
Malam tujuh hari sudah tiba, banyak tetangga berdatangan ke rumah almarhum pak Purwadi untuk ikut mendoakan arwah beliau.
Sebelum acara selamatan dimulai, sebuah motor sport tiba-tiba berhenti di halaman samping, karena halaman depan masih ditempati tenda.
Jadi sorotan para tetangga, ketika pengemudi turun dari motor. Melepas segala atribut yang menempel. Pertama helem, kedua jaket dan yang terakhir kaca mata hitamnya.
Set dah, gerakan tangannya yang menyugar rambut membuat para kaum wanita tak bisa mengalihkan pandangan pada bule tampan yang sedang berbenah diri di samping motor sport yang tak kalah gagah dari pemiliknya.
Mira keluar dari pintu samping melotot pada para wanita yang memandang kagum pada sosok tampan yang sedang tersenyum menyambutnya keluar dari dalam rumah.
" Masuk aja mas, jaketnya bawa sini."
Rayyan menahan senyum, karena ucapan Mira yang melirik para wanita yang masih mantengin si ayang bebeb, cukup menjadi tanda bahwa dia tak rela berbagi ketampanan seorang Rayyan dengan wanita lain.
" Makin cantik aja kalau cemberut." Rayyan menoel-noel dagu Mira.
" Udah yuk masuk, apa mau langsung ikut gabung sama tamu?"
Rayyan menengok ke arah tenda, sudah penuh dengan para tetangga. Hanya tempat kosong khusus keluarga yang masih tersisa.
" Udah mau dimulai belum acaranya?" Tanya Rayyan.
" Bentar lagi mas."
" Mas ke kamar mandi dulu deh, mau cuci muka biar segeran."
" Ya udah masuk, kontaknya jangan lupa dibawa."
Rayyan mencabut kontak motor, memberikan pada Mira " Titip simpennin yank."
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
Rayyan duduk bersila di tengah antara Andre dan Sigit. Jadilah 3 pria tampan duduk berdampingan jadi bahan sorotan para mata yang terus menatap ketiganya. Apalagi wajah bule Rayyan yang berbeda dari yang lain, jelas lebih mencolok.
Beruntungnya para warga tidak terlalu paham dengan Rayyan yang ternyata adalah seorang rider motor kelas international. Apalagi saat ini penampilan Rayyan yang mengenakan baju koko dan peci milik Sigit, membuat penampilannya benar-benar terlihat berbeda. Mau tak mau dia harus memakai pakaian Sigit, sedikit terpaksa. Jika bukan karena Mira membisiki kalimat yang membuatnya harus menerima segala sesuatu tentang Sigit, dia masih enggan. Mau tahu apa yang dikatakan Mira memang ada benarnya, sehingga Rayyan berubah pikiran? Mira bilang ' Mau enggak mau, trima gak trima dia itu wali pengganti bapak' barulah Rayyan menyerah dengan rasa cemburu tak beralasannya.
Acara selesai, semua warga sedang dijamu dengan hidangan yang sudah disediakan pihak keluarga. Rayyan masih ikut ngobrol dengan pihak keluarga yang ada disana. Sampai tamu mulai sepi, karena pamit pulang.
" Nak Rayyan belum makan kan tadi, ayo sama-sama makan dulu." Ajak pak Subagio.
" Iya pak, nanti saja saya masih ada sedikit keperluan."
Rayyan mengisyaratkan hp ditangannya bahwa ia akan menghubungi seseorang. Ia menjauh dari tenda untuk mencari tempat yang tidak ramai.
" Halo."
" Met, latihanya ditunda lusa ya. Sorry gue ada acara mendadak." Rayyan ternyata menelpon Mathew.
" Wadoh bos, rubah lagi jadwalnya." Keluh Mathew.
" Cuma sehari, besok pagi udah pulang. Tapi latihan lusa aja." Jawab Rayyan.
