
Malam setelah akad, Mira langsung berpamitan berangkat ke Bogor. Dengan kondisi rumah yang masih ramai dengan perewang, serta ibu yang masih mengenakan sanggul serta pak Subagio yang sudah resmi menjadi suami bu Santi dan yang tak tertinggal Andre menghantar kepergian Mira yang membonceng mas Dony menuju Bogor.
Bekerja di dealer milik Rayyan tujuannya kali ini. Setidaknya itu sesuai dengan ijazah yang Mira miliki dan pengalaman bekerjanya di bagian administrasi.
Oma sebenarnya berencana merekrut Mira bekerja di toko miliknya, namun Rayyan tetap kekeh ingin Mira bekerja di dealer.
" Kerja di toko mama aja sih Ray, pegawainya kan perempuan semua." Rayu mama saat berbicara dengan Rayyan via telpon.
" Dia harus belajar berwirausaha ma, biar mandiri bisa mengelola keungan usaha Rayyan. Itung-itung latihanlah."
" Alah... Alasanmu aja!"
" Ya bukan gitu ma, cari karyawan lain kan banyak. Kecuali kalau mama emang mau kasih toko mama beneran buat hadiah taruhan kita waktu itu." Ledek Rayyan.
" Emang buat siapa lagi kalau bukan buat kamu? Butik mama udah buat Rita. Jadi toko untuk istri kamu. Mama tinggal lehay-lehay di rumah, trima bagi hasil."
" Gampang itu mah ma, kalau sudah jadi istri malah Rayyan suruh di rumah aja. Biar Rayyan yang kerja."
" Sok bener kamu itu!"
" Ya bener ma, di rumah aja. Kalau Rayyan pengen ngajak kemana kan tinggal jalan, gak harus nyusul ke tempat kerja, gak harus ditinggal pergi-pergi, minta masakin apa aja dia udah standby di rumah."
" Bosen tahu di rumah terus Ray. Kenapa kamu jadi kayak papamu sih!" gerutu mama.
" Suami itu pengennya pulang kerja, disambut ma. Rasa capeknya hilang kalau lihat istri yang lagi tersenyum sambil nyambut suami pulang. Beda ma noh mas Nathan, pulang kerja cuma anak-anak yang sibuk tanya 'mana mama pa?'"
" Jangan gitu Ray, itu udah pilihan mereka. Toh mereka juga bahagia menjalani kehidupan begitu."
" Itulah bedanya Rayyan sama mas Nathan ma. Kayaknya kalau jadi suami, Rayyan bukan orang yang bisa sabar dengan istri yang super sibuk begitu. Mending Rayyan aja yang kerja. Dia di rumah. Kerja boleh, tapi dari rumah."
" Emang kerja apa yang bisa dilakukan di rumah Ray?"
" Tanya aja sama penulis-penulis novel itu ma."
" Emang ada temanmu yang kerja gituan?"
" Ada. Dia nulis online, tapi masih bisa urus anak sama suami. Udah gitu rewardnya juga lumayan lho ma."
" Kamu promosi nih?"
" Kan itu misalnya ma."
" Tapi bekerja seperti itu butuh kemampuan lho Ray, gak cuma asal."
" Apa ada pekerjaan yang tidak butuh kemampuan ma?"
" Terserah kamu ajalah!"
" Ya emang terserah aku kan ma."
" Kok lama-lama kamu nyebelin ya!" Mama hilang kesabaran.
" Nyebelin juga anak mama."
" Tak tukerin sama cilok syukurin!"
" Gudangnya cilok aja gak cukup buat bayar Rayyan ma, mau tukerin sama cilok."
" Emang ngeselin nih anak."
" Anak siapa dulu?"
" Anak mamalah, emang anak siapa lagi."
" Ya disyukurin aja ma punya anak ngeselin. Kok malah mau ditukerin sama cilok. Rugi."
" Emang enaknya ditukerin apa kamu ya?"
" Tukerin sama anaknya presiden aja ogah ma Rayyan. Mending dikasih ke mamanya Mira aja, ikhlas akunya."
" Pengen jitak nih anak!"
" Sok atuh ma, jitak aja. Biasanya juga jitak langsung gak pake ijin."
" Astafirulllah."
" Kenapa ma?"
" Minta sabar, punya anak kayak kamu!"
" Jadinya Sabar Rayyan Aquino atau Rayyan Aquino Sabar ma?"
" Astaga nih anak! Lama-lama gila mama ngomong sama kamu! Sudah ya, asassalamualaikum."
" Waalaikum salam, Sabar mama ya..... hahahaha!"
" Terserah kamu aja Ray!"
Mama melempar ponselnya ke ranjang, kesal dengan anaknya, hpnya yang jadi sasaran. Emang kok jadi ngeselin gitu ya bang Rayyan.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
Subuh, Mira sudah tiba di Bogor dan langsung diantar ke mes khusus karyawan oleh Dony.
" Sebentar mbak, saya telpon mas Rayyan dulu."
Dony menghubungi Rayyan untuk menanyakan tempat tinggal untuk Mira.
" Bawa ke bengkel dulu aja Don, kasih kunci kamar aku."
" Ok mas. Emang mbak Mira mau kerja di dealer pa di bengkel mas?"
" Di toko mama. Ratunya marah, anak buahnya diangkut."
