
" Asalamualaikum."
Rayyan dan Mira masuk rumah mama Sarah, memberi salam pada semua anggota keluarga yang sudah menunggu. Jika di absen, ternyata tinggal mereka berdua yang belum ada. Bahkan dokter Ajeng dan Mathew yang menggendong baby Khansa sudah ada disana, Dony juga di belakang, entah apa yang dilakukannya, selalu lewat pintu samping menuju belakang saat berkunjung ke rumah mama Sarah. Tambahan ada beberapa orang asing yang juga hadir disana, berpakaian seperti bapak haji.
" Ibu, bapak, Andre, mas Sigit, eits..... Sania." Mira menghambur ke sahabatnya yang dia kira masih kerja jadi TKW.
" Kok bisa kamu ada disini?" Mira menarik diri dari pelukan mereka.
" Diajak sama ibumu."
" Oh ibu...." Mira baru ingat kalau ibunya juga ada disini. Ia langsung memeluk kedua ibunya, Andre menyalami pak Subagio dan Sigit dan orang-orang yang tak ia kenal, diikuti Rayyan di belakangnya.
" Kenapa gak kasih tahu Mira kalau kalian datang kesini?" Mira mengusap air mata harunya dengan tangan, tetapi tisu dari seseorang ternyata sudah lebih dulu mengusap nya.
" Kalau seneng tuh jangan nangis yank, katawa gitu." Rayyan emang gak pernah suka melihat Mira menangis.
" Emang dia gak punya perasaan, jangan di dengerin!" Mama membela dari arah dapur.
" Ayo duduk dulu, minum dan makanannya enggak bisa ditanam lagi lho... Jadi silahkan dinikmati." Kelakar mama Sarah.
Mereka tertawa bersama, kemudian mulai bercengkerama.
" Berhubung yang ditunggu sudah datang, kita mulai aja acara ngobrolnya ya pak." Papa Jo mulai berbicara.
" Monggo, silahkan." Pak Subagio menimpali.
" Mohon maaf atas ketidaksopanan kami yang tiba-tiba mengundang keluarga bapak untuk menyambangi kediaman kami, tetapi karena ini sangat mepet ya ibu, bapak, maka kami ingin mengajak bapak dan ibu-ibu untuk melanjutkan niat baik anak-anak kita untuk melangkah kejenjang yang lebih serius."
Serrrr.....
Kenapa jadi deg... deg an gini ya!
Mira meremas tangannya yang terasa dingin karena gugup, Rayyan yang berada di sampingnya menyadari itu.
" Gugup ya yank, sama." Rayyan menempelkan tangannya yang dingin di permukaan tangan Mira yang bertumpu.
" He'em." Mathew berdehem.
" Grogi gue." Bisik Rayyan pada Mathew yang ada di belakangnya.
" Masa iya." Mathew malah meledek.
" Syut! Diam." Ajeng mencubit lengan Mathew membuat si empunya lengan langsung kicep.
" Buayanya takut sama pawangnya." Bisik Mira.
" Kalian sudah siap Rayyan, Mira?"
Kalimat pertanyaan yang keluar dari papa Jo, membuat Mira dan Rayyan seketika mengangguk, walaupun tak paham.
" Baiklah, kalau sudah siap, kita mulai sekarang, karena bapak penghulu juga akan sholat tarawih, jadi ayo disiapkan mereka!" Ucapan papa Jo, membuat Rayyan dan Mira shok seketika.
" Maksudnya apa pa?" Rayyan dan Mira bertanya ulang mengenai kata siap yang mereka katakan tadi, bahkan lagi-lagi berucap bersamaan, kompak bener emang pasangan ini.
" Papa tadi tanyakan apakah kamu siap menikah malam ini juga, karena besok papa akan ke Jerman, dan minggu depan kamu berangkat ke Spanyol, jadi malam ini kalian menikah, dan jawaban kalian katanya siap."
" Hah! Aduh, kok jadi mules gini ya, bentar-bentar aku kebelakang dulu ya, permisi." Rayyan buru-buru pamit, namun karena tak konsentrasi dia malah lari ke depan.
" Ray, toilet disana." Kata si mama.
" Oh iya, aku kira pindah ke depan."
