I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Sangu Yang Hilang



" Bulan depan kita ke Lampung, tapi minggu depan kita ke Jogja dulu."


" Asyeek ke Jogja. Si kembar jalan-jalan juga akhirnya setelah 6 bulan mendekam di rumah." Mira bersorak girang.


" Khitanan si Liam anaknya Alex" Rayyan memberi tahu acara yang akan mereka datangi saat ke Jogja.


" Kondangan dong."


" Enggak, cuma kumpul sama temen-temen SMA aja, sambil reunian, ngenalin keluarga biar akrab lagi kayak dulu."


" Oh kirain kondangan, kalau banyak orangnya mending gak jadi ikut aku mas, kasihan kembar kalau harus berkumpul sama banyak orang."


" Gak banyak, cuma 5 orang, genk waktu di asrama, ditambah istri sama anak-anak."


" Sekalian silaturahmi."


Mira mengangguk.


" Mas."


" Hem." Rayyan menghentikan gerakan tangannya di atas laptop untuk melihat wajah istrinya yang memanggilnya.


Dia segera bangkit menghampiri anak-anak yang sedang berbaring di karpet bulu di kamar mereka.


" Mau apa?"


" Tungguin bentar, mules."


Mira segera berlari ke kamar mandi, Rayyan gantian menunggu si kembar yang sedang berlomba menggigit mainan berbentuk bebek yang berfungsi untuk merangsang pertumbuhan gigi.


Karena keduanya dalam keadaan tenang, Rayyan meninggalkan sebentar si kembar untuk mengambil laptop yang dia tinggal di sofa. Tetapi begitu berbalik satu diantara si kembar menghilang.


Panik dia, kemana bayi berjenis kelamin perempuan itu.


Rayyan meletakkan begitu saja laptop yang masih menyala di ranjang, sibuk mencari Azzura yang ternyata berada di belakang sofa tempat dia mengambil laptop.


" Kapan dia pindahnya?!" Rayyan menggeleng melihat bayi itu meringis memperlihatkan dua gigi depan yang mulai tumbuh.


" Wow! Anak papa udah mau punya gigi." Rayyan merasa senang, tapi begitu dia mengangkat baby Azzura dan menengok ke karpet si Azzam sudah menghilang.


" Ya ampun! Kemana lagi satunya."


Sambil menggendong Azzura dia kembali mengelilingi kamar, berharap menemukan baby Azzam di antara benda-benda di dalam kamar, namun ternyata sampai benda terakhir dia periksa, dia tidak menemukan anak laki-lakinya itu.


" Kemana dia?"


" Yank... Masih lama enggak?"


" Bentar mas, masih mulas." Teriak Mira dari dalam.


Akhirnya dia melangkah keluar untuk mencari Azzam dan meminta tenaga bantuan dari para suster.


" Mbak, lihat Azzam?" Tanya Rayyan ke para suster yang sedang beres-beres kamar anak-anak.


" Tadi sama ibu kan pak?"


" Bantuin cari ya, tadi sama saya, tapi sekarang menghilang. Mbak titip yang ini." Rayyan bingung, panik seketika karena tidak menemukan Azzam.


Dia memutar, mencari tiap ruangan dari kamar tidurnya lagi sampai ke ruangan lain yang berdekatan dengan kamar. Tetapi bayi itu tetap tak terlihat.


" Ketemu mbak?" Tanya Rayyan saat bertemu dengan suster penjaga Azzam.


" Belum pak."


Kembali mereka berpencar mencari Azzam, tetapi sampai bunyi pintu kamar terbuka mereka hanya bisa melongo karena Mira keluar bersama baby Azzam yang berceloteh di gendongannya.


" Mas, mbak, kenapa? Kok aneh gitu mukanya?"


" Dicariin ternyata sama kamu." Rayyan lega mengetahui Azzam ternyata bersama Mira.


" Dia masuk ke kamar mandi tadi, emang mas tinggal kemana?"


" Waktu kamu tinggal tadi mereka tenang-tenang aja, mainan teether, makanya mas tinggal ngambil laptop. Pas balik Azzura udah gak ada. Mas nyari Azzura tapi ninggalin Azzam. Azzura ketemu Azzam malah ngilang." Jelas Rayyan.


" Jagain anak itu gak bisa disambi mas, kalau masih mau kerja tadi titipin mbaknya dulu."