" Terserah, lu bosnya. Ntar aku bilangin sama team." Mathew mengalah.
" Thanks ya."
Tak menunggu jawaban, Rayyan langsung menutup panggilan dan berjalan masuk menghampiri Mira yang sedang beres-beres.
" Udah makan mas?" Tanya Mira.
" Belum. Tapi pengennya makan kamu." si Rayyan godain si Mira.
" Mas, jangan gitu ih! Malu didengar orang ntar." Mira celingukan kesana kemari, untung tidak ada yang melihat.
" Makan dulu, tadi ditunggu sama bapak."
" Oh ya, bapak nungguin ya?"
" Iya, udah disiapin di dalam. Mas kesana aja." Mira menunjuk pintu masuk.
" Anterin."
" Ih, gitu aja manja banget."
" Gak boleh manja sama kamu? Ya udah mas cari mbak-mbak yang tadi."
" Berani sok atuh." Mira mencubit perut Rayyan membuat Rayyan mengaduh kesakitan.
" Udah yuk, buruan."
Mira mendahului Rayyan berjalan masuk, sedangkan Rayyan mengikuti sambil tersenyum-senyum melihat wajah Mira yang sewot.
Acara makan malam selesai. Masih berkumpul di ruang keluarga, karena besok keluarga sudah bubar, pulang ke rumah masing-masing.
" Jadi pulang besok Mir?" Tanya bu Santi. Yang di tanya tak mendengar, karena masih meletakkan minuman, sedangkan suara obrolan membuat suara ibu tak terdengar jelas.
" Ditanya ibu tuh dek." Rayyan menyenggol lengan Mira.
" Dek? Siapa?" Mira malah bingung.
" Ya kamulah, emang siapa lagi?" Rayyan mendekat berbisik " Emang mau mas panggil sayang kayak biasanya? Biar semua orang denger, entar malu lagi kamunya?" Rayyan menjauh sambil mengedipkan sebelah mata. Emang dasar Mira, sifat cueknya membuat godaan Rayyan tak mempan.
" Ibu nanya apa sama Mira bu?" Tanya Mira setelah selesai meletakkan nampan ke dapur.
" Jadi berangkat besok?"
" Jadi, gak enak libur terus."
" Ibu juga pulang besok ke Lampung." Ibu menjeda kalimatnya " Sebenarnya kasihan ibu kamu, besok udah sepi enggak ada yang nemenim. Masmu juga masih kuliah, terus gimana sama ibumu?"
Pertanyaan yang membuat Mira berpikir ulang, haruskah dia tetap tinggal atau kembali bekerja. Inilah yang selalu menjadi beban bagi seorang anak, ketika salah satu orang tua meninggal.
" Mira jadi bingung bu."
Ibu Santi bangkit, memberi kode pada Mira untuk mengikutinya.
" Ada apa ibu?" Mira ikut duduk di kamar bersama ibu Santi.
" Apa tidak sebaiknya kamu mengalah dulu menemani ibumu sampai Mas mu selesai dengan kuliahnya. Tinggal 2 bulan lagi dia lulus."
Suara langkah kaki berhenti di depan pintu kamar yang tak tertutup. Sigit ada disana, tak sengaja mendengar percakapan Mira dan bu Santi.
" Mas Sigit." Mira menoleh.
" Boleh masuk?" Sigit meminta ijin. Dia memang berniat bicara dengan Mira malam itu.
Mira dan bu Santi mengangguk bersamaan.
Sigit menarik kursi plastik yang berada di dekat meja untuk duduk.
" Ada apa mas?" Tanya Mira.
" Kalau kamu masih ingin bekerja, ya berangkatlah. Ibu jangan jadi beban pikiran buat kamu."
" Tapi mas Sigit kan masih kuliah?"
