
Rayyan membuka mata ketika alarm di hpnya berbunyi. Dia harus bangun untuk bersiap terbang ke Portugal bersama Mathew.
Mengingat semalam dia menghubungi Mira dan merekam saat Mira tertidur.
Rayyan mengecek hasil videonya, bermaksud ingin melihat seberapa lama durasi video itu berlangsung.
Terkejut, begitu reaksi Rayyan saat tahu bahwa Mira ternyata membuka mata setelah ia mengatakan isi hatinya, bahkan ia mengatakan cinta juga disana. Dia mengira Mira benar-benar tertidur, namun kenyataannya Mira mendengar semua ucapannya.
" Dia mendengarnya?" Rayyan bergumam sendiri. Dia bingung harus bagaimana, ada keinginan kuat untuk mengetahui langsung reaksi Mira setelah dengan jelasnya dia mengatakan cinta pada Mira.
Pikirannya menjadi kacau. Dia merasa harus bertemu Mira saat ini juga sebelum dia benar-benar pergi, atau dia tidak akan bisa fokus dalam balapan nanti.
" Selamat Mira, kau sudah berhasil membuat seorang Rayyan menjadi kacau!"
Rayyan melompat dari tempat tidurnya, menyambar jaket dan mengambil celana panjang dari lemari, memakai dengan tergesa kedua benda tersebut. Dan mengambil begitu saja dompet dan hpnya. Melihat sekilas waktu.
" Masih ada 2 jam sebelum berangkat."
Rayyan turun, mengetuk pintu kamar Dony, meminta kunci motor.
Dony membuka kamar, meskipun terkejut melihat penampilan Rayyan, ia langsung mengambil kunci motor yang diminta dan menyerahkan pada Rayyan.
" Buka gerbang Dony, buruan." Perintah itu terdengar tergesa, seiring dengan Rayyan yang mengeluarkan motornya tanpa hati-hati, hingga membuat sikunya membentur pintu.
" Augh." Rayyan meringis.
" Hati-hati mas." Dony terlambat.
Seakan rasa sakit itu tak begitu terasa, Rayyan langsung melajukan motor dengan kecepatan penuh, layaknya berada dilintasan sirkuit.
Hari masih gelap, adzan subuhpun belum berkumandang. Jadi jalanan masih sepi, hanya beberapa angkot yang mengantar para pedagang sayur ke pasar. Keadaan itu memudahkan Rayyan untuk terus melaju, membelah jalan raya sampai di rumah kakaknya, hanya butuh 15 menit dari waktu seharusnya. Barulah adzan subuh mulai terdengar, begitu ia mematikan mesin di depan gerbang rumah Jonathan.
Ia melakukan panggilan ke nomor Mira. Berharap Mira mengangkat telponnya. Namun hingga sampai 5 panggilan tak terjawab, Mira tak kunjung mengangkat telponnya.
Rayyan mulai tak sabar, menghubungi nomor Sigit. Baru berdering, Sigit langsung mengangkat telponnya.
" Iya Mas." Suara Sigit masih terdengar malas, karena masih tidur dan terbangun paksa karena mendengar hpnya berdering.
" Bisa buka gerbang? Suruh Mira turun, aku ada di bawah." Rayyan segera memutus telpon.
Sigit mengecek dari balkon atas, memastikan bahwa Rayyan benar ada di depan gerbang.
" Ada apa mas Sigit?" Tanya Mira yang baru keluar dari kamar mandi, dengan harum segar wangi sabun yang ia gunakan, membuat Sigit sedikit terbuai, bahkan rambut Mira yang tergerai basah menambah semakin cantik wajah Mira, walaupun masih kusut belum disisir.
" Mas Sigit, ada apa? Lihat siapa?"
" A-da mas Rayyan mbak di bawah." Sigit sedikit gugup mengatakan bahwa Rayyan ada di bawah.
" Mas Rayyan di bawah? Jam segini?" Mira keluar dan melihat dari balkon. Ada motor di depan gerbang.
Rayyan mendongak, melihat Mira. Memberi kode dengan tangannya untuk melihat hpnya.
Mira langsung masuk ke kamar, namun Sigit memintanya ikut turun, karena Rayyan yang bilang begitu.
Mira bingung, namun ia mengikuti saja Sigit dari belakang. Membuka pintu pelan-pelan agar tidak berisik, karena ini masih subuh.
Sigit membuka gerbang, Rayyan sudah menunggu dengan berdiri disana.
Ia langsung menarik tangan Mira dan membawanya menjauh dari Sigit.
