
Mira hanya diam saja, tak berani bergerak sedikitpun. Teringat pesan Matthew yang mengatakan bahwa Rayyan mudah sekali terbangun saat tidur, apalagi saat ini Rayyan sedang memeluknya.
Diliriknya berkali-kali wajah Rayyan, tetapi berkali-kali itu juga mata itu belum terpejam, bahkan selalu tersenyum saat mereka bertemu pandang.
Apakah gerakan mata juga mengganggu, kok dia tidak tidur juga?!
Saat sudah hampir tengah malam, dan Mira sudah sangat ngantuk, tetapi tidak berani untuk tidur, takut kalau saat tidur dia bergerak dan mengganggu Rayyan. Dia jadi gelisah sekarang.
Hingga satu pemikiran dengan Mathew untuk tidur di tempat lain mulai terbersit dipikirannya.
" Mas..."
" Hem."
Sejenak, Mira bingung mau mengatakan maksudnya, tetapi dia tidak bisa menahan lagi rasa kantuknya.
" Mas gak bisa tidur karena aku ya?"
" Mas gak tidur karena kamu belum tidur."
Jawaban yang membuat Mira makin bingung.
" Mas.."
" Hem..."
" Aku tidur di sofa aja ya."
" Ya... Tapi mas ikut."
" Jangan! Nanti mas gak bisa tidur." Cegah Mira.
" Kamu kenapa sih?" Rayyan memperhatikan raut wajah Mira yang bingung.
" Kata mas Mathew mas gak bisa tidur kalau...."
" Kalau kamu enggak tidur." Potong Rayyan.
" Kamu gerak terus, nanti ada yang bangun. Sudah cepet tidur! Apa mau begadang aja malam ini!"
" Oh no! Tidur... tidur, tidur aja sekarang. Mas kan harus istirahat yang cukup jadi jangan begadang ya. Yuk tidur." Mira buru-buru merubah posisi menjadi memunggungi Rayyan agar bisa cepat tidur, tetapi pemikirannya salah, ternyata dia malah penasaran saat Rayyan beraksi dengan memeluknya dari belakang dan menciumi pundaknya. Otomatis Mira merasa geli, langsung berbalik. Hingga Mata bertemu lagi, namun kali ini tatapan Rayyan terasa lain.
" Tidur mas, udah malam!"
" Ngibadah yuk." Ajakan yang membuat Mira bingung, bahkan matanya kini melebar menatap mata Rayyan yang sendu.
" Jangan aneh deh mas, ini udah malam!"
" Iya... Mas tahu ini udah malam..." Suara berat Rayyan membuat Mira bergidik ngeri. Apalagi sorot mata yang seketika membuat Mira harus menahan nafas. Pikirannya langsung paham apa yang dimaksud Rayyan, suaminya itu meminta haknya, itu berarti kewajibannya adalah memberikan hak Rayyan sebagai suaminya.
" Aku ke kamar mandi dulu ya." Secepat kilat Mira langsung berlari, seolah reflek ingin menghindar dari Rayyan.
Di balik pintu kamar mandi Mira bersender, ingin menetralkan detak jantungnya yang seolah-olah meloncat-loncat, nafasnya memburu, apalagi tangannya mulai berkeringat sekarang.
" Haduh, gimana ini?"
Mira berjalan ke wastafel, membasuh wajahnya disana. Seolah ingin menghilangkan hawa panas yang menjalar di wajahnya.
Memejamkan mata mencoba menenangkan hatinya yang gugup, Mira berdiam di depan cermin, berkali-kali mengelap wajahnya, dan tentu saja kini tubuhnya malah terasa bergetar.
" Ya Allah, gimana ini." Bergumam sendiri, sambil berjalan kesana-kemari. Ketukan pintu malah membuatnya makin gugup.
" I... iya, sebentar."
" Mas juga mau pakai kamar mandinya yank."
Itu berarti Mira harus keluar dari kamar mandi sekarang.
" Ya Allah, aku malu harus melihat wajahnya."
" Yank..."
Mira langsung membuka pintu kamar mandi, menunduk adalah pilihan terbaik, daripada harus bertatap muka dengan Rayyan, membuat nyalinya makin menciut saja.
" Tungguin , jangan tidur dulu ya." Pesan Rayyan, sebelum masuk kamar mandi.
Mira jadi kelimpungan sekarang.... Jantungnya makin tak karuan, keringat dingin mulai bermunculan. Mira mengambil remot AC untuk menaikkan suhu, tetapi ternyata itu tidak membantu, ia mulai mengambil selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Bersembunyi di balik selimut, mana bisa...
Rayyan merasakan hawa dingin yang berbeda saat dia keluar dari kamar mandi, makin dingin, tetapi melihat Mira yang tertutup selimut membuatnya paham bahwa si istri sedang gugup menghadapi dirinya.
Ia berjalan menghampiri gundukan selimut, membuka bagian teratas, melihat Mira pura-pura memejamkan mata, malah membuatnya tersenyum.
" Pura-pura tidur ya...."
Mira tak mampu lagi untuk bertahan dengan aktingnya, akhirnya ia menyerah membuka mata juga selimutnya, karena jujur saja dia berkeringat sekarang.
