I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Harus Kuat



Dokter Ajeng dan satu orang bidan akhirnya datang ke rumah Rayyan, gara-gara Rayyan geger agar Mira diperiksa.


Sikap santainya sang istri seharusnya membuat sang suami tenang, tetapi ini malah terbalik.


Berjalan mondar-mandir di depan pintu kamar menunggu Mira diperiksa.


Begitu pintu dibuka, dia langsung menerobos masuk.


" Gimana?" Sikapnya yang tak sabaran membuat yang lain ingin membawa Rayyan menjauh dari Mira.


" Hanya kontraksi palsu, ini biasanya terjadi di minggu-minggu akhir menjelang kelahiran."


Jelas dokter Ajeng.


" Lalu bagaimana selanjutnya?"


" Ya selanjutnya kita tunggu saja, sambil memberi support pada Mira pak Rayyan, buat dia senyaman mungkin, pikiran juga harus tenang."


" Kamu gak lihat dia Jeng.... Hahaha." Mira tak bisa menahan tawanya melihat bagaimana paniknya Rayyan.


" Kayak dia yang mau lahiran aja, udah tegang banget." Mira keluar kamar, bergabung dengan keluarga yang lain yang sedang ngobrol di ruang keluarga.


" Gimana Mir?" Tanya mama Sarah.


" Kontraksi palsu ma, belum."


" Sekarang masih mulas enggak?"


" Enggak, biasa aja, paling kalau babynya gerak aja rasanya kenceng."


Dengan susah payah Mira duduk di sofa, di sebelah Sania dan Sigit.


" San, dua aja berat begini, awas dia mau tiga lho!" Mira menggoda Sania dan Sigit.


" Iya tiga enggak papa, tapi dia yang hamil." seloroh Sania.


" Mana bisa dek, kecuali kalau aku berubah jadi Sigita."


Tawa meledak di ruang tengah, berbeda dengan kejadian di dalam kamar Mira. Rayyan tergolek lemas di dalam kamar, merasakan punggungnya sakit dan perutnya mulas, mual dan ingin muntah. Bolak-balik kamar mandi, tapi tidak ada yang mengetahuinya, karena semua keluarga ada di ruang tengah.


" Jeng, makasih ya. Bu Asih trima kasih." Ucap Mira, saat mereka akan kembali ke rumah sakit.


" Sama-sama Mir. Kalau sewaktu-waktu ada tanda yang seperti aku bilang tadi, segera ke rumah sakit ya." Pesan Ajeng.


" Siap bu dokter." Mira memberi hormat layaknya tentara.


" Om, tante... Semuanya aku pamit." Ajeng melambai.


" Mammmaaa..." Baby Khansa keluar dari kamar tamu di gendong Mathew, ternyata anak itu baru bangun dari tidur. Dan kata yang diucapkan yang sekilas seperti menyentuh Ajeng " Mama" Membuat semuanya bersorak.


" Wah... Dia mulai ngomong."


Ajeng langsung mengambil alih menggendong baby Khansa, menyiuminya berkali-kali, antara gemas dan bahagia berbaur menjadi satu.


" Anak mama bisa panggil mama sekarang." Ajeng berucap masih dengan menekan pipi gembul baby Khansa dengan hidungnya.


" Mas, aku berangkat lagi ya. Titip dedek." Ajeng mengarahkan lagi baby Khansa ke Mathew.


" Ya hati-hati." Ucap Mathew sambil melambai.


" Rayyan mana Mir?" Tanya papa Jo.


" Tadi di kamar pa."


" Dia enggak kenapa-napa kan?"


" Tadi cuma panik, tapi entah... Aku lihatnya dulu." Mira beranjak ke kamar. Membuka pintu dan terkejut melihat Rayyan lemas di atas tempat tidur.


" Masss... Kamu enggak papa?" Mira mendekat, dia sekarang cemas melihat keadaan Rayyan.


" Masss."


" Pinggangku sakit yank, mual rasanya."


" Tunggu bentar."


Mira segera mengambil hp di atas meja, menghubungi Ajeng.


" Jeng, udah berangkat belum. Balik lagi gih, Mas Rayyan kayaknya butuh pertolongan ini!" Mira cemas melihat Rayyan memegangi pinggangnya.


" .........."


" Cepetan aku tunggu."


Mira mematikan telpon, lalu duduk di ranjang di samping Rayyan.


" Mas... Sini aku pijitin."


Rayyan menggeser tubuhnya agar Mira bisa menjangkaunya.


" Sebelah sini ya." Mira mulai memijat, kadang mengelus.


Rayyan memejam ketika perutnya terasa mual lagi.


" Kenapa?"


" Sebentar, mual." Rayyan langsung bangkit dan lari ke kamar mandi.


" Ya ampun kenapa dia?" Mira beranjak bangun ikut ke kamar mandi, membantu Rayyan dengan memijat tengkuknya.


" Kok enggak keluar apa-apa mas, kan baru selesai makan?" Mira heran kenapa hanya air yang keluar, seharusnya ada makanannya juga.


" Ini yang ke-3." Rayyan mendongak, untuk meredakan nafasnya.


