
Mira tak bisa memejamkan mata. Pikirannya selalu galau mengingat pengakuan bapaknya. Mengingat sikap baik ibunya, rasanya tak bisa dia menanyakan kebenaran tentang jati dirinya, tapi dia juga penasaran.
Jika saja hanya kata orang lain, mungkin aku tidak akan mudah percaya. Tapi ini bapak sendiri yang mengakuinya! Ya Tuhan, semoga ini salah.
Mira membolak-balikan tubuhnya, matanya menerawang langit-langit kamar ketika tubuhnya telentang.
Jika memang benar, kenapa bapak tidak membawaku pulang ke ibu kandungku? Tetapi malah meninggalkan aku disini. Mengapa?
Ingatannya kini melayang pada malam ketika ia berada di rumah sakit dan berganti pada wajah Sigit, kemudian ibunya.
Ya Allah, aku bingung.
Apa yang harus aku lakukan jika ternyata ini benar?
Sudah tengah malam, dirinya belum juga ngantuk.
Mira memutuskan untuk sholat agar batinnya tenang.
Benar saja, setelah sembahyang, hatinya merasa tenang. Ya, tempat curhat terbaik adalah Allah.
Baru saja akan melepas mukena yang ia kenakan hpnya berdering. Ia urungkan sejenak untuk melihat siapa yang menelpon tengah malam begini, jika ia tak salah tebak pasti itu dari Rayyan.
Tersenyum melihat tebakannya benar, Mira langsung menggeser tombol hijau dari hpnya. Dia lupa melepas mukena yang masih ia kenakan. Dan panggilan yang berlangsung adalah VC.
" Masya Allah... Bidadariku cantik banget."
Mata Rayyan terpana melihat Mira mengenakan mukena sambil tersenyum kepadanya.
" Assalaumalaikum mas." Mira menyapa, tak menghiraukan pujian dari Rayyan.
" Waalaikum salam." Rayyan membalas salam dari Mira.
" Apa yang mengganggumu? Kenapa malam-malam begini belum tidur? Gak biasanya sholat malam? Ada masalah?" Pertanyaan bertubi yang dilontarkan oleh Rayyan sukses membuat Mira tersenyum.
Ingat belum melepas mukena, Mira meletakkan begitu saja hpnya di atas kasur, membuat Rayyan bingung dengan gambar yang berubah dan bergerak-gerak dan berakhir dengan penampakan plafon kamar Mira yang berwarna putih.
" Mira." Panggilnya. Mira tak menjawab, masih sibuk membereskan peralatan sholat dan menggantung kembali mukena dengan hanger di belakang pintu kamarnya. Baru kemudian ia berbaring, menyusun tempat yang tepat untuk meletakkan hpnya. Kembali gambar berubah- ubah di layar hp miliknya Rayyan, membuat Rayyan menjadi kesal.
" Nah, sudah." Ucap Mira.
Melihat Mira yang kembali muncul di layar hp miliknya, Rayyan mendengus kesal.
" Sabar mas, tadi masih beres-beres." Jawab Mira.
Rayyan terdiam. Ngambek ceritanya.
" Ngambek nie....!" Ledek Mira.
" Lagi pms mas?"
Mira malah bertanya dengan bercanda.
Rayyan tetap terdiam.
" Kok berasa kayak ngomong sama patung. Aku matiin aja apa ya!" Ancam Mira, karena Rayyan tak menjawabnya, malah melihat ke arah hp tapi bukan pada dirinya, entah apa yang sedang dilakukannya.
" Jangan!" Rayyan tentu tak rela jika hubungan telepon itu terputus.
Ting...
Ada pesan masuk ke hp Mira.
" Buka geh!" Ucap Rayyan.
Ternyata diamnya Rayyan bukan karena ngambek tetapi sedang mengirim sesuatu untuk Mira melalui pesan.
Mira membuka pesan berisi foto. Penasan Mira langsung membuka foto apa yang dikirim oleh Rayyan. Ia terkejut, melihat fotonya yang masih mengenakan mukena sambil tersenyum.
" Kamu ambil foto aku mas?"
" Sayang banget cantik gitu enggak di abadikan." Jawab Rayyan.
" Udah dari lahir kali aku cantik mas, banyak yang bilang gitu." Mira mencibir, tak terpengaruh dengan apa yang dikatakan Rayyan.
" Kepedean!" Sungut Rayyan.
" Modal hidup itu mas."
" Terus apa? Uang gak punya, bakat gak ada. Yang banyak malah masalah. Masa iya masalah dijadikan modal. Gak lucu kali mas."
Rayyan tertawa mendengar ucapan Mira yang baginya aneh. Masa iya masalah jadi modal?.
" Emang kamu mau pakai untuk apa modalmu itu?"
" Modal yang mana?" Mira malah bingung, lupa dia kalau tadi menyebutkan modal hidupnya.
" Modal hidup yang kamu bilang." Rayyan mengingatkan.
" Untuk hiduplah, masa iya untuk buka usaha."
Mendegar kata usaha, Rayyan jadi kepikiran tentang pekerjaan Mira setelah berhenti menjadi baby sitter Geby.
" Kamu kerja apa sekarang?" Tanya Rayyan.
" Bantu ibu di loundry."
" Gak pulang ke Bogor?"
" Hahaha... Aneh mas ini, pulang itu ya kesini, emang disana rumah siapa?"
" Ya rumahku lah." Jawab Rayyan.
" Ya berarti mas yang pulang?"
" Apa kamu segitu kangennya sama aku sampai nyuruh aku pulang?"
Mira terdiam. Sadar sudah masuk perangkap yang dibuat oleh Rayyan.
" Kalau mas sampai pulang, itu bukan aku yang kangen, tapi mas yang kangen sama rumah, aneh!"
" Kok aneh, ya enggaklah. Emang gak boleh kangen sama kamu?"
" Sok pulang atuh!" Tantang Mira, sepertinya akan ada percakapan lebih seru.
" Jangan gitu ihhh!" Jawab Rayyan.
Tuh kan bener.
" Katanya kangen, pulanglah."
" Kamu tahu musim ini baru dimulai, berarti masih beberapa bulan lagi baru bisa pulang."
" Habis dong jatah umurnya buat balapan mas, kalau pas musim begini waktunya habis untuk ikut event, terus untuk keluarga kapan? Pantas aja ridernya banyakkan belum pada nikah ya mas, gak dapet jatah waktu itu istrinya." Ucap Mira.
" Itu kenapa sebelum umurku habis, sisanya aku kasih buat hidup bersamamu."
" Cie.... Ngelamar ni maksudnya?"
" Kok gak tersipu, malu-malu meong gitu sih dengar yang begituan?" Rayyan memperhatikan wajah Mira yang masih biasa aja.
" Malu aku." Mira mengedip-ngedipkan bulu mata lentiknya, meledek Rayyan.
" Untung jauh!" Rayyan menggerutu, merasa gemas dengan kelakuan Mira yang malah meledeknya.
" Dekat mana berani mas!" ucap Mira.
" Kenapa kok enggak berani?"
" Mau tahu alasannya?"
" Hu'um."
" Benaran mau tahu?"
" Ya, apa coba?"
" Karena kalau dekat, memandang wajahmu saja aku tak mampu mas!"
" Ouwwww......."Rayyan 😍😍😍😍
Hayo...... Gimana ini?! 🤔🤔😩😩😩 Piye tho kok selalu kebalik. Bang Rayyan amatiran, kalah sama Mira yang sudah berpengalaman.... bahaha!