I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Permintaan Rayyan



Mira mencuci wajahnya untuk menghilangkan jejak air mata, karena seperti biasa ritual malam sudah memanggil untuk dilaksanakan, yaitu berkencan dengan Rayyan via video call.


Mira hanya menatap panggilan yang sudah berulang-ulang itu, bahkan ia tak langsung mengangkat menunggu panggilan mati sendiri.


15 panggilan tak terjawab.


Hp Mira kembali bergetar, berulah dia mengangkatnya.


" Sudah tidur?"


" Mira mengangguk." Dia sengaja berbohong.


" Ya sudah tidur lagi." Rayyan merasa bersalah telah mengganggu waktu istirahat Mira, tetapi dia belum bisa tidur karena perasaannya tak tenang.


" Sudah gak ngantuk." Mira bermaksud mencegah Rayyan untuk mengakhiri panggilan itu.


" Ada apa? Kenapa suaramu serak begitu?" Rayyan mendengar suara serak Mira, seperti habis menangis. Melihat lingkar mata Mira yang membengkak, membuatnya yakin bahwa Mira memang habis menangis, atau sebenarnya masih menangis?


Mira diam saja, hatinya tentu saja merasakan sakit, mengingat ibu menyuruhnya menyudahi hubungan dengan sosok yang sedang memandangnya dengan tatapan penuh kekawatiran.


" Jangan membohongiku! Ada apa? Katakan! Apa ada masalah?"


Mira menatap mata Rayyan dengan tatapan sendu, seolah tak mampu untuk membuat pemiliknya terluka. Tapi dia sudah mengatakan pada ibunya untuk mengakhiri hubungan beda kasta ini.


" Maaf." Mira kembali berurai air mata. Tak sanggup untuk mengatakan yang sebenarnya bukan kehendaknya. Tapi dia harus mengatakan untuk memahami dan menghormati kekawatiran ibunya.


" Hei.... Ada apa?" Rayyan bingung kenapa Mira malah meminta maaf, bahkan kini menunduk. Dia tahu kalau Mira menangis.


" Apa aku ada salah? Jika iya, aku minta maaf."


" Tidak mas, mas tidak salah. Yang salah adalah aku!" Mira menahan ucapannya agar lancar, karena dia benar-benar berat untuk mengatakannya.


" Apa kamu selingkuh?" Mata Rayyan memicing untuk menunggu kebenaran dari dugaannya.


Mira menggeleng.


" Lantas apa? Apa salahmu itu Mira, katakan!"


" Salahnya, karena aku mencintaimu mas." Ucap Mira dengan suara lirih, wajahnya menunduk, namun tetesan air mata terlihat dari ujung dagunya.


Rayyan diam. Sebenarnya dia bahagia dengan pengakuan Mira tentang perasaannya, tetapi tangisan Mira membuatnya bertanya-tanya.


" Lalu?"


" Seharusnya aku tidak menggunakan perasaan itu." Ucap Mira.


" Kenapa?"


" Kita berbeda. Kau dan aku berbeda."


" Siapa yang mangatakannya?"


Mira menatap mata Rayyan. Dia mengira Rayyan akan menatapnya dengan tatapan tajam, tetapi dia salah Rayyan hanya menatapnya dengan tatapan sayu.


" Siapa yang mengatakan kita berbeda?"


" Ibuku." Jawab Mira.


" Ya, ibumu benar. Kita memang berbeda. Kamu perempuan, aku laki-laki, dan perbedaan ini normal. Lalu dimana masalahnya?" Ucap Rayyan. Sebenarnya dia paham kemana arah ucapan Mira, hanya saja dia melihat Mira yang sedang bimbang dengan ucapannya sendiri.


" Bukan itu maksud ibu." Mira mengusap air mata dari pipinya.


" Seharusnya kau simpan air mata itu untuk hari bahagia kita, tetapi malah kau tumpahkan sekarang? Apa stoknya masih ada?"


" Mas!" Mira tak bisa menahan tawanya disela tangisnya, mendengar ucapan Rayyan yang menurutnya lucu, namun membuat hatinya merasa teriris.


" Sebaiknya kita sudahi sampai disini hubungan kita."


" Apa itu yang kamu mau setelah kamu mengakui perasaan cintamu padaku?"


Mira diam.


Tentu saja tidak! Bukan itu kemauanku, tapi itu keinginan mereka. Keluargaku.


" Aku tak tahu."


" Lalu apa yang kamu tahu?"


" Mereka menginginkan kita berpisah."


" Lalu bagaimana dengan hatimu?"


Mira menggeleng " Aku tak tahu."


" Memang apa yang dikatakan ibumu tentang aku?"


" Ibu bilang kita berbeda. Aku hanya gadis miskin dan mas punya segalanya."


" Hah! Siapa bilang aku punya segalanya."


" Nyatanya mas memang punya segalanya, apapun yang mas mau, bisa dengan mudah mendapatkan." Jawab Mira.


" Dengan apa? Dengan apa aku bisa dengan mudah mendapatkan segala yang aku mau?" Tanya Rayyan.


" Dengan harta yang mas miliki." Jawab Mira.


" Kalau begitu berikan dirimu, aku akan menggantinya dengan uang yang aku punya."


Mira melotot, merasa tersinggung dengan ucapan Rayyan. Harga dirinya terasa terhina untuk yang kedua kalinya.