" Ya tadikan mas cuma ambil laptop sebentar yank."


" He'em... Iya, besok lagi kalau jagain mereka kasih waktu khusus ya, jangan disambi kerja."


" Oh Ok!" Rayyan mengalah, karena memang dia yang salah.


" Mbak, udah selesai beresin kamarnya?" Mira bertanya pada susternya Azzam.


" Sebentar lagi bu."


" Ya udah selesaiin dulu, nanti kalau sudah ambil Azzam di kamar saya ya."


" Iya bu."


Mira kembali ke kamar, disana Rayyan sedang duduk di ranjang sambil bekerja.


" Papa sibuk, ayo kita bermain tanpa adikmu."


Mira meletakkan bayi Azzam di sofa, dia memegang kedua telapak tangan anaknya sambil disatukan berkali-kali, mengajari anaknya itu bertepuk tangan, sebuah lagu dia nanyikan.


" Satu-satu, aku sayang mama."


" Dua-dua, juga sayang mama."


" Tiga-tiga, tetap sayang mama."


" Satu, dua, tiga cuma sayang mama aja. Horeee!"


Bayi itu terkekeh ketika Mira bersorak, Rayyan menggeleng mendengar istrinya itu mengajari lagu yang menurutnya curang.


" Papa gak disayang?" Dia ikut nimbrung sambil sesekali mengalihkan perhatiannya dari layar laptop.


" Sayang papa kalau mau ngajak aku main." Ucap Mira seolah dia menggantikan anaknya berbicara.


" Papa kerja bentar, tanggung ini." Rayyan fokus dengan beberapa laporan yang dikirim Mathew, tetapi matanya segera beralih ketika hpnya berdering.


" Ya Met, kenapa?"


" ......."


" Besok, dimana?"


"......"


" Kalau mau lusa, besok gak bisa ada pendampingan rider junior di Sentul."


"......"


" Minggu depan, aku ke Jogja, seminggu."


" ....."


" Atur ajalah, cuma itu kayaknya waktu kosong. Nyonya minta perhatian khusus, jangan ganggu hari ini!"


" Laporan yang kamu kirim masih tahap pemerikasaan, tunggu satu jam aku kirim balik hasilnya."


"....."


" Ya, ok!"


Rayyan meletakkan hpnya, suasana sunyi yang dia rasakan saat menerima telpon dari Mathew dia kira Mira sengaja diam, ternyata anak istrinya sudah tidak ada di sofa.


" Mereka memang hobby ngilang." Rayyan menggeleng sendiri, kemudian melanjutkan pekerjaannya.


Tepat satu jam kemudian dia selesai, Mira masuk tetapi sendiri tanpa anak-anak.


" Mereka mana?"


" Tidur."


Mira melangkah masuk ke kamar, duduk di dekat Rayyan.


" Mas kenapa gak kerja di kantor aja? Kan lebih bisa konsentrasi.


" Di rumah juga sama aja, masih bisa lihat kalian, gak melulu sama kerjaan."


" Emang kami gak ganggu."


Rayyan menutup laptopnya, kemudian meletakkan laptop ke sofa. Kembali lagi duduk bersandar seperti yang Mira lakukan sekarang.


" Ganggu kenapa? Justru karena dekat kalian mas jadi ada hiburan. Denger kalian bermain buat mas lebih semangat."


" Bukannya malah berisik?"


" Enggak!"


" Sini sih, deketan."


Akhirnya Rayyan yang bergerak mendekat, merebahkan tubuhnya dengan berbantalan paha Mira, sambil memegang tangan Mira.


" Yank."


" Hemm."


" Lusa mas pamit ya."


" Kemana?"


" Lampung."


Mira terkejut suaminya akan menyambangi tempatnya.


" Lampungnya dimana?"


" Mathew bilang di Metro, dimana sih itu?"


" Gak jauh mas dari rumah ibu. Ikut ya." Ucap Mira penuh harap.


" Mas ada kerjaan disana. Kalau kamu ikut ntar gimana sama anak-anak?"


" Kami ditinggal aja di rumah ibu."


" Emang rumah kamu sama Kota Metro gak jauh?"


" Sekitar 30 menit perjalanan."


" Kalau dari bandara jauh rumah ibu apa Kota Metro?"


