
" Dony, tolong antar Mira ke toko oma ya, oma sebentar lagi sampai ini." Kata oma Sarah lewat telpon.
" Iya oma."
" Gimana mas Dony?" tanya Mira.
" Kita ke toko oma Sarah mbak, nanti tunggu disana ya. Saya ke kantor dulu, apel pagi." Kata Dony. Mira mengikut saja.
Mereka sampai di toko oma yang ternyata sebuah rumah besar dengan aksen yang begitu epik nan glamour, sesuai dengan barang yang dijual yaitu berlian. Rumah yang berdinding kaca, sehingga saat pengunjung masuk, sudah bisa melihat barang-barang mewah yang dipajang di setiap galeri.
AGUINO'S JEWELLERY
Begitulah nama toko itu tertera di sebuah ruangan yang di desain begitu mewah.
Mira duduk di ruang yang biasa digunakan oma saat di toko. Menunggu disana juga atas permintaan oma.
Pegawai yang berjumlah 6 orang wanita berseragam dan berdandan cantik sudah siap di stand masing-masing.
" Selamat pagi oma." Sapaan para pegawai dengan ramah, begitu nyonya besar pemilik toko memasuki pintu kaca yang dijaga oleh dua anggota keamaan yang disewa khusus dari agent keamanan.
" Selamat pagi semua, tamu oma apa sudah datang Tari?"
" Sudah oma, sudah ada di ruangan oma."
Yang disebut Tari adalah manager disana, segera mengantar oma ke ruangannya.
" Mira..."
" Oma..."
Mira langsung bangkit dari tempat duduk, menghampiri oma, mengambil tangan oma dan menciumnya.
" Bagaimana perjalanan kemarin?" Tanya oma, mengajak Mira kembali duduk di sofa.
" Lumayan oma, melelahkan." Ucap Mira.
" Berlatih sering-sering naik pesawat, selain menghemat waktu juga tenaga. Harga sebandinglah."
" Kalau Rayyan jarang pergi naik motor atau mobil. Kalau harus naik dua kendaraan itu, dijamin tahun depan baru sampai dia, gak jadi ikut balapan."
" Makanya, mulai dari sekarang biasakan ya naik pesawat kalau pulang pergi ke Jakarta- Lampung."
" Biaya jangan kawatir, Rayyan yang tanggung."
" Oma, bisa aja." Mira tertawa menanggapi celotehan oma.
" Emang harus gitu, mulai sekarang memang dibiasakan untuk mengandalkan Rayyan Mira, setidaknya dengan begitu dia merasa dibutuhkan. Jangan terlalu jadi wanita mandiri di hadapan laki-laki, manja dikit gak papa. Kalau di belakang, suka-suka kita."
" Oma bisa aja."
" Makanya kamu bekerja sama oma aja, jangan di dealer."
" Kenapa oma?"
" Kita akan bisnis sesama wanita, biar laki-laki ngurus pekerjaan masing-masing."
" Sini oma kasih tahu tentang basicnya dulu, biar kamu bisa paham tentang barang yang kita jual."
Oma berjalan menuju meja kerja dengan beberapa tumpukan majalah yang berisi katalog nama barang, jenis, bentuk, dan model semua ada disana.
" Pelajari ini, oma bantu sambil jalan."
Mira membuka lembar berlembar gambar-gambar perhiasan mewah yang kebanyakan diminati kaum kelas atas.
" Semua benda ini berpajak ya oma?"
" Iya jika sudah bertuan. Nanti kita juga pelajari itu."
" Bagaimana? Sudah mengerti?"
" Hehehe.... Belum oma, Mira sama sekali belum paham."
" Jawaban yang bagus! Belum berarti tidak, ayo oma ajak ke pakarnya, biar kamu bisa mengenal bagaimana caranya mengenali jenis perhiasan yang kita jual."
Oma mengambil tasnya dan keluar, diikuti Mira dari belakang menuju mobil.
" Jauh oma?"
" Mungkin 3 jam." Jawab oma.
" Wow."
" Berbisnis memang begitu Mira, waktu dan jarak bisa habis hanya untuk mengurusi hal-hal yang berbau bisnis. Tapi hasilnya tak mengecewakan."
" Oma dulu belajar bisnis juga dari opa. Karena oma hanya bekerja di kantor jadi sekertaris opa sebelum menikah. Tetapi setelah menikah, oma pengen punya pekerjaan sendiri biar gampang ngatur waktu antara pekerjaan dan keluarga. Tapi setelah berjalan, dan anak-anak lebih butuh prioritas, oma memilih membayar ahli untuk mengurusi usaha oma. Jadi oma bisa di rumah mengurus anak-anak."
" Belum lagi tuntutan opa yang selalu minta oma di rumah kalau dia pulang kerja. Makanya oma terbiasa bekerja untuk sambilan, yang penting keluarga yang utama."
