I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Dengan Caraku



"Harusnya mama jangan menelponku. Susah payah aku menahan rasa rindu ini padanya. Mamaaaa......!" Rayyan menggerutu sambil memandang wajah Mira di layar hpnya.


Kemudian membuka galeri untuk mencari video yang ia rekam saat Mira pura-pura tertidur.


Memandang wajah damai yang kemudian membuka mata gara-gara ungkapan cintanya.


Terseyum sendiri... Begitulah saat seseorang membayangkan dan merindukan wajah orang tersayang namun dapatnya hanya bayang-bayang.


Ceklek.....


" Cariin gue gitar Met!" Kata yang mengandung perintah Rayyan tujukan pada managernya yang baru keluar dari kamar mandi hanya mengenakan celana kolor dengan handuk yang mengalung di lehernya.


" Mau cari dimana malem-malem gini! Lu pikir ini di Indo?" Sungut Mathew.


" Terserah lu mau dapat dimana, pokoknya gue maunya ada, dan itu malam ini." Titah sang baginda yang tak bisa diganggu gugat.


Kadang menuruti keinginan Rayyan membuat Mathew hampir gila, tapi dia juga bahagia bisa bekerja sama dengan Rayyan. Selalu mengutamakan kesejahteraan karyawan, walaupun kadang menyebalkan.


Ting


Notifikasi pesan masuk ke hp Mathew.


Belum sempat yang punya membuka pesan, Rayyan sudah mengatakan bahwa itu bonus untuk pesta malamnya. Kebiasaan Mathew selalu berburu kupu-kupu malam saat menemani Rayyan bekerja di luar negeri.


" Lu gak mau ikut?" Tanya Mathew.


" Sejak kapan gue ikut begituan, enek gue lihat cewek-cewek pakai baju kurang bahan begitu." Tolak Rayyan.


" Buruan sana, cariin gue gitar."


" Iya!" Mathew mendengus kesal, namun senang karena mendapat bayaran tambahan.


Ia keluar meninggalkan Rayyan di kamar hotel, untuk mencari benda yang diinginkan oleh Rayyan, setelah mengenakan pakaian lengkap.


" Untuk apa coba gitar? Kalau cuma mau meluk gitar, meluk cewek jugakan sama bodynya, mirip gitar, hidup pula."


Sepanjang jalan Mathew tak henti melihat toko-toko berjejer, siapa tahu melewati toko alat musik. Namun sudah hampir sepanjang jalan, ia belum juga menemukan. Hingga tatapannya tertuju pada seorang pengamen jalanan yang sedang mentas di seberang jalan.


Ia menghampiri pengamen itu dan mencoba bernegosiasi supaya gitar milik pengamen itu boleh ia beli. Dan beruntungnya setelah berbicara cukup lama Mathew berhasil menukar benda itu dengan sejumlah uang yang besarnya sama dengan uang yang ditransfer Rayyan tadi.


" Kalau kayak gini, sama aja bohong."


Dengan gontai Mathew kembali menuju kamar tempatnya menginap untuk memberikan gitar yang diminta Rayyan.


" Nih." Mathew mengangsurkan gitar untuk Rayyan.


" Trima kasih Met, lu emang yang terbaik." Ucap Rayyan dengan senyum sumringah, berbeda dengan Mathew yang menatapnya sebal.


" Ngapa lu?"


" Ganti duit gitarnya dong."


" Berapa?"


" Sama kayak yang lu transfer tadi."


" Pake kartu gue aja. Nih, tapi jangan lebih dari yang gue transfer tadi, kalau lebih lu harus kerja jadi manager gue seumur hidup."


" Mau gue."


" Jelaslah.... Gaji gede tambah bonus belum lagi kalau lagi kayak gini. Lama-lama angka nominal tabungan gue pindah ke club semua."


" Kok ke club?" Mathew ternyata tak paham maksud ucapan Rayyan.


" Iya kemana lagi lu habisin uang kalau enggak ke club? Bayar minuman segelas, tapi traktir cewek 5 gelas, belum lagi kasih bayaran buat esek-esek."


" Hehe...." Mathew malah nyengir kuda, merasa bahwa ucapan Rayyan memang benar.


" Udah sana berangkat, keburu pagi. Ntar kupu-kupunya keburu masuk keperaduan."


" Online lah."


" Jijik gue lama-lama sama kelakuan lu, kena penyakit gue syukurin."


" Amit-amit! Main amanlah, pakai ini."


Mathew menunjukkan kotak bergambar buah yang ia ambil dari dalam tasnya.


" Pergi sana!"


Rayyan mengusir Mathew dari kamarnya karena ia sedang tak ingin diganggu.


" Gue juga mau pergi ini. Thanks ya kartunya."


" Jangan dihabisin!"


" Ok. Dah."


Mathew menghilang di balik pintu yang langsung di tutup oleh Rayyan dan menguncinya. Karena dia tahu bahwa Rayyan tak akan pulang sebelum pagi.


