I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Meet Bobby



Sudah lebih 2 bulan, Mira bekerja. Dan kini menginjak bulan ke-3, Mira meminta ijin cuti yang seharusnya dia dapat perbulan. Sekedar untuk melepas lelah, dan ingin mengenal lebih luas keindahan kota Bogor. Karena selama ini, dia hanya di rumah, atau ke rumah oma. Belanja kebutuhan sehari-hari sudah ada Sigit dan mbak Sri.


Mengajak Gadis jalan-jalan ke kebon raya. Tempat terkenal di kota Bogor yang selalu dikagumi dengan hewan berjenis rusa yang hidup di dalamnya.


" Pernah kesana mbak Gadis?" tanya Mira saat mereka berada di dalam angkot.


" Panggilnya jangan mbak, Gadis aja biar akrab mbak Mira."


" Ok! Kalau gitu kamu juga panggil aku Mira aja."


Akhirnya mereka sepakat dengan memanggil nama tanpa gelar di depannya.


" Aku biasanya kesini sama mas No, enggak sering sih cuma sekali waktu aja. lebih sering kulineran saat keluar bareng."


" Iya, rugi kalau cuma diajak jalan doang, capek. Kadang perlu juga ngabisin gaji pacar untuk kesenangan bersama." Ledek Mira.


" Ah... Bisa aja kamu Mir. Pengalaman pasti ini." Tebak Gadis.


" Mana bisa begitu Dis, aku pacaran jarak jauh, jarang ketemu. Sekalinya ketemu ditinggal nikah." Ucap Mira.


" Serius kamu? Ya ampun... Tragis banget nasib percintaanmu Mir!" Gadis memandang wajah Mira dengan rasa kasihan.


" Sudah berlalu itu. Sekarang waktunya move on. Walaupun susah." Kata Mira.


Gadis diam sejenak. Memandang gerombolan rusa yang mendekat. Memberi makan wortel yang ia beli dari pedagang keliling khusus pakan rusa.


" Kamu tahu nggak kenapa move on itu susah?" Tanya Gadis kemudian.


" Kenapa?"


Mira ikut memberi makan rusa, sama seperti yang Gadis lakukan.


" Karena waktu sekolah kita diajarkan untuk menghafal bukan melupakan." Ucap Gadis.


" Sialan kamu, kupikir mau kasih tips biar bisa cepet move on." Mira memukul bahu Gadis, dimana itu malah membuat Gadis malah tertawa.


" Sekarang aku tahu kenapa mas Nano jatuh cinta sama kamu."


" Apa?"


" Karena kamu gak bisa buat dia move on sama yang lain."


" Gombalan dari mana itu, gak laku." Gadis tak terpengaruh dengan candaan Mira, karena nyatanya itu memang benar. Walaupun berkali-kali hubungan mereka bermasalah, mereka pasti bisa menyelesaikan itu dengan baik.


" Berapa tahun pacaran sama mas Nano?" Tanya Mira.


" Belum lama, kurang lebih 6 bulan." Ucap Gadis.


" 6 Bulan, tapi kalian sepakat akan menikah?" Tanya Mira lagi.


" Sekarang itu bukan saatnya menghitung berapa lama kita pacaran Mira, tapi bagaimana kita memanfaatkan waktu untuk saling mengenal satu sama lain. Banyak lho, yang pacaran sampai bertahun-tahun, ujungnya bubar. Kan sayang tuh, waktunya kebuang percuma."


" Kita masuk yuk." Ajak Gadis pada Mira.


" Emang bisa?" Mira mengedarkan pandangan ke arah pagar besi yang mengelilingi kebon raya, ia tak menemukan pintu disana.


" Bukan lewat sini. Kita naik angkot lagi ya."


Mira mengikuti saja kemana Gadis mengajaknya, nyatanya memang dia tak paham namun juga penasaran dengan isi dari kebon raya itu sendiri.


Mereka berhenti, turun dari angkot tepat di gerbang masuk ke dalam kebon raya.


" Waow.... Ternyata memang indah."


Mira mengangumi taman di dalam kebon raya. Pohon-pohon berusia ratusan tahun yang tumbuh disana dapat ia lihat. Ia membaca setiap identitas pohon dari plang yang tertempel di setiap pokok pohon.


Saking kagumnya Mira memandang betapa tinggi besarnya pohon, ia tak sengaja menginjak kaki pengunjung lain.


" Maaf... Maaf...." Mira langsung menengok kebelakang, memastikan bahwa kaki orang itu tak luka karena sepatu yang ia kenakan.


" Maaf, ada yang luka tidak?" Mira menunduk, memperhatikan kaki bersepatu hitam yang tadi ia injak. Tanpa melihat kaki milik siapa itu.


" Apa kaki anda terluka p...."


Mira mendongak, namun ucapannya terhenti ketika melihat wajah pemilik sepatu itu.


" Mira!"


" Mas Bobby?"


Mira terpaku beberapa detik. Memandang tak percaya bahwa ia akan bertemu dengan mantan pacarnya di tempat ini.


" Mir.... Ayo."


Gadis menarik tangan Mira. Ia memang membiarkan Mira masuk lebih dulu, sedangkan dia membeli karcis masuk.


