I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Gara-gara hilaf



2 Hari kemudian.


Hilaf, itulah Mira saat ini, mentang-mentang tidak ada yang mengawasinya.


Terjadi juga apa yang ditakutkan Rayyan saat Mira tidak berada didekatnya, dalam jangkauan matanya.


Mira saat ini berjalan-jalan di pasar tumpah bersama Andre. Mencari jajanan untuk buka puasa. Sudah lama tidak ngabuburit, membuat Mira hilaf, langsung mencari makanan favoritenya, bakso.


" Yang apa mbak?"


" Beranak aja, jangan lupa sambelnya mas."


" Ok, siap!" Penjual menyiapkan pesanan Mira, sedangkan Andre sibuk memberi peringatan pada kakaknya itu untuk tidak memakan makanan yang dilarang oleh Rayyan. Emang dasar Mira, jawabannya hanyalah " Pengen makan itu." Dengan wajah memelasnya.


Andre hanya menggeleng, tak bisa berbuat banyak, selain diam.


" Apa lagi?" Tanya Andre, mereka mulai menyusuri pedagang yang berjejer di kanan dan kiri jalanan.


" Bobba itu kayak mana sih Ndre?" Mira menasaran dengan jenis minuman yang sedang viral itu.


" Kak, mending jangan beli yang begituanlah. Kita enggak tahu cara mereka meracik bahannya."


" Kalau takut ngapain kita jalan kesini Ndre, dirumah aja, buat es teh." Mira mendengus kesal. Kenapa Andre jadi seperti Dony, ikut melarang apa yang dilarang oleh Rayyan.


" Es degan aja, itu." Tunjuk Mira.


Baru Andre mau berhenti di tempat penjual kelapa muda itu.


" Mas, utuh ya 3." Pesan Andre.


" Enggak dibuka disini mas?"


Tanya si pembeli.


" Di rumah aja mas."


Mira menatap Andre aneh, kenapa bilang beli es degan, kalau jadinya beli kelapa muda, lengkap dengan kulitnya.


" Dibuat di rumah aja ya kak."


" Iyalah, iya." Mira mengalah.


Mereka berjalan lagi, sambil meneliti setiap apa yang tersaji dipasar tumpah itu, kalau-kalau masih ada yang ingin dibeli. Ingat dengan hp, Mira mengajak Andre ke toko penjual hp.


" Mau yang merek apa mbak?" Tanya penjualnya.


Mira mengamati jenis hp yang tersusun rapi di etalase. Lengkap dengan harga yang tertera dimasing-masing kardusnya.


" Bisa pakai kartu enggak mas, bayarnya?"


Mengingat biasanya toko penjual hp hanya menerima uang tunai, Mira jadi ragu sendiri, pasalnya dia cuma membawa uang tak lebih dari 2 ratus ribu.


" Bisa mbak, kami punya mesinnya."


Mira lega, akhirnya kekawatirannya tak terjadi. Memilih hp dengan jenis iphone 12 pro max, Mira kemudian mengeluarkan kartu berwarna black dari tas kecilnya.


Penjual itu terpaku menerima kartu dari Mira. melihat penampilan Mira yang hanya menggunakan kaus oblong berwarna putih dan celana belel dengan beberapa sobekan dari atas lutut hingga bawah. Penampilan yang tidak menyakinkan untuk memiliki kartu unlimited itu. Dan jika Rayyan melihat penampilannya begitu, entahlah apa yang akan Rayyan katakan padanya.


" Lama amat mas?" Mira menunggu penjual yang tak kunjung melakukan transaksi dengan kartu itu.


Beberapa saat kemudian, barulah sang penjual mengembalikan kartu ke Mira.


" Trima kasih."


" Sama-sama."


Masih terheran, sang penjual terus menatap Mira sampai hilang tak terlihat.


" Emang ada orang sini yang bisa punya kartu kayak gitu ya?!"


Kampung Mira memang ada segelintir orang kaya, itupun hanya sebatas berprofesi sebagai pejabat daerah, dokter dan para pedagang asing seperti orang Cina yang mendominasi pasar dagang di daerah itu.


Jadi, cukup masuk akal jika ada yang heran, Mira menggunakan black card untuk melakukan transaksi.


🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹


Puas menikmati semangkuk bakso dengan sambal yang amat sangat pedas, Mira terkapar di kamarnya, karena sekarang perutnya terasa begah dan mulas.


" Ikut tarawih enggak Mir?" Tanya ibu.


" Perut aku mulas bu." Mira meringis sambil memegangi perutnya.


" Kebanyakan sambel itu! Mau ke dokter?" Tanya ibu.


Rasa sakit yang tak tertahankan, membuat Mira mengiyakan ajakan ibunya.


" Sebentar, ibu cari bapak dulu." Ibu menghilang sesaat, kemudian kembali bersama pak Subagio.


" Kita berangkat sekarang." Ajak ibu, sambil membantu Mira berdiri dan mengenakan jaket untuk Mira.


Mira dituntun keluar, menuju mobil yang sudah siap di depan pintu.