Ia melangkah menuju balkon kamar hotel. Memandang langit malam bertabur bintang di atas, dan cahaya lampu dari bawah.


Sebenarnya pemandangan yang indah, namun tak seindah dengan suasana hati Rayyan yang menahan kerinduan pada Mira. Sayangnya malam ini ia tak mungkin menghubunginya karena mama Sarah bilang kalau Mira tidur bersama Geby, Gea dan mama. Otomatis itu pasti mengganggu, dan kebiasaan Mira adalah mematikan hp saat tidur.


Ia memangku gitar dan mulai memetik senar yang menghasilkan alunan musik. Mencoba meresapi dengan lagu yang akan ia nyanyikan...


Rayyan memulai bernyanyi sambil terpejam, seolah sedang membayangkan wajah Mira ada diantar bintang yang ia lihat malam itu.


Lagu Rindu


Bintang malam katakan padanya


Aku ingin melukis sinarmu dihatinya


Embun pagi katakan padanya


Biar kudekap erat waktu dingin membelenggunya.... 2x


Taukah engkau wahai langit


Aku ingin bertemu membelai wajahnya


Kan ku pasang hiasan angkasa yang terindah


Hanya untuk dirinya.....


Lagu rindu ini ku ciptakan


Hanya untuk bidadari hatiku tercinta...


Walau hanya nada sederhana


Izinkan ku ungkap segenap rasa dan kerinduan...


Ha... Oh... Haa....


Ho.... Ho...... ho...


(Lagu rindu by Krispatih. Cari aja di YouTube, kalau enggak cover oleh fiki dayana, yang lagi viral).


Sampai lagu habis, Rayyan masih belum bisa menghilangkan rasa rindunya.


Kata-perkata dari lagu yang ia nyanyikan malah membuatnya merasakan rasa sesak didadanya. Rasanya berat. Bahkan kini ia hampir neteskan air mata.


Apa begini rasanya rindu, berat. Benar kata Dilan.


Rayyan meletakkan gitar, menyenderkannya tetap di depan, di apit dengan kedua pahanya. Kepalanya bertumpu pada bahu gitar. Tangannya meraih hp yang ia letakkan di meja depan tempatnya duduk.


Menimang-nimang, haruskah ia menghubungi Mira malam ini? Hanya untuk sekedar mendengar suara lembutnya, agar rasa rindunya berkurang.


Tapi ia takut mengganggu tidur gadis itu. Apalagi jika malam ini gadis itu sedang tidur dengan mamanya.


OH... Tuhan... Aku harus bagaimana?


Rayyan mendesah, meletakkan kembali hpnya ke meja.


Namun belum sampai satu menit, ia mengambil lagi benda pipih itu.


Kirim pesan aja, siapa tahu ia belum tidur.


Mira


Tanda pesan itu tercentang 2 dan langsung berubah menjadi warna biru, tanda pesannya langsung terbaca.


Lagi Rayyan menulis pesan.


Belum tidur?


Kok gak di balas? Apa karena aku pakai nomor baru.


Rayyan langsung memberitahu bahwa pesan itu darinya. Baru setelah itu, pesan terbaca Dan tak lama balasan masuk ke hpny.


Hatinya langsung bersorak gembira, dengan cepat ia membuka pesan balasan dari Mira.


Belum. Ada apa? -Mira


Sekarang giliran Rayyan bingung saat Mira bertanya. Apakah ia harus mengatakan dengan jujur bahwa ia merindukan gadis itu?


Tidak ada apa-apa. Kok sudah malam belum tidur?


Sekarang pesan itu langsung di read.


Belum ngantuk. -Mira


Rayyan mengecek waktu, memastikan sekarang jam berapa di Indonesia.


23:30 WIB


Apa ada sesuatu? -Rayyan


Tidak ada. -Mira


Kenapa belum tidur? Ini sudah malam. -Rayyan


Iya, aku akan tidur. Selamat malam.- Mira


Rayyan memandang pesan terakhir Mira, namun pikirannya tak sejalan dengan isi pesan itu.


Apa dia tidak bisa tidur gara-gara teman mama?


Mira


Rayyan mencoba mengirim kembali pesan pada Mira.


Iya. -Mira


Mama di tidur di situ? -Rayyan


Tidak. -Mira


Rayyan melakukan panggilan pada Mira, lewat VC.


Mira tak langsung menjawab, dan itu membuat Rayyan semakin gusar.


Tapi akhirnya Mira mengangkat juga.


Rayyan melihat belakang Mira, gelap. Hanya lampu-lampu dan pucuk-pucuk pohon yang terlihat hitam karena malam hari.


" Kamu di luar?" Tanya Rayyan.


" Di balkon." Ucap Mira.


" Masuk aja dingin."


" Ada Geby sama Gea, takut ganggu mereka tidur." Jawab Mira.


" Ada apa mas?" Tanya Mira kemudian.


" Ada sesuatu yang membuatmu tak bisa tidur malam ini?"Tanya Rayyan.


