
" Sakit enggak?"
Dengan wajah kawatir Rayyan bertanya saat Mira memegang perutnya.
" Cuma kenceng, enggak sakit. Tapi sekarang udah enggak." Mira merasa perutnya kini melemas, baru dia beranjak mengambil tas di atas meja.
" Yuk berangkat."
Mereka berangkat ke rumah sakit, jadwal kontrol rutin. Menginjak bulan ke-9, jadwal menjadi seminggu sekali.
" Posisi udah pas, letak kepala juga sudah bagus, air ketuban cukup. Berat badan, nanti dibesarkan di luar aja." Jelas dokter.
" Tapi apa gak masalah dok kalau beratnya di bawah standard?" Rayyan beratnya.
" Rata-rata bayi kembar ya begitu, tapi sejauh kondisi sehat, tidak ada yang perlu dikawatirkan pak Rayyan."
" Memang perkiraan BBnya sekarang berapa dok?" Gantian Mira yang bertanya.
" Kalau yang ini kurang lebih 2,1 dan satu lagi 2,25. Mudah-mudahan saat mereka lahir sudah bertambah ya Bu. Jangan kawatir masih ada waktu untuk bertumbuh, yang terpenting semua dalam keadaan sehat."
" Iya dokter."
" Nanti kalau misalnya sudah terasa, biasanya dari jalan lahir keluar lendir atau bisa jadi darah, atau mungkin air ketuban yang pecah duluan, langsung saja bawa ke rumah sakit."
" Terus satu lagi, bayi bisa lahir bisa sebelum atau lewat dari perkiraan, misalnya dua minggu sebelum perkiraan atau mundur lewat dari tanggal perkiraan, ibu dan bapak jangan kawatir, karena itu normal. Yang terpenting selalu siaga."
" Iya dokter."
Dokter sekali lagi memperhatikan layar untuk memastikan semua baik.
" Masih ada yang ingin ditanyakan?"
" Jenis kelamin mungkin?"
Rayyan dan Mira saling berpandangan. Sebenarnya mereka sudah tidak sabar ingin mengetahui jenis kelamin si kembar. Haruskah tetap bertahan agar menjadi kejutan, atau mereka tahu saat ini. Besok atau sekarang sama saja kan, toh tinggal menunggu hari.
" Lihat, ini jelas sekali. Jadi tidak saya beri tahu, bapak dan ibu bisa melihat sendiri sekarang."
Rayyan dan Mira dengan seksama meneliti gambar di layar, dan sesuatu yang menakjubkan terlihat jelas di sana.
" Ini yang satu, terus... Ini yang satu lagi."
" Sepasang ya pak, bu."
Rayyan dan Mira sangat bahagia, anak mereka ternyata laki-laki dan perempuan, kembar tapi beda.
" Jarang lho yang begini, biasanya kalau enggak laki semua ya perempuan semua. Tapi ini dua-duanya."
" Ibunya juga kembar tapi beda dok, yang satu laki-laki." Jawab Rayyan.
" Sudah ada gen berarti." Dokter menyimpulkan dan Rayyan mengangguk.
" Masih ada lagi yang mau ditanya?" Dokter menunggu sebentar.
" Cukup dokter." Jawab Rayyan.
" Yah, selamat. Semoga lancar sampai lahir."
" Terima kasih dokter."
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
Baju bayi, semua yang dibutuhkan sudah tersedia, tetapi belum di susun di kamar yang sudah dipersiapkan untuk anak-anak, masih disimpan di rumah mama Sarah.
Tetapi yang diperlakukan untuk ke rumah sakit sudah standby di dalam tas khusus, jika sewaktu-waktu terasa sudah tinggal angkat.
Rayyan tersenyum melihat Mira sedang berjongkok di lantai kamar, mengepel dengan tangan, tidak memakai alat khusus yang sudah tersedia. Bukan tanpa alasan, dia memang sengaja melakukan agar nanti proses kelahirannya lancar.
Sebenarnya dia kasihan melihat istrinya begitu, apalagi perutnya yang besar tentu sangat susah dibuat bergerak. Tetapi melihat semangat sang istri, Rayyan hanya bisa mendukung.
" Selesai."
Mira menyeka keringat yang membasahi pelipisnya, membawa alat pel ke luar. Mira hanya mengepel kamar, karena ruangan lainnya sudah dibersihkan oleh petugas khusus.
" Minum dulu." Rayyan memberikan segelas air minum untuk Mira setelah istrinya duduk.
" Terima kasih mas." Rayyan mengangguk.
" Mau sarapan apa?" Rayyan bertanya sambil membuka kulkas.
Mira bangkit dari duduk, ikut melihat-lihat isi kulkas.
" Sup telur puyuh enak kali mas."
" Mau itu?"
" He'em."
