I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Galau yang berlanjut



" Kita sepertinya perlu kasih kejutan sama Rayyan Mir." Ucap oma sambil membelokkan mobil ke sebuah gedung.


" Apa oma?" Mira tentu tak mengerti maksud oma.


" Kita datangi dia pas penutupan musim. Pengen lihat langsung dia berlaga di sirkuit gak Mir?" Tanya oma.


" Pengen oma, tapi mana bisa, jauh harus ke luar negeri." Jawab Mira.


" Itu bisa diatur, yang penting kamunya mau dulu. Rencana oma sama opa mau datang ke penutupan musim. Secara perusahaan opa sponsor untuk team Rayyan. Dan oma biasanya datang setiap penutupan musim. Kalau kamu mau ikut, nanti biar diatur sekalian sama pihak perusahaan opa."


" Emang gak papa oma?"


" Ya gak papa, emang kenapa? Jangan merasa sungkan Mira." Kata oma, menghibur Mira. Cukup paham dia dengan bahasa tubuh dan nada ucapan Mira yang merasa tidak enak.


" Kita pergi rame-rame. Dony juga ikut, Nathan sama keluarga juga. Itung-itung liburan keluarga." Lanjut oma kemudian.


" Kayaknya penutupan itu di Malaysia lho, kalau enggak salah jadwalnya. Jadi gak terlalu lama naik pesawat."


" Sama aja oma, kemarin aja dari lampung- Jakarta Mira juga mabuk. Apalagi sampai luar negeri."


" Belum biasa aja, nanti kalau udah biasa juga tetep mabuk... Hehehe." Oma malah tertawa diakhir kalimat, membuat Mira ikut tertawa walaupun malu.


" Minum obat anti mabuk sebelum berangkat." Saran oma.


" Ayo turun. Kita sudah sampai."


🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹


" Lu ngapa Ray?" Mathew masuk ke kamar Rayyan sesudah pulang dari 'mbolang'.


" Mama mau permak wajah si Mira." Jawab Rayyan dengan lesu.


" Ya bagus dong, entar cewek lu kelihatan glowing."


" Glowing gundulmu itu!" Sungut Rayyan, nadanya penuh ketidaksenangan.


" Jaman sekarang emang musimnya cewek glowing man.... Ikutin aja permainannya. Kalau tambah cantik juga lu yang seneng liatnya." Celoteh si Mathew.


" Kalau deket mah iya, lha ini jauh. Kalau diembat orang gimana?"


" Cari lagi lah. Cewek banyak, kayak cuma satu itu doank. Ikut gue ntar malam yuk, mbolang."


Rayyan melotot ke arah Mathew yang malah nyengir serasa tak punya dosa.


" Bulan Ramadhan, tobat lu!"


" Kayak situnya aja nglaksanain!" Bantah Mathew tak ingin kalah.


" Tahun depan, insya Allah." Jawab Rayyan, sambil merebahkan tubuhnya.


" Jadwal hari ini apa?" Tanya Rayyan pada Mathew yang sedang membuka notebook.


" Ada pemotretan sama perusahaan XJ, terus setelah itu latihan. Malamnya gala dinner ma seluruh team." Jelas Mathew.


" Cariin kostum untuk nanti malam."


" Beres bos, udah siap."


" Good job!"


" Sarapan disini apa disana?" Tanya Mathew.


" Disini sekarang!"


" Lu kalau ada maunya selalu gitu. Kasih waktu bentar kek, emang enggak butuh pesen." Sungut Mathew.


" Kalau nanti bukan sarapan namanya Met, makan siang." Jawab Rayyan yang dijawab dengan cibiran dari Mathew.


" Room service hotel ini cantik-cantik lho Ray." Kata Mathew sambil order makanan dari aplikasi hpnya.


" Bisa booking juga, semalem dapet dua gue."


Rayyan malah tak menghiraukan ocehan Mathew, pikirannya menerawang membayangkan wajah Mira yang makin glowing, gara-gara ucapan mamanya tadi di telpon.


" Mau yang semok apa yang body goal, tinggal pilih Ray." Mathew makin gencar berpromosi, tapi Rayyan tetap menatap atap kamar, seolah terpesona dengan bayangan yang sedang tersenyum penuh bintang-bintang bercahaya mengelilingi wajah sang bidadari pujaan hati.


" Apalagi lihat aset kembar no bra, yang udah disetting sekenceng mungkin pakai silicon, ampun dah.... Gemes gue, kenyal-kenyal gimana gitu." Mathew masih mengoceh, sambil melihat jadwal yang ia susun di notebook.


" Lu mau gue pesenin Ray, coba dulu gratis."


Mathew mendongak dari layar, dan melihat keadaan Rayyan yang sedang telentang, tersenyum sendiri dengan atap di atas tempat tidur.


