I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Semakin aneh



Andre menghampiri Mira yang sudah meletakkan hp ke dalam saku jaketnya.


" Bagaimana kamu tahu kakak ada disini?" Mira bertanya pada Andre karena merasa bahwa ia belum jadi menelpon Andre tadi.


" Ibu yang menelpon, katanya kakak dibawa pergi sama Bobby ke arah jembatan, jadi aku langsung kesini." jawab Andre.


" Jadi ibu tahu kalau aku dibawa oleh mas Bobby." Gumam Mira.


" Kak, harusnya kakak itu berteriak minta tolong, di pasarkan rame, kenapa diem aja dibawa kabur sama Bobby?" ucap Andre dengan nada kesal.


" Kakak cuma enggak mau dia dipandang jelek sama orang pasar Ndre, dia bisa kehilangan nama baik kalau kakak melakukan itu." Jawab Mira.


" Kakak itu terlalu baik, keluarga mereka sudah berkali-kali menyakiti kita, kenapa masih berpikir menjaga nama keluarga tidak tahu malu itu!"


" Kakak tahu tidak? Bu Hardi kembali menyerang ibu di warteg bu Retno. Untung bu Retno tahu kalau kakak diseret paksa sama si Bobby, jadi bu Hardi malu sendiri karena menuduh kak Mira masih mengharap sama Bobby. Jauhi dia kak mulai sekarang kalau emang kak Mira punya hubungan sama bang Rayyan."


Mata Mira memandang Andre dengan binar bahagia, bagaimana tidak ternyata Andre memberikan dukungan untuk hubungannya dengan Rayyan. Apalagi menyematkan gelar 'bang' di depan nama Rayyan.


" Kamu setuju kakak sama RA?"


" Kalau itu membuat kakak bisa bahagia, Andre bisa apa! Apa dengan melarang kak Mira sama dia, Andre bisa menjamin kakak bahagia? Enggak kan? Hanya saja Andre masih trauma dengan manusia kaya, seperti keluarga Bobby. Sombong!" Sungut Andre.


" Sudahlah, ayo pulang! Kakak harus ke salon."


Ajak Mira.


" Kakak mau ngapain? SPA? harusnya yang begitu itu ibu, bukan kak Mira! Kecuali kalau kak Mira yang mau nikah."


" Aku cuma mau potong rambut, kayaknya rambut pendek lebih fresh."


" Halah, bilang aja potong rambut, karena dulu yang nyuruh manjangin si Bobby. Gak mau keinget kenangan masa manis sama Bobby kan?"


" Apa hubungannya?"


" Nyatanya, putus sama Bobby, rambut juga diputusin. Manjangin lagi, karena mau manjangin hubungan baru sama RA."


" Anak kecil tahu apa kamu masalah hubungan orang tua."


" Ngaku tua, belum nikah. Emang enggak malu kak?"


" Nikah gampang, entar kalau udah dateng jodohnya pasti juga nikah. Nikmati aja dulu begini. Sudah ayo, ibu pasti nungguin."


" Ya udah naik, ngajak pulang kok ngomong terus gak naik-naik." Sungut Andre melihat Mira yang masih berdiri.


" Siap akang ojek, ayok jalan. Ke jalan Sriti ya, dekat pasar minggu."


" Wani piro?!"


" Sak karepmu! Ayo jalan." Mira menepuk pundak Andre dengan kedua tangannya.


" Berasa jadi kuda, di tepuk baru jalan."


" Emang naik kudakan kita." Sahut Mira.


" Eaaa.... Semua jadi bersangkutan ma kuda, mentang-mentang pacarnya penunggang kuda besi." Ejek Andre.


" Kamu aja yang belum pernah ngerasain pacaran Ndre. Ntar kalau udah, semua yang ada sekelilingmu itu berasa bersangkutan sama dia."


" Emang gitu ya?" Andre melajukan motornya melintasi jembatan untuk membawa Mira pulang.


" Iya iya. Misalnya kamu punya cewek, terus cewekmu rambutnya keriting. Nah saat kamu tidak sedang berdua nih misalnya, terus kamu tidak sengaja bertemu orang yang punya rambut sama kayak cewekmu, kamu tahu.... Rasanya itu.... Gerrr.... Getar-getar syahdu..."


