I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Berpisah Lagi



Jadi berpisah gara-gara lamaran. Rayyan kesal karena harus berjauhan dengan Mira, dan alasan mereka harus berjauhan adalah permintaan Mira yang ingin ikut ibunya pulang ke Lampung, untuk membantu keluarganya menyiapkan pernikahan yang rencananya akan dilaksanakan satu bulan lagi di rumah ibu Santi.


Belum lagi mengurus administrasi, pasti sangat ribet. Makanya itu Mira ikut pulang saat itu juga, sekalian bareng mobil pak Subagio.


" Besok mas anter, sekarang pulang dulu ke Bogor ya." Rayu Rayyan. Mereka berbicara di samping mobil setelah mengantar keluarga besar Aquino kembali ke Bogor. Sedangkan Rayyan yang berbeda mobil tak langsung pulang, karena ingin membujuk Mira ikut dengannya. Mathew pulang menggunakan motor seperti waktu datang, dan rencananya dia meminta waktu Rayyan untuk membantu Ajeng mengurus baby Khansa.


Terbiasa bersama, tak sanggup membayangkan harus terpisah jauh.


" Ngapain kesana mas, mama bilang Mira suruh berhenti kerja dulu, mulai lagi ntar setelah nikah." Jawab Mira.


" Emang siapa yang ijinin kamu kerja lagi setelah nikah, hem? Di rumah aja, ikut mas kerja kalau mau. Biar mas yang cari nafkah." Ucap Rayyan.


" Tapi sekarang Mira ikut pulang mereka dulu ya, ntar kalau udah resmi baru terserah mas aja mau kemana, Mira ikut." Bujuk Mira, tapi dasar Rayyan, kalau ada maunya emang susah untuk dikalahkan.


" Emang yang mau diurus disana itu apa sih yank."


" Ya banyak, administrasi sipil." Mira menyebutkan salah satunya.


" Biar Dony yang urus."


" Bantu ibu nyiapain segala macam kebutuhan."


" Mas kirim WO aja kesana, mau yang kayak mana pestanya? Mau yang indoor apa outdoor? Apa mau pesta rakyat aja biar rame? Pilih yang mana?"


Mira jadi bingung sendiri, melihat betapa kerasnya hati Rayyan saat ini.


" Mass.... Tolong ngertiin ya, buat kali ini aja." Rengek Mira, dia sudah kehilangan akal untuk membujuk Rayyan agar melepasnya pulang dengan keluarganya.


" Justru mas itu sangat pengertian sayang, makanya mas gak mau kamu itu terlalu repot ngurusin begituan. Kasih kerjaan untuk mereka yang butuh, bagi-bagi rejeki kenapa sih."


Mira jadi cemberut, mendengar Rayyan seolah menganggap semua sangat mudah. Padahal saat ini dia ingin pulang ke rumah, karena ingin menghabiskan waktu dengan ibunya selama belum menikah. Kalau sudah menikah mana bisa berlama-lama pulang ke rumah ibu, baru sampai aja pasti disuruh pulang lagi.


" Cemberut tambah cantik lho." Goda Rayyan.


Mira malas meladeni Rayyan, memilih masuk ke rumah.


" Jadi ikut pulang Mir?" Tanya bu Santi, saat melihat kelebat Mira masuk rumah.


" Minggu depan kayaknya bu, mas Rayyan ngajak nyari baju dulu." Jawab Mira berbohong, tapi tidak juga, dia memutuskan ikut kembali ke Bogor memang untuk mencari kebaya, lebih tepatnya mengukur kebaya yang akan di desain langsung oleh bu Rita.


" Ya sudah, ibu pulang ya. Nanti kalau mau ke Lampung kabari ibu."


Mira keluar dengan tanpa membawa apa-apa, karena memang dia datang tidak membawa apa-apa, selain baju yang ia kenakan.


" Ibu hati-hati di jalan, bapak juga. Andre, belajar yang bener. Semuanya Mira berangkat ya." Mira menyalami satu-satu anggota keluarganya yang berkumpul di ruang tamu.


Rayyan masuk, ikut pamit.


" Assalamualaikum."


" Waalaikum salam."


Mira masuk ke mobil yang sudah dibuka oleh Rayyan. Begitu pula Rayyan menyusul masuk ke bagian kemudi. Sambil menurunkan kaca, Mira melambai, sedangkan Rayyan hanya membunyikan klakson sebagai tanda akan melaju menyusuri jalanan.


Awal perjalanan Mira hanya diam, tak berniat bicara, hatinya masih kesal dengan Rayyan.


" Kamu ngantuk yank?" Tanya Rayyan, sesekali dia menengok ke samping, mencuri pandang pada Mira yang hanya menatap ke arah luar.


