I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Kemarahan Mira



Seminggu berlalu, Mira menjaga si Geby ditemani Gadis kalau malam, sedangkan siang bersama mbak Sri. Pak Nathan sendiri pulang sudah larut malam, pergi pagi. Mas Nano mengikuti kemana pak Nathan pergi.


Tapi hari ini, siang ini mas Nano pulang bersama Gea yang langsung berhambur memeluk pinggang Mira yang sedang membungkuk menggantikan baju Geby yang basah.


" Encusss." Panggilnya.


Mira menengok pada sosok kurus yang masih menggendong tas punggungnya.


Mas Nano masuk membawa koper dan bu Rita yang muncul dari pintu masuk.


" Adek."


" Mama."


Geby langsung meloncat menghambur kepelukan bu Rita, hanya dengan memakai kaus dan ****** *****.


" Mira, trima kasih ya. Habis ini, siap-siap ke rumah oma. Oma bilang kamu suruh kesana."


" Saya bu?" Mira menunjuk dirinya sendiri, heran.


" Iya, kamu. Siap-siap aja, biar diantar No. Adik biar saya yang urus."


" Tapi ibu baru pulang, apa tidak capek?"


" Tidak apa-apa Mira, tinggal aja. Ke rumah oma sekarang." Bu Rita mengambil baju Geby dari tangan Mira.


" Enggak papa bu?" Mira merasa tidak enak.


Bu Rita mengangguk dengan senyum.


" Ada yang lebih butuh kamu disana. Buruan berangkat!"


Mira merasa janggal dengan ucapan bu Rita barusan. Siapa yang butuh dirinya selain Geby dan Gea jika sedang di rumah, apalagi sekarang toko masih tutup.


Namun Mira menurut, ia minta undur diri menyiapkan tasnya yang berisi baju miliknya.


" Saya berangkat bu." Pamitnya pada bu Rita yang sedang duduk di sofa bersama Geby dan Gea.


" Dah.... Encus."


" Dah... juga, Encus pergi ya."


Tumben mereka tidak rewel.


Mira melangkah keluar menuju mobil yang sudah menunggunya di depan gerbang.


" Sudah mbak?" Tanya mas Nano.


" Sudah mas."


Nano menjalankan mobil menuju rumah oma yang hanya berjarak tak jauh dari rumah bu Rita, hanya butuh 10 menit.


Mira turun, masuk ke rumah oma. Melihat oma yang duduk di sofa ruang utama, Mira menyapa.


" Asalamualaikum oma." Mira menghampiri wanita yang ternyata sedang menunggu dirinya.


" Kamu sudah datang?" Oma langsung berdiri, nampak wajah lelahnya namun ia mencoba tersenyum.


" Iya oma."


" Kita ke atas."


Tanpa menghiraukan wajah Mira yang penuh dengan tanya, oma menggiring Mira naik ke kamar atas tanpa ada percakapan.


" Buka pintunya!" Pinta oma.


Mira malah melihat wajah oma yang datar, dan dia sendiri bingung mengapa mereka sekarang ada di depan pintu kamar yang ia tahu adalah kamar Rayyan.


Tak ada firasat apapun dalam diri Mira, karena dia terlalu lelah memikirkan Rayyan yang sudah seminggu hanya mengabarinya lewat pesan.


" Buka." Pinta oma.


Mira ragu, namun tangannya meraih handle pintu, memutarnya perlahan. Pintu terbuka semakin lebar dalam gerakan melambat. Mira awalnya hanya melihat tembok putih berhias foto pria yang ia tahu adalah Rayyan, namun setelah ia menyapu isi kamar dengan pandangan penuh, ia seolah tak percaya. Sosok yang selama seminggu tak ia lihat wajahnya sedang berbaring di atas ranjang, menatapnya dengan senyum penuh kerinduan. Tapi Mira bingung, mengapa sosok itu hanya diam disana tak menghampirinya.


Ia menatap oma yang berdiri di sampingnya dengan penuh tanya, namun oma malah membuang muka, tak kuat melihat wajah Mira.


Mira beralih lagi melihat sosok yang tengah berbaring itu, masih dalam posisi yang sama.


" Sini."


Hanya lambaian tangan yang meminta Mira untuk mendekat. Mira tak bergeming, masih belum percaya jika ia melihat sosok Rayyan ada di depannya. Apakah ia berhalusinasi setelah satu minggu tak melihat dan mendengar suara laki-laki itu.


Kembali ia menatap oma, tapi oma malah memeluknya dari samping.


" Dia pulang, dia ada disini." Oma mengajak Mira yang masih linglung.


Berjalan sesuai arahan oma, Mira mendekat pada sosok yang masih setia tersenyum padanya.


" Mas." Mira mencoba memanggil dengan suara lirihnya.


" Sini." Rayyan menggapai tangan Mira, tapi tidak ada sambutan atau penolakan.


Oma mengajak Mira duduk di samping tempat tidur Rayyan. Mira menurut, namun pikirannya belum terkoneksi, dia masih seperti bermimpi.


