
Mira masuk ke ruangan Ajeng.
Terlihat diujung ruangan, dekat dengan meja dimana Ajeng sedang duduk, box bayi terletak.
" Kamu kerja bawa Khansa Jeng?" Tanya Mira, dia menghampiri bayi yang tengah menggapai-gapai udara sambil berceloteh, begitu dapat kaki, bayi mungil itu langsung mengarahkan ke mulut, hingga jemari-jemari kaki ada yang masuk.
Mira menghentikan gerakan bayi itu, dengan menahan kakinya agar tidak dikenyot oleh baby Khansa.
Dengan sekali gerakan, bayi itu kini sudah ada di pelukan Mira.
" Kamu itu pasien, kenapa jalan-jalan hah!" Tegur Ajeng.
" Aku sudah sembuh, jadi lebih baik menemani bu dokter jaga malam aja. Ya kan Khansa, kita temani mama jaga malam ya.... emmuach!" Mira mendaratkan kecupan di pipi montok baby Khansa, gemes sendiri dia dengan imutnya bayi itu.
Ajeng terkekeh dengan kelakuan Mira " Udah cocok punya bayi sendiri, buruan diprosuduksi. Bibitnya juga sudah ada kan? Bibit unggulan lho Mir." goda Ajeng.
" His! Ngomong apa kamu itu!" Mira merasa aneh dengan ucapan Ajeng yang membuatnya merasa merinding.
" Ya tunggu apalagi. RA kayaknya udah bucin banget sama kamu." ucap Ajeng.
" Eh... ya, gak nyangka lho ternyata bisa ketemu RA langsung! Padahal dulu kita sering ngobrolin dia setelah dia tampil. Masih inget gak kita beberapa kali taruhan setiap ada balapan motor yang tayang?" Ajeng mengulik kisah dimasa-masa mereka akrab.
" Masihlah! Mana mungkin lupa." Mira ikut terkekeh, mengingat jaman-jamannya dia mengidolakan RA yang ternyata kini menjadi kekasihnya. Benar-benar enggak nyangka aja, dengan cara perasaan bekerja.
" Hiks... hiks....." Bibir baby Khansa terlihat lucu saat mulai menangis, dan wajahnya terlihat memerah, sebelum ahkirnya air mata itu turun menganak sungai.
" Cup...cup...cup, sini sayang, sama mama. Ngantuk ya, mau enen ya, sini." Ajeng mengambil alih baby Khansa dari pangkuan Mira.
" Bayimu lucu bener sih, cantik lagi." Mira mencubit gemes pipi montok baby Khansa, yang terlihat sebelah, sedangkan yang satunya menyusup di pelukan Ajeng.
" Lihat, ini hidung siapa coba, mancung benar, padahal mamanya pesek! Hidung papa ya..... Terus ini matanya, ya ampun, emang ini bayi kenapa gak ada turunan emaknya sih disini." Mira mulai mengganggu baby Khansa yang sedang menyusu, menarik-narik pipinya hingga kenyotan bayi itu kadang terlepas, kemudian buru-buru mencari milik ibunya dan melahapnya lagi. Ajeng terkekeh melihat bayinya yang seakan kesal dengan kenyamanannya yang terganggu.
" Kamu kalau pengen, bikin sendiri Mir." Ajeng menghindarkan tangan Mira dari anaknya yang sudah mulai sewot.
" Gampang bikin mah, nikah dulu."
" Bikin dulu enggak papa, kredit istilahnya."
" Mentang-mentang pernah, terus ngajarin yang enggak-enggak." Dengus Mira.
" Ini juga enggak sengaja tahu!" Ucap Ajeng.
" Gimana sakit enggak pas gituan?!"
" Gituan apa?" Tanya Ajeng dengan nada agak ketus.
" Pas itu lho..."
" Ngomong yang jelas!"
" Pas proses bikin si Khansa, pernah denger dari yang udah pernah katanya sakit ya."
" Sakit paling, soalnya aku aja enggak tau kalau aku digituin, tahu-tahunya paginya mau jalan rasanya sakit bagian pertingaan." Kenang Ajeng, matanya meredup.
" Maaf ya. Gak maksud mengingatkan." Mira mengelus lengan Ajeng yang sedang menahan baby Khansa.
" Ya, aku juga enggak menyangka Mir, akan terjadi begitu. Salahku juga, harusnya aku enggak keliaran ditempat seperti itu, dan ikut-ikutan mabuk seperti yang lain."
" Emang awalnya gimana?"
" Awalnya kita cuma mau ngerayain kelulusan. Aku kira kami mau ngerayain sambil makan-makan, atau piknik bareng, ternyata temen aku udah boking tempat di klub. Aku mau nolak enggak enak, karena dia yang traktir, dan yang lain juga pada setuju." Ajeng membetulkan posisi kepala baby Khansa.
