
Rayyan pikir, Mira akan makan jika dibelikan nasi padang seperti kemarin. Tapi nyatanya pikirannya salah.
Dengan bahagianya dia masuk ke kamar mencari keberadaan sang istri yang sudah siap dengan penampilan rapinya.
Mereka hari ini akan kontrol rutin. Karena jadwal kontrol siang, Rayyan ijin dulu pergi ke daeler untuk bertemu Mathew. Sepulang dari daeler dia mampir ke warung nasi padang tempat yang sama dimana kemarin Mira membeli.
Memperlihatkan bungkusan nasi berisi menu yang sama dengan yang kemarin, berharap Mira akan melahap makanan itu dengan tandas .
Sekali lagi kenyataan tak sesuai dengan ekspetasi.
Mira langsung berlari ke kamar mandi begitu mencium aroma nasi padang yang menguar.
Rayyan hanya berdiri mematung, dengan memegang nasi bungkus di telapak tangannya.
Mira keluar, tetapi Rayyan masih sama, berdiri dengan nasi bungkus, otomatis Mira langsung menutup hidungnya.
" Bawa keluar mas, bau!" Mira mengusir Rayyan yang tak segera beranjak, karena dia bingung.
" Ini nasi beli ditempat kemarin yank, lauknya aja sama." jelasnya, tetapi Mira malah mengerakkan tangannya menyuruh Rayyan membawa keluar nasi padang yang belum terbuka isinya.
Rayyan mengalah, lebih baik dia segera menyingkirkan bungkusan makanan itu, daripada Mira muntah lagi.
" Padahal kemarin gak masalah makan ini, kenapa sekarang mual lagi." Gumamnya.
" Ayok mas." Mira sudah menunggu untuk berangkat ke rumah sakit.
Rayyan mencuci tangan di wastafel sebelum keluar, takutnya Mira protes dengan bau yang tertinggal di tangannya.
" Sudah siap."
Mira mengangguk, Rayyan langsung menyambar kontak di atas mobil yang beberapa lalu baru ia letakkan.
Mereka kini menuju rumah sakit, karena Ajeng dan Tomy sudah menunggu mereka disana, dan dokter kandungan khusus juga sudah siap ditempat.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
Semua mata tertuju pada layar yang menunjukkan kondisi di dalam perut Mira.
Ada sesuatu yang lain dari tampilan di layar, membuat dokter berkali-kali memastikan bahwa apa yang dia lihat tidak salah.
Canggihnya teknologi masa kini dengan kapasitas gambar 4D, gambar bisa nampak begitu jelas, bahkan pergerakan bayi yang belum begitu dirasa oleh ibu dalam usia kandungan 14 minggu itu, kini bisa dilihat begitu nyata.
Dua mahluk yang saling berbagi tempat dalam satu kantung tetapi terpisah, saling mendekat, bahkan terlihat seperti sedang berciuman membuat dokter mengatakan bahwa disana di dalam rahim ibu sedang tumbuh dua mahluk mungil.
Mereka tumbuh dengan sehat, ukuran kepala normal, bentuk wajah sudah tergambar jelas, bahkan tangan-tangan kecil sudah terlihat lengkap dengan jari-jari, begitu pula dengan kaki yang sudah lengkap. Semua sempurna.
" Wow... Wow... Wow hebat, bener-benar bibit unggul." Dokter Tomy terkekeh sambil menepuk-nepuk pundak Rayyan yang ikut tergelak.
" Buat aku satu ya." Ucapnya.
" Ambil aja motorku satu ikhlas lahir batin aku tapi kalau yang ini jangan! Kalau bisa aja nambah."
Plak
Satu pukulan dan lirikan tajam sang istri membuat Rayyan meringis " Ampun bos."
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
Ungkapan rasa syukur atas anugerah berlimpah.
Rayyan beserta keluarga besar kini berada di salah satu yayasan sosial untuk memberikan donasi bagi anak-anak kurang mampu dan terlantar yang di tampung di beberapa panti.
Besarnya donasi yang mereka berikan bukan apa-apa dibanding dengan doa yang mereka panjatkan untuk keluarga besar Aquino, terutama untuk kesehatan ibu dan calon buah hati. Mereka percaya bahwa doa anak yatim dan tidak mampu akan didengar oleh Allah.
Sebenarnya kegiatan seperti ini bukan kali ini saja yang dilakukan oleh keluarga Aquino. Mereka rutin memberikan donasi lewat rekening, tidak datang langsung seperti ini, karena kesibukan yang luar biasa. Tetapi karena moment yang pas bertepatan dengan 7 bulanan kehamilan Mira, mereka memilih untuk merayakannya bersama anak-anak panti siangnya, kemudian malam hari baru melakukan pengajian bersama para kerabat dan tetangga di rumah.
Mereka saat ini sudah menempati rumah baru, bukan lagi dibengkel.
Bukan mama Sarah tak mau menawarkan tempat untuk tinggal bersama, tetapi mama Sarah adalah tipe orang tua yang memberi kebebasan pada anak-anak.
' Biarkan mereka membangun sendiri istana untuk keluarga mereka' Itu adalah slogan mama Sarah untuk anak-anaknya saat mereka memutuskan untuk berumah tangga.
Toh rumah mereka tidak jauh dari tempat tinggal mama Sarah, jadi masih bisa selalu berjumpa.
