I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Masalah hidup



Mira mengamati satu persatu alat-alat kebugaran yang berada dalam satu ruangan luas.


Sedangkan Rayyan masuk ke sebuah ruang lain yang lebih kecil, kemudian keluar dengan mengenakan kostum yang lain.


" Mau ikut gak?" Rayyan menawari Mira untuk ikut bergabung, tetapi Mira enggan untuk beranjak, memilih duduk malas di sofa, sambil memperhatikan gerakan sang suami yang lincah di atas treadmill.


" Ngantuk." ucapnya malas, sambil bersender pada sofa. Rayyan maklum, mengingat kegiatan panas mereka yang baru selesai saat subuh, itu berarti mereka hanya tidur sekitar 2 atau 3 jam saja.


Disini baru bisa dilihat bahwa kekuatan pria dan wanita itu sangat jauh berbeda.


" Kok enggak ada orang lain mas disini? Cuma mas sendiri?" Suasana sepi, membuat Mira bertanya.


" Ini bukan umum mbak, ini khusus punya bos." Mathew masuk dari pintu luar.


" Oh!" Hanya itu yang bisa Mira ucapkan. Menyandang status istri tak membuatnya tahu banyak tentang apa saja yang dimiliki sang suami. Mau bertanya juga, dia enggan. Biarkan seiring berjalannya waktu, maka akan terkuak dengan sendirinya.


Mira memberikan handuk dan membantu Rayyan mengelap keringat yang membasahi tubuhnya, bahkan baju tanpa lengan yang ia kenakan kini sudah basah. Tetapi Rayyan tidak berhenti hanya dari satu alat, dia masih berlanjut ke alat yang lain. Dari sinilah Mira tahu darimana tubuh suaminya itu terbentuk begitu sempurna. Tapi untuk ikut mencoba, sepertinya dia belum tertarik, lebih tertarik memperhatikan otot trisep dan bisep yang bergantian berkembang ketika gerakan Rayyan mengangkat benda berat di tangannya.


Mathew entah apa yang dilakukan orang itu, yang pasti dia sedang sibuk di ruangan lain yang hanya bersekat dinding tanpa pintu.


Lama-lama diam, Mira akhirnya tertidur. Walaupun Rayyan mengajaknya bicara, tetapi ajakan kelopak mata untuk beristirahat, nyatanya lebih menggoda ketimbang melihat tubuh sexy suaminya.


" Kok malah ditinggal tidur?"


Rayyan baru sadar, kalimat-kalimat yang ia lontarkan tak terbalas, ternyata si dia sedang bobo manis.


Hanya tersenyum melihat wajah cantik itu terpejam dengan damai. Rayyan melanjutkan kegiatannya dengan alat lainnya, hingga dia merasa cukup baru beranjak untuk beristirahat.


" Met, yang buat lusa sudah beres kan?" Rayyan meninggalkan Mira masuk ke ruangan Mathew.


" Tinggal ambil kostum aja, mungkin nanti malam. Sorry gue agak lambat akhir-akhir ini, karena gue harus bantuin ngurus Khansa."


" It's ok, yang penting semua bisa ke handle kan?"


" Hem." Mathew mengiyakan dengan mengangguk.


" Gimana rencana setelah pulang nanti? Masih mau lanjut jadi manager rider apa enggak?" pertanyaan yang membuat Mathew harus berpikir keras.


" Gue bingung. Biar bagaimanapun perkembangan Khansa juga penting Ray." Mathew menarik diri mundur, menyandarkan tubuhnya di kursi.


" Lu enggak ada niat buat nikahin si Ajeng?"


" Entahlah! Bingung gue."


" Cerita sama gue, siapa tahu gue bisa bantu."


" Jangan cuma sibuk ngurusin gue Met, urus juga diri lu."


" Gue cuma enggak bisa menjanjikan apa-apa tentang pernikahan Ray, tapi kalau untuk masa depan Khansa, mungkin gue masih bisa." Mathew mengetuk-ngetukkan jari di pinggiran kursi tempatnya meletakkan tangannya.


" Gue nggak seberuntung lu! Terlalu rumit hidup gue, dan gue akan sulit untuk membawa mereka untuk masuk ke sebuah ikatan pernikahan."


" Tapi adanya lu di samping Ajeng, membuat dia susah mendapatkan pendamping Met. Lu liat si Dony, dia langsung mundur demi kasih kesempatan buat kalian bisa bersama-sama ngasuh Khansa. Dia juga tidak mungkin bisa tahan walaupun kamu merelakan Ajeng menikah dengan Dony, tetapi kamu selalu bantu ngurus Khansa yang hidup bersama Ajeng."


Huft.....


" Enggak tahu gue, ntar aja pikirin setelah pulang dari Spanyol."


" Emang kalau lu berhenti kerja sama gue, lu rencana mau gimana?"


" Kerja di daeler aja, ada posisi bagus buat lu, jadi GM, mau enggak?"


" Emang GM lu kemana?"


" Lu kalau pakai istilah GM, jangan bilang usaha lu itu dealer aneh tau nggak!"


" Dealer tuh, buat sebutan yang kecil-kecil, tempat segitu gede, cabang dimana-mana, kantor punya ribuan karyawan, bilangnya dealer."


" Suka-sukalah, gue yang punya."


" Sombong lu!"


" Hidup bertahun-tahun sama gue baru tahu kalau gue sombong sekarang, kemana aja lu!"


" Ya kerjalah, emang kemana? Perasaan disetiap nafas yang lu keluarin, gue yang ngatur semuanya."