Satu bantal melayang mengenai wajahnya, barulah ia seketika bangun dengan wajah bingung, yang mana membuat Mathew terbahak-bahak melihat wajah congek milik Rayyan.


" Lu liat atap kayak liat bidadari. Mau lihat bidadari beneran, gue tunjukin."


Bel kamar berbunyi


Mathew langsung sigap membuka pintu dan nampaklah seorang gadis berseragam membawa makanan pesanannya.


" Ray......" Panggilnya sambil mengedipkan mata menunjuk ke arah gadis yang masuk ke kamar.


Rayyan memandang jijik pada Mathew yang memberikan tips pada gadis itu dengan menyelipkan di belahan kemeja.


Mathew tertawa sambil menutup pintu.


" Hiburan Ray, biar gak spaneng!"


" Serah lu!" Rayyan memulai melahap makanannya.


" Gue mau tobat kalau sampai ada cewek yang ngaku hamil anak gue." Mathew menyusul Rayyan untuk sarapan.


" Ntar tiba-tiba di datengin 100 cewek hamil yang ngaku hamil anak lu, baru tahu rasa."


" Enggak mungkinlah, sarung gue selalu aman, no bocor-bocor!"


" Bisa entar dulu gak ngomong begituan, gak ketelen nih!" Protes Rayyan menunjukkan salad yang masih di depan mulutnya.


" Kalau lu masukin mulut, baru ketelen. Kalau cuma lu gituin sampe kiamat juga utuh."


" Haha.... Hup."


" Lu maen lagi ngapa Ray musim tahun depan. Masa iya, gue jadi pengangguran setelah ini." Keluh Mathew.


Rayyan menjeda mengunyah makanannya, menatap Mathew yang sedang melahap makanan miliknya.


" Kalau lu mau bisa kerja gantiin Dony di bengkel. Katanya dia dapet jatah rolling tahun depan."


" Berkurang dong pendapatan gue, gak bisa jadi penjajah lagi."


" Gue punya kelas untuk calon reader. Kalau lu mau bisa jadi manager beberapa diantara mereka."


" Tetep aja mulai dari nol."


" Ya lu aja yang gantiin gue jadi reader." Rayyan mulai kesal.


" Mana bisa gue bergaya hidup sehat kayak lu."


" Lha terus mau lu apa?"


" Ya lu tetep ikut balapan. Banyak yang kecewa sama pengunduran diri lu Ray. Sangat disayangkan. Lagi di puncak, eh malah rehat."


" Ada harga disetiap keputusan Met. Kadang kita harus melepas untuk mendapatkan yang lain. Gak mungkin kan kalau gue tetep jadi jomblo selamanya."


" Tapikan lu masih tetep bisa ikut balapan, walaupun married."


" Terus ninggalin keluarga selama berbulan-bulan? Keluarga gue bisa hancur kalau kayak gitu."


" Dibawalah."


" Gak semudah yang dibayangkan Met."


" Makanya gue gak mau nikah dulu." Celetuk Mathew.


" Nikah sama enggak sama aja kalau lu itu."


" Ya enggaklah. Kalau sampai keturutan bisa nikah ni, gue punya cita-cita jadi suami setia."


" Butuh niat itu mah, bukan cita-cita." Sangkal Rayyan.


" Tapi kalau model kayak lu, ragu gue bisa setia." Ejek Rayyan.


" Banyak godaannya ya." Jawab Mathew.


" Lu kan tipe penjajah."


" Iya juga ya, berarti enakan gini terus ya Ray, semalam bisa ganti semau gue. Tinggal pilih yang semok, sexy, centil, ganjen, hot terus dari yang ukuran kecil, sedeng, gede tinggal pilih."


Rayyan menggeleng mendengar dan melihat bagaimana Mathew memperagakan dengan tangannya ketika mengatakan ukuran benda padat nan kenyal.


" Tapi murahan, banyak peminatnya."


" Ya daripada satu tapi bayar seumur hidup." Sanggah Mathew.


" Itulah laki-laki sejati, satu sampai mati."


" Tapikan gak bisa ngerasain yang ukuran lain."


" Tapi juga gak bisa make kalau gak punya duit."


" Enaknya kalau punya istri itu, punya gak punya duit bisa pakai kapan aja sepuasnya. Lha kalau lu, gak punya duit kepengen berakhir dengan solo di kamar mandi.... Hahahhahaha.... Lecet-lecet dah barang lu."


" Sialan lu!"


" Berangkat sekarang, mobil udah nunggu di loby."


" Bentar, telpon calon bini dulu." Rayyan mengetuk nama ENCUS di kontak hpnya.


Hingga hampir mati baru diangkat


" Nomor yang anda tuju, sedang perawatan. silahkan tinggalkan pesan." Terdengar suara mama dari hp Rayyan. Ternyata mama yang mengangkat, seketika membuat Rayyan berteriak kencang karena kesal.


" Mamaaaaaa.....!?!?!!!"