
" Sudah sehat mbak Mira?" Xandra, nyonya rumah menyabut mereka saat para tamu yang beranggotakan teman-teman Alex datang ke rumah.
" Alhamdulilah, obatnya manjur jadi langsung sembuh seketika." Jawab Mira.
" Resepin...." Pinta Xandra sambil mengantar tamu para wanita masuk, karena para pria sedang ngobrol di luar dengan menggendong anak-anak.
Lalu bagaimana dengan Rayyan yang punya dua anak? Apakah dia menggendong si kembar sekaligus? Tentu saja tidak, ada si ganteng Reno yang membantunya menggendong si kembar.
Para bapak sexy, dengan lengan kekarnya menggendong bayi-bayi imut dan menggemaskan, menambah kesan yang he'emmm, sulit dijabarkan dengan kata-kata.
Kembali ke para nyonya yang sedang berkutat di dalam.
" Wahhh... Nemu tumis genjer Jeng." Mira membawa sepiring besar sayuran hijau untuk dipersiapkan di atas meja.
" Sayur favorite itu mbak Mira, harus ada, karena Lee sama ayahnya hobby banget sama tumis genjer." Ucap Xandra
" Panggil aja Mira, biar enak ngobrolnya."
" Kalau gitu panggil Xandra aja, gak perlu pake mbak-mbak'an, kayaknya kita seumuran."
" Aku tahun ini 27." Ucap Mira.
" Setahun setengah lebih muda, aku 28,5." Xandra berucap.
" Aku sama, sama Mira." Ajeng ikut nimbrung.
" Tapi yang lebih tua kok malah kelihatan awet muda ya?" Catrine, dia istri Charles yang baru datang.
" Karena biasanya orang pendek emang awet muda, punya kelebihan di wajah sebutan kerennya baby face." ucap Ajeng.
" Ini catrine Mir, Jeng. Istri teman juga." Ucap Xandra.
Mereka saling menyebut nama masing-masing, dan dengan kekuatan pertemanan, mereka segera akrab.
" Kok gak adain pesta aja Xan?" Tanya Catrine.
"Lee gak mau, cuma minta kumpul bareng keluarga aja. Tapi mas Alex malah kepikiran ngumpulin temen, jadi ya dilaksanain dua-duanya, ngumpulin keluarga sama temen, biar seru. Tolong gulainya, itu udah mateng." Ucap Xandra pada Catrine yang lebih dekat dengan kompor.
" Kamu masak sendiri semuanya?" Tanya Ajeng.
" Tadi sama mama dan Joya, mereka pergi cari bahan buat bakaran ntar malam."
Ajeng mengangguk.
" Katanya bapakmu disini, mana gak kelihatan?" Tanya Mira.
" Ada di atas, babe seneng main disana sama Lee."
" Seneng tinggal sama keluarga besar ya?" Ajeng bertanya.
" Mereka gak tinggal disini, cuma babe."
" Mama masih di Surabaya karena papa masih sibuk sana-sini."
" Kalau Joya tinggal di deket rumah sakit jiwa yang baru didirikan."
" Dia psikolog?" Tanya Ajeng.
" Ahli jiwa tepatnya."
" Kerennnn. Aku dulu juga pengen ambil jurusan itu, tapi..." Ajeng terdiam.
" Ambil jurusan ibu rumah tangga juga mulia lho Jeng, jangan berkecil hati!" Jawab Xandra.
" Masih kerja di rumah sakit jugakan?"
" Rencana mau resign."
" Kamu mau berhenti?" Mira terkejut.
" Kayaknya harus ada yang mengalah buat ngurus Khansa."
" Apapun itu, semoga yang terbaik." Catrine mengusap lengan Ajeng.
" Kadang pilihan membuat kita disituasi sulit, tapi bijak akan membantumu menemukan yang terbaik." Xandra si jenius ikut menimpali.