Menggeleng " Tidak ada, hanya belum ngantuk aja mas."


Rayyan menatap wajah Mira, menilai wajah ayu gadis itu. Namun matanya seolah menyimpan banyak beban di hatinya.


" Mira, anggap saja aku temanmu. Jika ada sesuatu kamu bisa berbagi padaku."


Mira diam, hanya memandang wajah Rayyan yang menatapnya dengan lembut. Pandangan yang membuat Mira merasa tak pantas.


" Sebaiknya kita menjaga hubungan kita hanya sebatas pekerja dan majikan mas."


Mira menunduk setelah mengucapkan itu.


" Kenapa?" Tanya Rayyan. Ada nada kecewa dalam pertanyaannya.


" Ya sewajarnya saja mas, aku disini bekerja, dan keluarga mas pemilik rumah ini."


" Kenapa?" Sekali lagi Rayyan bertanya, baginya ucapan Mira itu tak menjawab sesuai dengan pertanyaannya.


" Apanya yang kenapa?" Kini Mira malah gantian bertanya.


" Kenapa harus ada batasnya?" Rayyan memperjelas pertanyaannya.


Mira hanya terdiam. Luka yang ditorehkan keluarga bu Hardi itu membuatnya tak ingin lagi terluka. Perbedaan derajat yang diucapkan bu Hardi menyadarkan dirinya yang hanya gadis miskin yang tak pantas untuk mencecap kebahagiaan yang di tawarkan oleh Rayyan.


" Karena kita berbeda. Tolong jangan tambah lagi beban hidupku dengan ini! Biarkan aku begini mas. Aku cukup tenang dengan pekerjaanku, aku sudah senang bisa membantu ibuku dan adikku. Aku sudah tak bisa berharap lebih dari itu. Bagiku itu sudah cukup membuat aku bahagia." Ucap Mira.


" Lalu bagaimana denganku?" Rayyan kini menekan nada bicara yang sudah bercampur emosi.


" Carilah gadis yang sepadan denganmu, yang lebih pantas untukmu dan keluargamu. Yang tidak mempermalukan mereka dengan statusnya."


Rayyan mendesah, membuang nafasnya agar dia tetap tenang menghadapi Mira. Walaupun dia emosi, namun dia paham dengan kondisi Mira, apalagi dengan peristiwa yang menimpa Mira yang ia dengar dari mama Sarah. Dia sekarang yang harus sabar. Menyadari bahwa luka di hati Mira yang terlalu dalam.


" Ya.... Kalau begitu kita masih bisa menjadi teman." Ucapnya kemudian, ada senyum namun senyum getir yang tak bisa ia palsukan, karena dia bukan orang yang pandai berbohong. Dan itu terlihat jelas di mata Mira.


" Jangan begitu mas."


" Lalu harus bagaimana?"


" Senyummu mengandung luka." Mira hampir tertawa mengucapkannya.


" Ya... Aku memang terluka, karena cinta pertamaku mendapat penolakan."


" Gombal!" Mira mendengus mendengar ucapan Rayyan.


" Tanya sama mama, mungkin kamu akan tahu kalau aku tidak sedang berbohong." Ucap Rayyan dengan nada serius.


Mira tak mungkin percaya begitu saja jika Rayyan baru pertama jatuh cinta.


" Terserah padamu. Aku tidak bisa memaksakan perasaan Mira. Jadi jika aku ingin berteman denganmu, apakah kamu mau?"


Mira bingung jika begini. Harus apa? Berteman? Berteman seperti apa yang dimaksud oleh Rayyan dia juga tidak mengerti. Semua terjadi begitu tiba-tiba, dan baginya ini membingungkan.


" Mira."


" Ya..."


" Kok diam."


" Bisakah kau memberiku waktu?" tanya Mira.


" Untuk?" Rayyan malah balik bertanya.


" Untuk memulai hubungan baru."


" Yang mana?"


" Aku tak tahu, yang pasti aku butuh waktu."


Mira kembali menunduk, tak ingin melihat wajah Rayyan yang menatapnya penuh kebingungan.


" Baiklah. Tapi beri aku sedikit bocoran, waktu untuk hubungan yang mana yang kamu maksud?"


" Yang mana aku juga tidak tahu, kau menawari dua hubungan sekaligus, aku juga bingung."


" Kalau begitu dua-duanya gimana?"


" Maksudnya?"


" Ya, jadi teman sekaligus......"


" Encus....."


Suara Geby menangis, memanggil Mira, membuat Mira harus segera kembali ke kamar untuk membuatkan susu.


" Maaf ya mas, Gaby bangun."


Mira memutus sambungan telpon, meninggalkan raut wajah kecewa Rayyan.


Namun akhirnya ia menarik ujung bibirnya, menampilkan smirk di sana.


Baiklah, aku akan memberimu waktu. Dan waktu itu yang akan membuatmu mencintaiku dengan caraku... Rayyan Aquino.