" Apa orang kaya memang seperti itu?" pertanyaan Mira membuat Rayyan tertawa.


" Kalian yang memandang kami seperti itu! Mengapa harus tersinggung dengan kata-kataku?"


" Ucapanmu membenarkan kata-kata ibuku."


" Lalu apa katamu tentangku, jika itu kata ibumu?"


" Aku pikir kamu adalah orang yang tulus...."


" Maka pertahankan pikiranmu itu tentangku." Potong Rayyan sebelum Mira mengakhiri kalimatnya.


Mira terkesiap mendengar penuturan Rayyan.


" Kenapa? Terkejut?"


" Mengapa harus mendengar orang bicara, jika hatimu sendiri sudah yakin?"


" Jangan percaya apa kata orang, jika itu menyesatkan Mira. Organ dalam tubuh manusia yang tidak bisa berbohong itu hati. Kalau hatimu saja bisa melihatku, kenapa harus berpaling melihat orang lain?"


Mira memejamkan mata. Ucapan Rayyan memang benar, tetapi harus bagaimana menghadapi ibu dan adiknya? Bagaimana cara menyakinkan mereka jika Rayyan bukan seperti yang mereka katakan.


" Jangan berjuang sendiri! Ajak aku."


" Yah... Walaupun sekarang aku juga tidak bisa melakukan apapun. Tapi setidaknya bersabarlah, sampai aku kembali. Kita buktikan bahwa perkataan mereka tak benar."


" Lalu sekarang aku harus bagaimana?"


" Tersenyumlah untukku. Aku merindukanmu."


Mira berpaling, tak ingin memperlihatkan wajahnya. Rasa panas begitu cepat menjalar memenuhi wajahnya, membuat wajah Mira bersemu. Perasaannya membuncah, jantungnya berdebar-debar tak beraturan.


" Hei... Lihat aku. Aku merindukan wajahmu, senyumanmu, bukan rambutmu."


Mira semakin tak ingin melihat wajah Rayyan. Jelas malu dia jika memperlihatkan wajahnya yang merona, tersipu malu.


" Mira, sayang."


" Look at me! Please."


Cukup lama Mira berpaling, hanya untuk menyembunyikan wajah malunya. Setelah ia bisa menguasai perasaannya, ia memberanikan diri untuk menatap layar berisi wajah tampan Rayyan.


" Apa."


" Kamu cantik."


" Ya, aku cantik sekarang. Ketika aku menua dan tak cantik lagi, apakah kau akan meninggalkan aku?"


" Mana bisa. Jika kamu menua dan tidak cantik lagi, maka aku juga ikut menua dan tidak tampan lagi. Kau tahu apa itu artinya?"


Mira menggelang.


" Artinya kita akan selalu bersama sampai kita menua. Dan bagiku menua bersamamu adalah keinginan terakhirku."


" Lalu bagaimana dengan ibuku?" Mira masih bingung bagaimana menghadapi ibunya.


" Tanyakan apa yang diinginkan ibumu. Siapa tahu ibumu dan mama punya keinginan yang sama." Pinta Rayyan.


" Memang apa yang diinginkan oma dari mas Rayyan?"


" Mama hanya ingin aku bahagia. Dan dia tahu kebahagiaanku adalah dirimu. Itu artinya mama juga menginginkan dirimu. Jadi jangan pernah berpikir lagi tentang perbedaan hanya gara-gara harta. Nanti kalau mati juga cuma selembar kain kafan yang dibawa, itupun pemberian orang lain."


" Jangan kawatir, kita pasti bisa menyakinkan ibumu. Tunggu aku pulang. Sementara diam saja dulu. Ikuti apa kata ibumu."


" Maksud mas, kita berpisah?"


" Nyatanya memang kita sedang berpisah. Apa kamu mau kita segera bersama?"


" Ishq! Mas ini" Mira malu mendengar ucapan Rayyan.


" Ya kita jalani saja. Aku juga tidak bisa menjanjikan apapun saat ini. Kau tahu, aku harus berjuang disini untuk menahan diri agar tidak pulang."


" Kan belum selesai mas musim balapannya! Baru juga seri ke 2. Masih ada 18 belas lagi."


" Melihatmu begini yang membuatku ingin cepat pulang."


" Apa aku sekarang jadi beban untuk mas?"


" Bukan begitu?"


" Aku paham kok mas. Keadaannya memang harus begini dulu."


" Itulah kenapa aku tak mau menjalin hubungan saat aku masih menjadi rider."


" Apa itu alasan semua rider betah jomblo mas?"


" Memang begitu. Kamu mau tahu kenapa?"


" Memang kenapa mas?"


" Karena menahan rindu itu berat, ketimbang mengalahkan lintasan sirkuit."


" Begitukah?"


" Hu'um."


Mereka diam sejenak. Meresapi perasaan meraka masing-masing yang sama-sama membuncah.


" Mira...."


" Hemm..."


" Love you...!


" Love you too mas."


" Mana?"


" Apanya?"


" Ciumannya?"


Mira 😩😩😩😩😩????!!!!!!@&%#


🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹


Mana.....??? Dukungannya.... hehehe 🤗🤗🤗🤗


Sehat selalu kalian semua... Luv you all.... 😍😍😍😍