
Lampu ruang operasi dimatikan pertanda operasi sudah selesai dilakukan. Semua menunggu cemas dengan hasilnya.
Dokter keluar satu persatu bertepatan dengan orang tua Sigit yang tiba.
" Bagaimana anak saya dokter?" Ibu paruh baya yang berlari tergopoh-gopoh langsung menghampiri dokter mendahului para penunggu yang sudah berjam-jam ada disana.
" Semua berjalan lancar, semoga saja setelah ini keadaannya membaik. Bersyukur kita melakukan tindakan tepat waktu. Tinggal nanti menunggu pasien sadar, baru bisa melihat bagaimana perkembangan selanjutnya." jelas dokter.
Semua yang mendengar tersenyum lega, namun apa yang dikatakan oleh ibunya Sigit kembali mengingatkan mereka tentang kejanggalan antara Mira dan Sigit.
" Lalu bagaimana dengan donor darahnya dokter? Ambil saja darah saya! Karena hanya saya yang bisa memberikan donor darah untuk anak saya." Kata ibunya Sigit.
Dokter itu tersenyum " Jangan kawatir ibu, anak ibu sudah mendapat pendonor yang memiliki golongan darah yang sama." Ucap dokter kemudian.
Ibunya Sigit dan ayahnya malah tercengang mendengar ucapan dokter tentang pendonor darah yang sama dengan anaknya. Sesuatu yang mustahil bagi mereka , namun tidak dengan ayah Sigit.
" Sudah ada dokter?" Ulang ibunya Sigit. Dokter hanya mengangguk sambil tersenyum.
" Tapi anak saya mempunyai golongan darah yang langka dokter!"
" Langka bukan berarti tidak ada ibu. Nyatanya Tuhan mengirimkan penyelamat diwaktu yang tepat untuk anak ibu." kata dokter.
Ibunya Sigit tentu tak bisa begitu saja percaya, pasalnya waktu dia melakukan donor darah untuk saudaranya, dokter mengatakan bahwa golongan darahnya itu sangat langka dan baru ditemukan pada dirinya. Mengetahui itu, dokter menyarankan anaknya, yaitu Sigit untuk melakukan cek golongan darah dan hasilnya adalah sama dengan dirinya. Bahkan waktu itu pihak rumah sakit sempat melaporkan ke dinas kesehatan tentang itu. Hingga dilakukan pemeriksaan lebih lanjut dan hasilnya tetap sama bahwa ibunya dan Sigit memiliki golongan darah yang berbeda dengan manusia pada umumnya.
Jadi bisa dipastikan bahwa tidak mungkin ada orang lain yang secara kebetulan memiliki golongan darah itu.
" Bisakah kami bertemu dengan orang baik itu dokter?" Tanya ibunya Sigit.
Saat inilah oma maju dihadapan keluarga Sigit " Dia sedang diistirahatkan bu, karena kondisinya sedang menurun setelah melakukan transfusi darah." Kata oma, namun matanya memperhatikan wanita yang katanya ibunya Sigit.
Mirip Sigit.... Eh... Bukan.... Mirip Mira, tapi kenapa kok malah mirip keduanya?
Bukan hanya oma, semua yang ada disana, termasuk opa, Nathan, bu Rita dan Nano juga berpikir hal yang sama. Bahkan dokter juga memperhatikan secara seksama wajah yang mirip dengan Mira itu.
Apa mungkin?
" Apakah saudara Sigit ini memiliki saudara kandung yang lain?" Tanya dokter.
" Tidak dokter, dia anak saya satu-satunya. Tapi dia memiliki saudara tiri, beda ayah." Ucap ibunya Sigit. Namun ucapannya itu membuat ayah Sigit memandang bersalah pada istrinya itu.
" Oh, begitu. Kalau begitu saya permisi." Pamit dokter.
" Trima kasih dokter."
Ayah Sigit merasa ada yang harus ia pastikan. mencari cara untuk bisa melihat siapa orang yang mendonorkan darah untuk Sigit, karena ia sangat yakin bahwa itu bukan sesuatu kebetulan, tapi kebenaran dan dia tahu itu.
" Bapak akan kemana?" Tanya ibunya Sigit melihat suaminya akan pergi meninggalkannya.
