
Suasana di rumah Rayyan-Mira sangat ramai. Pesta syukuran kelahiran baby Azzam-Azzura tidak hanya dihadiri oleh keluarga dan kerabat.
Menggantikan resepsi yang tidak diadakan saat mereka menikah, pesta kali ini ditujukan untuk mengumumkan secara resmi pernikahan yang selalu dipertanyakan oleh para kerabat jauh dan rekan bisnis mama Sarah dan papa Jo yang ada di Indonesia, jadi tamu undangannya juga banyak, termasuk para rekan bisnis.
" Selamat Ray, akhirnya gendong anak juga. Gak mau kalah, langsung dua sekaligus."
Ucapan itu datang dari pak Alexandro yang datang beserta istri dan kedua anaknya. Si sulung Liam yang begitu antusias dengan baby twins di dalam box, tak ingin diajak bergantian tempat dengan yang lain. Padahal dalam gendongan bundanya ada adiknya yang berumur hampir dua tahun.
Mereka berada di teras rumah yang luas, yang disulap menjadi panggung megah. Karena tamu belum banyak yang datang, jadi mereka bisa ngobrol santai.
Rayyan terkekeh seraya berbangga diri " Bibitnya aja unggul." Ucapannya.
" Kebetulan juga lahannya subur jadi langsung tumbuh." Sambungnya.
" Lee!" Pak Alex memegang tangan anak berusia 7 tahun itu untuk mundur.
" Ayah, kita bawa pulang ya dedeknya, lucu banget loh Yah. Biar rame, kalau dek Alexi dibawa Bulek Joya, kan masih ada dua. Jadi gak rebutan."
" Tambah lagi Al, kode tuh." Rayyan menyikut lengan pak Alex, sambil tertawa jahat.
" Gak lihat yang digendong masih orok." Pak Alex mengarahkan pandangan pada istri tercinta yang sedang menggendong baby Alexi di dalam tenda luas. Sengaja menjauh agar tidak berisik.
" Udah gede itu, kasih adik aja lagi." Rayyan membujuk.
" Iya yah, mau adik lagi. Biar rumah kita rame. Mbah babe seneng katanya main sama adek, lucu banget." Liam tertawa gemes, sambil menyoel pipi baby Azzura.
Bocah laki-laki itu mengatakan kebenaran tantang keluarga Alexander yang memang menyukai anak-anak.
" Besok kalau kamu udah gede, kasih ayah cucu yang banyak." Pak Alex mengacak-acak rambut anak sulungnya, membuat sang istri melotot dari kejauhan, karena mengengendong anak bungsunya yang rewel karena ingin tidur.
" Maaf." Pak Alex langsung membetulkan rambut jagoannya agar kembali berdiri tegak.
" Selamat Ray." Mathew muncul dengan Ajeng dan baby Khansa.
" Terima kasih Met." Mereka berpelukan, saling menepuk bahu.
" Selamat pak Rayyan." Ajeng mengulurkan tanganya.
" Terima kasih dokter Ajeng." Rayyan menjabat tangan dokter Ajeng dengan erat.
" Kenal dengan mereka Met?"
Mathew menoleh pada tamu yang dimaksud oleh Rayyan.
" Wow Alex, apa kabar?" Mathew langsung memeluk rekan bisnis papa Jo, yang dalam kata lain adalah rekan bisnisnya juga. Karena saat perusahaan Alex mulai berdiri, papa Jo meminta Mathew untuk membantu segala sesuatu yang diperlukan. Mathew juga yang berhasil membawa investor dengan proyek besar untuk bergabung dengan EJ Hutomo group yang sekarang menjadi Alexan group. Hanya saja setelah Mathew menjadi manager Rayyan, mereka putus kontak.
" Al, aku tinggal dulu, mau lihat istri udah siap belum. Maklum, wanita selalu minta waktu lebih untuk urusan penampilan." Pamit Rayyan.
" Siapa bilang, aku ada disini mas." Mira menepuk pundak suaminya, sehingga Rayyan baru menyadari bahwa istrinya sudah ada disana.
" Seperi biasa, cantik banget kamu yank." Rayyan terpesona melihat penampilan Mira yang mengenakan gaun khusus yang dirancang oleh bu Rita.
" Heleh, gombal! Ntar liat cewek lewat matanya jelalatan lagi." Pak Alex tertawa menang.
" Jangan ingetin masa-masa nakal Al." Rayyan takut Mira akan menginterogasinya perihal yang satu ini, pasalnya selama ini Mira tahunya Rayyan adalah pria yang bisa menjaga mata dan hati.
" Yahh... Laki-laki emang gitu, di rumah muji istri, giliran di luar cuci mata." Sindir Mira.
" Itu dulu yank, jamannya putih abu-abu. Sekarang udah enggak kok." Jelas Rayyan.
Pak Alex terkekeh, melihat bagaimana seorang Rayyan ketakutan menghadapi istrinya.
" Gitu ngakunya gak pernah punya pacar! Bo'ong kan?" Mira menatap sinis pada Rayyan yang ketakutan.
" Al... Tanggung jawab lu! Jelasin ma bini gua."
" Lah emang lu begitu kan! Ada cewek bening lewat gerbang asrama langsung lu kejer." Pak Alex makin jadi mengejek Rayyan yang makin luruh pundaknya, kesal dengan Alek yang mengfitnahnya.
" Wajarlah, namanya juga darah muda." Pak Alex tak terpengaruh dengan Rayyan yang kalang kabut, karena Mira ngambek, meninggalkannya sambil mendorong stroller gandeng berisi baby twins.
" Silahkan dilanjut acara ngobrolnya pak Alex dan keluarga, saya permisi mau gantiin baby." Pamit Mira ramah, tapi begitu menatap Rayyan, dia langsung berubah sadis.
