
Mira dan Andre memasang baner di teras depan rumahnya. Keluarga kecil tanpa ayah ini akhirnya membuka usaha loundry di rumah. Agar semua bisa saling membantu. Ibu juga tidak harus bekerja dari rumah ke rumah mencuci baju para tetangga yang membutuhkan jasanya.
Cukup dari rumah, semua terkendali. Dengan pesangon yang Mira dapatkan, alhamdulilah semua cukup untuk membeli perlengkapan usaha, seperti mesin cuci dan setrika. Andre kebagian mengantar dan mengambil baju-baju yang akan dicuci dan setrika.
Andre juga membuka usaha tambal ban di rumah. Hasilnya juga lumayan, bisa untuk membeli bensin. Jadi tidak harus meminta pada ibu atau kakaknya lagi.
Keceriaan dan kebahagiaan keluarga Mira sangat terlihat. Mereka begitu kompak. Walaupun keadaan tangan Mira belum pulih, namun ia masih bisa membantu dengan mengerjakan yang ringan-ringan saja.
" Ibu, cuciannya tinggal dijemur. Mira antar baju ke rumah bu Siti ya."
" Hati-hati." Pesan ibu saat Mira melangkah keluar rumah dengan membawa keranjang berisi baju yang sudah selesai untuk dihantar ke pemiliknya.
" Permisi ibu, ini bajunya sudah selesai."
Bu Siti sang pemilik rumah segera bangkit dari duduknya bersama ibu-ibu yang sedang berkumpul di teras rumah.
" Berapa semuanya?" Tanya bu Siti. Mira mengulurkan nota pada bu Siti sebagai tanda bukti pembayaran. Setelah semua beres, Mira berpamitan pulang. Bukan hanya pada bu Siti tapi juga pada ibu-ibu yang ada disana.
" Mari ibu-ibu, saya permisi." Pamit Mira dengan senyum ramahnya.
" Oh... Ya."
" Cantik ya si Mira, tapi sayang malah ditinggal nikah sama anaknya bu Hardi, siapa itu namanya....."
" Bobby, si dokter ganteng itu tho. Yang nikah sama anaknya pak Slamet. Ya mending sama anaknya pak Slamet lah bu, wong anaknya juga cantik, dokter juga kerjanya. Kalau Mira cuma menang cantik aja... Kemana-mana masih menang anaknya pak Slamet."
Mira membuang nafas, berusaha sabar mendengar bisik-bisik tetangga yang masih jelas terdengar oleh telingannya.
Ia melangkah lebih cepat agar segera sampai rumah. Pekerjaan masih banyak. Ironis memang dengan ibu-ibu yang sedang berkumpul di rumah bu Siti yang seperti tidak punya pekerjaan, sehingga masih bisa mengurus urusan tetangga lainnya. Begitulah jika punya tetangga. Masalah di rumah aja belum kelar, tapi sudah sok mengurusi urusan orang.
Mira masuk ke dalam rumah, meletakkan keranjang kosong yang ia bawa tadi. Menumpuknya dengan yang lain.
Ibu masuk rumah, melihat Mira sedang sibuk menimbangi baju-baju.
" Istirahat sayang, apa kamu tidak lelah?"
" Sebentar lagi ibu, tanggung."
Ibu membiarkan Mira menyelesaikan pekerjaannya, memaksa Mira berhenti adalah sesuatu yang sia-sia. Sebagai ibunya, ia paham betul sifat anaknya yang keras kepala.
" Jika sudah selesai istirahat ya, ibu buat bubur sum-sum kesukaanmu."
Mira tersenyum melihat ibunya yang berlalu meninggalkannya di ruang samping tempat dibukanya laundry.
" Andre, kita istirahat dulu. Ibu buat bubur." Mira meneriakki adiknya yang sedang menambal ban sepeda milik tetangganya.
Begitulah keseharian mereka di rumah saat ini. Sederhana tapi bahagia.
Tapi kekawatiran Mira tantang bapaknya yang bisa datang sewaktu-waktu membuatnya merasa cemas. Ia tidak bisa membayangkan itu terjadi, mengingat mudahnya bapaknya itu menemukannya, karena ia berada di rumah yang pernah ditempati bersama bapaknya juga.
" Ibu, apa bapak pernah memberi kabar?" Tanya Mira pada ibunya saat mereka berkumpul di ruang makan untuk menikmati bubur buatan ibu.
Ibu menggeleng, namun masih tersenyum " Mungkin bapakmu sudah bahagia." Ucapnya kemudian.
" Seperti kalian tahu, kami menikah karena dijodohkan nenekmu. Mungkin bapakmu terpaksa waktu itu."
" Jika bapak terpaksa, bagaimana dengan ibu?" Mira gantian bertanya.
" Ibu tidak punya pilihan waktu itu. Nenekmu yang sudah membesarkan ibu, jadi tidak ada salahnya ibu membalas kebaikannya. Nenekmu sangat baik, mau mengurus ibu yang waktu itu tak memiliki orang tua. Orang tua ibu meninggal karena tanah longsor, ibu beruntung selamat karena nenek kalian yang membantu ibu menyelamatkan diri waktu musibah itu datang."
