I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Demi Pahala



"Jangan takut Mathew, kami akan selalu ada jika kamu butuh." Papa Jo menepuk pundak Mathew.


Beralih ke Ajeng yang berdiri di samping Mathew.


" Kamu beruntung Ajeng, mendapat seorang pria yang keras dalam menentukan prinsip hidup. Semoga kalian berdua selalu bahagia."


" Trima kasih om."


" Trima kasih opa."


Jawab Mathew dan Ajeng bersamaan.


" Opa pamit. Khansa, tos dulu sama opa."


Seketika tangan kecil Khansa beradu dengan tangan besar opa, kemudian satu kiss bye dilontarkan oleh anak berusia 1,5 tahun itu.


Kekehan seketika terdengar, apalagi ketika anak itu mulai mengucapkan kata yang agak sulit diartikan.


" Sulit diartikan, tapi berarti ya Met."


" Setuju opa." Mathew mengusap sayang anak semata wayangnya.


" Opa pulang ya, oma udah nunggu."


" Hati-hati opa."


Opa mengangguk, kemudian masuk ke mobil. Membuka kaca mobil untuk melambai sebelum akhirnya mobil melaju membelah jalanan.


" Ayo masuk."


Mathew menutup pintu gerbang, kemudian membimbing keluarga kecilnya masuk ke dalam rumah.


" Akhirnya." Mathew merebahkan tubuhnya yang lelah ke atas ranjang.


" Ganti baju dulu mas." Ajeng berjalan ke kamar mandi bersama Khansa.


Mathew segera beranjak menyusul ke kamar mandi.


" Cuci kakinya."


" Yingiinn mammaaa." Rengek Khansa berusaha memeluk Ajeng, menghindari air yang menyentuh kakinya.


" Pakai yang hangat mama, yang ini." Mathew memutar kran yang berada di sebelah.


" Cuci kaki sama papa ya, sini." Khansa langsung berpindah ke Mathew yang berada di samping mamanya.


" Jangan lupa sikatin giginya mas, aku siapin baju dulu." Ajeng berlalu.


Mulailah kegiatan seru anak dan bapak di dalam kamar mandi. Yang tadinya hanya cuci kaki, kini tubuh mungil Khansa sudah basah kuyup, bahkan anak itu kini sedang bermain di dalam bathup, sementara Mathew menyikati giginya.


Ajeng menggeleng ketika masuk lagi ke kamar mandi, pemandangan yang membuatnya menahan rasa antara marah dan bahagia, akhirnya hanya hembusan nafas yang keluar.


" Jangan lama-lama mas, ini sudah malam."


" Iya mama, ini udah mau selesai." Mathew mengangkat tubuh mungil Khansa, membungkusnya dengan handuk lalu membawa keluar dari kamar mandi.


Dengan cekatan dia menggantikan Khansa baju yang sudah dipersiapkan oleh Ajeng.


" Sudah cantik anak papa."


" Ayoo, kita segera bobo. Mama tinggal aja."


Mathew memboyong Khansa ke atas tempat tidur, memeluknya sambil menepuk-nepuk pelan bok*ng Khansa. Begitulah biasanya Mathew menidurkan anaknya jika ditinggal lembur oleh Ajeng.


🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹


Azzura dan Azzam malam itu rewel, karena Rayyan belum pulang.


Kepergian Rayyan dari siang yang pamit menemui klien dari Jepang, hingga malam larut belum juga kembali.


" Mas, kamu dimana?" Mira berusaha menghubungi Rayyan.


Yang dihubungi ternyata sedang melakukan test drive di jalanan untuk uji keleyakan motor yang akan di produksi oleh perusahaan Jepang yang akan bekerja sama dengan Johan group, itu berarti perusahaannya juga yang akan memasarkannya. Jadi pak Yokomoto meminta secara langsung pada Rayyan untuk mencoba sekaligus memberi penilaian langsung pada produk baru yang sudah dirancang, namun belum berani produksi karena belum teruji.


" Mas Mathew, apa lagi sama mas Rayyan?" Suara panik Mira terdengar, hingga Mathew langsung beranjak pelan dari tempat tidur.


" Dia belum pulang?"


" Belum."


Mathew ikut bingung, seharusnya pertemuan dengan pak Yokomoto sudah selesai sore tadi saat dia selesai juga meeting dengan Nathan dan Alex.


Lalu kemana dia?


Mathew ikut panik, namun dia berusaha tenang.


" Biar aku cek dulu di kantor."


" Trima kasih."


Mathew segera menyambar jaketnya, menghampiri Ajeng yang berada di kamar bersama Khansa yang sudah terlelap.


" Papa ke kantor sebentar." Pamitnya pada Ajeng.


" Ada apa?" Ajeng mengerjap untuk menajamkam penglihatannya.


" Rayyan belum pulang."


Ajeng terkejut, dia lalu melihat jam di dinding.


" Sudah jam 10, kok bisa belum pulang?"


" Aku tidak tahu. Mira panik. Aku pergi dulu." Mathew mengecup singkat kening Ajeng sebelum berlalu.


" Hati-hati pa." Pesan Ajeng.