Rayyan dan Mira mengeluarkan bahan-bahan. Sudah jadi kebiasaan pasutri ini masak bersama. Apalagi selama masa kehamilan, Rayyan selalu membantu Mira memasak, jadi sedikit banyak sekarang dia tahu caranya.
" Makan yang banyak, biar sehat."
Bel pintu berbunyi di jam sarapan.
" Biar mas aja ya, tunggu sini. Habisin sayurnya." Rayyan berpesan, sambil beranjak pergi.
Suara seorang wanita yang tak asing terdengar ditelinga Mira, membuat Mira penasaran. Dia ikut beranjak dari dapur untuk melihat tamu yang datang.
" Siapa m...." Belum selesai betanya, Mata Mira langsung membola melihat dua ibunya berdiri di depan suaminya.
" Ibu..." Dia langsung memeluk satu-satu ibunya.
" Kok enggak kasih kabar mau kesini? Cuma berdua?" Mira melongok melihat keluar rumah.
" Sama masmu juga Sania, tapi mereka langsung ke kampus. Nanti pulangnya baru mampir kesini."
" Masuk dulu bu." Rayyan mengajak kedua ibu Mira masuk ke rumah.
" Kok Sania ikut?" Mira penasaran.
" Iya... Mau nemenin mas mu wisuda."
" Emang kapan mas Sigit wisuda bu?"
" Besok, makanya ibu kesini sekalian jenguk kamu."
Ada sesuatu yang janggal dan Mira harus bertanya itu " Kok Sania nemenin mas Sigit, emang apa hubungannya?"
" Ibu lupa cerita ya, atau mas mu enggak bilang."
" Belum ada yang kasih tau ke Mira. Tapi Mira curiga ini, pasti mereka ada apa-apanya." Mira menyelidik pada dua ibunya yang tersenyum.
" Bentar aku buatin minum dulu bu, duduk dulu." Mira mengajak dua ibunya duduk di ruang dekat pantry, biar bisa sambil ngobrol selagi dia membuat minuman.
" Sudah sarapan belum bu?"
" Sudah tadi di jalan."
Mira meracik minuman untuk dua ibunya, sedang Rayyan membantu merebus air.
" Bu, lama enggak disini? Pengen sayur lodeh sama sayur asem buatan ibu lho aku." Mira kembali membawa nampan berisi minuman, da duduk bergabung dengan dua ibunya.
" Lah... Kenapa enggak bilang, kan bisa telpon." Bu Santi yang menjawab.
" Masa iya cuma pengen makan sayur itu aja sampai harus bawa ibu kesini." Jawab Mira.
" Ya enggak papa, kalau ibu ada waktu."
" Ibu kan repot sekarang, loundry rame, belum lagi urus catering sama bu Retno."
" Kan bisa suruh mas mu anter, kalau dari rumah ibu kan enggak jauh banget Mir." Bu Reni yang bicara sekarang.
" Kasihan mas Sigit bu, Tangerang-Bogor cuma suruh nganter sayur."
" Ya enggak papa, namanya ngidam, ya kalau bisa dituruti."
" Nah kan ibu sekarang disini, nanti masakin ya, mumpung belum lahir ini."
" Iyalah... Nanti masak bareng-barang."
Rayyan baru bergabung setelah mandi.
" Bapak enggak ikut bu?"
" Bapak masih ngajar nak Ray." Jawab ibu Santi.
" Andre?"
" Langsung pendidikan di Surabaya."
" Oh, syukurlah."
" Oh ya bu, mas Sigit sama Sania tadi gimana ceritanya?" Mira mengingat dua orang yang pergi berdua dengan alasan yang dia tidak tahu.
" Sania tho." Mira mengangguk.
" Ibu mau besanan sama bu Retno."
Mira terbelalak " Mas Sigit sama Sania, kok bisa?"
" Ya bisa. Kamu juga, kok bisa sama nak Rayyan?" Mira langsung diam.
" Cinta itu sesuatu yang tidak bisa ditentukan pada siapa harus berlabuh yank, kadang yang dekat, yang kenal baik belum tentu jodoh, tapi yang gak kenal sama sekali, bahkan enggak kebayang malah tenyata bisa berjodoh."
" Begitu pula sebaliknya, yang ada yang dekat yang tiap hari dilihat, diajak bicara dan yang suka berantem, diajak curhat tentang pacar dan mantan pacar, eh... Gak taunya itu jodohnya."
" Ada lagi yang hanya bisa dikagumi, diidolakan, dijadikan bahan taruhan, hanya bisa lihat di tv, tenyata jadi suami."
" Nyindir!" Mira menatap tajam sang suami yang senyam-senyum gak jelas. Kedua ibu hanya bisa menggeleng-geleng sambil ikut tersenyum.
" Pasangan muda emang aneh!"