Sigit hanya menunggu di teras rumah. Tak ingin ikut campur, cukup sadar diri bahwa dia hanya bekerja disini, dan Rayyan juga adalah majikannya.
🔹🔹🔹🔹🔹
" Mas, kenapa disini?" Mira menatap bingung pada Rayyan saat mereka sudah berdua, berdiri berhadapan di samping pagar tembok.
" Karena dirimu." Jawab Rayyan dengan nada serius.
" Aku?" Mira menunjuk sendiri dirinya sambil menatap mata Rayyan, mencari pembenaran dalam ucapannya.
" Ya, karena dirimu aku sekarang ada disini. Aku hanya ingin tahu apakah kamu mendengar ucapanku semalam?" Tanya Rayyan.
" Semalam?" Mira tentu mendengar semuanya.
" Ya kamu mendengar ucapanku semalam?" Rayyan mengulang lagi pertanyaannya.
" Banyak yang mas Rayyan katakan semalam, yang mana?"
" Yang terakhir, saat matamu terpejam." Rayyan tak ingin basa-basi. Waktu yang tak banyak membuatnya harus berbicara dengan cepat juga.
Mira hanya terdiam, menunduk tak ingin menatap mata Rayyan. Ia mendengar dengan jelas kata-kata Rayyan yang mengatakan mencintainya, namun dia tak mungkin percaya dengan perkataan laki-laki itu yang dia anggap hanya permainan. Mana mungkin seorang upik abu seperti dirinya dicintai oleh seorang sekelas Rayyan. Jelas sulit untuk dipercaya.
" Dengar Mira!" Rayyan perlahan mengulur tanganya, memegang kedua lengan Mira seolah ingin agar Mira menganggap bahwa dia berkata yang sebenarnya.
" Saya bukan orang yang mudah untuk mengatakan itu, namun denganmu itu terucap begitu saja. Dan itu serius, tidak ada kata main-main bagi seorang Rayyan, kamu harus tahu itu. Kalau kamu menganggap saya aneh, saya aneh karenamu, jika kamu menganggap aku gila, aku memang gila karenamu."
Mira hanya terdiam, baginya tak ada kata yang harus ia ucapkan. Hanya ingin menjadi pendengar karena Rayyan memintanya mendengarkan.
Hatinya belum siap untuk terbuka untuk menerima cinta yang baginya datang begitu tiba-tiba.
" Aku serius mengatakan itu. Dari awal melihatmu dalam foto, hati ini sudah memilih dirimu, jadi tolong jangan buat hati ini kecewa."
" Memang ini begitu cepat, karena untuk mencintaimu hanya butuh tak kurang dari satu jam."
" Jadi saya mohon, biarkan begitu selama sisa hidup saya."
Mira mengangkat wajahnya, menatap lurus mata Rayyan. Melihat ada ketulusan setulus ucapan yang ia dengar. Namun ia juga tak bisa menjanjikan apapun.
Banyak luka yang belum sembuh dihatinya, jadi mana mungkin dia bisa menerima cinta yang baginya hanya membuat luka itu semakin parah.
" Ya kamu benar, bahwa aku tidak tahu siapa kamu. Tapi hati ini yang mengatakan bahwa kamu adalah orangnya. Orang yang selama ini aku cari untuk menjadi yang terbaik."
" Tapi aku tidak sebaik itu."
" Hati adalah organ yang tak pernah bohong Mira, walaupun bibirmu berkata tidak. Dan aku yakin bahwa hatiku mengatakan bahwa ini benar, bahwa kamu adalah orang pantas untukku."
" Aku hanya pembantu."
" Itu hanya pekerjaan."
" Aku hanya orang miskin."
" Itu hanya status."
" Dan status itu yang membedakan kita." Mira kembali menunduk.
" Tidak ada yang bisa membedakan manusia, apalagi itu harta Mira. Dimata Tuhan kita itu sama."
" Tapi nyatanya harta memang menjadikan orang bisa memandang orang lain menjadi rendah mas, itu kenyataan." Mira mencoba meredam emosinya saat mengucapkan itu, teringat bagaimana ibunya Bobby menilainya dengan sejumlah uang. Dan itu melukainya.
" Biar Mira, biarkan orang lain mengatakan itu. Tapi itu tidak berlaku untukku. Semua sama, hanya saja rejeki setiap orang berbeda. Itu yang benar, dan itu sudah takdir."
" Lihat saya." Pinta Rayyan.