" Ya ampun yank, itu gak ada benernya. Tanya sama Mathew, dia juga tahu aku kayak mana." Rayyan menarik lengan Mira agar mau mendengarkan penjelasannya.
Pak Alex tergelak melihat kejadian langka, dimana seorang Rayyan ketakutan, apalagi Mira terlihat tak peduli, tetap masuk diikuti anak sulung Alex, Liam.
" Met, lu bantu gue. Bilang ke bini gue, kalau gue gak kayak yang dibilang kampret Al." Rayyan memohon pada Mathew, yang mana Mira melotot pada Mathew.
" Jangan berbohong hanya karena takut mas Mathew!" Hardik Mira, membuat Mathew langsung angkat tangan.
" Maaf pak Rayyan, saya tidak berani!" Mathew mangangkat dua jarinya.
" Tapi sekarang yang kasih gaji saya bu Mira pak Rayyan, jadi maaf saya tidak bisa menolong anda kali ini." Tanya Mathew terkatup, sambil menggeleng lemah.
" Karepmu Met! Gak mau bantuin gue, tak aduin sama dokter Ajeng kalau lu suka kencan sama mod........." Mulut Rayyan langsung di bekap oleh Mathew, karena kini tatapan dokter Ajeng sudah berubah seperti laser.
" ......el." Rayyan akhirnya mampu menyelesaikan kata terakhir setelah Mathew melepas bekapannya, karena takut pada Ajeng.
Rasain lu!
Rayyan tertawa jahat!
Pembalasan lebih kejam bro!
Ajeng melenggang pergi, sambil membawa baby Khansa masuk ke dalam tenda dimana sudah ada banyak tamu, serta keluarga besar Aquino yang lain. Mathew langsung menyusul Ajeng sambil meninggalkan kepalan tangan pada Rayyan yang mana membuat Rayyan tergelak.
" Rasain lu!"
" Sekarang giliran lu Al."
Pak Alex yang tergelak, kini langsung terdiam. Belum lupa dia jika teman SMA-nya ini adalah pakar biang kerok se asrama, bahkan satu sekolahan di saat mereka sama-sama sekolah di sekolah khusus pria di Jogja.
" Ojo macem-macem koe Pret ( Jangan macem-macem kamu Pret)."
* Pret, kampret sebutan mereka satu sama lain saat sedang bergurau.
" Apa kabar Sindi?" Dengan suara agak dikeraskan, Rayyan menanyakan kabar mantan Alex, yaitu Sindi.
" Masih sexy gak tuh body?" Rayyan menaik turunkan alisnya, apalagi kini bu Xandra sudah melangkah mendekat.
" Sudah tidur anaknya mbak Xandra, di bawa ke dalam rumah aja, biar enggak brisik." Ucap Rayyan, yang diangguki oleh Xandra. Melihat perilaku Xandra yang biasa saja, membuat Rayyan berpikir bahwa Xandra belum mendengarnya saat menyebut nama Sindi.
" Sindi sekarang dimana?"
Xandra berhenti melangkah, padahal sudah beberapa langkah akan masuk ke dalam rumah.
Alex mati kutu! Dia hanya diam, pura-pura tak mendengar pertanyaan Rayyan.
" Mas Rayyan kenal juga sama mbak Sindi?" Tanya Xandra, berbalik tak jadi masuk rumah.
" Tentu saja saya kenal mbak Xandra. Kami dulu waktu kencan seringnya double date." Rayyan mengarang cerita.
" Ke pantai Parang Tritis, terus ke mana itu Al, yang ada pohon beringin kembarnya itu, yang waktu itu kalian sempet jatuh bareng pas jalan sambil ditutup matanya....." Rayyan makin seru mengarang, sedangkan Alex sudah mendapat tatapan tajam dari Xandra.
" Bagus! Pantes aja dulu gak mau diajak jalan ke pohon. Alesan aja gak percaya mitos, padahal takut keinget masa lalu! Ngaku kamu mas!" Xandra marah, dia langsung berbalik badan masuk ke rumah Rayyan meninggalkan Alex yang bingung.
" Syukurin lu!" Rayyan puas, Alex lemas.
" Lu tuh kebangetan ya! Istri gue kalau ngambek lama banget tau gak! Tanggung jawab lu!"
" Ogah! Siapa suruh fitnah gue. Lu kira nyonya Rayyan itu gampang dirayu hah?! Dia itu kayak es campur air panas, bingung aku gimana bilangnya kalau dia udah marah." Ucap Rayyan.
" Terus sekarang gimana?" Alex frustasi.
" Tau ah, gelap!" Rayyan melenggang pergi meninggalkan Alex yang disusul oleh Liam untuk diminta menggantikan mengasuh Alexi yang terbangun.
" Cobaan apa lagi sekarang!" Alex mendengus, sambil berjalan mengikuti Liam yang menggandengnya masuk ke rumah Rayyan, menyusul sang istri.
" Urus anakmu! Ayok Lee, bunda cariin ayah baru!"
" Oh no!"
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
Apa kabar readers ku sayang, baik-baik semua kah?
Lama tak jumpa, berapa hari ya otornya lupa.
Harus rehat lagi beberapa hari, jadi upnya terpaksa libur lagi.
Tapi sekarang bisa lanjut lagi, moga aja otor sehat lagi dan bisa segera selesain Encus.
Jangan bosan ya baca novel Fillia...
Yuk, dilanjut bacanya.... Ok!
Ayok kasih dukungan biar otor selalu semangat, apalagi ada tamu dari Jogja tuh yang kangen sama keluarga Alexan siapa? Ayok cung ☝. Siapa tahu beberapa part ke depan bisa bantu obatin kangen kalian sama mereka ya.
Selamat membaca 🤗