I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Cuma Sedikit



Mira baru terpikir, kenapa hpnya bisa untuk telponan, padahal paketannya habis dan belum diisi. Rencana mau ngajak Andre untuk keluar membeli paket data gagal gara-gara Andre yang membuatnya emosi.


Kemudian tangannya mengetik angka untuk mengecek paketan. Menunggu beberapa saat, kemudian memilih pilihan cek paket anda. Menunggu lagi.


Mata Mira terbelalak melihat jumlah paketan yang cukup untuk melihat YouTube selama 1 tahun, tanpa jeda iklan. Emang nyebelin kalau lagi asyik buka aplikasi harus terganggu dengan iklan yang bertebaran.


Andre memergoki lagi kakaknya yang melongo begitu lama sambil memegang hp.


" Tuh kan kumat!"


" Terserah kamu mau bilang apa, yang penting aku dapet bonus peketan unlimited selama setahun."


Andre tentu tak percaya dengan ucapan Mira, kemudian mengambil paksa hp milik Mira. Mira diam saja, membiarkan Andre melihat sendiri jumlah paketan di hpnya.


" Kok diem? Gak percaya aku dapet paketan sebanyak itu?" Ejek Mira, dia mengambil begitu saja hp dari tangan Andre.


" Kakak dapet darimana paketan sebanyak itu?" Tanya Andre.


Mira mengedikkan bahunya, karena dia sendiri juga tidak tahu darimana asalnya.


" Bagi dong kak." Rayu Andre.


" Gimana caranya bagi paket?"


Andre diam sejenak. Kalau pulsa bisa di bagi, kalau paket kira-kira bisa enggak ya?


" 5 GB aja kak."


Mira berdecak kesal, dia sendiri masih bingung darimana asalnya paket internet sebanyak itu.


Kalau sampai ada orang salah kirim, terus memintanya mengembalikan bagaimana? Terus berapa duit ya paketan sebanyak ini?.


Mira meletakkan hp begitu saja di atas meja, tanpa berniat. Dia malah bingung dengan kemungkinan saat ada nomor memintanya untuk mengembalikan paket itu.


Andre mendekat, ingin mengambil hp Mira. Mira langsung memukul tangan Andre.


" Jangan!" larangnya.


" Sayang kak kalau enggak dipakai." Ucap Andre.


" Terus kalau nanti ada yang telpon kakak, terus minta dikembaliin paketnya gimana?"


" Bilang aja enggak trima paketan. Kan kakak juga enggak kenal kan sama orangnya. Biasanya kalau aku terima telpon dari orang yang tak dikenal, aku bilang " maaf anda salah sambung" beres!" Saran Andre.


" Tapi itu sama saja bohong Ndre. Kira-kira berapa duit paketan segitu ya?"


Gantian Andre yang mengedikkan bahunya, dia juga tidak tahu. Biasanya dia hanya membeli paketan seharga 65 ribu untuk sebulan.


Hp Mira berdering, panggilan VC dari Rayyan.


Mira dan Andre melihat nama itu tertera di layar.


" Sampai nama kontaknya aja di kasih nama sama." Cibir Andre.


" Angkat!" perintah Mira.


" Kok aku?" Andre bingung mengapa kakaknya menyuruhnya mengangkat panggilan itu.


" Kamu bilang kakak halu, sekarang angkat telponnya, biar kamu tahu siapa dia."


Andre melirik foto profil di layar hp Mira.


" Cek!" Dia berdecak, tapi mengambil juga hp itu dan menggeser tombol hijau ke atas.


Andre belum bersuara, karena sedang melihat orang yang menghubungi masih beres-beres di area balapan. Bahkan sedang memberikan baju balap pada sang asisten sekaligus managernya.


" Bentar yank." Suara Rayyan terdengar, membuat Andre menoleh pada Mira yang menatapnya dengan datar.


Barulah beberapa detik setelah itu, nampak wajah Rayyan yang mengenakan kaos hitam dan topi di layar hp.


" Oww... Sorry! Mira ada?" Rayyan tersenyum, tak terkejut walaupun bukan Mira yang mengangkat panggilan telponnya.


" Katanya ada acara sama team mas? Kok telpon lagi." Seru Mira dari tempat duduknya. Ia melarang Andre untuk pergi, dan menahannya tetap melihat ke layar.


" Iya nanti, break dulu." Jawab Rayyan.


" Ini Andre ya? Hallo." Rayyan melambai pada Andre.


" H.... Ha... i... Juga." Andre menjawab dengan kikuk. Karena masih belum percaya jika dia berbicara langsung dengan seorang rider kelas dunia yang baru saja ia saksikan lewat televisi.


Rayyan diam lagi, karena Mathew memintanya untuk menandatangani berkas, entah apa Andre juga tidak tahu.


" Sorry." Rayyan kembali bicara.


" Nih kak." Andre memberikan hp pada Mira dan langsung kabur begitu saja.


" Mau kemana?" Tanya Mira.


Andre tak menjawab, bahkan tak menengok sama sekali pada Mira. Berlalu begitu saja keluar rumah.


" Paketnya udah sampai belum yank?" Tanya Rayyan.


