
Sesuai janji Mira, pagi ini dia bersiap untuk menemani kemanapun suaminya pergi. Rasa lelahnya sudah tidak begitu terasa setelah semalam suntuk tidur. Bahkan kepulangan sang suami tidak ia ketahui. Yang pasti saat membuka mata Rayyan sudah berada di sampingnya, sedang memandangnya yang baru membuka mata.
" Bangun?" Mira menatap bingung suaminya yang sudah terlihat bugar, bukan seperti orang baru bangun tidur. Bahkan buliran keringat masih membekas di helaian rambut yang menjuntai turun ke dahi, menambah nilai ketampanan sang suami.
" Mas gak tidur?"
Rayyan terkekeh mendengar pertanyaan sang istri.
" Lihat sekarang jam berapa sayang?" Mira melihat dinding dimana penunjuk waktu berwarna keemasan bergantung disana.
" Jam 7, berarti lebih dari 12 jam aku tidur dong mas, ya ampun lama banget." Mira beranjak duduk, dia heran bisa tidur selama itu, apa efek jet lag sampai membuatnya merasa tak berdaya.
" Kecapekan sayang, mandi gih... Sarapannya keburu dingin." Rayyan mengalihkan pandangannya menuju meja yang sudah menampung sarapan untuk mereka.
" Ya ampun! Maaf mas, harusnya aku yang nyiapin sarapan buat kamu." Sesal Mira.
" Ini di hotel, bukan di rumah sayang. Besok aja kalau udah pulang lanjut siapin semua kebutuhan mas. Ayok mandi, jangan lama-lama."
Mira langsung beranjak ke kamar mandi, dan Rayyan mengikuti. Mereka mandi bersama, tetapi berbeda cara, Mira masuk bathup, sedangkan Rayyan menggunakan shower. Untuk menghemat waktu, karena setelah ini mereka harus pergi untuk meninjau kesiapan kru dan motor yang akan digunakan untuk balapan lusa.
" Udah mas, kenyang." Mira menolak suapan dari Rayyan, Rayyan langsung menyuap ke mulutnya sendiri makanan yang masih ada di piring mereka. Sudah menjadi kebiasaan mereka makan dalam satu piring ya, suap-suapan. Jadi jangan iri!
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
Mira menunggu Rayyan di sebuah tenda payung, dengan Dony yang duduk tak jauh darinya, masih di tempat yang sama.
Menikmati sekaleng minuman soda yang diberikan oleh salah satu kru Rayyan. Mira memperhatikan bagaimana sang suami sedang berinteraksi dengan beberapa orang di dalam sebuah ruangan terbuka, dan sedang mengerjakan sesuatu dengan motor besar yang akan digunakan besok lusa. Terkadang Rayyan terlihat mencoba menggeber motor hingga terdengar bunyi bising tertangkap telinganya.
Mira baru menyadari sosok berkaus hitam, dengan kaca mata yang bertengger di hidung mancung dan kepala berlindung topi itu terlihat begitu tampan saat dengan gagahnya berada di atas kuda besi. Sosok itu adalah suaminya, seseorang yang dulu hanya bisa ia saksikan dari layar televisi, dan kadang menjadi bahan taruhan dengan teman-temannya menjelang acara motor itu akan tayang. Kini, sosok itu dengan nyata terjangkau dari jarak pandang yang sangat dekat, bahkan kadang tak berjarak. Tersentuh bukan hanya dengan kulitnya, tetapi juga dengan hatinya. Sedalam itu hubungan keduanya, sesuatu yang tak pernah dia bayangkan tetapi kini nyata dia rasakan.
Terkadang Mira masih tidak menyangka, jika dia bisa memiliki secara utuh laki-laki yang dulu dikaguminya karena skill dan prestasinya di dunia balap motor, satu-satunya jenis olahraga yang ia sukai untuk ia saksikan, bahkan perutnya selalu hampir kram ketika menyaksikan para rider berpetualang di jalanan, bersaing menunjukkan siapa yang paling unggul. Tapi sekarang bukan itu saja yang membuatnya kagum dengan sosok itu, tetapi kesederhanaan dan ketulusan dibalik apa yang pria itu miliki, kini menjadi point utama dirinya mempercayakan seluruh hidupnya pada sosok yang sedang melempar senyum ketika mereka saling pandang. Menambah rasa semakin besar untuk mencintai pria itu dengan sepenuh hatinya, dan jiwa serta raganya.