" Bawa piringnya, jangan lupa sendok. Laki-laki biasanya gak bisa makan nyeker kayak perempuan." Catrine menumpuk piring yang baru selesai di lap.
" Kamu gak punya asisten Xan?" Catrine heran, sejak tadi tidak ada seseorang yang membantu.
" Asistenku semua yang tinggal disini, kami terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah sendiri. Paling panggil Nge-clean buat bersih-bersih."
" Apa gak repot, rumahmu besar banget lho!"
" Udah biasa, biar semua mandiri dan gerak aktif."
" Kamu punya anak kecil, bisa gitu handle ngurus kayak gini?"
" Bisa diatur, yang penting ada kemauan."
" Kasih lapangan kerja buat yang gak punya kerjaan Xan, itung-itung bagi rejeki."
" Bagi rejeki selalu, tiap bulan udah ada jatahnya dan dikirim langsung ke yayasan ODGJ punya Joya, kalau mau boleh ikut berdonasi." Ucap Xandra berpromosi.
" Joya punya yayasan sendiri?"
" Itu cita-cita dia dari awal."
" Kereeeennn!"
" Ehh, kok sepi ya di luar, sedang apa mereka ya?"
" Paling lagi ngangon anak-anak di taman belakang."
" Ya ampun, lupa kopinya." Xandra segera menyiapkan gelas .
" Mas Rayyan gak ngopi." Kata Mira.
" Nyusu dia... Haha." Catrine tergelak.
" Husss, kayak suamimu enggak!" Ajeng mendelik.
" Ngomongin apa sih? Gak jelas! Terus apa dong kalau bukan kopi." Tanya Xandra pada Mira.
" Susu."
" Teh."
" Jus."
Tiga wanita berucap bersama dengan jawaban yang berbeda.
" Yang benar yang mana?" Xandra bingung.
" Kamu buat sendiri Mir, minuman untuk suamimu." Putus Xandra.
" Ada alpukat gak?"
" Di kulkas." Xandra menunjuk kulkas.
" Sorry aku buka ya." Mira merasa canggung.
" Anggap aja rumah sendiri, jangan canggung gitu." Xandra berlalu mengambil air panas.
Sedangkan Mira berkutat dengan blender yang untuk membuat jus.
" Ini Joya!" Xandra memperkenalkan Joya setelah menerima belanjaan yang dibawa Joya.
" Kayak bukan dokter." Nilai Mira.
" Dokter jiwa beda sama dokter umum mbak'e, dokter jiwa ya gini, harus sama gilanya sama pasiennya... hahaha." Tawa renyah Joya membuat yang lain menggeleng.
" Lebih gila dari pasiennya, tepatnya." Seorang wanita tua tapi masih terlihat cantik masuk.
" Tante." Mira menyapa ramah, begitu pula Ajeng.
" Panggil Yang Ti, Eyang Putri, wes podo duwe anak to? ( udah pada punya anak kan?)" Tanya mama Risma.
" Uwes Eyang ( Sudah Eyang)." Jawab Mira dan Ajeng bersamaan, kalau Catrine tidak menjawab karena mama Risma sudah kenal dan mereka sering bertemu.
" Eyang mau jusnya, alpukatkan itu?"
" Mama lapar ya, gitu pake nolak makan soto tadi." Celetuk Joya.
" Mbakmu sudah masak..."
" Bonsai..." Ralat Joya.
" Jangan panggil bonsai Joy, nanti Lee ikut-ikutan!" Mama Risma menegur Joya.
" Ntar kalau dia udah tinggi baru tak ganti namanya."
" Aduh... duh... duh... Ma, ampun!" Joya kesakitan, telinganya ditarik oleh mama Risma.
Ajeng dan Mira menggeleng.
" Mereka biasa begitu, jangan kaget."
" Mertuaku juga begitu Xan." Ucap Mira.
" Asik tapikan?"
" He'em."