" Kayaknya si Rayyan itu yang ikut papanya kalau urusan keluarga, beda sama Nathan yang kasih kebebasan sama istri untuk berkarir."
" Kalau Rayyan itu orangnya santai, banyak humor dan rada sableng, beda sama Nathan yang serius."
" Jadi jangan kaget kalau nanti sama Rayyan kamu dibikin gila karena kelakuannya."
" Iya oma." Mira senyum aja mendengar oma bercerita tentang karakter Rayyan.
" Tapi kalau ada Rayyan di rumah, suasana jadi hidup. Ada aja tingkah anak itu yang buat oma kesal. Kepala hampir tiap hari dijitak, tapi sablengnya malah bertambah."
" Umur sudah 35, tapi belum juga menikah. Kalau terus-terusan ikut balapan, terus kapan mikirin punya keluarga."
" Oma cuma gak kebayang aja, kalau sampai oma sama opa enggak ada, tapi dia belum menikah. Tugas jadi orang tua belum selesai."
" Oma kenapa ngomongnya begitu? Mungkin mas Rayyan masih belum ingin berkeluarga aja oma." ucap Mira.
" Ya, kalau dituruti dia memang tidak ada keinginan menikah tadinya. Tapi setelah melihat foto kamu, dia tiba-tiba memutuskan untuk pensiun setelah musim ini."
" Dan oma melihat sendiri bagaimana dia saat melihat kamu. Ada yang beda."
" Padahal model, artis, anak pengusaha banyak banget yang wira-wiri disekitar dia, tapi ternyata yang dicari yang sederhana kayak kamu. Tahu begitu dia oma buang ke desamu dari dulu."
" Kok aneh ya oma, mas Rayyan itu! Bukannya memilih istri yang sesuai dengan pekerjaannya, tapi malah cari orang desa."
" Kamu aja yang pacarnya bilang aneh, apalagi oma Mir." Oma tertawa.
" Tapi buat oma, siapapun pilihan dia, oma cuma bisa kasih dukungan. Yang penting kalian bahagia nantinya."
Hp oma tiba-tiba berdering.
Oma melihat sekilas siapa yang memanggilnya.
" Lihatlah, anaknya kerasa diomongin."
" Oma angkat dulu ya."
Mira mengangguk.
" Assalamualaikum." Oma memasang earpice di telinga.
" Mama sama Mira?" Tanya suara Rayyan.
" Hem. Kenapa?"
" Jangan suruh kerja terlalu berat. Ntar dia kecapean."
" Tuh, dengar sendiri dia, mulai posesif kayak papanya." Oma berbisik pada Mira.
" Ya yang namanya kerja ya capek lah Ray, ada aja kamu itu." Jawab mama Sarah.
" Apa mama suruh dia angkat-angkat?"
" Kamu pikir toko mama toko bangunan?"
" Bisa aja." Ucap Rayyan.
" Dengar Mira, dia mulai ngeselin!"
" Oma lagi ajak dia jalan, bukan angkat barang."
" Bagus itu mama, ajak refreshing biar makin fresh wajah dia."
" Itu tugas kamu, bukan tugas mama." Sungut mama.
" Ya gantiin Rayyan dululah, selama Rayyan belum pulang."
" Ya nanti mama ajak ke salon, biar dia jadi cantik, mumpung kamu belum pulang. Siapa tahu nanti ada pengeran yang kesemsem ma dia." Goda mama Sarah, sambil melirik Mira yang ikut tersenyum mendengar percakapan ibu dan anak itu.
" No! Mama."
" Katanya biar wajahnya fresh, mama mau ajak perawatan biar glowing."
" No! Mama." Teriak Rayyan.
" Kita ke dokter Cantika ya Mira, dia dokter terbagus kalau untuk urusan kulit sama wajah."
" Mamaaaaa!"
" Tuh, sudah hampir sampai kita. Kamu mau perawatan apa dulu? Jangan kawatir, oma yang bayarin semuanya." Oma makin gencar saja membuat Rayyan kebakaran jenggot.
" Mama, jangan gitulah."
" Kamu kelamaan, pulangnya. Sayang banget punya pacar cantik dianggurin. Ayo Mira kita turun." Oma mengedipkan mata, pertanda meminta Mira mendukung aksinya mengerjai Rayyan.
" Iya oma." Jawab Mira.
" Kamu masuk dulu, bilang reservasi atas nama Sarah Aquino."
" Sip oma, Mira turun duluan ya."
" Mamaaaa! Jangan lakukan itu pada anakmu." Teriak Rayyan.
Padahal oma dan Mira masih ada diperjalanan menuju tempat pemesanan barang dagangan oma.
" Ya udah, mama tutup dulu ya, kasihan Mira masuk sendiri. Dah... Rayyan sayang." Oma mematikan sambungan telpon, kemudian tertawa sambil melakukan tos dengan Mira.
" Emang enak dikerjain."
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
Marhaban ya Ramadan
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa buat readers ku semuanya.....