" Sakit banget bu." Mira merengek, sambil meringkuk berbaring di belakang, dan kepala dalam pangkuan ibunya.


" Tahan, sebentar lagi sampe."


Sesampainya di tempat praktek dokter, Mira langsung mendapat penanganan, karena pasien juga sudah sepi.


Dokter memeriksa tiap bagian perut Mira dengan menggunakan stetoskopnya.


" Makan sambel ya." Tanya dokter dengan senyum ramahnya. Mira hanya mengangguk.


" Ada infeksi di lambung, dan asam lambung juga naik." Ucap dokter.


" Saran saya, dirawat di rumah sakit saja. Saya kawatir ada yang tidak beres, biar nanti dicek lab, agar bisa terlihat penyebab pastinya. Untuk sementara saya beri obat untuk menekan rasa sakitnya."


Mira hanya memejam, merasakan rasa sakit yang kian meremas setiap sudut tengah bagian perut sampai ulu hatinya.


" Ini, diminum dulu. Sambil menunggu surat rujukan untuk ke rumah sakit." dokter memberikan obat cair pada Mira. Dengan sekali teguk, obat itu sudah habis.


Setelah mendapat rujukan, Mira langsung dibawa ke rumah sakit. Dan menurut hasil pemerikasan laboratorium, Mira mengalami infeksi lambung dan terkena tifus.


Mau tak mau, Mira harus dirawat di rumah sakit untuk beberapa hari, sampai keadaannya stabil.


Berita Mira masuk rumah sakit, tentu langsung sampai pada Rayyan. Dan itu membuat Mira menjadi takut sendiri karena sudah melanggar larangan dari Rayyan.


Jika dulu, dia merasa aman saja mengonsumsi makanan apa saja, tetapi entah mengapa sekarang harus jadi masalah?!


Apakah ini yang dinamakan kualat?!


🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹


5 jam kemudian


Rayyan berdiri di samping tempat tidur Mira. Menatap Mira dengan galak. Tapi yang ditatap malah cengengesan.


" Berapa sendok sambelnya?" Tanya Rayyan mulai menginterogasi.


" 2, 3 atau 4 ya......" Mira mengingat berapa sendok penjual bakso tadi memasukkan sambel ke plastik.


" Di makan semua?"


" Pake bakso mas."


Rayyan berdecak, ingin marah, tapi apa ada gunanya marah sama orang sakit.


" Sudah dibilangin jangan makan sambel." Rayyan meluruh, merasa kesal tapi ya Begitulah...


" Maaf mas, aku hilaf... Peace." Tangan Mira yang terangkat di depan wajah dengan dua jari yang berdiri, ditambah dengan senyum memelasnya.


Rayyan menatap sekujur tubuh Mira, memperhatikan pakaian yang dipakai Mira.


Mira menunjuk celananya yang bolong-bolong " Ini, tadi nyore sama Andre mas, biar kelihatan santai." Jawab Mira, yang mana membuat Rayyan menggeleng.


" Itu celana punyamu?" selidik Rayyan.


" Bukan! Punya ibu." Mira mencelos " Ya iyalah punya aku mas, kalau di rumah ya enaknya pakai yang begini, juga enggak setiap hari kok, cuma kalau pengen aja." jelas Mira.


Ya, Rayyan memang belum tahu banyak tentang kehidupan Mira di rumah sendiri, bagaimana penampilan keseharian Mira sebelum dengan dirinya.


" Besok jangan dipakai lagi ya." Dengan halus, Rayyan melarang Mira untuk tidak berpenampilan seperti itu.


" Ya kalau di rumah ibu, kayak gini udah pas mas, tapi kan kalau di Bogor gak pernah pakai beginian, yang dipakai pakaian kerja, di rumah paling cuma baju tidur."


Rayyan mengangguk, mencoba untuk tidak mempermasalahkan lagi penampilan Mira. Mengambil kursi dan duduk di samping Mira.


" Mas kok cepet sampai sini?" Tanya Mira.


Perasaannya baru sekitar 4-5 jam yang lalu dia dirawat, dan sekarang Rayyan sudah ada dihadapannya.


" Setelah mas dapet kabar dari Andre, mas langsung terbang kesini."


" Naik pesawat?"


" Ya iyalah, terus naik apa lagi? Mobil kelamaan."


Mira terharu dengan apa yang dilakukan Rayyan " Ma kasih mas ya. Maaf, harusnya mas gak usah kesini, setelah dirawat Mira pasti baik lagi kok. Kan waktu mas jadi kebuang percuma cuma habis untuk ngurusin aku."


" Enggak ada yang percuma kalau untuk kamu."


Rayyan tersenyum tulus, membuat Mira merasa makin bersalah.


" Harusnya aku dengerin mas, bukan malah buat perkara kayak gini." sesalnya.


" Ya bagus donk berarti, dengan sakit begini kan kamu jadi paham, kenapa mas ngelarang kamu ini itu."


" Iya, tapikan mas jadi repot harus kesini, cuma gara-gara aku sakit."