Sementara itu, di sebuah jengkel besar, Rayyan baru selesai memberi penilaian terhadap produk baru yang akan naik produksi. Kerja sama itu sukses.


" Saya langsung pulang pak Yokomoto."


" Silahkan."


Rayyan segera mengambil jaketnya di kursi ruangan tempat mereka melakukan pertemuan.


Rayyan pikir test drive itu tidak akan lama, tetapi diluar perkiraannnya ternyata banyak sekali kekurangan dari produk itu, sehingga dia harus meneliti lebih detail dan mendiskusikan lagi dengan para kliennya.


Ia berjalan tergesa, sambil merogoh saku jaketnya.


" Ya ampun!" Dia langsung melakukan panggilan ke nomor Mira.


" Mas, kamu dimana?" Suara Mira terdengar panik.


" Aku masih di kantor pak Yokomoto. Ini baru selesai, aku pulang. Maaf sayang, mas baru kasih kabar." Rasa bersalah langsung memenuhi hati dan pikiran Rayyan.


Baru telpon ditutup, panggilan dari Mathew masuk.


" Kamu dimana Ray? Aku di kantor."


Rayyan merasa bersalah, ternyata dirinya kini menjadi bahan pencarian.


" Aku baru selesai dengan pak Yokomoto. Ini mau pulang. Maaf sudah membuat bingung."


" Syukurlah. Segera pulang, istrimu menunggu."


" Ya ini mau jalan."


" Met, thanks ya."


" Sudah, sekarang pulang. Hati-hati. Aku juga mau pulang."


Rayyan segera melaju dengan kecepatan penuh, berharap segera sampai ke rumah dan segera bertemu dengan Mira. Dia tahu akan mendapat amarah karena telah membuat cemas istrinya itu, tetapi dia juga sadar itu kesalahannya.


Benar saja, begitu dia masuk rumah, di dapatinya Mira yang sedang berdiri di dalam ruang tamu.


" Mas." Dia segera menghambur kepelukan Rayyan.


" Aku sudah pulang. Jangan menangis." Rayyan memeluk erat Mira.


" Kenapa gak kasih kabar kalau pulang larut!"


" Maaf, mas juga tidak tahu kalau ternyata pertemuannya lama."


Mira melepas pelukannya.


" Si kembar rewel, aku bingung."


" Maaf, maaf. Besok gak gini lagi."


" Seenggaknya kasih kabar kalau pulang terlambat mas."


" Dua kali kamu menghilang tanpa kabar, aku takut!"


Memory Rayyan mengingat kejadian saat dirinya dikira kecelakaan pesawat beberapa bulan silam. Sampai sini dia paham bahwa komunikasi itu sangat penting.


" Mas janji bakal kasih kabar kalau pergi-pergi, biar kalian gak kawatir lagi."


" Maaf ya sayang." Rayyan menarik tubuh Mira, memeluknya erat.


" Ke kamar dedek yuk, mas kangen sama mereka."


" Mereka baru aja tidur, dari tadi rewel terus! Jangan diganggu, kasihan mbaknya."


" Lihat bentar aja ya, kangen banget mas."


" Siap sayang."


Rayyan membimbing Mira menuju kamar baby.


Membuka pelan pintu kamar agar tidak mengganggu penghuni yang sudah terlelap.


Tapi begitu masuk, para suster langsung sigap bangun lalu duduk.


" Tidur aja lagi. Cuma mau lihat bentar." Mira berbicara sambil berbisik kepada mereka kemudian melangkah menuju box bayi bersama Rayyan.


" Jangan disentuh!" Mira menepuk pelan tangan Rayyan yang terulur akan menyentuh salah satu anaknya.


Rayyan langsung menarik tangannya tak jadi menyentuh.


" Ayo keluar!" Mira menarik tubuh Rayyan membawa keluar, agar para suster bisa segera istirahat, mumpung anak-anak sedang tidur.


" Mas udah makan?" Tanya Mira saat mereka berada di dalam kamar.


" Udah tadi bareng klien di kantor pak Yokomoto."


" Mau mandi."


" He'em."


" Aku siapin dulu ya." Mira akan melangkah, tetapi Rayyan menahannya.


" Mau mandi pakai shower aja, biar cepet. Kamu istirahat aja."


Mira mengangguk. Rayyan segera masuk ke kamar mandi. Sedang Mira menyiapkan baju untuk Rayyan.


Hanya butuh 10 menit, Rayyan sudah keluar dengan penampilan yang lebih segar.


" Ini bajunya."


" Trima kasih."


Setelah berpakaian, Rayyan menyusul Mira yang sudah berbaring di ranjang.


" Tidur yuk."


" Mas capek ya."


" Capek banget tadi, tapi sekarang udah ilang, udah ketemu obat mujarab penghilang capek." Rayyan memeluk Mira.


" Mas."


" Hemm."


" Jangan diulang lagi ya." Mira menyusup di dalam pelukan Rayyan.


" Mas minta maaf."


" Besok enggak gini lagi."