Alasan yang membuat mereka pindah karena mereka butuh ruang gerak yang luas, apalagi dengan hadirnya 2 anggota baru dan mungkin beberapa asisten dan pengasuh yang akan membantu setelah kelahiran si kembar.
Tetapi saat ini mereka belum menggunakan jasa asisten rumah tangga tetap. Hanya memanggil pekerja online untuk membersihkan rumah. Mencuci masih bisa ditangani dengan mesin, dan memasak Mira lebih suka memasak sendiri.
Rayyan memperhatikan Mira yang sedang menyusun pot bunga di halaman depan. Ibu hamil yang satu ini sangat aktif, seperti tidak punya rasa capek di siang hari, walaupun saat malam dia akan mengeluh pegal-pegal disekujur tubuh, terutama bagian kaki dan pinggang.
" Istirahat yank." Pinta Rayyan saat dia membantu Mira memindah pot bunga yang lebih besar agar tersusun sesuai dengan yang dia inginkan.
Perut besar itu ternyata tak menghalangi Mira untuk bergerak.
Saat ini, rasa mual sudah tidak dirasakan, bahkan nafsu makan Mira bertambah. Sudah bisa makan nasi, tetapi tetap tidak ingin makan daging atau apapun yang berbau amis.
Jeruk masih jadi buah favorit, dan sayuran juga tetap menjadi menu utama.
" Sudah istirahat dulu, kasihan dedek nanti capek di dalam perut." Rayyan mengelus perut Mira, dan saat itu juga pergerakan dirasakannya, membuatnya merasakan sensasi yang luar biasa.
" Mereka gerak yank."
" He'em, mulai aktif banget. Kadang sampai terasa sakit disini." Mira meletakkan tangannya di bagian atas perutnya.
" Dedek jangan nakal, kasihan mama."
" Tapi kalau enggak gerak malah bingung nanti mas, emang kudu gitu kan? Nikmati aja."
Hem.... Senyum mengembang di bibir Rayyan, kemudian mengangguk menyetujui ucapan sang istri.
" Istirahat dulu ya, udah siang ini. Kringetnya banyak banget tuh."
" Berartikan sehat."
" Iyalah, istri siapa dulu, harus sehat dong." Ucap Rayyan bangga.
" Terus gimana kalau sakit?"
" Ya enggak gimana-gimanalah, namanya juga manusia pasti sakit. Jangan kawatir sayang, mau sakit ataupun sehat, mas akan selalu jagain kamu sama dedek kok, ya kan dek." Rayyan mengajak berdialog lagi si kembar dengan memegang perut Mira yang otomatis disambut dengan pergerakan dari dalam.
" Emang kayaknya seneng banget mereka disentuh sama papanya." Ucap Mira.
" Bukan cuma mereka, tapi mamanya juga." Ledek Rayyan yang langsung dapat cubitan di bagian pinggang, membuat Rayyan mengaduh kesakitan.
" Rasain!" Mira langsung melangkah masuk ke dalam rumah meninggalkan Rayyan, tetapi bukan Rayyan yang mudah tertinggal, dia ikut masuk menggandeng tangan Mira, sambil senyum-senyum aneh.
" Mas tuh kenapa sih senyum-senyum?"
" Pengen aja."
" Aneh tau enggak!" Sungut Mira.
" Tanya geh pengen apa?" Rayyan memancing agar Mira tahu maksudnya.
" Ya pengen senyumkan, itu udah."
" Bukan pengen senyum yank."
" Lha emang pengen apa?" Mira menuju wastafel untuk mencuci tangannya. Rayyan ikut tetapi dia memilih mencuci tangan dari belakang tubuh Mira, mengungkung tubuh Mira, membuat Mira mendongak ke belakang.
" Gantian kenapa?"
" Enakan gini, kan mesra." Rayyan tak peduli dengan Mira yang mencibir.
" Romantis dikitlah."
" Ogah! Mas tuh kalau diromantisin ujung-ujungnya malah minta aneh-aneh."
" Ya enggak anehlah, kan sama istri masa iya 'gituan' kok aneh!"
" Gak usah bahas kayak gitu!"
" Lha maunya bahas apa?"
" Mending minggir dululah, susah ini, ntar kalau dedeknya kejepit gimana?" Mira mundur karena perutnya menyentuh pinggiran wastafel, otomatis bagian tubuh belakangnya menabrak tubuh Rayyan.
" Tuhkan mancing-mancing." Rayyan terkekeh, apalagi saat ini Mira berbalik dan memelototinya " Apa?" Tantangnya.
" Makin gemes kalau mlotot-mlotot kayak gini... Cup." Rayyan mengecup bibir manyun yang langsung meledak karena kelakuannya.
" Minggir dulu, udah enggak tahan nih." Mira mendorong tubuh Rayyan agar mundur, tetapi emang dasar nyebelin Rayyan malah menjahilinya.
" Nggak tahan kenapa hayo.....!" Alisnya yang naik turun membuat Mira jadi geram.
" Mau tau aku nggak tahan pengen ngapa? Sini!" Mira meminta Rayyan menunduk, seperti kerbau, Rayyan menurut begitu saja, tanpa bisa mengelak telinganya sudah jadi senjata untuk Mira agar bisa lepas darinya.
" Aduh...duh...duh, ampun yank." Rayyan meringis, mohon ampun.
" Makanya awas, minggir pengen pipis ini, udah enggak tahan." Mira langsung beranjak menuju kamar mandi terdekat, meninggalkan Rayyan yang masih menikamati rasa panas di telinganya.
Syukurin lu bang! 😝