I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Orang tua pengganti



Rayyan mampir sebentar ke rumah kakaknya, sebelum menghilang beberapa bulan, sibuk latihan dan menetap di bengkel miliknya. Kebiasaan sebelum ikut musim balapan.


" Om.... Kok bawa tas gede?" Gea keluar rumah, menghampiri Rayyan yang baru masuk ke halaman rumahnya.


" Om mau pergi lagi, mungkin agak lama." Jawabannya, sambil melepas helm dan meletakkan di atas motor. Melihat ke pintu yang terbuka, namun sosok yang ingin ia jumpai tak terlihat.


" Mbot mana?"


" Di dalam sama encus... Kasihan lagi sakit, rewel."


Rayyan masuk, sedang Gea berangkat sekolah diantar Sigit.


" Dia sakit?" Rayyan memegang kening Geby yang masih dalam pangkuan Mira, Mira hanya mengangguk sebagai jawaban.


" Masih hangat. Sudah minum obat?" Tanya Rayyan, sambil duduk di dekat Mira, di pinggir ranjang. Sesuai saran papanya jika ingin dekat, ya tinggal berada di dekatnya. Itu yang Rayyan praktekan.


Mengelus rambut keriting milik Geby yang tidur dipelukan Mira.


" Gak ditidurin aja?" Mata Rayyan memandang mata Mira yang memandangnya.


Jantung... Oh jantung.... Kenapa malah semakin kencang aja sih.


Rayyan ternyata salah, dengan berada di dekat Mira, jantungnya malah semakin berdebar tak karuan.


" Masih nunggu mas Sigit, mau anter ke dokter." Jawab Mira.


" Mbak Rita kemana?"


" Ibu bilang ada pameran di luar kota."


" Jadi dia sudah pergi? Kenapa enggak anter berobat dulu?" Rayyan memandang wajah Geby yang berkeringat, mengusapnya dengan sapu tangan miliknya.


" Kita berangkat sekarang, saya yang antar." Rayyan kasihan melihat keponakannya yang tak ceria seperti biasanya.


" Sini, kamu siap-siap."


Karena masih dalam keadaan tidur, jadi tak ada perlawanan saat tubuh Geby diambil alih oleh Rayyan.


Mira bergegas menyiapkan perlengkapan secukupnya, sedang Rayyan masih disitu, menggendong Geby sambil memperhatikan Mira yang menata keperluan Geby.


" Ke dokter Tomy mas kata ibu berobatnya." Mira menenteng tas di tangannya, dan mengikuti Rayyan yang berjalan keluar.


" Ok. Biasanya dia juga dibawa kesana."


Mira membuka pintu mobil belakang, tapi Rayyan malah menyuruh Mira masuk dan duduk di depan. Mira menurut, dan meminta Geby saat sudah di dalam.


Rayyan memutar, dan bersiap mengemudi, ketika sebuah mobil masuk ke rumah kakaknya.


" Mas Nathan?"


" Bapak tadi anter ibu ke bandara." Ucap Mira.


Rayyan membuka kaca mobil, saat mobil bersampingan " Anter Geby ke Tomy." Ucapnya pada Nathan, dan bapak si anak hanya mengangguk.


Mira hanya membatin dalam hati, betapa cueknya orang tua anak ini.


mengelus rambut Geby, sambil menyeka keringat yang tak kunjung kering. Padahal, AC mobil sudah dinyalakan.


" Biasa ngasuh adik?" tanya Rayyan pada Mira.


" Enggak juga." Mira hanya memandang sekilas pada Rayyan.


" Kenapa memilih bekerja jadi baby sitter? Kenapa tidak di toko atau dimana gitu?"


" Cari pengalaman sama cari gaji yang cukup."


Rayyan tersenyum mendengar jawaban Mira yang menurutnya tak ada kesan yang membuatnya harus menutupi bahwa ia memang membutuhkan uang.


" Semua orang bekerja ya cari uang Mira, kamu itu lucu."


" Kalau tidak butuh uang, maka tidak harus bekerja ya mas."


Jawaban diplomatis dari Mira, membuat Rayyan melirik sekilas pada Mira dan tersenyum ketika Mira masih melihat padanya.


" Kamu benar. Tapi jika diperhatikan, kamu sepertinya terpakasa harus bekerja seperti ini. Saya yakin kalau kamu sebenarnya bisa bekerja


lain, selain jadi suster."