Mira tak bergeming. Kakinya seolah tak ingin bergerak. Dan itu membuat Gadis berhenti dan menoleh pada Mira.


" Ayo Mira." Ajaknya. Merasa bahwa dia tak mengenal siapa pria itu. Apalagi Mira yang berada disini baru kali ini.


Mana mungkin dia mengenal orang disini? Batinnya.


" Tunggu Mira."


Perkataan pria itu membuat Gadis heran.


" Kamu kenal orang ini?" Tanyanya pada Mira. Mira hanya mengangguk.


" Kita harus bicara." Ucap Bobby.


" Ya memang kita perlu bicara." Ucap Mira.


" Tidak disini, dan hanya kita." Bobby memandang pada Gadis. Cukup memberi perintah agar ia tak mengikuti dirinya dan Mira.


" Disini saja, dan dia tidak akan kemana-mana." Mira menggandeng tangan Gadis agar tidak meninggalkannya.


" Tapi ini tentang kita." Ucap Bobby.


" Ini hanya tentangmu, bukan kita." sanggah Mira, nadanya terdengar datar.


" Maksudmu?" Bobby tentu tak paham maksud Mira.


" Ya ini tentang kamu. Mulai saat ini, jangan pernah temui atau mencariku lagi."


" Mana bisa begitu? Ini tidak adil Mira. Dengar dulu penjelasanku."


" Apa masih perlu diperjelas kalau hubungan kita sudah selesai dengan cincin yang melingkar dijarimu. Dan mulai saat itu kita selesai."


Tatapan mata Mira mengarah pada jari tangan Bobby yang berhias cincin pernikahan disana.


" Tapi kamu tahu aku terpaksa melakukan ini. Demi masa depan aku Mira."


" Ya mas benar, dan sekarang mas Bobby harus menatap masa depan mas Bobby." Mira kini melihat Ajeng yang berjalan, namun langkahnya terhenti ketika melihat Mira.


" Dia masa depanmu sekarang." Mira menunjuk wanita yang hampir menjatuhkan tas tangan yang sedang dipegangnya. Namun juga pada perut wanita itu yang membesar, jika dilihat mungkin sudah akan mendekati bulan kelahiran. Kenyataan itu membuat Mira tersenyum getir.


Mereka menghianatiku!


" Aku hanya masa lalu. Tidak ada cerita masa lalu akan menjadi masa depan. Jadi sekarang aku minta jangan pernah menemuiku. Kamu harus bahagia dengannya. Berikan keadilan padanya. Jangan menyakitinya, karena seorang perempuan itu bukan tempat untuk disakiti."


" Aku mohon, pahamilah bahwa ini yang terbaik untuk kita. Jangan pernah ungkit lagi apapun tentang kita. Jika kemarin ini belum selasai, maka saat ini juga kita usai mas. Tolong jangan pernah menemuiku lagi."


" Jika kita bertemu lagi, anggap kita tak saling mengenal. Itu akan membawa kebaikan untuk kita."


" Selamat tinggal. Semoga kamu bahagia bersamanya."


Mira menarik tangan Gadis, meninggalkan Bobby yang hanya tertunduk. Lidahnya terasa kelu, dan hatinya begitu sakit mendengar ucapan Mira yang mengatakan agar tak mengenalnya saat bertemu lagi.


" Tunggu Mira." Bobby berusaha menahan tangan Mira, membuat Mira berhenti.


" Aku bisa jelaskan." Ucap Bobby.


" Sudah tidak ada yang perlu di jelaskan lagi. Lihat istrimu dan perutnya sedang ada anakmu. Itu sudah cukup jelas." Mira menatap Ajeng yang masih berdiri tak jauh.


" Ini bukan seperti yang kamu pikirkan Mira. Tolong dengarkan penjelasanku dulu."


Tatapan mata Bobby yang memohon, tapi tak mampu membuat Mira luluh. Baginya setiap apa yang ia ingat tentang Bobby, maka ia akan ingat juga perlakuan bu Hardi padanya. Dan itu sama-sama menyakitkan bagi Mira.


Mira menghela tangan Bobby yang mencengkeram lengannya.


" Maaf itu tidak ada hubungannya denganku. Minggir."


Mira menghempaskan tangan Bobby, cukup keras. Karena kini Bobby sedang meringis merasakan sakit pada lengannya.


Mira berlalu dengan cepat, menggeret Gadis yang dengan susah payah menyamai langkahnya.


" Mira pelan-pelan." Teriaknya.


Mira baru sadar sekarang, bahwa dia tidak sendiri, ada Gadis bersamanya. Dan kini ia menarik tangan gadis itu, dan membuatnya kesakitan karena ulahnya.


" Maafkan aku Gadis." Ia menatap penuh penyesalan.


" Sudah tidak apa. Ayo." Gadis mengajak lagi Mira melangkah masuk, namun langkahnya terhenti ketika ada tangan lain mencekal tangannya. Tidak keras, tapi justru lembutnya sentuhan tangan itu, membuat Mira berhenti seketika.


" Jika kamu tidak ingin mendengar penjelasan mas Bobby, maka aku mohon dengarkan penjelasanku."


Suara lembut itu juga yang membuat Mira paham siapa yang sedang berbicara dengannya.


" Ajeng?!"


BERSAMBUNG