
Perpisahan tanpa pelukan, apalagi ciuman. Hanya saliman gaya orang alim yang dilakukan Rayyan dan Mira, saat mereka harus berpisah.
Rayyan pulang bersama keluarga dan Mira tinggal dengan keluarganya.
Sebenarnya dibilang berat ya emang berat harus berpisah jarak dan waktu dengan kekasih tercinta, tapi mau gimana lagi, keluarga masih berkabung. Setidaknya sampai acara 7 hari, baru Mira bisa kembali bekerja.
" Hati-hati di jalan pak, bu. Trima kasih sudah datang." Pak Subagio mewakili keluarga.
" Sama-sama. Mari, kami pamit pulang ya bapak, ibu." Papa Jo yang bicara.
Setelah acara salaman, Mira menghantar keluarga Rayyan sampai mobil, sedangkan keluarga yang lain sudah sibuk beberes.
" Mas pulang ya."
Mira mengangguk, walaupun berat hati. Begitu pula Rayyan, hanya mampu memandang Mira dengan perasaan tak ikhlas.
" Cuma seminggu." Oma mengingatkan.
Mira jadi malu, tapi Rayyan lega bisa melihat senyum sang kekasih sebelum pulang. Karena semenjak mendapat kabar, air mata selalu turun dari mata Mira dan itu membuat Rayyan merasa iba.
" Dah....."
Hanya lambaian tangan tanda perpisahan. Mira melepas kepergian mobil keluarga Rayyan sampai mobil tak terlihat, baru dia kembali ke dalam rumah orang tuanya yang baru ia injak hari ini.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
" Kayaknya ada orang gak bisa tidur malam ini." Celetuk oma saat mereka baru sampai di Jakarta, pertengahan jarak antara Tangerang dan Bogor.
Oma mengambil hp milik Mira saat ingin mengambil tisu. Hp itu Rayyan yang meletakkan karena Mira lupa membawa saat sedang siap-siap.
Rayyan yang sedang mengemudi menggantikan Dony menengok sebentar ke belakang, dan benar hp Mira ada di tangan oma.
" Aduh! Kok bisa lupa sih!" Rayyan jadi bingung.
" Transfer aja Ray, suruh beli lagi." saran papa Jo.
" No rekeningnya aja gak tahu, kayak mana mau transfer pa." Jawab Rayyan.
" Mama punya, mau?" Tawar mama.
" Kayak mana bilangnya, kalau hpnya aja ada disini."
Semua diam, tidak ada yang menjawab.
" Apa saya kembali lagi mas?" Saran Dony.
Rayyan berpikir sejenak, tapi kemudian ia menggeleng.
" Dia pasti marah kalau sampai aku transfer. Kamu juga bakal kemaleman sampai bengkel." decaknya.
" Kenapa marah?" Tanya papa Jo.
" Waktu itu aku kasih cincin aja dia gak mau terima, untung ada mama."
" Emang langka tu anak. Perempuan kalau di kasih barang mewah biasanya minta nambah, kalau yang ini malah kayak orang ketakutan." Ucap mama Sarah.
" Makanya Rayyan suka ma."
" Halah bilang aja pelit." Jawab mama.
" Bukan pelit, tapi selektif. Kalau cuma cari yang seneng dikasih atau yang suka minta duluan tuh banyak, gak perlu nunggu lama sampai karatan."
" Nyadar kamu kalau karatan!"
" Hem, terserah mama aja mau bilang apa." Rayyan kembali fokus dengan jalanan.
" Terus nasib hp ini gimana?" Mama membolak-balik hp milik Mira.
" Kirim pake paket aja." Ucap Rayyan kemudian.
" Kamu gak mau beliin hp baru buat Mira Ray?" Mama Sarah memperhatikan layar hp Mira yang sudah tergores sana sini.
" Sudah dibilang dia pasti marah ma kalau aku kasih-kasih dia."
" Kenapa gak bilang kado dari kamu. Pasti dia mau trima."
" Emang kapan dia ulang tahunnya ma?"
" Kenapa tanya mama, kan kamu pacarnya!" Skak, Rayyan sekali lagi tertohok.
" Ngapa diam? Ngerasa jadi pacar yang kurang perhatian, tapi nuntut diperhatiin? Kok nurun ya." Sindir mama Sarah sambil melirik papa Jo.
Dua laki-laki yang duduk di depan dan di samping oma langsung kicep, diam seribu bahasa.
" Laki-laki emang gitu. Kamu juga ya Don?" Tanya oma ke Dony yang dari tadi hanya diam.
" Sedikit oma."
" Tuh kan, sama aja." dengus mama Sarah.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
Mira mengeluarkan barang-barang dari dalam tasnya, mencari hp yang ia kira sudah masuk di dalam, tapi sampai semua barang keluar, Mira tak menemukan benda pipih itu.
" Kok enggak ada ya?" gumam Mira sambil membolak-balik satu-satu pakaiannya, siapa tahu terselip, tapi tetap tidak ada.
" Kemana ya? Apa ketinggalan? Aduh, gimana ini?"
Mira merenung sejenak, mengingat-ingat dimana terakhir kali dia memegang benda itu.
" Ya ampun, kan belum aku masukin tas."
Pikiran kalut emang suka bikin orang tak konsen, makanya Mira bisa melupakan benda itu.
