo membekap mulut mama Sarah agar tidak kecepelosan ngomongin kegiatan mereka saat sedang berdua di rumah.


" Mas... Katanya mau ngomongin tentang nama dedek, mumpung semua kumpul nih." Ucap Mira.


" Mbak Rita gak bisa datang, Geby sama Gea kecapekan katanya. Titip salam, selamat katanya. Besok aja kalau udah pulang baru jenguk." Ucap bang Nathan.


" Iya bang, enggak papa." Ucap Rayyan.


" Yuk, dimulai vote buat nama si kembar." Mama Sarah sangat bersemangat.


Seperti yang sudah-sudah saat Gea dan Geby lahir, mereka sudah menyiapkan nama masing-masing untuk sang bayi. Jadi dengan melakukan permainan, mereka mulai berdiskusi bahwa dua yang menang berhak memberi nama. Karena sekarang anak yang lahir kembar, maka diputuskan untuk dua pemenang terakhir yang berhak memberikan nama.


Konyol memang cara keluarga ini, tetapi beginilah mereka mempertahankan kekompakan.


" Mulai ya." Mama Sarah memberi instruksi.


Bukan hanya keluarga besar Aquino, tetapi dari keluarga Mira juga ikut andil.


" Cang kacang panjang yang panjang ka.......... Menang!"


Dari 10 tangan, ternyata ada 4 yang pendek jadi 4 itu harus mundur, yaitu Sigit, bu Reni, mama Sarah dan Rayyan.


Mereka bergerak menjauh dengan wajah kecewa, kemudian menyaksikan 6 tangan lain yang masih bertahan.


Permainan dilanjutkan dengan instruksi yang sama


" Cang kacang panjang yang ka...... Me..... kalah!"


Pak Subagio, Sania menyingkir tinggal bu Santi, Mira, bang Nathan dan papa Jo yang masih bertahan.


" Semangat sayang!" Rayyan memberi dukungan untuk Mira.


Permainan dimulai, semua kembali konsentrasi dengan permainan yang mengecoh itu.


" Cang kacang panjang yang panjang me...... Na.... Kalah!"


Hanya papa Jo yang menang, itu berarti 3 lainnya harus bermain lagi untuk mencari siapa yang berhak memberi nama untuk baby twins.


" Sayang, jangan kalah!" Rayyan gemes sendiri dengan pemainan yang membuatnya ikut kawatir dengan kemenangan yang sudah dikantongi papa Jo, jika istrinya kalah itu berarti nama satu lagi bukan Mira yang memberi.


" Cang kacang panjang yang panjang me... Ka.... Me.... Ka..... Me..... Na.... Kalah!"


" Curang! Harusnya segera, jangan buat mainan." Mira menggerutu karena terkecoh hingga dia kalah. Sedangkan bang Nathan langsung mengepalkan tangannya " YES!" akhirnya dia menang dan melakukan 'tos' dengan papa Jo yang bersorak gembira.


Beruntung mereka berada di kamar VVIP yang jauh dari kamar rawat lain, sehingga tidak menganggu pasien rawat inap lainnya.


" Yang bagus bang! Awas kalau enggak, gak trima aku anakku punya nama jelek. Nama itu adalah doa." Rayyan mewanti-wanti bang Nathan yang langsung bilang " Ok! Jangan kawatir le, tole."


" His! Gak lucu." Rayyan mendengus kesal, yang lain tertawa melihat wajah Rayyan yang ditekuk.


" Siapa Nat namanya?" Tanya papa Jo memberi kesempatan bang Nathan untuk mengatakan nama yang sudah dipersiapkannya untuk salah satu baby twins.


" Aku kasih nama yang cewek ya, kemarin kan anakku bukan aku yang kasih."


" Iya buruan! Kelamaan!" Mama Sarah kesal.


Bang Nathan terkekeh, kemudian menarik nafas dalam untuk bersiap mengucapkan nama untuk putri keluarga Aquino.


" Siapa bang?"


Dengan lantang bang Nathan mengucapkan satu nama yang ada di dalam hatinya.


" Bismilah namanya Azzura."


" Artinya?"


" Langit biru cerah. Semoga anak ini nanti memiliki masa depan cerah secerah langit biru di musim semi."


" Amin!" Semua setuju.


" Kalau papa?"


Papa Jo mulai bersiap dengan mengucap Bismilah juga dia menyebutkan satu nama untuk putra Rayyan.


" Namanya Azzam."


" Artinya?"


" Azzam artinya kebulatan tekad. Semoga anak ini nanti memiliki tekad yang bulat untuk menggapai mimpi dan cita-citanya."


" Amin."


" Gimana Rayyan, Mira? Kami hanya bisa memberi nama yang kami anggap baik, jika itu masih kurang menurut kalian, maka kami serahkan pada kalian." Ucap papa Jo.


" Bukan kurang pa, hanya saja kami berdua sudah sepakat akan menambahkan nama di belakang nama yang sudah diberikan oleh siapapun yang berhak memberikan mereka nama."


" Lalu bagaimana akhirnya?"


" Akhirnya kami akan menambahkan nama yang sudah ada dengan nama Putra Aquino dan yang satu Putri Aquino. Jadi untuk putra kami, kami beri nama Azzam Putra Aquino dan untuk putri kami beri nama Azzura Putri Aquino."


" Terima kasih untuk doa kalian semua, yang pasti kami sebagai orang tua hanya bisa mendoakan supaya anak-anak kami bisa tumbuh dengan sehat, cerdas, soleh dan solehah, serta bisa berguna bagi bangsa dan negara, dan membanggakan kami kedua orang tuanya."


" Amiiiiiinnnnn!"