" Aku pulang." Rayyan menggenggam tangan Mira.


" Kamu pulang?" Tanya Mira yang masih tak percaya.


Rayyan mengangguk, " Ya aku pulang."


Oma pergi dari kamar Rayyan, dia tak sanggup melihat Mira dan Rayyan. Air matanya seolah tak bisa dibendung lagi.


Diam


Karena Mira masih tak percaya Rayyan ada di depannya, ia menggerakkan jemari yang dipegang oleh Rayyan, dan ia merasakan ada tekanan dalam jemarinya, Rayyan menggenggam tangannya. Ia melihat tangan itu, bergantian ke wajah Rayyan.


Senyum yang selalu mengembang di wajah Rayyan masih membuat Mira bingung.


Ia memejamkan mata, apakah ia bermimpi. Tapi tangan itu terlepas, terulur dan kini menyentuh wajahnya.


" Bisa bantu mas duduk."


Mira tersentak. Ada apa?


Mira melepas tangan di wajahnya, memutar tubuhnya ke sekujur tubuh Rayyan yang terbungkus selimut.


" Tolongin yank." Rayyan mencoba untuk bangun, tapi kakinya yang belum bisa digerakkan membuat gerakannya terhambat.


Mira refleks menopang tubuh Rayyan yang hampir jatuh ke tempat tidur lagi. Menahannya hingga Rayyan bisa duduk dengan tegak.


" Apa yang terjadi?"


Rayyan membuka selimut yang menutupi kakinya. Memperlihatkan kakinya yang berhias luka bekas jahitan di sepanjang kaki.


Mira terkejut, menutup mulutnya tak percaya.


" Maaf mas bohong, hanya tidak ingin membuatmu kawatir."


Mira melepas tangannya, menatap tajam ke arah Rayyan, dia marah sekarang.


" Apa mas kira dengan tidak ada kabar tidak membuatku kawatir?" Ucap Mira penuh emosi.


" Maaf." Rayyan mengambil tangan Mira, namun Mira menolaknya.


" Jika mas hanya ingin main-main, lebih baik cari orang lain saja." Ketus Mira.


Rayyan tahu ia salah. Tapi bukan berarti dia ingin mempermainkan Mira, bukan Begitu maksudnya.


" Yank, bukan begitu maksud mas, mas cuma gak mau kamu kawatir."


" Apa dikira sekarang melihat mas pulang dalam keadaan begini Mira tidak kawatir mas?"


" Iya maaf." Rayyan meraih tangan Mira lagi, kali ini Mira tak menolak, tapi dia hanya diam saja.


" Maaf." Lirihnya sekali lagi.


" Oma pergi tiba-tiba, mas cuma kasih kabar lewat pesan, bilangnya baik-baik saja, apa ini yang dinamakan baik menurut mas?"


" Seminggu perasaan Mira gak karuan, tapi balasan mas apa? Mas bohongin aku?" Air mata Mira menetes.


" Inilah yang selalu aku takuti dengan hubungan jarak jauh, kebohongan! Aku benci ini."


" Ternyata mas tidak ada bedanya dengan mas Bobby, sama-sama pembohong." Ucap Mira dengan datar, tatapan matanyapun tak jauh beda.


" Yank, bukan gitu maksud mas! Sudah aku bilang kan, mas cuma enggak mau buat kamu kawatir."


" Tapi jangan samakan mas dengan dia, mas gak suka."


" Tapi nyatanya kalian sama."


Stay cool Ray, jangan emosi, calm...


Rayyan mencoba untuk tidak tersulut. Dia tahu banyak luka di dalam mata yang sedang ia tatap saat ini.


" Apa mas pulang cuma dikasih wajah cemberut? Katanya kalau pulang mau dikasih cium." Rayyan mencoba mencairkan suasana.


Mira tak terpengaruh, dia sakit hati saat ini.


Rayyan menopang dagu Mira dengan tangannya, tapi Mira tak mau memandang wajah Rayyan, dia lebih memilih memandang lengan yang terulur di depannya.


" Mana senyumnya."


Mira diam.


Rayyan melepas tangannya dari dagu Mira, menggeser pelan duduknya agar lebih dekat dengan posisi Mira. Mira hanya memperhatikan lewat gerakan yang tertangkap dari matanya yang hanya menunduk.


Tubuhnya ditarik di bawa masuk dalam pelukan Rayyan, dia tak membalas, tubuhnya masih membeku seperti hatinya yang merasa tersakiti.


" Maafin mas ya..." bisik Rayyan ketika semua tubuhnya sudah berada dipelukan pria yang kalau boleh jujur Mira rindukan, tapi egonya masih gengsi. Sehingga dia diam saja, tanpa berniat membalas.


" Katanya kangen, kok diem aja." Rayyan menyelipkan rambut yang menutupi separuh wajah Mira yang masih tak mau menghadapnya.


" Yank, sayang..."


