I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Wibawa seorang ayah



Sampai sore drama yang dibuat Gea masih berlanjut. Seolah ingin membuat Mira tidak betah bekerja disana. Bahkan Rayyan tak jadi pergi ke bengkel dan Sigit juga bolos kuliah gara-gara Gea.


Setiap Mira mendekat ke Geby, maka amarahnya semakin menjadi dan mbak Sri hanya bisa mengelus lengan Mira, merasa iba.


" Sabar ya mbak Mira, anaknya emang begitu. Tapi nanti kalau bapak pulang, dia baru bisa berhenti, karena takut sama bapak."


Mira mengerti, dia pun juga begitu saat masih ada ayah, takut jika ayahnya marah, tapi sekarang seorang ayah yang ia takuti, seolah sirna , tak ada lagi yang harus ia takuti kecuali Tuhan dan ibunya.


" Dia itu sebenarnya hanya mencari perhatian, nanti lama-lama juga luluh mbak, yang sabar ya."


Mira mengangguk dan tersenyum, mengajak Geby ke dapur untuk menyuapinya, meninggalkan Rayyan yang sedang menunggu Gea. Menghukum anak itu dengan tidak boleh pergi kemanapun selama kedua orang tuanya pulang.


" Mau kemana?" Hardik Rayyan pada ponakan nakalnya yang akan melangkah masuk.


" Poop." Sambil meringis memegangi perut.


" Sama encus." Ucap Rayyan.


" No!"


" Kalau begitu, tetap disitu!"


Gea melirik sadis pada omnya itu.


" Tapi perutku sakit om." Rintihnya.


" Sama encus atau tidak sama sekali!"


Gea mencembik mendengar pilihan yang diberikan oleh omnya. Tak ada pilihan lain, karena perutnya sangat mulas. Dan dia sudah tak tahan lagi.


" Encuuuuuus...." Teriaknya.


" Panggil yang sopan!" Tegas Rayyan, membuat Gea mencembik lagi, tapi perutnya semakin mulas.


" En... cus." Kali ini dengan suara yang dibuat-buat agar terdengar manis.


Mira muncul sambil menggendong Geby dan mangkuk di tangannya.


" Aku mau poop." Rengek Gea, " om bilang kalau gak sama encus, aku gak boleh pergi dari sini." Dia mengapit kedua pahanya sambil menyelipkan tangannya diantara bokongnya, menahan sesuatu yang akan segera keluar. Kadang kakinya berjingkat.


Mira meletakkan mangkuk ke meja, akan mengantar Gea.


" Sini sama om." Rayyan meminta Geby dari Mira, tapi Geby tak mau lepas dari Mira malah semakin erat memeluk tubuh Mira dan melingkarkan kedua tangannya di leher dan menyusup masuk di dada Mira, tak ingin melihat wajah Rayyan.


Cekkk!


Rayyan berdecak, merasa kesal dengan kedua ponakannya. Pantas saja, tidak ada yang betah bekerja disana.


" Ya sudah ayok."


Mira memandang memelas pada wajah Gea yang memerah, menahan sakit perutnya. Gea akhirnya menurut, berlari menuju kamar mandi diikuti Mira sambil menggendong Geby.


" Temenin ya cus."


Mira mengangguk dan tersenyum, senyum yang membuat siapa saja meleleh, bahkan Gea kini tak masalah ketika Mira membantunya mengenakan kembali celananya setelah selesai.


" Ma kasih encus." Ucapnya.


Mira memandang lagi wajah Gea yang tersenyum padanya.


" Ok manis, ayo keluar. Makan dulu ya." Ajak Mira.


" No!"


" Why?"


" I'm not hungry."


" Tapi cacing diperutmu minta makan, kalau tidak nanti dia makan perutmu sampai terluka, makanya ada yang sakit perut gara-gara enggak makan itu karena cacing di dalam perut marah minta makan dan gigitin perut."


" Ih..... Mana ada cacing diperut?" Gea tak percaya, tapi Mira tak kurang akal.


" Gea pernah dikasih obat cacing gak sama mama?"


Gea mengangguk, membuat senyum terbit diwajah Mira yang langsung dipukul kecil oleh Geby, membuat Gea menahan tangan adiknya.


" No! Jangan nakal dek, nanti encus nangis lho."


Cegahnya sambil meletakkan tangan adiknya di


pundak Mira.


Sebenarnya kamu tadi kanapa?


Batin Mira saat melihat langsung perubahan sikap Gea.


" Makan dulu yuk."


Gea mengangguk dan mengandeng tangan Mira keluar dari kamar mandi.


Memandang keakraban Gea dan Mira, membuat Rayyan memandang aneh pada tangan Gea yang bertaut erat dengan Mira.


Mira tersenyum melihat raut wajah bingung Rayyan.


" Tunggu sini, encus ambilin maem dulu ya. Mau apa?"


" Telur mata sapi." Gea duduk di dekat Rayyan.


" Tapi mbak Sri masak sayur enak lho." Bujuk Mira agar Gea tak meminta lauk yang selalu diminta saat makan.


" Sayurnya pahit." Tolaknya.


Mira menyuap satu suapan pada Geby, nasi dan sayur sup berisi wortel.


" Nyam.... Enyak encus." Geby mengunyah wortel yang ada di gigitannya.


" Gak pahit dek?"


Gea memandang ngeri pada potongan wortel, kentang dan brokoli yang ada di mangkuk adiknya.


" Mau coba?" Mira menyodorkan wortel di sendok di depan mulut Gea, tapi Gea mundur, seolah melihat jamu yang pernah diberikan paksa oleh mamanya saat ia tak doyan makan.


" Ini manis lho."


" Aaaa...."