" Bapak perlu ke kamar mandi." Kemudian ia meninggalkan begitu saja ibunya Sigit. Oma merasakan kejanggalan itu langsung pergi juga berlalu dari sana ke kamar rawat Mira. Dia harus menutupi kemungkinan kebenaran itu, karena dia tahu ada yang tidak beres disini.
Sedangkan Nathan kedatangan tamu polisi yang memintanya memberi keterangan tentang kecelakaan itu, dan ibunya Sigit juga ikut karena ia juga harus tahu kronologis kecelakaan yang mengakibatkan anaknya harus terkapar di rumah sakit, dan memastikan bahwa benar ada korban lain dalam kecelakaan itu.
" Kami harus meminta keterangan saksi kunci dalam hal ini pak Jonathan." Ucap polisi yang bertugas menangani kasus ini.
" Bisakah ini dilakukan besok saja pak, karena keadaannya tidak mungkinkan untuk ditanyai." Pinta Jonathan.
" Baik kalau begitu. Kami akan datang kembali besok pagi, karena mengingat ada korban meninggal dalam kasus ini pak."
Polisi akhirnya meninggalkan rumah sakit, dan Jonathan pulang bersama bu Rita, sedangkan opa tetap berada disana bersama oma.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
Oma mengelus pergelangan tangan Mira yang terbungkus perban. Ternyata bukan hanya terkilir namun tulangnya mengalami keretakan. Bahkan saat ini tubuhnya mulai demam.
" Mudah-mudahan kamu cepat pulih Mira."
Oma sebenarnya masuk ke kamar Mira untuk menanyakan tentang orang tua Mira, karena bagaimanapun orang tuanya berhak tahu keadaan anaknya.
Mira membuka matanya, merasakan nyeri pada tangannya yang membengkak.
" Ssst."
" Mira kau bangun? Ingin sesuatu?" Tanya oma.
" Sakit oma." Mira meringis menahan rasa sakit dipusat pergelangan tangannya. Bahkan ia mengeluarkan tetesan air mata, membuat oma harus memanggil dokter.
Ia hanya perlu memencet tombol disamping tempat tidur Mira, dan dokter serta perawat langsung datang.
" Tomy?"
Ternyata dokter Tomy yang bergantian jaga malam itu.
" Kenapa tanganmu Mira?" Basa-basi dokter Tomy menayakan penyebab tangan Mira membengkak, padahal dia sudah tahu kasusnya.
" Wah.... sebentar lagi harus diamputasi ini."
Bukk!
Oma memukul punggung dokter Tomy yang sedang membuka perban tangan Mira.
" Aduh....!" dokter Tomy mengaduh mendapat bogem dari oma.
" Bercanda tante."
Ya, dokter Tomy adalah anak dari kakaknya oma Sarah, berarti sepupu Rayyan. Kenapa berbeda jika diperhatikan, karena bapaknya Rayyan yang berkebangsaan Spanyol itu yang membedakan dua sepupu itu, sedangkan dokter Tomy asli keturunan bangsa Indonesia. Tomy mengenal Mira karena pernah datang ke tempat prakteknya bersama Rayyan ketika Geby sakit.
" Makanya Tomy datang kesini mau bantu obatin dia tante, itu bisa dikatakan kasihan enggak?" Tomy tetap bergurau sambil memeriksa Mira.
" Ini terlalu kencang perbannya, makanya sakit. Jangan terlalu banyak gerak dulu." Ucap dokter Tomy.
" Dia demam Tomy."
" Aku tahu tante."
" Dasar anak kurang ajar!"
" Hahaha."
Dokter Tomy malah tertawa mendengar tantenya mengatainya.
" Apa Rayyan sudah tahu?" Tanya dokter Tomy setelah selesai memeriksa Mira. Oma menggeleng, sambil mengedipkan mata, agar tak membicarakan Rayyan di depan Mira. Dia tak ingin bahwa dia sebenarnya juga sudah tahu bahwa anaknya itu menyukai gadis yang sedang meminum obat dibantu perawat.
" Kita bicara nanti, setelah dia tidur. Kamu jaga malam kan?" Tanya oma. Otomatis Tomy langsung tertawa mendengar pertanyaan tantenya yang baginya agak sableng, mirip Rayyan.
" Tomy jaga pagi tan."