" Ditidurin aja Jeng."
" He'em." Ajeng beranjak membawa baby Khansa ke box bayi. Membantu menata tempat.
" Apa kamu enggak mau kasih kesempatan untuk papanya?" Mira menatap bayi yang terlelap damai dalam tidurnya. Sedangkan Ajeng membatu.
" Aku tidak tahu, aku hanya ingin yang terbaik. Dan saat ini mas Dony adalah laki-laki terbaik yang aku temui." Ajeng kembali duduk di tempatnya, Mira mengikuti.
Ajeng menggeleng, mengetuk-ngetukkan jari di meja, bahkan kepalanya menunduk sekarang.
" Aku hampir putus asa Mira! Saat aku tahu aku hamil, rasanya semua seperti hujaman ribuan pisau disini. Sakit! Apalagi dengan penolakan dari orang tuaku. Mereka ingin aku menggugurkan bayi tak bersalah itu, tapi aku tak bisa menambah dosa, melakukan kesalahan untuk yang kedua kali."
" Mereka membawa mas Bobby yang waktu itu mengantarku pulang, dan melakukan negosiasi untuk menyelamatkan nama baik keluarga, dengan menikahkan aku dengannya. Awalnya dia tidak mau, tapi dia juga butuh pekerjaan untuk membuktikan bahwa dia bisa sukses. Dengan menikah denganku, orang tuaku memberikan posisi bagus di rumah sakit milik kekuargaku di Bogor. Semua berjalan sesuai skenario, tapi aku tak sanggup dengan melihatmu terluka. Aku seperti seorang perusak hubungan temanku sendiri, dan...."
" Sudah Ajeng, jangan ungkit itu lagi, semua sudah berlalu." ucap Mira.
" Tapi karena aku kamu jadi pisah dengan mas Bobby."
" Berarti dia bukan yang terbaik untukku Ajeng. Kamu hanya perantara untuk menunjukkan bahwa dia bukan orang yang punya pendirian dan ketegasan. Dan cara yang dia lakukan, terus terang aku tidak suka."
" Karena dia, ibunya terus meneror keluargaku, mengecapku sebagai perebut laki orang, dan menyebarkan fitnah bahwa aku yang menghancurkan keluarga kalian."
Ajeng menatap Mira dengan pandangan tak percaya " Mereka begitu padamu?"
Mira mengangguk.
" Bahkan mereka membayarku untuk menjauhi mas Bobby."
" Astaga, mereka sekejam itu ternyata. Maaf Mira, aku tak tahu itu." Ucapan penuh penyesalan keluar dari bibir Ajeng.
" Sudahlah, semua sudah berlalu."
" Oh ya, kamu sama mas Dony sudah bertunangan?" Mira hanya ingin memastikan, padahal dia sudah mendengar.
" Yah... Begitulah." Senyum yang terasa tak ikhlas itu seakan menyiratkan sesuatu.
" Kanapa?"
" Ya, dia melamarku, begitu aku melahirkan Khansa. Dia juga yang ada di sampingku, karena waktu itu mas Bobby marah besar padaku, karena aku tidak bisa menepati janjiku untuk menyatukan kalian."
Mira memandang iba pada Ajeng.
" Jangan memandangku begitu." Ajeng merasa serba salah sekarang.
" Apa kamu mencintainya?"
Ajeng terdiam mendengar pertanyaan Mira.
" Cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu kan?" jawabnya kemudian.
" Tapi Khansa butuh ayahnya Ajeng."
" Mas Dony sudah seperti seorang ayah untuk Khansa Mira. Dia itu laki-laki bertanggung jawab."
" Aku tahu, dia begitu mungkin saja iba melihatmu."
Ajeng menggeleng "Maaf Ajeng, bukan maksudku untuk menjelekkan mas Dony. Hanya saja, seorang anak akan lebih bahagia jika bersama dengan orang tua kandungnya."
" Sebaik apapun kita menutupi, pasti akan terbongkar juga siapa dia nantinya."
" Heem." Senyum samar terbit dibibir Mira.
" Kamu tahu, aku ternyata bukan anak ibuku." lirih Mira.
Mata Ajeng menyipit, menunggu lanjutan ucapan Mira.
" Kamu tahu laki-laki yang duduk di sofa tadi?"
" Yang mirip denganmu?" Jelas Ajeng.
Mira mengangguk membenarkan " Dia kembaranku."
" Kalian kembar?" Nampak wajah Ajeng yang terkejut.
" Begitulah, dan aku juga baru tahu setelah aku berumur 24 tahun. Kamu tahu artinya? Sepandai apapun orang menyimpan rahasia, suatu saat pasti akan terungkap kebenarannya, dan kau tau bagaimana rasanya? Sakit!"