" Mbak, saya permisi sebentar."
Suara mas Dony membuyarkan lamunannya, hingga dia hanya bisa mengangguk sebagai jawaban atas ucapan sang ajudan. Kenapa ajudan, ya seorang perwira kepolisian bernama Dony itu adalah seseorang yang dibawa khusus oleh sang suami untuk menjaga dan mengawalnya selama sebelum dan sesudah balapan. Salah satu cara bagaimana pria itu ingin melindungi, yah... Siapa yang tidak ingin diperlakukan seistimewa itu oleh seorang pria yang memiliki segalanya, seolah pria itu ingin menunjukkan totalitas bagaimana mencintai yang benar pada sang istri. Mira sekali lagi tersenyum, merasakan betapa bahagianya dia memiliki sosok sempurna yang dia yakin tidak ada duanya di dunia ini.
Karena dia begitu sempurna.
Ingin sekali Mira melantunkan lagu itu berulang kali saat ini, untuk mengatakan bahwa itu adalah gambaran nyata yang ia lihat dari seorang bernama Rayyan Aquino.
Bahkan hatinya kini seolah ingin menjerit dengan lantang seolah ingin mengatakan pada semua bahwa dia begitu mencintainya, dia yang sedang berjalan mendekat, dengan senyum merekah, senyum yang selalu ingin dilihatnya seumur hidupnya, dan tak rela jika senyum itu tergantikan dengan rintihan pedih, jika sampai itu terjadi, maka dia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri, itulah janji yang terikrar dalam hati seorang Mira Adinda.
" Mikirin apa?"
Suara itu, suara yang selalu bisa membuatnya merasa tenang, yang selalu bisa menyingkirkan segala pikiran negatif disaat dirinya merasa bimbang dan kacau, suara yang selalu bisa membuatnya merasa baik, walaupun keadaanya sedang tidak baik, suara yang mampu membuatnya merasa didengarkan disaat dia butuh seseorang untuk berkeluh dengan segala permasalahan hidup yang menimpa hidupnya, dan berkat suara itu juga kini dia bisa bahagia, sangat-sangat bahagia.
Cup....
" Mas...."
" Hem..."
" Aku mencintaimu." Sebuah kata final yang bisa terucap untuk membalas semua kesempurnaan yang bisa dia miliki dari yang tercinta.
" Aku tahu, aku merasakannya, dan terima kasih untuk semuanya. Aku juga mencintaimu."
" I LOVE YOU, ENCUS."
" Kau tahu?" Rayyan mengambil alih pembicaraan, kini Mira mendengarkan.
" Itu adalah kalimat pertama yang ingin aku katakan saat melihatmu muncul di layar hpku."
Mira terkekeh, seolah mengejek pengakuan tak logis itu.
" Tertawalah, karena itu adalah kenyataannya."
" Bagaimana bisa hanya dengan melihat dari gambar, mas bisa langsung jatuh cinta padaku?"
" Karena kata hatiku yang mengatakannya, dan aku percaya, di dunia ini sesuatu yang tak bisa berbohong itu adalah hati."
" Seyakin itu?"
" He'em. Dan memang benar kan, hatiku ternyata tidak berbohong, bahwa aku benar-benar mencintaimu, bukan hanya saat pertama melihatmu, tetapi sampai nafas ini berhenti."
" Syut! Jangan katakan itu. Kita akan selalu bersama."
" Tapi pada akhirnya semua akan kembali pada Dia sayang."
" Memang iya, tetapi apa mas tahu jika di dunia fana ini masih ada yang abadi?"
" Apa itu?"
" Cinta kita."
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
Ingin ku simpan setiap kata yang telah terangkai dalam angan-angan...
Tetapi apa daya, hatiku terlalu kecil untuk menampung perasaan yang membuncah, seolah ingin meledak untuk segera mengungkapkan setiap kalimat untuk menjadi satu lembar part yang akhirnya up lagi malam ini....
Sya... la... la... la...la.... nyanyi ah... biar enggak baper 😂😂