Bukk!
" Ough! Kenapa tante senang banget mukul sih, sakit tahu!"
" Ini jam berapa?" Oma menunjuk jam yang bergantung di dinding.
" Lalu kenapa tante tanya waktu jaga aku. Ya jelas malam ini aku jaga, masa besok pagi?"
Memang salah oma Sarah juga, bertanya Tomy jaga apa, karena kenyataannya sekarang jam 00:00wib.
" Tante ada banyak pertanyaan, tapi nanti kita ngobrol di ruanganmu setelah Mira tidur lagi."
Dokter Tomy hanya mengangguk, dan berlalu dari kamar Mira, karena suster asistennya juga sudah selesai.
Oma duduk di samping tempat tidur Mira. Mira sudah tidak menangis lagi, namun demamnya masih ada, karena peradangan pada tangannya yang sekarang berukuran 3 kali lipat.
" Kamu tidak ingin memberi tahu orang tuanmu?" Tanya oma.
" Ibu pasti sangat kawatir oma."
" Ayahmu?" Oma mencoba memancing pertanyaan mengenai orang tua Mira.
" Aku hanya punya ibu, bapak tidak tahu dimana? Dia pergi setelah nenek meninggal."
Wow.... Cerita keluarga yang menarik, lanjut!
Oma membenarkan posisinya duduk, menghadap Mira.
" Ayahmu.... Maksud oma bapakmu pergi meninggalkan kalian?" Tanya oma memastikan.
" Bapak pergi, kembali dengan istrinya yang dulu. Ibu bilang bapak tidak direstui nenek ketika menikah dengan istrinya itu, jadi bapak harus meninggalkan istrinya dan kemudian menikah dengan wanita pilihan nenek, yaitu ibuku."
" Kamu punya saudara?"
" Adik oma."
Oma mengangguk, namun pikirannya masih melayang pada ibunya Sigit.
Apakah mungkin bapaknya Sigit itu bapaknya Mira? Tapi kalau bapak yang sama, kenapa Mira mirip ibunya Sigit? Dan golongan darah itu? Oh... No!
Oma menggeleng, merasa bahwa sesuatu makin rumit sekarang.
Mira bingung melihat oma yang menggeleng-geleng, seperti sedang memikirkan sesuatu.
" Oma kenapa?"
" Oh... Oma tidak apa-apa, hanya teringat Rayyan." Oma mencari alasan agar Mira tak mencurigainya.
" Mas Rayyan... Ya ampun, aku lupa mau menelpon mas Rayyan. Tadi aku udah janji mau menelpon malam ini. Besok diakan mau tampil."
Oma merasa ini saat yang tepat untuk meninggalkan Mira agar dia bisa bicara dengan Tomy mengenai golongan darah Mira, Sigit dan ibunya.
" Kamu mau menelpon Rayyan? Oma ambilkan ponselmu." Oma segera mencari tas Mira dan mengambil barang yang diinginkan Mira lalu memberikannya.
" Trima kasih oma."
" Oma keluar dulu, mau ke toilet."
" Tapi toiletnya ada di dalam oma." Mira menunjuk pintu toilet di kamar rawatnya .
Oma jadi bingung sekarang, karena alasanya salah.
" Oh bukan... Maksud oma, oma mau ke opa. Ya udah, sok telepon si Rayyan, biar dia seneng, oma keluar ok!" Oma buru-buru meninggalkan Mira yang menatap kepergianya oma dengan heran.
" Oma kenapa ya?" gumamnya, namun akhirnya Mira memilih untuk mencari nama Rayyan di kontak hpnya.
Oma menutup pintu kamar Mira, langsung menuju ke ruangan dokter Tomy, tanpa memperhatikan ada sepasang mata yang mengetahuinya keluar dari pintu itu. Sepasang mata itu menunggu oma tak terlihat, baru ia mendekat ke pintu kamar Mira.
Tangan itu membuka pelan pintu tak terkunci ruangan Mira. Walaupun pelan, Mira yang masih terjaga karena sedang menghubungi Rayyan bisa melihat kalau pintu kamarnya bergerak. Matanya mengawasi terus ketika pintu itu terbuka menjadi lebar, dan menampakkan sosok pria yang selama ini tak ingin lagi ditemuinya.
"...........?!"