" Paket apa?" Mira bingung, tak paham dengan maksud ucapan Rayyan.


" Paket apa ya....." Rayyan menjeda ucapannya " Met, paket apa tadi?" Dia bertanya pada Mathew, karena dia lupa namanya.


" Paket data, paket internet." Suara Mathew terdengar, namun orangnya tak terlihat.


" Jadi mas yang isi paketan?"


" Habis hubungi kamu gak bisa. Emang bener paketnya habis?" Tanya Rayyan.


Mira mengangguk malu, merasa jadi orang paling miskin di hadapan Rayyan.


" Mas tu gak usah isi paket Mira lagi ya. Mira masih bisa kok ngisi sendiri."


Mathew yang mendengar Mira menolak pemberian Rayyan malah bingung.


" Jangan lihat! Ntar naksir lagi lu!"


" Cuih! Cewek cantik banyak Ray... pelit amat!"


" Ya cari aja yang sama kayak selera lu, tapi yang ini jangan!"


" Iya.... Dasar pelit!"


" Ngatain pelit, bonusan hangus." Ancam Rayyan, Mira hanya hanya menjadi pendengar setia tanpa suara.


" Ampun bos."


Rayyan kembali menghadap layar, melihat Mira yang hanya terlihat rambut bagian belakangnya yang di gelung asal.


" Yank." Panggilnya. Namun Mira diam saja.


" Kok diem sih."


Mira berbalik memperlihatkan pisau di layar, membuat Rayyan bingung.


" Kok pegang pisau?"


" Masih kupas bawang." Mira memperlihatkan bawang dan pisau.


" Mau masak?" Tanya Rayyan.


" Enggak, bantu aja kupas bawang. Ibu dapat pesenan bawang goreng."


" Kirain mau masak." ucap Rayyan.


" Emang kenapa kalau masak?" Mira mengerjap-ngerjapkan matanya yang perih.


" Jangan nangis yank."


" Bukan nangis, matanya perih kena bawang."


" Ngupasnya pakai tangankan, kenapa matanya yang kena?"


" Taruh aja, beli kenapa pesenannya?"


Mira terbengong mendengar ucapan Rayyan.


" Ngomong sama mas masalah beginian mana ngerti." Gerutu Mira.


" Ya kan kalau ada yang pesen tinggal dibeliin aja di pasarkan beres, kenapa susah harus buat sendiri."


" Iya." Mira mengiyakan saja ucapan Rayyan. Menjelaskan sama anak sultan masalah uang receh, gak bakal nyambung.


" Emang tangannya udah sembuh?" Tanya Rayyan.


" Belum, tapi udah ilang bengkaknya."


" Kenapa dipakai buat kerja?"


" Orang kecil kayak kami itu, tidak mengenal kondisi mas untuk mencari receh. Jangan disamakan sama mas." ucap Mira.


Rayyan tersenyum disana. Menjelaskan pada Mira juga tidak akan paham dengan cara kerjanya. Walaupun pendapatan besar, tapi resikonya juga besar, bahkan nyawa taruhannya.


" Kok malah senyum?"


" Kecil apanya, besar gitu."


Mira melirik sadis pada Rayyan, kemudian berbalik lagi membenarkan kancing baju yang lupa belum ia benahi.


" Ih, sadis amat."


" Mas jangan lirik yang aneh-aneh!" Mira paham lirikan Rayyan yang mengarah pada kerah bajunya tadi. Memang terlihat belahannya.


" Cuma sedikit."


Mira mengganti panggilan dengan panggilan suara.


" Kok diganti?" protes Rayyan.


" Apa dimatiin aja?" ucap Mira, nada bicaranya terdengar ketus.


" Maaf. Tapi emang kelihatan." Ledek Rayyan.


Langsung saja, panggilan diakhiri sepihak oleh Mira. Kesal dia dengan Rayyan yang ternyata mesum.


" Met, apa cewek lu kalau kelihatan barangnya marah?" Tanya Rayyan pada Mathew.


" Emang lu lihat apa?"


" Belahan gunung kembar."


" Kalau gue gak cuma belahannya, sampai pucuknya aja boleh dilihat, dipengang, diremas-remas kayak squishy". Mathew memperagakan meremas benda kenyal dengan tangannya. Rayyan tak heran dengan kelakuan si Mathew.


" Emang lu lihat punya cewek lu?"


" Gak sengaja."


" Hahaha....." Mathew tertawa keras.


" Kenapa lu?"


" Gak sengaja lihat aja marah, apalagi sengaja ngebuka wah... Bisa habis kayaknya lu Ray.... Tinggalin yang begituan, tertutup banget. Lihat tuh, yang kebuka aja banyak..... Siut... siut." Mathew bersiul pada seorang model yang tadi membawakan piala untuk Rayyan yang hanya mengenakan bikini.


" Bener-bener jijik gue ma lu."


Rayyan pergi begitu saja, tak menggubris kelakuan Mathew yang malah mendatangi model yang tertawa genit padanya.


" Gerrr." Rayyan bergidik ngeri, memilih masuk ke mobil, meninggalkan Mathew.