Rasa memang tak bisa bohong, itulah kenyataan. Mira rindu dengan pria ini, bahkan sekarang ia merasa sangat nyaman dengan pribadi pria yang memeluk lembut tubuhnya, menyalurkan rasa aman dan nyaman untuknya tanpa berniat menaggapi ajakannya bertengkar. Satu kata yang Mira bisa katakan untuk menilai pria ini, yaitu dewasa, bukan hanya umurnya tapi juga pemikirannya.


Perlahan tangan Mira terangkat, menyetuh lembut punggung Rayyan. Menyambut pelukan seseorang yang membuatnya merasa terlindungi, ia bersandar di dadanya, seolah ingin menyandarkan hidupnya disana.


" Sekali lagi maaf." Rayyan mengelus lembut punggung Mira, mendekap erat tubuh yang ia rindukan berbulan-bulan. Mencium pucuk kepala Mira dengan sayang.


" Jangan lakukan lagi." Lirih Mira.


" Tidak, cukup kali ini saja mas bohong."


" Janji?"


" Insya Allah."


" Heleh, sok amat mas jawabnya." Mira melepas pelukan Rayyan, memukul pelan dada bidang yang baru saja disandarinya.


" Belajar lho yank."


" Belajar apa?" Mira menatap mata Rayyan yang malah tersenyum penuh arti padanya.


Jujur ditatap begitu secara langsung membuatnya merasa bergetar, darahnya berdesir. Malu, nervous dan salting, bagaimana tidak, Mata Rayyan seolah tak ingin lepas memadangi wajah Mira.


" Mas, jangan gitu ih liatinnya." Mira membuang pandangannya menyamping.


" Kangen lho yank."


Serr.. Mira makin payah, tak tahu harus melihat kemana lagi, seolah mata Rayyan selalu mengikuti kemanapun ia memandang.


" Mass, jangan gitu ih, malu tahu."


Rayyan malah tersenyum, senang menggoda Mira yang wajahnya sudah seperti kepiting panggang. Bahkan selalu membuang pandangannya ke segala arah.


" Ternyata begini kalau lihat kamu malu secara langsung, lucu banget, bikin gemes."


" Ngledek lagi, kupukul kakinya."


" Pukul aja, ikhlas aku yank, asal kamu senang."


Rayyan memasang wajah pasrahnya dan mempersilahkan Mira memukul kakinya.


" Iih.... Nyebelin!" Dengus Mira yang kesal, ternyata ancamannya tak mempan.


" Pukul aja, gak papa sakit, asal kamu mas ikhlas kok."


" Mas udah makan belum?"


" Pinter bener ngalihin topik." Rayyan tertawa dengan ucapan Mira.


" Beneran ini, mas udah makan belum? Mira lapar ini!"


" Emang kamu belum makan?"


Mira menggeleng, memang semenjak kabar Rayyan yang tak jelas, nafsu makan Mira menghilang, dan entah mengapa sekarang ia merasa lapar.


" Kanapa belum makan jam segini? Ambil makan sana, sekalian buat mas." Pinta Rayyan.


" Mas juga belum makan?" Tanya Mira.


" Rasa lapar mas hilang gara-gara bohongin kami."


" Gombal!" Dengus Mira.


" Beneran yank."


" Alasan!"


" Kok gak percaya sih!"


" Tanya mama, dari kemarin belum makan aku tuh. Kepikiran kamu marah."


" Takut?"


" He'em."


" Kalau takut kenapa dilakuin?"


" Terpaksa." Jawab Rayyan sekenanya.


" Berarti mau ngulang bikin marah lagi kalau dalam keadaan terpaksa?" Mira melotot.


" Enggak, gak berani mas." Rayyan memperagakan seolah ketakutan.


" Bohong sekali lagi, Mira pulang."


" Pulang kemana?"


" Ke rumah ibulah."


" Mana bisa."


" Bisalah, emang kenapa gak bisa? Emang rumah Mira disanakan?"


" Bukan!"


" Lha terus."


" Rumah kamu bukan disana lagi, tapi disini." Rayyan menunjuk dadanya.


" Mana bisa begitu, selama belum menikah rumah Mira yang ditempat ibu." Sanggah Mira.


" Tunggu mas bisa jalan lagi, kalau enggak antar mas ke KUA kalau udah gak sabar."


" Idih, siapa juga yang gak sabar. Udahlah, ngomong sama mas lama-lama ngawur. Jadi makan enggak nih?"


" Jadi, tapi makan kamu."


" Kok malah jadi kanibal?"


" Disambungin sih yank ngobrolnya." Keluh Rayyan.


" Gak ada signal mas."


" Apa signal hati aku belum kuat di hati kamu?"


" Terserah mas lah, ngomong apa! Tunggu sini, aku ambil makan dulu." Mira beranjak ke luar.


" Emang mas bisa pergi kemana, kalau enggak tunggu disini. Bercanda apa lupa yank."


" Maaf lupa ... Hehehe." Mira benar-benar keluar dari kamar Rayyan, meninggalkan Rayyan yang mendengus kesal sendiri.