Ia ingin mengubungi Rayyan tapi pakai apa? Nomor juga dia gak ingat.
Ia keluar, celingukan mencari seseorang.
Sigit! Dia sedang menumpuk kursi-kursi plastik di halaman. Mira menyusul, ingin meminjam hp, karena dia berpikir Sigit pasti punya nomor Rayyan.
" Mas, boleh pinjem hp sebentar? Hp aku ketinggalan." Mira berusaha bicara layaknya saudara dengan Sigit, walaupun dia tahu tatapan Sigit masih menyiratkan kekecewaan.
" Ada di kamar. Sebentar." Jawab Sigit yang melanjutkan membereskan kursi.
Mira mengangguk, menunggu sambil membantu mengumpulkan gelas-gelas plastik yang berceceran.
Sigit masuk ke dalam, dan keluar dengan membawa hp ditangannya.
" Ada nomornya mas Rayyan enggak?" Tanya Mira menghentikan kegiatannya dan menerima uluran hpnya Sigit.
" Ada."
" Pinjem bentar ya mas, trima kasih."
Dia adikmu Sigit! Otak warasnya mengingatkan.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
Rayyan melirik hpnya berdering di atas dasbord. Melihat sebentar siapa yang memanggil.
" Sigit?'
Ia memasang earpiece di telinganya.
" Halo."
" Mas."
Lega dalam hati Rayyan mendengar suara yang menyebutnya dengan 'Mas' siapa lagi kalau bukan Mira.
" Hp aku kayaknya ketinggalan di rumah deh." Kata Mira.
" Bukan di rumah, tapi di mobil. Mas udah bawa ke mobil, tapi malah lupa bawa turun."
" Oh, kirain ketinggalan di rumah." Ucap Mira.
" Kamu pakai hp Sigit?" Tanya Rayyan, hatinya sedikit berdesir jika ingat Sigit sempat punya rasa pada Mira.
" Iya, yang punya nomor mas cuma dia." Jawab Mira.
" Kamu beli hp lagi ya, nanti mas ganti."
Mira diam tak menjawab.
" Yank." Panggil Rayyan.
" Enggak usah mas, kan Mira cuma berapa hari di rumah." Tolak Mira.
" Terus mas hubungin kamunya gimana?"
" Ya lewat mas Sigit kan bisa." jawab Mira.
Sigit menarik nafas beratnya, ada rasa tak suka jika mengingat Sigit. Dikatakan cemburu ya Rayyan memang cemburu.
" Pake hp ibu aja ya yank."
" Iya, tapi hp ibu gak bisa pake vcall, gak papa kan?"
Hadew, mana bisa begitu. Suara aja gak cukup. Lihat tiap hari aja kangen, apalagi hanya suara.
" Sabar ya Ray, cuma seminggu." Mama Sarah berucap dengan nada mengejek.
" Mama gak pernah pacaran ya sama papa?"
Skak mat! Oma langsung diam, dan papa Jo hanya berdehem.
Berarti nih anak belum baca dairy? Batin mama Sarah.
" Yank, beli hp aja sih. Ntar mas ganti." rayu Rayyan.
" Buat apa mas, kan hpku cuma ketinggalan, enggak ilang."
" Ya sudah mas buang aja, biar ilang."
" Lho kok gitu?"
" Ya biar kamu beli lagi. Kelamaan kalau nunggu pulang."
Tiga orang lain cuma jadi pendengar ya pemirsa, karena Rayyan masih ngebujuk si Mira buat beli hp baru.
" Sayang uangnya mas."
" Enggak sayang sama mas?"
Jiwa jahil Mira jadi kambuh.
" Enggak!"
Syukurin lho! Emang enak!
" Ma, kayaknya dia cocok jadi anak mama ketimbang jadi mantu!" sungut Rayyan.
" Kenapa emang?" Tanya mama Sarah.
" Dia sama kayak mama, suka jahil, suka ngerjain. Yang gak sama cuma pikiran mesum yang belum nurun."
Mira menahan tawa mendengar gerutuan Rayyan.
" Ntar kalau udah nikah, dia pasti lebih mesum ketimbang mama."
" Emang bisa gitu ma?"
" Ya emang gitu, perempuan kalau masih polos suka malu-malu. Tapi begitu udah...."
" Stop ma! Nanti aja di rumah ngomongin gitunya." Potong papa Jo.
" Kenapa pah? Takut ya...." Mama mengedipkan mata bergaya manja.
Rayyan menghentikan mobil tiba-tiba.
" Kok berhenti?" Tanya papa dan mama bersamaan, melihat sekeliling.
" Tuh hotel. Lanjut aja disana. Gak kasihan apa, ada dua jomblo disini." sungut Rayyan, Dony pengen ketawa.
" Kamu juga mau turun?!"
" Enggak bos!" Dony menggoyangkan kedua tangannya.
" Ya kalau mau turun, turun aja. Aku mau balik soalnya. Mau anterin hp ayang beb."
" Mas, enggak usah aneh-aneh deh." Mira memperingatkan.
" Mau beli, apa mas putar balik?"
Dua pilihan yang membuat Mira mendesah.
" Jangan begitu nafasnya yank!"
" Kenapa emang?" Nada suara Mira tak mengerti.
" Bikin gak kuat."
" Dasar mesum!"
Mira langsung menutup panggilan telponnya.