I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Tetap Bersyukur



" Ini rumahnya. Semoga betah."


Alex mengantarkan tamunya ke rumah mertuanya yang tidak ditempati, tetapi tiap hari ada yang membersihkan.


" Adem, enak, nyaman." Mira menilai rumah yang akan mereka tempati.


" Tinggal aja selama yang dimau."


" Trima kasih."


" Kamar ada 4 ruangan, di sebelah sana, disana dan di depan satu."


Alex menunjukkan kamar-kamar yang sudah siap huni , karena dia meminta orang yang bekerja di rumah itu untuk menyiapkan.


" Kok gak ditempati kenapa Al?" Tanya Mathew.


" Mertua ikut ke rumah aku. Gak tega ninggalin sendiri di rumah."


" Ini kamar mandi luar, tapi di masing-masing kamar sudah ada. Terus sebelah sini dapur. Kulkas juga udah ada isi."


Alex mengajak tamunya berkeliling ke seluruh ruangan, beserta keluarga.


" Met, gue pilih kamar disini." Rayyan masuk ke kamar yang dulu ditempati Xandra, istri Alex.


" Aku sama Ajeng di depan aja."


" Kita kesana ma." Mathew mengajak keluarganya ke kamar depan.


" Mbak, itu ada kamar 2, mau sendiri-sendiri atau barengan silahkan." Ucap Rayyan pada dua suster si kembar.


" Anak-anak tidur sama kami." Ucap Mira.


" Iya bu, kami barengan aja kamarnya."


" Silahkan istirahat dulu, biar anak-anak kami yang pegang." Mira masuk ke kamar dan para suster langsung menuju kamar mereka.


Rayyan dan Alex berkeliling di luar, di halaman luas yang ditumbuhi banyak pohon buah.


" Enak disini." Rayyan mengedarkan pandangan di sekitar halaman, kemudian duduk di kursi panjang yang ada di bawah pohon.


" Ini kursi ada kenangannya." Alex ikut duduk.


" Berkesan banget pasti." Ucap Rayyan.


" Disini aku sama istri jadian."


" Gak dikerubung nyamuk."


" Iya sih, tapi lebih berasa romantisnya."


" Di kebon, gelap-gelapan, cuma ada temaram lampu sama sinar bulan." Alex terkekeh mengingat kejadian itu, dimana si Joya merusak acara romatisnya dengan sang calon istri.


" Kalau lu, gimana? Nemu dimana tuh bini?"


" Kalau gue ceritain pasti lu gak bakal percaya."


" Emang lu nemunya dimana?" Alex malah penasaran.


" Lihat foto di hp."


" Buset! Love by phone." Tebak Alex.


" Bukan gitu. Gue lihat foto dia di hp. Waktu itu mbak Rita minta gue jemput suster anaknya, terus dikirim foto, pas lihat wajahnya di foto udah langsung kayak ada magnetnya, tertarik terus kayak falling love gitu." Kenang Rayyan.


" Lu langsung bilang sama dia kalau lu suka?"


" Gaklah, butuh waktu tapi cuma dua hari. Karena waktunya mepet, gue harus terbang ke Portugal."


" Langsung diterima?"


Rayyan menggeleng.


" Dia sulit ditaklukan."


" Ditolak dong?" Alex tertawa mengejek.


" Bukan ditolak, tapi gak dijawab."


" Terus?"


" Gue datengin lagi subuhnya."


" Widih, pantang nyerah. Hasilnya?"


" Nihil, dia malah kayak orang bingung."


" Akhirnya?"


" Pepet terus, masa iya gak bakal kena."


" Emang hobby lu kalau masalah mepet."


" Daripada lepas, gitu aja hampir disrobot orang."


" Kalau kalah, reputasi lu hancur. Pembalap international ditolak baby sitter." Alex tergelak.


" Gue jadi owner lambe-lambean tak bikin trending topik." Ejek Alex.


" Gaklah, meskipun jauh, tapi jarak gak masalah buat gue Al. Nyatanya dia tetep milih gue."


" Iyalah percaya, pesona seorang rider tak bisa dikalahkan."


" Kok gak cari dari kalangan model, banyak yang sexy, berkelas."


" Bukan tipe gue, gak suka yang udah second."


" Dia masih murni?"


" Nanyanya jangan kesana, rahasia rumah tangga!"


" Hahahaha! Malu kan lu?!" Ledek Alex, dan wajah Rayyan yang memerah menunjukkan bahwa tebakannya benar.


" Beruntung lu, hari gini bisa dapet yang ORI."


" Emang lu gak?" Tanya Rayyan.


" Jangan nanya ke sana, rahasia rumah tangga!"


Gantian Rayyan yang tergelak. Tapi tawanya terhenti ketika sosok perempuan berjalan menghampiri mereka.


" Bisa minta tolong beliin susu? Gak kebawa, mbaknya lupa." Mira memberikan dompet pada Rayyan, itu berarti tidak boleh ada penolakan dan jawaban harus ' Ya '


" Perempuan suka gitu, minta tolong tapi maksa." Gumam Alex.


" Lu juga?" Tanya Rayyan, Alex mengangguk.


" Anehnya gak bisa nolak."


Mereka tertawa bersama.


" Begitulah kalau cinta."


" Gue pergi dulu ya."


Alex ikut bangkit, masuk rumah setelah Rayyan pergi.