Suasana menjadi hening tak bersuara. Semua sedang merenungi kejadian yang menimpa ibunya.
" Lalu bagaimana bisa ibu menikah dengan bapak?" Tanya Mira.
" Bapakmu waktu itu pulang merantau setelah sekian tahun. Nenek kawatir dengan bapakmu yang sudah berumur, namun belum juga menikah." Ibu terdiam setelah mengucapkan itu, sedang memilih kata-kata untuk menyampaikan masa lalu yang memang seharusnya ia ceritakan pada anak-anaknya.
" Tapi ternyata setelah kami menikah, malamnya bapakmu mengatakan yang sebenarnya jika dia ternyata sudah beristri." Ucap ibu.
" Apa istrinya itu juga wanita yang sekarang bersamanya?" Tanya Andre. Ibu mengangguk.
" Mereka saling mencintai. Ibu merasa bersalah telah menjadi pihak penghancur pernikahan mereka. Tapi nenekmu tidak bisa menerima pernikahan yang dilakukan bapakmu secara diam-diam. Merasa kecewa dengan bapakmu, nenekmu memisahkan mereka."
" Lalu bagaimana dengan ibu waktu itu?" Tanya Mira.
" Ibu meminta ayahmu untuk kembali dengan istrinya. Tapi semua terlambat. Setelah melahirkan, istrinya itu pergi meninggalkan bapakmu. Jadi bapak pulang kembali dan meminta rujuk dengan ibu."
" Berarti kami memiliki saudara lainnya dari istri bapak yang satu?" Tanya Andre. Ibu menggangguk lagi.
Tapi Mira terdiam membisu mengingat bahwa saudara Andre dari istri pertamanya adalah dirinya dan Sigit.
" Apa ibu pernah bertemu dengan mereka?" Tanya Mira kemudian. Mengenyampingkan rasa berat di dalam hatinya, agar ibunya tidak curiga bahwa ia sudah mengetahui semua kebenarannya.
" Ibu pernah bertemu dengan mereka, sesaat sebelum ibu berpisah dengan ayahmu untuk yang kedua."
" Kenapa bapak meninggalkan ibu?"
" Karena bapakmu masih mencintai istrinya dan anaknya."
" Lalu apakah kami bukan anak bapak? Kenapa bapak meninggalkan kami dan memilih mereka?"
Ibu terdiam lagi. Begitu berat jika harus mengatakan kebenarannya bahwa ia mengandung Andre karena kesalahan.
Selama menikah, bapaknya itu tidak pernah menyentuh ibunya. Tapi karena malam itu sang bapak sedang marah karena nenek yang tetap kekeh ingin dia berpisah dengan istri pertamanya, bapak menjadi kalap dan akhirnya malah melampiaskan kemarahan pada bu Santi yang dicampur dengan kondisi mabuk, maka terjadilah yang seharusnya terjadi. Setelah kejadian malam itu, beberapa minggu kemudian ibu Santi dinyatakan hamil dan lahirlah Andre.
Dan kenyataan lain yang membuat ibu Santi kecewa adalah, ternyata bapak tidak benar-benar berpisah dari istrinya. Mereka tetap bersama walaupun di depan nenek mengaku telah berpisah. Demi seorang bayi yang diambil paksa oleh nenek saat istri pertama sang bapak melahirkan. Dan dari situlah, ibu Santi mengetahui kebohongan suaminya.
Ibu Santi merawat anak yang dibawa nenek dengan penuh kasih sayang, walau bagaimanapun dia adalah anak suaminya. Berkali-kali bu Santi mengatakan pada suaminya untuk membawa kembali anak itu pada istrinya. Namun suaminya bilang kalau istrinya tidak tahu kalau anaknya yang satu masih hidup. Waktu itu setelah lahir, nenek membawa begitu saja bayi perempuan yang masih berada di ruang bayi secara diam-diam. Memisahkan dari saudaranya yang lain. Karena waktu itu istrinya melahirkan bayi kembar. Karena saat melahirkan istri pertamanya dalam keadaan koma, maka ia bingung bagaimana menjelaskannya tentang bayi yang lain yang telah dibawa neneknya setelah sang istri sadar. Jadi sang bapak terpaksa mengatakan bahwa anak itu sudah tiada.
Istri pertamanya kecewa, terlalu kecewa. Ia menyalahkan suaminya dan meninggalkan suaminya itu pergi dengan membawa anaknya yang masih hidup.
Tanpa ia sadari bahwa rahasia Ilahi akan mempertemukan mereka dikemudian hari dengan cara yang tak terduga.
Begitulah hidup. Manusia bisa berencana, tapi jika Tuhan mengatakan terjadi maka terjadilah, jika Tuhan mengatakan lain. Maka kita hanya bisa menerima kehendakNya, walaupun kadang kita sendiri sulit untuk menerima. Tapi satu yang harus kita sadari, rencana Tuhan akan indah pada waktunya.