" Marah ya sama mas?" Tanya Rayyan, karena Mira tak menjawab pertanyaannya.


" Rayyan membuat Mira menghadap padanya dengan memegang dua sisi lengan Mira, mau tak mau Mira melihat juga wajah Rayyan.


Netranya ingin menghindar, tapi Rayyan tak kehilangan akal untuk membuat mereka saling menatap.


" Maaf, kalau buat kamu marah. Mas cuma gak bisa aja tiba-tiba pisah sama kamu. Setidaknya beri waktu beberapa hari." Pinta Rayyan.


" Aku cuma pengen deket sama ibu sebelum kita nikah mas." Mira akhirnya mengucapkan apa yang menjadi keinginannya.


" Terus enggak ingin deket dengan mas?"


" Hanya satu bulan, untuk menebus waktu seumur hidup. Dari aku kecil, ibu yang mengurus semua yang aku butuhkan mas, dan aku hanya ingin merasakan hari-hari itu selagi masih bisa. Setelahnya, terserah mas mau bawa aku kemana, aku ikut. Tapi tolong beri waktu Mira untuk pulang ya." Air mata Mira meleleh, seiring dengan melelehnya hati Rayyan.


" Kok jadi berat gini yank." Rayyan menarik tubuh Mira untuk masuk ke pelukannya. Mira terisak dalam dekapan Rayyan.


" Sebenarnya mas benci lihat kamu nangis gini." Rayyan menarik Mira, menjauhkan dari tubuhnya.


" Sudah jangan nangis lagi. Ingin pulang ke ibu, ya udah pulang, tapi jangan nangis gini." Rayyan menghapus lelehan air mata yang mengalir di kedua pipi Mira.


Rayyan akhirnya mengalah. Dia tak boleh egois hanya mementingkan dirinya sendiri, tapi Mira memang butuh waktu untuk bersama keluarganya.


" Mas antar kamu pulang lagi ya. Telpon Andre atau Sigit, minta bapak nungguin."


" Hp aku di toko mama." Jawab Mira.


" Ketinggalan waktu mas Dony jemput dan ngajak ke bandara waktu denger berita kemaren." lanjutnya.


Nah lho, masalah baru muncul. Masa iya berjauhan tanpa kabar, mana tahan?!


" Pakai hp mas dulu. Ada nomor Andre dan Sigit disitu." Rayyan memberikan hpnya pada Mira.


Memberi waktu Mira menghubungi, Rayyan hanya bisa menatap Mira tanpa berbicara. Hatinya harus siap berpisah lagi, dan lagi.... Satu bulan? Satu jam saja sudah berat, apa lagi satu bulan! Bisakah?


" Ibu belum berangkat, mereka mau nunggu." ucap Mira, sambil mengembalikan hp Rayyan.


Rayyan menerima sambil memberikan kartu ATM miliknya.


" Pakai ini kalau butuh sesuatu. Beli hp lagi aja, terus nanti tas kamu biar dibawa Dony sambil ngurus-ngurus keperluan disana."


" Jangan terlalu capek, jangan makan mie instan, jangan jajan makanan di pinggir jalan, jangan banyak-banyak makan sambal, ja....."


" Iya... Iya... Mira ingat. Bawel juga mas ini." Mira akhirnya tertawa mendengar Rayyan mengatakan pesan dan larangan yang hampir dia dengar setiap hari.


" Nah gitu donk, ketawa. Sedih mas kalau lihat kamu nangis." Rayyan mengusap-usap wajah Mira. Makin lama malah makin berat jika dikatakan, lebih baik cepat memulangkan Mira ke rumah bu Reni.


" Pulang."


" He'em." Mira mengangguk, sambil tersenyum menatap ke Rayyan, dan melihat wajah Mira makin membuat Rayyan gemes.


Tanpa pikir panjang, Rayyan menahan wajah Mira dan mempertemukan bibirnya dengan bibir Mira, seolah ingin menyalurkan perasaan beratnya berpisah.


Mendapat sambutan dari lawannya, Rayyan makin intens untuk terus meresapi setiap sentuhan dari bibir lembut yang masih menjadi sarana penyalur perasaannya.


Hingga dering suara hpnya, membuat keduanya harus menyudahi adegan romantis mereka. Dengan berat hati keduanya berhenti, saling memejam dengan deru nafas yang masih memburu, dan kening yang saling menempel. Perlahan-lahan, mata keduanya terbuka, seiring terbitnya senyum dari keduanya, dan mau tidak mau mereka harus ikhlas untuk berpisah sementara. Karena begitu nanti meraka bertemu kembali, maka tidak akan ada lagi yang mampu memisahkan keduanya, kecuali maut.


So, berpisah untuk sementara menuju bahagia untuk selamanya, semangat Rayyan, kamu pasti bisa.