" Sok romantis amat gaya bahasa lu Met!"


" Kalau enggak lu bikin usaha sendiri, nyabang daeler gue gimana?"


" Lu tau kan, jaminan hidup gue itu nyawa, sekali mereka tahu gue buka usaha, mereka enggak bakal diam Ray."


" Lu pindah aja ke luar negeri, ntar gue bilangin sama om Lukas, mau lu ikut dia ke Paris?"


" Anak gue?"


" Diajaklah."


" Emaknya?"


" Nikahinlah, bawa sekalian. Jangan cuma dikawinin doank, ditinggal gitu aja. Jadi laki harus tanggung jawab men! Jangan jadi pengecut!"


" Lu tahu, dia dikucilkan sama keluarganya, itu gara-gara lu! Dan dia sekarang udah welcome sama lu, tapi lu nya kagak pengertian. Lemot!"


" Emang gitu?"


" Ealah, lu gak sadar. Waktu dia lu suruh pindah ke Bogor, dia nurut lho. Itu belum cukup buat bukti kalau dia kasih kesempatan buat lu.


" Gesit dikit, pepet terus, kasih tahu ke dia kalau lu itu mau tanggung jawab bukan cuma sama Khansa tapi sama emaknya juga."


" Gimana gue nikahnya kalau dokumen pribadi gue aja di rahasiain. Ntar kalau gue ngurus di sipil, bisa ketahuan donk kalau gue nebeng hidup sama keluarga lu."


" Tapi gimana cara minta dia ke orang tuanya? Takut gue."


" Bawa papa, gue pinjemin."


" Emang papa lu barang?"


" Bukan itu maksud gue Met. Separuh hidup gue sama lu itu bareng, hampir semua yang gue punya lu juga punya hak, dibalik suksesnya gue itu juga lu yang ikut andil. Orang tua gue, mama papa juga itu udah anggap lu anaknya, tapi jangan anggap istri gue juga istri lu ya, gue gak ikhlas kalau yang satu itu."


" Jadi, jangan sungkan untuk minta bantuan ke kami. Papa pasti bisa minta Ajeng dan bantu lu jelasin semuanya."


" Lu yakin berhasil?"


" Yang penting kan dicoba dulu. Kalau diterima itu bonusnya."


" Tapi sebelum itu, lu bicara sama Ajeng dulu. Lu jelasin kenapa lu sampai bisa hilaf nyetak si Khansa, terus kemana lu setelah itu, dan yang penting lu jelasin latar belakang hidup lu ke dia. Mungkin dia bisa menerima lu, yang penting lu terbuka sama dia, jangan cuma berani buka celana aja. Terus kabur."


" Kasihan dia Met, kerja, ngurus anak, ngurus rumah, ngurus diri sendiri. Iya sekarang lu masih disini, kalau lu nanti ikut pergi, terus siapa yang bantu dia? Gue aja enggak tega lihatnya."


" Tapi enggak mungkin juga mereka gue bawa kan Ray?"


" Tapi setidaknya kamu kasih kejelasan untuk Ajeng. Lindungi dia itu sama aja lu juga nglindungin Khansa Met. Coba bayangin kalau pas dia sakit, lu gak di rumah, terus gimana sama Khansa?"


Mathew terdiam, memikirkan nasibnya, hidup matinya sekarang bukan hanya di tangannya, tetapi juga Khansa dan bisa jadi juga Ajeng.


" Gue pulang sekarang boleh enggak?" Pinta Mathew.


" Pulang aja, gue juga udah selesai."


" Ok, gue duluan ya." Mathew beranjak bangun, membereskan beberapa dokumen yang akan digunakan untuk penerbangan besok lusa.


" Visa paspor punya Mira udah jadikan?"


" Beres!"


" Andre?"


" Sudah."


" Ok, good luck."


" Thanks ya... Gue duluan."


Mathew langsung keluar dengan langkah panjangnya, hanya membungkuk sebentar saat mendapati Mira tengah duduk sambil bermain hp di sofa.


" Sudah bangun yank?" Rayyan muncul setelah Mathew menghilang.


" He'em. Kok dia buru-buru mas?"


" Mau nyelesaiin urusan sama Ajeng katanya."


" Masalah Khansa?"


" Masalah hidupnya."


" Ya udah kita pulang yuk."


" Mas juga punya masalah hidup? Kok enggak ganti baju dulu?"


" Punya."


" Apa?"


" Ntar mas kasih tahu kalau udah di rumah."


" Sekarang aja kenapa?"


" Enggak, di rumah aja, gak enak kalau disini, gak nyaman."


" Ngomong aja kok enggak nyaman."


" Kalau masalah yang itu mas nggak suka diomongin."


" Kok gitu?"


" Enaknya langsung ditindak, udah yuk pulang."


" Gak bilang disini, enggak pulang!" Ancam Mira, dia terlalu penasaran.


Rayyan jadi garuk-garuk kepala sekarang.


" Udah mendekati jam makan malam tuh, nanti mas gak mau makan lagi, nanti kamu marah."


Mira melihat benda bulat di dinding yang menunjukkan pukul lima sore.


" Gak makan di luar aja?" Tanya Mira.


" Makan masakan kamu ajalah, pagi sama siang udah di luar, masa seharian di luar terus."


" Ya udah pulang yuk, belum mandi lengket semua nih." ucap Mira.


" Mandi bareng ya."


" Iya...."


" Asyeekk." Rayyan kegirangan.


" Bareng sama bebek tapi." Mira langsung ngeloyor pergi mendahului Rayyan yang langsung lemes.