" Malam ini pak Yokomoto terbang ke Jepang, jadi mau gak mau semua urusan harus selesai hari ini juga. Tahu sendiri orang Jepang kalau bekerja, mereka terlalu menghargai waktu, tak mau menyianyakan kesempatan."


" Dan kesempatan dia bisa bertemu mas langsung hari ini dia gunakan sebaik mungkin. Karena dia bilang mau ketemu mas susah banget."


" Jadi mas dijadikan tawanan sama dia karena aji mumpung mas."


" Gak tiap hari yank. Besok lagi kalau ketemu yang begini mas minta waktunya pagi aja, biar selesainya gak malam."


" Kerja sampai malam enggak papa mas, yang penting kasih kabar."


" Iya.... Iya..."


" Kalau aku panik, anak-anak ikut rewel."


" Maaf lagi deh."


" Aslinya keluar lagi!"


" Apa?"


" Nyebelin!"


" Tapi ngangenin khan!"


" He'em."


" Ini udah ketemu."


" Ya emang udah."


" Terus kalau udah ketemu diapain?!" Tangan Rayyan mulai menyusup dibalik baju depan Mira.


" His! Geli tau!"


Rayyan terkekeh, kemudian tangannya pindah ke bawah, meremas sesuatu disana.


" Mas ih!"


" Ini gak boleh, ini juga. Terus mana yang boleh?"


" Gini aja!" Mira meletakkan tangan Rayyan di lingkaran tubuhnya.


" Masa iya cuma meluk yank."


" Tidur mas udah malam!"


" Ya kan bisanya juga cuma malam yank." Protes Rayyan.


" Hukuman karena pulang telat, jadi jatah lewat!"


" Mau dapet pahala enggak?"


Kalau sudah begini, Mira bisa apa selain memenuhi keinginan sang suami demi imbalan mendapat pahala.


" Asyeek." Rayyan kegirangan.


" Sekali aja tapi."


" Ya, tapi selanjutnya gak janji."


" Hissss! Selalu gitu!"


" Lha terus gimana?"


" Terserah mas ajalah!"


" Iya bener emang terserah mas.... Hihihi." Rayyan terkikik.


" Tuh kan nyebelin! Buruan, jadi enggak nih."


" Jadi apa emang." Rayyan malah pura-pura polos, sedangkan Mira semakin kesal dengan kelakuan Rayyan.


" Hitungan ketiga, gak jadi aku tidur ini!" Ancam Mira. Dia mulai menghitung.


" Satu."


" Dua." Sahut Rayyan, dan itu sukses membuat Mira dongkol.


" MAS!"


" Apa sayang."


" Nyebelin!" Mira berbalik, menyelimuti semua tubuhnya, seolah membentengi diri dengan kain lebar itu, namun sejurus kemudian selimut itu tersibak karena ulah tangan nakal Rayyan.


" Mulainya itu gak gitu sayang, ini bukan lomba jadi gak pakai hitungan."


" Sini geh mas ajarin caranya."


Rayyan membalikkan tubuh Mira, tetapi Mira tetap bertahan dengan posisinya membelakangi Rayyan. Tapi bukan Rayyan jika menyerah hanya karena masalah posisi. Kini dirinya berbaring merapat pada tubuh Mira, membuat tubuhnya sendiri berada diposisi yang sama seperti Mira, hingga dia bisa dengan mudah mengakses bagian mana yang ingin dia sentuh.


Mira menggeliat, ketika Rayyan mulai bermain dengan leher dan belakang telinganya, sedangkan tangannya menyusup di balik kain di tubuh bagian depannya, perlahan tapi pasti, memberikan sentuhan lembut disana, tak perlu keras, tetapi nyatanya sentuhan lembut itu kini sudah membuat yang lembek menjadi keras, hingga sang pemilik tak bisa lagi bertahan dengan posisinya akibat tangan nakal yang bergerak lincah membangunkan sesuatu yang memang seharusnya bangun, pertanda jika pemiliknya masih sehat dan normal. Apakah itu? Entahlah!🤗


🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹


Hay... Hay... Hay.... Para reader's ku sayang, kumahak damang? Piye kabare? Apa kabarnya?


Sudah lama tak menyapa, jadi lupa kan kalian sampai gak kasih otor dukungan. Cuma baca langsung lewat. 😭😭😭😭


Sayanggggg... Otor disini rindu kalian, rindu dukungan kalian.


Mawar yang bertebaran, kopi hitam yang menemani saat ingin lembur, karena gak pernah dapet lagi, otornya jadi lemes ini!


Apalagi vote, udah sepekan gak ada yang nyisain buat karya ini.


Tapi enggak papa lah ya. Yang penting kalian jangan lupa doain otornya biar tetap sabar dan tabah.


Cuma pesen aja, ada karya baru yang udah rilis cukup lama. Slow update tapi kejar tayang untuk beberapa minggu ini.


Yuk dikunjungi, gak kalah seru dari si ENCUS.


Judulnya WHO'S YOUR DADDY MY SON?


Klik aja profil Fillia, ntar nongol itu judul.


Selamat membaca 🤗


Hatur nuhun, matur nuwun, trima kasih, thank you very much 😉