Namun Mira tetap menunduk, tak ingin terlihat bahwa luka itu kembali menganga dengan jatuhnya air mata di kedua pipinya.
" Lihat saya Mira." Dengan lembut Rayyan menyentuh dagu Mira, untuk menyangga agar Mira mau menatapnya.
Sebenarnya Mira malu mengeluarkan air mata di depan orang lain, tapi semua itu seperti keluar begitu saja saat Rayyan mengatakan dengan jelas isi hatinya. Semakin terenyuh saja, karena membayangkan apa yang akan dihadapinya setelah ini.
Ia pergi, bermaksud mengobati lukanya, namun Rayyan malah membuatnya semakin mengingat jelas bahwa dia begitu tak pantas untuk Bobby yang adalah anak orang terpandang begitu pula Rayyan yang adalah seorang konglomerat.
Tuhan cobaan apalagi yang Kau beri padaku?
Rayyan hanya memandang wajah dengan mata terpejam dan air mata terus mengalir deras disana.
" Jangan menangis." Rayyan mengusap dengan kedua ibu jarinya.
" Mama akan memarahiku jika tahu aku membuat wanita menangis. Mama tidak suka kaumnya disakiti."
Ucapan penuh kelembutan itu, membuat Mira terdiam beberapa saat namun tak bersuara.
" Kamu harus tahu satu hal, bahwa aku berhenti dari dunia yang sudah menjadikan aku seperti ini, itu adalah kamu sebagai alasannya."
Perlahan Mira membuka matanya, menatap Rayyan yang tersenyum lembut padanya.
" Ya, karena kamu. Semoga itu cukup membuktikan bahwa kamu itu berharga Mira."
" Bayangkan saja, berapa banyak pundi-pundi yang bisa aku dapatkan dengan tetap menjadi rider? Tapi itu sekarang tak bisa mengalahkan betapa berharganya kamu untukku. Aku juga tidak tahu kenapa begitu, jadi jangan pernah bertanya kenapa, baik sekarang atau kapanpun. Karena aku tidak akan bisa menjawabnya."
" Lalu aku harus apa sekarang?" Hanya itu yang bisa Mira katakan.
" Cukup jalani hidupmu dengan keyakinan bahwa semua yang kamu lalui adalah proses untuk membuatmu menjadi yang lebih baik dan mendapatkan yang terbaik."
Mira tercengang mendengar menuturan Rayyan yang simple namun benar.
" Hem." Mira tersenyum walaupun sedikit, hatinya menghangat sekarang.
" Bisa lakukan itu?" Tanya Rayyan.
" Akan aku coba." jawab Mira.
Rayyan mengusap sisa air mata yang masih ada diujung mata Mira.
" Huft... Sayang sekali aku harus pergi." Rayyan memandang tak rela pada Mira yang masih menengadah, karena tangan Rayyan yang menyangga wajahnya.
" Setidaknya dengan begini aku jadi tenang."
" Hem." Mira sekali lagi hanya terseyum, dan Rayyan senang melihat itu.
" Tetaplah terseyum, jangan murung lagi."
Rayyan melepas tangannya dan mengacak rambut Mira.
" Ayo masuk, aku antar ke dalam."
Rayyan menggandeng tangan Mira, membawa masuk ke dalam. Namun Mira melepas tautan tangan Rayyan. Malu jika sampai Sigit melihat. Untungnya saat mereka masuk Sigit sudah tidak di teras.
" Ya sudah, aku berangka ya. Sampai jumpa 2 bulan lagi. Doakan semoga berhasil."
" Pasti."
" Terima kasih Mira. Jaga diri baik-baik. Tunggu aku pulang, karena kamu sekarang punya hutang padaku."
Mira tak mengerti hutang apa yang dimaksud Rayyan, karena dia tak merasa meminjam apapun.
" Hutang apa?"
Rayyan tersenyum penuh arti, kemudian mendekat berbisik sesuatu di dekat telinga Mira, membuat bulu kuduk Mira meremang.
" Hutang jawaban...!"
" Aku pergi ya... Dah..." Rayyan berjalan mundur beberapa langkah dari Mira dengan senyum yang mengembang dibibirnya, sebelum akhirnya ia keluar dan menunggangi motor miliknya. Dia melambai pada Mira sebelum benar-benar pergi.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
Hari senin say, jangan lupa kasih vote voucher kalian... ya yang satu itu lho buat sangu bang Rayyan balapan, biar pulang bawa piala buat neng Mira... Tambah bunga juga boleh, biar hati neng Mira bermekaran... 😍😍😍