" Alay kak... Biasa aja kale!"


" Enggak percaya? Tanya aja ma readers... Pasti mereka setuju.... Ya kan, readers ku cayank....?" 😂😂


🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹


Mira turun dari motor Andre ketika mereka sampai di rumah, dan ibu langsung keluar begitu mendengar suara motor yang di depan pintu rumah.


Ia hendak memarahi Mira, namun dering hp milik Mira menghentikan suara ibu yang hampir keluar.


" Asalamualaikum bu." Mira memberi salam pada penelpon yang ternyata bu Rita.


" Mira, bisa ke Bogor besok? Gea masuk rumah sakit. Semenjak kamu pulang, dia susah makan, jadi saat ini harus dirawat karena terkena infeksi pencernaan. Tiap hari cuma nanyain kamu."


Mira terkejut, jelas dirinya tak pernah berpikir kalau kepergiannya membuat Gea seperti itu. Tapi tangannya belum sembuh, apakah ibunya akan mengijinkan. Dan besok lusa, ibunya akan melangsungkan pernikahan. Mira jadi bingung sendiri.


" Maaf bu, bagaimana ya..." Mira bingung, dia memandang pada ibu yang memandangnya penuh tanya. Mira menutup telepon dengan tangannya, kemudian berbicara pada ibunya.


" Gea, anak yang Mira asuh sakit bu. Bu Rita meminta Mira kesana." Ucap Mira.


" Tapi kamu belum sembuh. Anak itu ada orang tuanya kan?" Tanya ibu.


" Dia sakit karena tidak mau makan semenjak Mira tinggal pulang bu, sekarang dirawat di rumah sakit karena infeksi pencernaan. Bu Rita meminta Mira kesana, bagaimana ibu?"


" Ibu mana bisa melepaskan kamu pergi dengan kondisi tanganmu yang belum sembuh."


" Hallo Mira." Panggil bu Rita.


Mira bingung harus menjawab apa.


" I... Iya bu."


" Bagaimana? Saya minta tolong Mira, sekali ini saja tolong anak saya. Kalau kamu mau lihat, saya kirim foto Gea ya."


Tak lama sebuah notifikasi masuk, Mira langsung membuka pesan masuk yang berisi foto Gea yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit dengan selang infus terpasang di tangannya. Mira merasa iba melihat Gea, kemudian memberikan foto Gea pada ibu.


" Ini anak bu Rita ibu." Tunjuk Mira pada foto Gea.


" Kalau kamu ke Bogor besok, terus bagaimana dengan ibu?" Tanya ibu.


" Mira, kalau kamu mau, nanti di jemput sama Dony. Kalian naik pesawat aja biar cepet. Tolong Mira Ya."


" Bagaimana bu?" Mira meminta pendapat ibunya.


" Tapi lusa bisa pulangkan pas acara akad nikah ibu?"


" Mira usahakan bu."


" Bu Rita, ibu saya mengijinkan, tetapi lusa saya harus pulang, bagaimana bu?"


" Yang penting kamu kesini dulu."


" Baik bu."


" Dony berangkat sekarang jemput kamu, siap-siap ya! Terima kasih banyak lho Mir."


" Sama-sama bu."


Mira melihat ibunya.


" Ibu gak jadi marah?"


" Dasar! Anak nakal!" Ibu menjewer telinga Mira, yang mana membuat Mira malah tertawa.


" Sudah sana siap-siap!"


" Ndre, antar kakak ke bandara ya, biar cepet."


" Bu, saya tunggu di bandara."


" Ok Mira! Hati-hati."


" Iya bu."


🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹


" Git, apa kamu masih ingin mencari temanmu itu?" Tanya ibu Reni pada anaknya.


Sudah sebulan semenjak Sigit dibawa pulang, dan selama itu pula dia terlihat murung.


" Apa mungkin bisa ketemu bu, lampung itu luas."