Mira menyodorkankan lagi wortel yang masih ada di sendok itu, namun bukan Gea yang menyantap tapi malah Rayyan.


" Kelamaan kamu itu, kasihan encus capek tangannya."


Alasan yang meluncur begitu saja, agar tak membuat Mira berpikir dirinya aneh. Tapi memang aneh.


Mira diam, mematung dengan tangan masih memegang sendok kosong di depan Gea.


" Aaaa.... Cus." Geby menggoyangkan tangan Mira minta disuapi lagi. Baru Mira tersadar dan kembali menyendok satu suapan untuk Geby.


" Duduk Mbot, kasihan encus tuh."


Lagi Rayyan menunjukkan keanehannya, padahal suster yang sudah-sudah tidak ada yang dapat perhatian darinya, tapi yang satu ini malah dia yang cari perhatian.


Empat pasang mata yang berada di pintu samping memperhatikan gelagat Rayyan. Sengaja tak ingin muncul, ingin melihat lebih lanjut apa yang akan dilakukan oleh adiknya itu.


" Sini duduk sama om." Rayu Rayyan sambil berdiri, mengulurkan tangan pada Geby.


" Encus biar ambil maem untuk kakak ya."


" Enggkut." Geby makin kencang memeluk Mira, Gea kasihan melihat encusnya yang harus menggendong adiknya itu kemana-mana. Bahkan walaupun dia sudah mengajak paksa tadi, si adek tetap nemlpok aja sama Mira.


" Turun yuk dek, maen sini sama kakak."


Gea mulai beraksi dengan menarik kaki Geby.


" Ayok dek, turun sini." Kini ia mulai akan mengambil Geby dari belakang, membuat Geby mulai menangis, tak ingin dipaksa pisah dengan Mira.


" Dek, cepetan ayok." Mira jadi kualahan, apalagi kini Gea mulai memaksa mengendong Geby yang mulai meronta.


Kedua orang di balik pintu tetap bertahan, ingin melihat lebih jauh apa yang akan dilakukan Rayyan. Jika melihat anaknya, sudah biasa bagi mereka. Bahkan pusing akibat polah Gea sudah jadi makanan sehari-hari, tapi melihat perubahan seorang Rayyan, adalah hal baru bagi mereka.


Rayyan ikut membantu memisahkan Gea dari Geby, kasihan dengan Mira yang bingung harus bagaimana lagi.


" Mas Sigit." Mira berteriak memanggil Sigit untuk membantunya membawa Gea yang tak ingin melepas adiknya.


Sigit langsung berlari dari luar dengan penampilan rambut basahnya akibat terkena air saat mencuci mobil, membuat siapa yang memandangnya seolah memandang seorang model pria yang sedang foto shot di kolam renang. Seksi.


Tapi Mira tak melihat itu, hanya Rayyan yang merasa bahwa Sigit akan menjadi saingan beratnya, mengingat Sigit selalu berada di dekat Mira.


Rayyan langsung menggunakan jurus andalanya untuk merayu Gea, agar melepaskan adiknya.


" Gea lepas Geby, ikut om ke timezone yuk."


Seketika tangan kurus bertenaga itu melepas tubuh Geby dan berbalik menatap wajah Rayyan.


" Cius om? Ok! Let's go."


Dengan bersemangat Gea langsung melompat meminta gendong pada Rayyan, membuat dua manusia yang sedang berada di balik pintu muncul seketika.


" No! Tidak ada timezone! Belajar sekarang!"


Mama dan papa Gea muncul dengan berkacak pinggang, menghadang Rayyan yang akan keluar mengajak Gea.


Rayyan menyeringai senang, mendapat pertolongan dari kedua kakaknya, yang muncul tepat waktu, agar dia tak perlu menuruti Gea yang akan menguras habis uang tunainya untuk membeli koin.


" Listen to your parents girl!"


Rayyan menurunkan Gea yang menunduk takut saat berhadapan dengan sang papa.


" Ok." Gea berbalik berjalan ke arah Mira.


" Encus makan."


" Pakai sayur." Pintanya pada Mira yang memandang memelas pada bocah yang sedang memeluk lengannya.


" Ok, duduk sini, ncus ambil makan dulu ya."


" Makan di ruang makan Gea!" perintah papanya.


Mira memandang seorang pria yang tak berbeda jauh dari Rayyan, mungkin hanya terpaut 2 atau 3 tahun. Bedanya yang ini lebih berisi, sedangkan Rayyan lebih terlihat ramping jika dilihat dari balutan pakaian yang mereka kenakan.


Gea menurut saat Mira membawanya ke ruang makan, dan duduk dengan tenang menunggu Mira menyiapkan makanan untuknya.


Rayyan kasihan sebenarnya melihat Gea, tapi dia juga tak bisa berbuat apapun jika sudah berhubungan dengan kakaknya.


" Jangan terlalu memanjakannya, dia sudah besar." Begitulah Jonathan selalu berucap setelah melarang anaknya.


" Tapi jangan terlalu keras sayang, kasihan." Bu Rita mengelus dada bidang suaminya.


" Mereka akan tahu jika sudah besar, bahwa kerasnya pendidikan yang mereka dapat itu untuk kebaikan meraka. Jadi kadang itu juga perlu, agar mereka tidak manjadi anak yang kurang didikan, dan tahu menghargai orang lain."


Bu Rita tahu bahwa suaminya benar, hanya saja sebagai seorang ibu, hatinya kadang tak rela melihat anaknya dibentak oleh orang lain, walaupun itu adalah suaminya sendiri. Tapi ia juga sadar bahwa suaminya juga berhak mendidih anaknya.


" Nge- teh dulu yuk." Ajaknya, agar suaminya mereda.