" Aku bisa atur waktu kuliah, lagi pula kuliahku sudah tidak aktif, karena tinggal mengurus skripsi. Sedangkan kamu punya tanggung jawab bekerja di keluarga Aquino. Mereka sudah baik sama keluarga kita. Mas Rayyan juga sudah datang, pasti untuk menjemput kamu kan?"
Mira mengangguk, membenarkan perkataan Sigit.
" Ibu mungkin akan merasa sepi, tapi hanya sementara, lambat laun pasti ibu akan terbiasa dengan keadaan ini. Kalau kamu ada disini, malah ibu semakin tergantung sama keberadaan kamu, sedangkan aku lihat mas Rayyan serius ingin sama kamu, otomatis kamu juga akan tetap pergi setelah nanti kalian menikah."
" Aku coba cari kerja disini sambil nemenin ibu." Putus Sigit.
" Enggak papa mas kalau aku tetep kerja?"
Sigit menggeleng " Pergi aja, biar ibu sama aku."
" Kita ngomong di luar, biar semua bisa tahu pesan dari bapak. Mumpung semua ada disini, ada kamu sama Andre." Ajak Sigit. Mira dan ibu ikut keluar.
Mereka duduk di ruang keluarga, dan Sigit meminta waktu untuk berbicara. Rayyan memilih mundur, karena dia tahu keluarga itu akan membahas masalah keluarga, begitu pula dengan pak Subagio.
Dua laki-laki itu memilih duduk di samping rumah, tempat motor Rayyan masih terparkir disana.
" Mira itu dari kecil sudah susah. Harus bekerja keras untuk membantu ibunya, karena bapaknya jarang pulang ke rumah." Pak Subagio mulai bercerita.
" Saya sebagai guru tempat dia sekolah menyayangkan kecerdasannya yang tak beruntung. Tidak bisa kuliah dan memilih bekerja untuk menyekolahkan adiknya."
Rayyan menyimak dengan seksama cerita bapak tirinya Mira.
" Apalagi setelah bapaknya berpisah sama ibunya, dia harus pontang-panting bekerja ekstra."
" Saya iba sebenarnya melihat perjuangan dua kakak beradik itu berjuang tanpa bapak, dan ibunya hanya bekerja menjadi buruh cuci dari rumah ke rumah. Apalagi Mira sempat mendapat tindakan diskriminasi dari keluarga mantan pacarnya."
Rayyan memang sempat mendengar dari mamanya, tapi dia tak menyangka jika keluarga Bobby separah itu.
" Sejumlah uang diberikan oleh keluarga Bobby agar Mira pergi dari kampung, belum lagi gunjingan tentangga yang mengatakan dia perebut laki orang, padahal anak itu sama sekali tidak melakukan itu."
" Akhirnya dia memilih pergi merantau. Demi menyelamatkan keluarganya dari teror keluarga Bobby, walaupun setelahnya ibunya Bobby tetap beraksi. Saya merasa keluarga itu butuh perlindungan, jadi saya mencoba mendekati ibunya."
" Jadi bapak menikahi bu Santi hanya ingin melindungi keluarga bu Santi?"
" Ya, melindungi dengan segenap jiwa dan raga saya." Pak Subagio terkekeh, Rayyan sendiri tersenyum.
" Modus ya pak." Ucap Rayyan.
" Modusnya laki-laki ya begitu nak Rayyan." Ucap bapak Subagio lagi.
" Hahaha..." Pak Subagio malah terkekeh.
" Asyik bener ngobrolnya?" Ibu Santi muncul dari dalam rumah.
" Eh... bu, sudah selesai?" Tanya pak Subagio. Rayyan ikut menunggu jawaban bu Santi.
" Sudah. Ayo masuk, sudah malam."
" Nak Rayyan, motornya di masukin rumah aja, biar aman." ucap bu Santi.
" Iya bu."
Bu Santi masuk bersama pak Subagio, sedang Rayyan mencari Mira untuk meminta kontak motor.