" Ya ampun mas." Kini Mira jadi panik, keluar dari kamar mandi langsung menuju dispenser mengambil air hangat untuk Rayyan, bertepatan dengan masuknya Ajeng dan mama Sarah.


" Rayyan kenapa Mir?" Mama Sarah kawatir.


" Muntah-muntah ma, pinggangnya juga sakit katanya."


Mira menyusul lagi Rayyan yang masih menekuri wastafel.


" Minum dulu."


" Ma kasih."


" Ajeng udah datang, biar diperiksa dulu ya."


Mereka keluar dari kamar mandi, dan melihat beberapa anggota keluarga yang lain di dalam kamar.


" Ya ampun Ray, kok jadi kayak gini. Harusnya kamu itu yang tenang, wong istrimu aja anteng malah kamu yang begini." Mama Sarah membantu Rayyan berjalan sampai di ranjang.


" Namanya terlalu cinta ma, ya begitu." Papa Jo tersenyum.


" Lha terus kalau kayak gini gimana mau jadi suami siaga?"


Dokter Ajeng mulai memeriksa keadaan Rayyan.


" Agak tinggi tekanan darahnya." Ucap Ajeng setelah melakukan tensi darah.


" Sudah muntah berapa kali?" Tanya Ajeng.


" 3 kali."


" Kalau berlanjut harus di opname ya pak." Saran Ajeng, otomatis Rayyan langsung menggeleng.


" Makanya kamu harus jadi kuat, tenangin pikiran Ray, jangan panik begitu." Ucap mama Sarah.


" Ini belum seberapa, nanti kalau pas waktunya lahir, Mira bukan hanya mulas, tapi kesakitan yang luar biasa, diibaratkan itu 20 tulang patah bersamaan. Bayangkan saja Ray, jadi suami kamu harus kuat, bisa mendampingi istrimu disaat seperti itu. Bukan malah teler duluan."


" Patah satu aja sakitnya minta ampun ma, apalagi 20." Protes Rayyan.


" Nyatanya itu yang dirasakan ibu saat melahirkan Ray, ya enggak Jeng." Mama minta dukungan.


" Iya oma, tapi sakitnya langsung hilang waktu mendengar tangis baby." Ajeng mengenang masa sulit dimana dia harus berjuang sendiri di kamar persalinan, hanya ditemani oleh dokter dan perawat.


" Kalau Mira enggak mulas, enggak sakit ya nanti anakmu enggak keluar-keluar. Emang kamu mau?"


Rayyan menggeleng, jelas dia sangat ingin melihat anak-anaknya lahir, tetapi tak tega melihat Mira harus kesakitan.


" OP aja ya yank."


" Kalau OP kan prosesnya enggak sakit ma."


" Prosesnya emang enggak sakit Ray, tapi setelahnya sakitnya luar biasa. Yang enggak sakit tu proses buatnya, belum selesai aja udah minta nambah, hayo ngaku, iya nggak!"


" Jangan bahas itulah ma, malu!" Ucap Rayyan.


" Tau malu kamu? Kiranya cuma punya ********!" Mama kesal sekarang.


" Kalau OP itu memang prosesnya enggak sakit, tapi giliran harus mengurus bayi, punggung ibu yang habis di suntik bius rasanya sakit luar biasa. Mau gerak susah, kan lebih kasihan to."


" Entahlah!" Rayyan tengkurap tak sanggup membayangkan bagaimana nanti Mira harus merasakan proses panjang yang menyakitkan juga melelahkan itu.


" Bisa bicara berdua Mir?" Ucap Mira, Mira mengangguk dan mengikuti Ajeng keluar dari kamar.


" Apa?"


Mereka kini duduk di teras berdua.


" Pak Rayyan itu terkena sindrom couvade."


" Apa itu?"


" Sejenis kehamilan simpatik, dimana suami bisa merasakan apa yang dirasakan istri saat hamil atau melahirkan."


" Seperti sakit pinggang, mual, muntah dan nyeri dibagian perut sama seperti saat ibu hamil akan melahirkan."


" Tapi aku belum terasa tuh."


" Itu karena suamimu yang merasakan Mir."


" Bisa begitu, terus gimana ngilanginnya?"


" Kalau anakmu lahir baru nanti itu hilang sendiri." Ucap Ajeng.


" Bentar Jeng, aku kebelet nih!" Mira langsung berjalan menuju kamar, dimana disana masih ada papa Jo, mama Sarah dan Mathew yang menggendong baby Khansa.


Ibu Reni dan bu Santi serta Sania terdengar di dapur, dan pak Subagio serta Sigit ngobrol di teras depan.


Keluarga Nathan pamit duluan, ada acara di tempat lain.


" Kok buru-buru Mir?" Tanya mama Sarah ketika Mira buru-buru masuk kamar mandi.


" Kebelet ma." Sambil menutup pintu, Mira menyahut.


Begitu dia duduk di kloset matanya melihat noda di ****** *****, persis seperti yang dikatakan Ajeng.


Setelah selesai dia keluar, mendapati beberapa pasang mata yang memandangnya.