Ibu diam saja, karena dia masih bingung bagaimana menjelaskan pada Sigit bahwa Mira itu adik kembarnya. Tetapi dia juga tidak bisa menyembunyikan kenyataan terlalu lama.


" Kamu punya adik tiri di lampung, kalau mau kita bisa mengunjunginya." ajak ibu.


" Tapi Sigit harus ke Bogor bu, besok ada ujian." jawab Sigit.


" Ya kapan-kapan kalau kamu sudah ada waktu, kita kunjungi mereka ya."


" Memang berapa anak bapak yang disana bu?"


" Bapak bilang 2, tetapi ibu juga belum pernah kesana." dusta ibu, padahal dia beberapa kali pernah ke rumah nenek, tetapi diam-diam.


" Kenapa bapak harus menyembunyikan mereka? Kenapa gak terbuka aja sih bu?"


" Mungkin bapakmu takut ketahuan nenek. Kamu tahu sendiri, nenekmu tidak suka dengan ibu."


" Ya sudah, lusa kita kesana bu. Sigit berangkat setelah dari sana aja ke Bogornya."


" Apa kamu tetap akan bekerja di rumah pak Nathan?"


Sigit menggeleng " Tidak bu, Sigit nge-kos aja, kuliah Sigit kan tinggal beberapa bulan lagi."


" Ya sudah, terserah kamu aja. Kalau gitu, ibu bilang bapak dulu kalau kamu mau diajak ke rumah nenek."


" Ya, tapi lusa, besok Sigit ada acara sama teman-teman sekampung."


Ibu mengangguk dan meninggalkan Sigit.


🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹


" Mas, Mira ke Bogor hari ini. Kata bu Rita, Gea sakit." Mira menelpon Rayyan.


" Kamu kerja lagi?"


" Enggak, cuma kesana buat lihat keadaan Gea. Kata bu Rita, Gea gak mau makan, sekarang dirawat di rumah sakit."


" Sama siapa berangkatnya?"


" Dijemput mas Dony."


" Ya sudah, hati-hati. Naik apa? Pesawatkah?"


" Hu'um."


" Good! Itung-itung latihan."


" Latihan apaan?"


" Latihan naik pesawat, biar nanti kalau pergi sama mas gak kaget."


" Pergi kemana?"


" Bulan madu."


" His! Apaan sih! Sudah ya, Mira berangkat dulu, Andre sudah nungguin."


" Katanya naik pesawat? Kok sama Andre?"


" Andre yang nganter sampai bandara mas, kalau mas Dony harus ke rumah kelamaan."


" Ya sudah, hati-hati sayang."


Mira tak langsung menjawab, malu dia dengan sebutan sayang yang diberikan Rayyan untuknya.


" Yank."


" Mas, panggilnya jangan gitu ih... Aneh tahu."


" Kan sayang, masa gak boleh."


" Geli tahu dengernya." protes Mira.


" Terus maunya dipanggil apa?" Tanya Rayyan.


" Terserahlah, Mira berangkat dulu ya."


" Hati-hati cintaku."


Mira tak menjawab lagi.


" Sayangku, cintaku, honeyku... Terus apa lagi ya......."


" Terserah mas ajalah. Mira matiin ya, mau berangkat. Assalamualaikum." Ucap Mira.


" Waalaikum salam, my honey, my sweety."


" Maaaasss! Lama-lama kok jadi aneh gini sih?"


" Gak papalah yank, aneh juga tetep cintakan." Goda Rayyan.


" Karepmulah mas."


" Apaan tuh?"


" Tepung dicampur sayuran." Jawab Mira asal.


" Bala-bala dong."


" Bukan, bakwan!"


Yang bener yang mana ya?! 🤔🤔🤔


🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹


Maaf ya, beberapa hari otornya tepar, jadi gak bisa update. Tapi sekarang otor lanjutin, walaupun masih belum pulih. Mudah-mudahan terobati ya kangennya sama bang Rayyan 🤗🤗


Jangan lupa kasih votenya, biar otornya tambah semangat, komen juga ya, bunga mawar juga boleh... Yang penting tinggalkan jempol kalian.


Jempolmu semangatku


Salam Fillia