" Mas."
" Hem."
Mira menatap wajah Rayyan yang tepat berada di atasnya, seolah ingin mengajak Rayyan untuk bernegosiasi.
" Kamu gugup?"
Mira mengangguk.
" Sama, nih tangan mas aja dingin." Rayyan menempelkan telapak tangannya ke lengan Mira.
" Ini juga yang pertama buat mas."
" Aku takut."
" Katanya sakit ya."
Rayyan tersenyum melihat lucunya Mira saat itu.
" Mas aja belum pernah, makanya kita coba."
" Kalau besok aja gimana?" Tawar Mira.
" Besok sama sekarang juga sama aja sayang, sama-sama sakit. Apa tahun depan aja gimana?" Ejek Rayyan.
" Iiih! Mas tuh, serius dikit kenapa?" Mira memukul pelan dada Rayyan, membuat Rayyan terkekeh.
" Ya kamunya juga aneh, masa iya begituan ditunda. Menikah itu adalah ibadah, berhubungan suami istri itu penyempuran ibadah, jadi emang wajib dilaksanakan."
" Tapi....." Mira masih terlihat ragu.
" Percaya sama mas deh, bakal pelan-pelan. Nanti kalau sakit bilang ya..."
" Emang kalau bilang terus enggak sakit mas?"
" Ya .... Ya.... Gak ngerti juga sih. Tapi katanya sakitnya cuma sebentar kok, kalau udah sih katanya bikin nagih."
" Kata siapa?"
" Mbah google."
" Mas baca begituan? Nonton juga?"
Rayyan tersenyum " Buat pengetahuan aja kok, biar enggak polos-polos amat.... Hehehe..."
" His.... Amit-amit."
" Yang penting kan prakteknya sama yang halal yank, enggak sembarangan. Makanya yuk geh."
" Apa mau lihat dulu kamunya, biar tahu caranya."
" Ogah! Bayangin aja udah jijik aku mas." Mira bergidik ngeri.
" Gak usah dibayangin, dipraktekin aja ya."
Rayyan mulai bergerak turun, namun dadanya ditahan oleh Mira.
" Sebentar."
" Apa?"
" Ntar kalau sakit jangan diterusin ya."
Rayyan berpikir sejenak, sebelum mengangguk menyetujui permintaan Mira.
Rayyan mulai bergerak lagi, namun Mira kembali menahannya.
" Apa lagi?"
" Pelan-pelan ya." Rayyan mulai kesal sekarang.
" Hem."
Mira diam saja saat Rayyan mulai beraksi dengan menciuminya, bahkan seluruh tubuhnya kini menegang, tak dapat balasan membuat Rayyan berhenti, kemudian berpindah ke samping, tak jadi melanjutkan niatnya.
Mira jadi merasa bersalah sekarang, apa lagi melihat wajah Rayyan yang seperti kecewa.
" Mas."
" Hem."
" Marah ya."
" Tidur aja, udah malam." Suara datar Rayyan membuat Mira takut.
" Mas."
" Tidur udah malam."
" Mas marah ya."
Rayyan hanya diam, bahkan kini dia berusaha memejamkan mata.
" Mas." Mira meraih tangan Rayyan, menggoyang-goyangkan agar Rayyan mau bicara, tapi nyatanya Rayyan tak bergeming.
" Mas, maaf." Mira mulai terisak, karena Rayyan kini marah padanya.
Rayyan tahu Mira menangis, tapi dia tak harus luluh dengan cepat, ingin melihat bagaimana Mira berusaha merayunya. Mengharap sedikit dapat rayuan enggak papalah...
" Mas marah sama aku ya... Biar mas enggak marah aku harus gimana?"
" Tidur!" Jawab Rayyan.
" Tapi aku enggak bisa tidur kalau mas marah, makanya mas jangan marah lagi ya. Mas maunya gimana? Aku turutin deh, mau itu sekarang juga enggak papa, yang penting mas jangan marah lagi ya... ya..."
" Tidur aja."
" Mass.... Hiks.... Hiks... Huhuhu..." Rayyan hanya melirik saat Mira mengusap air matanya, kemudian terpejam lagi. Sebenarnya dia tak tega, tapi sekali-kali ingin memberi Mira pelajaran agar tau kalau Rayyan bisa tak luluh dengan air mata.
" Mas.... Jangan marah sih." Mira duduk, mendekat ke Rayyan, mencoba membangunkan Rayyan dengan menyentuh pipinya, tapi tetap saja Rayyan hanya diam.
Akhirnya greget juga Mira dengan kelakuan Rayyan yang ngambek, sudah tak sabar dia akhirnya mencium bahkan mulai memberikan ******n di bibir Rayyan, membuat Rayyan seketika melotot. Tak menyangka jika Mira akan melakukan itu, karena selama ini selalu dia yang memulai, tapi saat ini, hanya gara-gara pura-pura ngambek, ternyata dapat rejeki nomplok.
Ok, sayang... Karena kamu yang memulai, jangan salahkan kalau aku tak bisa mundur lagi! Let's do it!