Rayyan buru-buru lari kebelakang, meninggalkan para penunggu diruangan itu, sedangkan Mira ditarik mundur oleh bu Rita, dibawa ke kamar tamu, disana sudah ada perias.
" Don, Met, bantu Rayyan bersiap ya." Pinta mama Sarah.
" Waktu kalian 15 menit dari sekarang."
" Kayak mau ikut acara masak aja oma ini!"
Dony dan Mathew segera beranjak, mengajak Rayyan dengan paksa yang sedang berlindung dibalik pintu kamar mandi, lupa mengunci, membuat Mathew dan Dony dengan mudahnya menyeret Rayyan keluar.
" Diem lu! Susah ini." Mathew tak sabar, hingga membuat kancing kemeja Rayyan terlepas.
" Auw! Jangan Met, Mira belum cicip, jadi jangan sentuh gue, masih murni kok gue."
Cetak!
Satu jitakan mendarat di kepala Rayyan.
" Kelamaan dandannya!" Mama berkacak pinggang di belakang Rayyan, ternyata mama Sarah yang menjitak kepalanya.
" Ayo buruan, katanya ngebet kawin, giliran mau dikawinin malah mengkeret! Sini Don kemejanya." Mama menerima kemeja dalaman dari Dony, memakaikannya pada Rayyan yang diam sambil memandangi wajah mamanya.
" Dasinya." Mathew yang mengulurkanya.
" Celananya." Untung Rayyan masih pakai boxer, jadi dia tidak malu saat mamanya memakaikan celana panjang itu. Mengingatkannya pada masa ia kecil, yang selalu berlari saat mamanya menggantikannya baju setelah habis mandi.
" Ikat pinggangnya."
Rayyan kembali mengingat saat mamanya memakaikan ikat pinggang ketika akan sekolah.
" Jasnya mana?!"
Dony langsung memberikan.
" Duduk!" Rayyan patuh saat mama Sarah menyuruhnya duduk di ranjang.
" Kaus kaki, sepatu."
Dony dan Mathew langsung sigap.
Terakhir, mama menyisiri rambut Rayyan, menatanya hingga Rayyan terlihat sangat.... sangat tampan.
Mama tanpa sadar mencium pipi Rayyan, memujinya sama seperti saat dia dulu sudah rapi. Rayyan tak kuasa menahan diri, direngkuhnya tubuh wanita yang telah menghadirkannya ke dunia, hingga kini ia akan lepas dari asuhan mamanya dan membuka lembaran baru hidupnya.
" Trima kasih mama." Suara seraknya yang terpatah-patah seakan tak mampu untuk menyelesaikan kata yang hanya bisa ia berikan untuk mengganti setiap pengorbanan dan kasih sayang mamanya.
Mundur teratur, balik pintu, turun tangga, Mathew dan Dony memberi ruang untuk kedua anak dan ibu itu.
" Sayangi dia, cintai dia dan lindugi dia sebagai ganti mama." Isak tangis dalam seorang ibu, saat akan melepas anaknya.
" Mama."
" Mama disini." Mama Sarah mengelus pundak Rayyan yang menangis dipelukannya.
" Maaf kalau selama ini...."
" Syut! Sudah.... Kita turun sekarang, kita sudah ditunggu." Mama menarik tubuhnya, menatap dalam anaknya sekali lagi.
" Apapun itu, mama bahagia, dan doa mama, semoga kamu juga bahagia. Ingat kamu selalu bilang bahwa restu mama adalah sangu, dan sekarang mama memberimu itu, agar bisa menjadi bekal hidupmu bersama dia."
" Mama...." Sekali lagi Rayyan menarik tubuh mama Sarah.
" Mama ada disini, kamu masih bisa kesini jika rindu mama, rumah ini rumahmu juga, dimanapun kalian nanti tinggal."
Rayyan mengangguk.
" Kita turun yuk..." Mama menarik tubuhnya lagi, merapikan penampilan Rayyan yang kusut karena pelukan mereka.
" Nah, sudah. Jangan nangis, gak malu! Udah tua kok nangis." Mama mengelap air mata Rayyan.
" Tua juga anak mama."
" Emang anak siapa?! Kalau mau jadi anaknya paijem juga boleh!" celetuk mama.
" Paijem siapa ma?"
" Orang gila di pasar!"