" Kamu baik-baik aja yank." Rayyan duduk di pinggir ranjang dengan menahan pinggangnya yang sakit.


" Mas itu yang baik-baik aja apa enggak."


Mira melangkah menuju meja, mengirim pesan pada Ajeng. Kemudian mengambil apa yang dia butuhkan di dalam lemari, setelahnya dia masuk ke kamar mandi, menunggu Ajeng disana.


Melihat Ajeng masuk ke kamar mandi, jelas semuanya saling pandang.


Sesaat kemudian kedua wanita itu keluar.


" Ada apa?" Tanya Rayyan.


" Enggak ada apa-apa mas." Mira tersenyum mendekat, butuh waktu untuk menjelaskan perlahan pada Rayyan agar Rayyan tidak panik begitu mengetahui dia sudah mengeluarkan tanda-tanda akan melahirkan.


" Ma, pa bisa bicara berdua sama mas Rayyan?"


Mereka mengangguk paham, kemudian keluar dari kamar untuk memberi pasangan suami istri itu waktu.


" Sakit banget ya?" Tanya Mira ketika Rayyan beberapa kali meringis sambil membenahi bantal yang berada di belakang punggungnya.


" He'em."


" Mas masih ingin nemenin aku lahiran?" Tanya Mira pelan.


" Ya haruslah yank, kalau bukan mas terus siapa?"


" Kan ada mama sama ibu."


" Enggak, mas aja."


" Kuat enggak nanti?"


" Insya Allah, Bismilah."


" Nanti panik lagi?"


" Ya wajarlah sayang, namanya suami. Istrinya mau lahiran ya pasti panik."


" Tapi kalau panik kayak tadi pasti sama dokter enggak boleh masuk, gak boleh nemenin lho mas, nanti malah ganggu prosesnya."


" Inget mama bilang apa tadi, sakit yang aku rasain sama kayak 20 tulang patah bersamaan."


" Ngeri sih bayanginnya." Rayyan bergidik ngeri.


" Tapi mas tetep mau nemenin kamu, jagain kamu, kasih dukungan untuk kamu sampai anak kita lahir nanti." Ucap Rayyan seraya mengelus lembut perut Mira.


" Tapikan mas lagi sakit tuh pinggangnya."


" Ya ini itung-itung bantu kamu ngrasa sakitnya di awal."


" So sweet." Mira terharu mendengar ucapan Rayyan.


" Aku aja belum tahu rasanya mas, tapi mual, muntahnya udah kenyang."


" Ya sekarang gantian."


" Mas, bener mau nemenin aku lahiran?" Tanya Mira sekali lagi.


" Mas lagi sakit lho."


" Apapun keadaan mas, mas akan selalu menemanimu sayang."


" Yakin?"


" Seyakin-yakinnya."


"Kalau gitu, berangkat yuk ke rumah sakit."


" Kok tiba-tiba, katanya tadi baru kontraksi palsu."


" Baru aja, aku keluarin tanda-tanda yang dibilang Ajeng."


Rayyan langsung beranjak, rasa sakitnya langsung tak dirasanya, dia langsung mengeluarkan barang-barang yang sudah dipersiapkan untuk kebutuhan kelahiran Mira.


" Mau digendong?" Tanya Rayyan saat mereka keluar dari kamar.


" Orang mau lahiran harus banyak jalan mas, biar cepet proses bukaanya."


Rayyan mengangguk paham.


" Pelan-pelan aja jalannya." Ucap Rayyan, sambil menjajari langkah Mira.


" Kalau pelan lama sampainya mas, ini juga jalan kayak biasanya."


" Sakit enggak?" Tanya Rayyan ketika memperhatikan perut Mira yang menengang sambil merasakan nyeri dibagian pinggangnya.


" Kan mas yang ngrasain sakitnya." Ucap Mira serasa berhenti sebentar untuk menunggu perutnya melemas.


" Kalian mau kemana?" Tanya mama Sarah.


" Mira mau lahiran katanya, makanya ini mau ke rumah sakit."


" Ya syukurlah, kamu sudah tenang, gak panik kayak tadi." Mama Sarah bernafas lega, kemudian ikut bersiap mengantar ke rumah sakit, diikuti anggota keluarga besar.


" Jadi laki-laki itu harus kuat, dampingi istri disaat begini itu sangat penting Ray, tunjukan kalau kamu bukan hanya bisa membuat tetapi juga sanggup berada di dekat istrimu yang berjuang mengeluarkan masa depan kalian. Papa yakin, dengan begitu kamu akan lebih mengerti dan lebih menghargai seberapa berharganya seorang wanita dalam hidupmu."


" Perjuanganmu itu belum bisa dikatakan berjuang jika tidak bisa mendampingi istrimu di saat seperti ini, dan papa yakin tidak semua laki-laki sanggup berada di dekat istrinya, menyaksikan istri bertaruh nyawa untuk keluarganya, tapi papa yakin anak papa pasti bisa." Papa Jo menepuk bahu Rayyan, memberi kekuatan untuknya.


" Iya pa, trima kasih."


" Sudah, ayo jalan."