" Yang bikin asik tuh aku, bukan mama." Joya masih mengusap-usap telinganya yang panas sambil menggerutu.
" Kamu udah ketemu sama bang Rayyan, Joy?" Suara Alex terdengar, dia masuk ke dalam untuk meminta minuman yang tak kunjung datang.
" Belom, ntar isi energy dulu." Joya nyemilin puding dari dalam kulkas.
" Joya kalau ketemu Rayyan kayak tikus sama kucing." Ucap Alex.
Mira membayangkan mama Sarah.
" Mas Rayyan sama mama juga suka gitu."
" Dia emang udah dari orok mbak, kayak gitu." ucap Alex, seraya membawa nampan berisi kopi.
" Tunggu bentar, jusnya belum."
Mira segera meletakkan satu gelas jus tanpa gula untuk suami ke nampan yang dibawa Alex.
" Sudah semua ini."
Xandra mengangguk, baru dia keluar.
" Eyang, jusnya mau ditambahin apa?"
Mama Risma mengambil madu.
" Ini aja, belum kasih gula kan?"
" Belum Yang."
Mira segera menuang madu secukupnya lalu memutar kembali mesin blender hingga menimbulkan suara bising.
" Joya, antar ini buat Lee, dia minta jus tapi mama lupa."
" Tak kirain mama yang mau minum jus."
" Udah cepetan sana."
" Ok." Joya segera naik ke atas, tapi kembali lagi setelah lima langkah.
" Teh babe mana?"
" Udah disana, tadi udah tak anter." Jawab Xandra.
Joya segera berlalu.
" Seumur-umur belum pernah dia buatin minum untuk papanya, tapi kalau sama babe, ampun deh anak itu."
" Papa kan emang gak pernah bareng ma. Cepetan pensiun makanya, kamar masih banyak yang kosong, kita kumpul rame-rame disini." Xandra membawa buah untuk diletakkan di meja.
" Daging sama ikannya gimana ini?" Tanya Ajeng dan Mira yang sudah selesai membersihkan.
" Catrine, buatin bumbu sekalian."
" Iya Eyang."
" Catrine ini punya saung, jadi dia jago kalau ngracik bumbu buat bakaran."
" Eyang bisa aja, semua bisa kok Yang." Kata Catrine merendah.
" Berarti lusa kita pindah makan di saungnya Catrine nih."
" Bisa-bisa." Jawab Catrine.
" Open order dari sekarang, biar besok langung ready." Catrine mulai menumbuk bumbu dengan tumbukan manual.
" Gak pake blander aja?" Saran Mira.
" Ini resepnya, ditumbuk pakai tangan, jadi lebih enak." Jawab Catrine, seraya memasukkan bumbu-bumbu.
" Apa gak capek?" Tanya Ajeng " Numbuk gitu?" lanjutnya.
" Kalau mau enak, emang kudu usaha keras. Yang enak tapi gak repot ya cuma buat mie instant." jawab Xandra.
" Betul itu! Tapi aku demen makan mie instant. Sayangnya suami bawel banget kalau aku bikin makanan yang satu itu." Ucap Mira.
" Suamimu menjagamu dengan makanan, biar gak banyak penyakit karena makan yang instant-instant." Bela Ajeng.
" Kalau bikin penyakit, tapi kok BPOM kasih ijin edar?" Mira ngeles.
" Ya.... gimana ya jelasinnya?"
" Yang pasti, makanan instant itu diawetkan pakai bahan kimia, dan yang diawetkan itu bisa membuat umur tidak awet."
" Kalau mau awet, makan tumis genjer."
Mira tertawa....
" Iya... Bener awet, keluar masuk tetap sama, gak berubah bentuk."
Mereka tergelak mendengar sesuatu yang dimaksud awet oleh Mira....
Ada yang nyambung itu apa....? Tulis jawabannya di kolom komen, Trima kasih 😂