" Dek, kontak motor mana?"
Karena di depan keluarga, jadi Rayyan mengubah panggilan 'sayang' menjadi 'Dek' Membuat Mira ingin menahan tawa. Walaupun Mira mengambil juga kontak motor yang ia simpan di kamar.
Mira keluar, ternyata Rayyan ada di luar.
" Nih mas kuncinya." Mira mengulurkan kunci motor pada Rayyan.
Rayyan mengulurkan tangan menerima kunci dari tangan Mira, sambil menggenggam tangan Mira, cukup lama ia tak melepas tangan Mira, membuat Mira merasa takut jika ada yang lihat.
Melihat Mira ketakutan, Rayyan malah menarik tangan Mira, sehingga tubuh Mira mendekat dan langsung mendarat dalam pelukannya.
" Mas." Mira terpekik.
" Sebentar aja, kangen tahu." Rayyan mempererat pelukannya.
" Ntar ada yang lihat gimana?"
" Gak ada yang lihat kok, aman."
Mira celingukan, merasa tak nyaman, takut Ada yang lihat.
" Mas."
" Diem geh. Bentar aja, kalau kamu brisik ntar malah ada yang kesini."
Mira diam, tapi tubuhnya tetap menggeliat meronta ingin lepas. Rayyan makin gemas.
Cup
Satu kecupan di kening baru Rayyan melepas pelukannya, sambil tertawa, melihat wajah Mira yang cemberut.
" Udah dibilang kalau cemberut makin cantik." Rayyan menoel-noel pipi Mira.
" Cepetan enggak? Kalau enggak Mira tinggal masuk ini." Ancam Mira.
" Galak amat yank.'
" Ya makanya buruan."
" Cium dulu geh." Rayyan membungkuk, memasang pipinya di depan wajah Mira.
" Ogah!"
" Dikit aja."
" Enggak."
" Ya udah mas aja yang cium... Cup."
" Lumayan, mrepet dikit sama yang berasa pedes, habis makan sambel ya tadi?" Rayyan mencecap rasa yang tertinggal dibibirnya.
" Beneran aku tinggal masuk ini."
" Iyalah... Iya...." Rayyan mengalah, melihat wajah garang Mira.
" Ini tolong." Rayyan mengeluarkan barang dari dalam box motornya.
" Apaan?"
" Jaket buat kamu besok, kan pulangnya pake motor."
Mira jadi tersentuh dengan perhatian Rayyan. Ia tersenyum.
" Trima kasih mas." Mira membuka tangan ingin memeluk Rayyan.
" Gak ada, ntar ada yang lihat." Rayyan berkelit, menjauh dari jangkauan tangan Mira.
Mira cemberut " Tadi aja meluk, giliran gantian gak mau." Dengus Mira.
Rayyan senang Mira mulai bisa menerima dirinya, nyatanya sekarang Mira mulai berinisiatif memeluk dirinya tanpa dia yang minta.
" Ya udah sini." Rayyan menarik tangan Mira, kemudian membawa Mira masuk kepelukannya.
" Udah bentar aja, ntar ada yang lihat."
Rayyan buru-buru melepas, karena mendengar suara kaki yang mendekat.
" Apa perlu dibantu mas masukin motornya?" Tanya Andre.
" Enggak, ini bisa kok." Rayyan mulai menuntun motornya.
" Kirain gak bisa, habis ditungguin lama banget." Ucap Andre.
Mira melengos sedangkan Rayyan hanya mengulum senyum, mereka masuk ke rumah. Sedangkan Andre geleng-geleng kepala.
" Dasar bucin, main peluk-pelukan, dikira gak ada yang lihat apa?" dengus Andre, kemudian menutup pintu, menyusul Rayyan yang sudah masuk ke kamar.
Ke kamar Sigit lho ya, bukan ke kamar Mira, karena Mira tidur sekamar sama bu Reni malam ini.. 😉