Pintu terbuka, ada Mathew disana membawa amlop panjang berwarna putih ditangannya.


" Udah selesai, yuk. Waktu kita enggak banyak."


Mira beralih dari menatap Mathew ke Rayyan " Mas mau pulang?" Tanyanya dengan wajah bingung.


" Inikan malam, kenapa enggak tunggu besok aja?"


" Ya. Bukan cuma mas yang pulang, tapi kamu juga."


" Tapi...." Mira makin bingung.


" Dirawat disana aja ya, Ajeng udah setuju untuk ngerawat kamu di rumah. Dan mas juga lebih mudah mantau kamu. Kecolongan begini, buat mas enggak tenang jauh dari kamu."


" Met, mobilnya sudah siap?"


" Ada di depan." jawab Mathew.


Dokter masuk beserta perawatan, diikuti keluarga Mira.


" Dia harus badrest, karena kondisinya sangat lemah. Sudah saya tulis di surat tentang tindakan yang diberikan pada pasien." Ucap dokter.


" Iya dokter. Terima kasih untuk semuanya." Rayyan menjabat tangan dokter itu.


Setelah urusan administrasi selesai, Mira dipindahkan ke kursi roda.


" Aku masih bisa jalan sendiri, kenapa harus pakai ini?" Keluh Mira.


" Sekali ini menurutlah, untuk kebaikanmu." Ucap ibu.


" Ok." Mira melemah, menyadari semua yang terjadi adalah akibat dari ketidakpatuhannya.


" Aku berangkat ibu, bapak, Andre." Pamit Mira saat dia sudah ada di dalam mobil, bersama Rayyan disampingnya, serta Mathew di kursi depan bersama supir taksi.


" Lekas sembuh, nurut apa kata nak Rayyan."


Mira mengangguk, melambai sebelum mobil mulai melaju.


Mereka tiba di bandara, Mira merasa mulai takut. Naik pesawat lagi? Apalagi dengan kondisinya yang tidak fit, sudah pasti dia akan mabuk.


Namun pikirannya salah, bukan pesawat seperti yang ia pikirkan. Tetapi ini jet pribadi. Dan ketika sudah berada di dalamnya, Mira merasakan kenyaman, bukan ketakutan. Apalagi saat horden ditutup, suasananya hampir sama seperti di dalam kamar.


" Tidurlah." Rayyan membantunya berbaring.


" Malah seperti orang sakit aja aku mas." Mira merebahkan tubuhnya, dan menarik selimut. Tangannya yang masih terpasang infus diletakkan sejajar dengan tubuhnya.


" Memang kamu sakit kan?' jawab Rayyan, dia duduk di dekat Mira.


" Ingin minum?"


" Enggak."


" Ya sudah tidur lagi. Mas juga mau tidur ini, capek banget. Latihan sampai sore, terus cek up, baru mau masuk kamar malah dapat kabar kamu masuk rumah sakit."


" Maaf." Mira merasa bersalah jadinya.


" Sudahlah. Yang penting jangan diulangin lagi." Ada nada penuh penekanan ketika Rayyan mengucapkan kata jangan. Mira mengangguk dan tersenyum.


" Mas." Panggil Mira, ketika Rayyan mulai terpejam di kursi sampingnya. sedangkan Mathew berada di ruangan lain.


" Hem?"


" Udah tidur?"


Rayyan membuka matanya, merubah posisi miring " Kenapa?"


" Kok Ajeng yang ngrawat aku?"


" Mathew minta dokter Ajeng pindah ke Bogor lagi, biar mereka bisa lebih mudah mengasuh Khansa."


" Kok Ajeng mau?"


" Demi anak yank, apa yang tidak dilakukan oleh orang tua?!"


" Apa mereka...?"


" Mas enggak tau kalau itu. Mathew cuma bilang kalau Ajeng kerja di Jakarta hanya untuk menghindari orangtuanya. Dan Dony memberi tempat di rumah sakit itu."


" Mereka rumit ya." gumam Mira.


" Begitulah jalan hidup orang yank, punya tingkat kerumitannya sendiri."


" Kalau aku yang jadi Ajeng, pasti bingung mas dihadepin persoalan kayak gitu, belum lagi mas Dony."


" Kita suport aja mereka, mudah-mudahan ada jalan terbaik."


" He'em." Mira mengangguk setuju.


" Tidur yuk." Ajak Rayyan, matanya benar-benar berat, tak bisa lagi untuk berlama-lama menahan kelopak matanya.


Mira hanya tersenyum melihat Rayyan terpejam. Tangannya terulur mengelus pipi Rayyan.


" Tidur yank."


Mira terkekeh, membuat Rayyan membuka mata.


" Kita udah mau sampai mas, lanjut tidurnya nanti aja kalau udah sampai rumah."


Rayyan membuka sedikit horden, melihat keadaan diluar.


" Cepet banget ya. Ya udah tidurnya di rumah aja."


Mereka menunggu sampai pesawat terparkir. Kemudian pindah ke mobil yang sudah disiapkan untuk mereka kembali ke Bogor.