" Yang penting halal." sambungnya kemudian.


" Salut." Rayyan tersenyum lagi, mendengar penuturan Mira.


Melihat dari sisi seorang Rayyan bahwa Mira bukan tak perpendidikan, cantik dapat, dilihat dari cara menjawab pertanyaan, Mira adalah orang yang cerdas, mungkin nasibnya saja yang belum beruntung.


Mobil berhenti, mereka sudah sampai di tempat praktek dokter Tomy, sepupu Rayyan.


Rayyan membantu membuka pintu dan mengambil Geby dari pangkuan Mira.


Mereka langsung masuk, karena memang sedang tidak ada pasien.


" Kenapa lagi si Geby?" Tomy memakai stetoskop dan memulai memeriksa Geby yang berbaring, namun karena sadar, langsung menangis. Mira memegang tangannya agar tenang, hingga pemeriksaan selesai.


" Dari kapan?" tanya dokter Tomy, menoleh pada Mira.


" Ibu bilang dari semalam. Sudah diberi turun panas sih, tapi belum turun juga." jelas Mira.


" Radang tenggorokan. Baiknya jangan beri dulu makanan berminyak. Saya kasih obat ya."


" Bahaya gak Tom?" Tanya Rayyan.


" Dibilang bahaya ya bahaya, tapi juga tidak. Kita lihat saja, jika diberi obat belum ada perubahan, kita adakan pemeriksaan lebih lanjut." Dokter Tomy menulis resep obat dan memberikannya pada Mira


" Kasih ke apotik."


" Kok bukan Rita sama Nathan?" Tanya dokter Tomy.


" Orang tuanya ganti, saya sama encusnya."


Tomy paham maksudnya, hanya tertawa sambil mengangguk. " pepet terus." Bisiknya pada Rayyan.


" Belum sekarang, pelan-pelan aja. Masih ada semusim lagi. Aku harus berangkat ke Portugal." Rayyan mendesah saat mengucapkannya, seolah ada sesuatu yang membuatnya merasa berat.


" Ada apa bro?"


" Mama bilang itu balapan terakhir." Ada raut kesedihan di wajah seorang Rayyan saat mengucapkannya.


" Itu yang terbaik?" Tanya Tomy.


" Entahlah. Kamu tahu sendiri, dunia itu sudah seperti nafas untukku."


" Tapi kamu juga harus bisa bernafas untuk yang lainnya. Mengganti tunggangan besimu dengan yang hidup, agar kamu tahu bahwa ada kebahagiaan lain selain disana."


" Kamu benar, hanya ini tak mudah."


Mira kembali setelah menebus obat. Dan mengambil alih Geby yang meronta di dalam gendongan Rayyan.


" Lihatlah bro, ada keindahan lain selain balapan. Yang pasti lebih mendebarkan."


Tomy memandang pada punggung Mira yang keluar, mengingalkan ruangannya.


" Cuek banget."


" Usaha extra berarti." Tomy menepuk pundak Rayyan, memberi semangat pada sepupu beda profesi itu.


" He'em." Rayyan mengangguk, " Pamit ya, thanks, waktuku tidak banyak, karena ada latihan sama team."


" Ok, semoga berhasil. Kami semua mendukungmu."


" Trima kasih."


Rayyan menyusul Mira yang menunggunya di luar, sambil mengayun tubuh Geby yang sedang bergelendot di gendongannya.


Rayyan memandang iba, karena ia tahu bahwa Mira pasti merasa berat jika terus-terusan harus menggendong Geby yang beratnya sudah mencapai 20kg.


" Kita pulang sekarang." Rayyan membantu membawakan tas Geby, jika dilihat mereka sudah seperti sepasang orang tua yang sedang mengurus anaknya yang sakit, apalagi Rayyan dengan sigap selalu membantu Mira saat dirasa kesusahan.


" Susah ya kerja begini?" Tanya Rayyan pada Mira saat mereka berada di dalam mobil, dan Geby tak ingin lepas dari Mira. Yang sudah bisa dipastikan bahwa hari ini akan jadi hari berat untuk Mira, apalagi malam ini dia harus mengurus Geby juga, karena bu Rita akan pulang 3 hari lagi.


" Jalanin aja." Mira menampilkan sedikit senyum saat ia sendiri tak bisa membayangkan. Harus mengurus anak sakit dan anak over protektiv secara bersama.


Semoga Gea tak membuat ulah hari ini.