" Jauh Metro mas, dari bandara nglewatin."


" Berapa kilo dari rumah sakit waktu kamu di rawat dulu?"


" Kalau dari rumah sakit ke rumah, sekitar 3 kilo."


" Mas cuma sehari disana, langsung pulang sorenya, gak sampai nginep."


Mira kecewa, dia pikir Rayyan akan beberapa hari disana.


" Bulan depan aja ya, nanti lama di rumah ibu enggak papa. Takutnya kembar kecapekan kalau sana-sini."


" Mas kan gak lama, subuh berangkat, malam udah pulang lagi."


" Iya." Mira kecewa.


" Jangan cemberut gitu." Rayyan mengusap lengan Mira.


" Udah lebih setahun gak pulang. Kangen rumah." Ucap Mira.


" Tinggal bulan depan sayank."


" Iyaaa." Mira mengangguk.


" Mas, kok pengen makan nasi padang yang waktu beli pas ngidam kembar ya?" Kata Mira tiba-tiba, membuat Rayyan memikirkan sesuatu.


" Jangan-jangan jadi yank."


" Kalau jadi berarti sarungnya bocor mas?"


" Masa iya."


" Ya kan udah di sarungin masa masih bisa masuk, berarti bocor itu!"


" Kamu yang bikin bocor ya?"


" Rugi amat dibocorin, enakan langsung."


" Set dah, udah berani sekarang ngomong soal gituan."


" Ya mas aja yang jurus kesitu. Aku cuma pengen makan nasi padang, mas mikirnya kesana."


" Ya kirain, pengen-pengen terus jadi."


" Si kembar masih kecil mas, masih repot. Kasihan juga kalau punya adek umur segitu, belum puas dapet perhatian udah harus dibagi lagi."


" Tapikan rame."


" Dua aja udah rame, apalagi kalau satu nangis terus nyusul satunya, rasanya bener-bener bikin kepala berasa hemm."


" Nikmatin aja yank, ntar kalau mereka udah gede gak bisa lagi ngrasain yang kayak gitu."


" Bikin lagilah."


" Sekarang aja yuk."


" Nasi padang aja belum dibeliin udah minta yang lain. Beliin dulu geh."


" Online aja ya."


" Tapi maunya yang tempatnya sama kayak yang waktu itu."


" Ntar dicek dulu, pakai aplikasi gak warungnya."


Rayyan mengecek nama warung nasi padang yang diminta Mira di aplikasi onlinenya.


" Ada. Mau pesen berapa?"


" Hitung sekalian susternya dedek, asisten sama satpam. Mas mau enggak?"


" Barengan aja sama kamu."


" Dua berarti yang buat kita, ntar jadiin satu makannya."


" Kebanyakan enggak?"


" Kita kan berempat mas, dua bungkus porsi yang pas. Jangan pake rendang tapi punyaku, pakai ayam kremes."


Rayyan hampir tertawa mendengar ayam kremes.


" Ngapa mas ketawa?"


" Ayam kremes."


" Kenapa sama ayam kremes?"


" Ayah muda keren bikin gemes."


" Di makan macan."


" Asiap! Yuk."


" Kemana?"


" Katanya macannya mau makan ayam kremes."


" Kamu macannya, terus mas ayam kremesnya, yuk silahkan dimakan. Mulai darimana, ayuk ajahhh!" Ucap Rayyan dengan nada menggoda, membuat Mira melengos.


" Giliran kesitu aja semangat."


" Sumber semangat ini yank, ngilangin kangen buat besok sama lusa pas pergi."


" Sekarang ya sekarang mas, besok urusan besok."


" Ya makanya, urusin dulu yuk yang sekarang, udah siap nih."


" Laper tapi."


" Baru dipesen."


" Kayak mana bisa kerja kalau laper?"


Rayyan tersenyum penuh arti, membuat Mira curiga.


" Mas aja yang kerja, kamu trima beres. Gimana?" Ucap Rayyan bersemangat.


" Gimana yaaaa?"


" Iya aja gitu lho. Biar cepet."


"Emmmm." Mira berpikir.


" Kayaknya gak bisa deh walaupun mas yang kerja."


" Kenapa?"


" Tanggalnya pas banget sama tamunya. Tadi pagi dateng."


" Ohhhh No! Harus puasa lagi. Sanguku hilang."