" Met, gue pulang dulu ya." Pamitnya saat berpapasan dengan Mathew di teras.


" Ok, thanks ya."


" Sampai jumpa besok." Alex melambai sebelum masuk ke mobilnya.


Mathew hanya mengangguk, karena tangannya sibuk menggendong Khansa.


Ajeng dan Mira langsung berada di dapur. Sementara si kembar bersama para suster.


" Mama bawain bekalnya banyak banget." Mira membuka satu-satu kotak makanan yang dipersiapkan oleh mama Sarah.


" Bersyukur Mir, punya mertua pengertian, sayang pula." Ajeng membantu memanaskan makanan.


" Hemmm, doa yang terbaik aja buatmu Jeng." Mira tersenyum kikuk pada Ajeng yang sedang di depan kompor.


" Makasih Mir, tapi ngomongin mertua, aku juga pernah punya mertua baik."


" Emaknya Bobby?" Tebak Mira.


Ajeng tertawa.


" Dia mertua terbaik yang aku punya."


" Aku gak tahu harus bantu kamu kayak mana menghadapi mamanya mas Mathew."


" Dulu waktu aku menghadapi ibunya mas Bobby, aku sempet putus asa Jeng. Tiap ketemu dia, aku selalu salah selalu buruk, bahkan aku tidak melakukan apapun, tetapi dia nuduh aku melakukannya."


" Kamu dituduh apa?" Tanya Ajeng.


" Jadi pelakor."


" Ihhh, serem." Ajeng bergidik " Padahal aku yang jadi pelakor waktu itu." Lanjutnya.


" Bener!" Mira tertawa.


" Kok bener?"


" Ya bener, kamu waktu itu yang jadi pelakor antara aku sama mas Bobby. Kok tega ya kamu Jeng?"


Ajeng jadi merasa bersalah.


" Maafkan aku Mir."


Perubahan wajah Ajeng membuat Mira tergelak.


" Masa lalu biarlah masa lalu, jangan diungkit lagi. Tatap masa depan sama yang sudah ada, rajut mimpi indah agar saat bangun hanya ada senyum."


" Tapi aku berterima kasih sama kamu, berkat kamu aku bisa mendapat pengganti yang lebih baik, dan bonusnya yaitu mertua yang baik juga."


" Kamu pantas mendapatkannya Mira, karena kamu juga orang baik, hatimu seperti malaikat."


" Heleh! Lebay kamu Jeng!" Mira melambung.


" Serius Mir, gak ada orang seperti kamu. Sudah Disakiti, tapi masih mau merangkul bahkan mau menerimaku sebagai sahabatmu lagi, walaupun hanya rasa sakit yang bisa aku berikan untukmu."


" Aku hanya tak ingin menyimpan dendam Jeng."


" Waktu itu mungkin jalannya aku harus melewati kesusahan untuk bisa sampai di tempatku saat ini. Sakit yang aku lewati, tapi kini aku bahagia."


" Berbanding terbalik denganku Mir, dulu aku bahagia tapi sekarang sakit. Karma is real."


" Jangan katakan itu Ajeng. Mas Mathew pasti bisa membuatmu bahagia. Dia pria yang tepat untukmu, walaupun jalannya tidak mudah, aku yakin kalian akan bisa melewati semuanya."


" Harapanku juga begitu Mir."


" Tetaplah berharap selama kita bernafas."


" Ini sudah, mana lagi yang mau dipanaskan?"


" Ini digoreng lagi." Mira membawa kotak berisi ayam ungkep.


" Mau digoreng apa ditambah kecap aja?"


" Itu udah ada sayur, enaknya di goreng." Jawab Mira.


" Kasih sedikit tepung, itu kayaknya di wadah ada." Tunjuk Mira pada wadah berisi bubuk berwarna putih.


" Apa ayamnya mau di kasih tepung?" Ajeng bingung.


" Bukan ayamnya, minyaknya kasih tepung sedikit, kayak gini." Mira menaburkan sejumput tepung di minyak panas.


" Biar ngapa?"


" Biar gak meletup. Coba kamu masukin ayamnya."


Ajeng mengambil satu persatu potongan ayam, memasukkan ke dalam minyak.


" Bener. Dapat resep darimana?" Tanya Ajeng.


" Mas Rayyan yang kasih tau."


" Iri aku Mir sama kehidupanmu. Punya suami idaman banget."


" Mas Mathew juga sama Jeng, dia papa idaman. Kamu kerja lembur malam, dia jaga anak di rumah."


" Setiap orang punya kelebihan dan kurangnya masing-masing."


" Aku gak jamin mas Rayyan bisa jaga si kembar sendiri kalau aku tinggal pergi."


" Belum ada sejam aku titipin, si kembar udah kocar-kacir kemana-mana. Mas Rayyan payah kalau suruh jaga anak."


Ucapan Mira membuat Ajeng sadar bahwa dia harus bersyukur memiliki suami seperti Mathew, walaupun Mathew tak bisa memperlakukannya seperti Rayyan ke Mira, tetap ternyata Rayyan juga tidak bisa melakukan apa yang dilakukan Mathew untuknya.


" Apapun yang kamu dapat, selalu syukuri itu. Karena apa yang menurutmu beruntung orang lain mendapatkannya, belum tentu orang lain bisa bersyukur dan terkadang malah melihatmu lebih beruntung mendapatkan bagianmu."