" Siap mas, berarti mbak Mira tinggal di bengkel?"
" Iya, kan lebih deket ke toko mama daripada ke dealer."
" Ya sudah, mas."
" Hati-hati bawa calon bos, lecet bonus hilang."
" Asiap bos!"
" Kita ke bengkel mbak." Kata Dony.
" Bengkel?" Mira bingung dengan kata bengkel yang diucapkan Dony.
Dalam bayangannya bengkel itu seperti bengkel yang ia temui. Tempat untuk membenarkan motor rusak dengan bekas oli yang hitam dimana-mana.
Tiba di bengkel yang Dony maksud, Mira tercengang melihat bangunan bertingkat dan lampu-lampu yang terlihat dari bawah begitu mewah, walaupun sekilas seperti ruko.
" Masuk mbak." Dony mempersilahkan Mira masuk ke dalam bengkel setelah membuka salah satu pintu.
" Katanya bengkel mas?" Mira mengedarkan pandangan keseluruh ruangan yang berisi beberapa motor bernuansa biru dan hijau khas motor tunggangan Rayyan di lintasan.
Satu, dua, tiga...... 25, 30.... Wow....
" Ini motor punya siapa mas Dony? Punya teman-temannya mas Rayyan yang mau dibenerin?" Mira berkeliling mengamati satu persatu dari setiap jenis motor.
" Itu punya mas Rayyan semua mbak. Dari sana itu motor pertama yang dipakai untuk nglintas, terus yang rusak itu yang terakhir kemarin balapan tapi jatuh."
Kilasan ingatan Mira mengacu pada balapan musim tahun lalu.
" Waktu balapan di Indonesia ya mas?"
" Mbak Mira hapal juga tempatnya?"
" Idola mas, selalu ngikutin. Ya, walaupun cuma lewat televisi."
" Jadi mbak Mira ini penggemarnya mas Rayyan tho?"
Mira mengangguk dan tersenyum.
" Mbak, ini kunci kamar atas. Saya ada di sana." Dony menunjuk pintu tertutup di dekat parkir motor dan lemari penyimpanan tropi milik Rayyan.
" Itu penghargaan punya mas Rayyan juga mas Dony?"
Mira menghitung rentetan piala dan piagam yang berjejer rapi, lengkap dengan foto Rayyan beserta team. Bahkan beberapa logo perusahaan besar sebagai pihak promotor juga ikut menghiasi lemari penyimpanan tropi itu.
" Dia itu legend mbak. Makanya gak nyangka bakal pensiun setelah musim ini."
" Kenapa?"
" Begitukah? Ya, kamu benar hanya Tuhan yang tahu."
" Mana kuncinya, aku mau naik. Apa ada kamar lain di atas? Takutnya nyasar."
" Ada mbak, kamar mandi, kamar makan, kamar masak, kalau kamar tidur ya cuma satu."
" Bisa ae mas Dony. Saya ke atas ya."
Setelah menerima kunci dari Dony, Mira langsung menuju lantai atas. Karena masih subuh, suasana yang terlihat dari atas sangat indah terlihat. Mira tak langsung masuk ke kamar, tetapi menikmati suasana balkon yang terbuat dari dinding kaca.
" Wuih.... Bagus banget." Mira menganggumi pemandangan yang nampak dari atas.
Kerlap-kerlip kota Bogor yang terlihat begitu indah. Bahkan ia merasa sangat nyaman disana.
Hp disaku jaket yang belum ia lepas berdering, Mira langsung melihat siapa yang memanggilnya.
" Assalamualaikum mas." Sapa Mira pada Rayyan.
" Sudah sampai?"
" Baru aja."
" Masih ngapain?"
" Lihat lampu dari atas."
" Baguskan?"
" Hu'um."
" Apa enggak capek?"
" Pegal semua sih, duduk di motor selama 8 jam."
" Istirahat sana, mumpung belum siang."
" Mau sholat dulu mas." Mira berjalan menuju kamar, memutar kunci yang diberikan Dony tadi.
" Ini kamarmu mas? Kok kayak lapangan gini, luas bener." Mira tertegun di ambang pintu.
Rayyan hanya tertawa disana.
" Luas juga jarang ditempati. Sepi kalau harus tinggal disana sendiri." Jawab Rayyan.
" Kan ada mas Dony."
" Dony kalau siang ke kantor, cuma malam aja nunggu, tidur di bawah. Kunci terus kamarnya ya." Pesan Rayyan.
" Kenapa?"
" Takut aja, nanti Dony nyusul ke atas tau ada cewek cantik."
" Mas itu yang telat mikirnya, harusnya dari tadi bilangnya sebelum aku sampai sini, biar aku tinggal di rumah Gea aja, kan lebih aman."
" Disitu juga aman kok, pintu kamarku terkunci otomatis saat orangnya di dalam kamar, dan hanya bisa dibuka kalau orang yang di dalam yang buka."
" Masa sih."
" Hu'um."
" Berarti di dalam aja, gak usah keluar."
" Ya enggak gitu juga kali yank."
" Ya kan biar aman."
" Amanlah, Dony itu anggota kepolisian, sudah pasti bisa diandalkan masalah keamanan."
" Pantas aja kok penampilannya lain."
" Lain gimana?"
" Ya lebih rapi, cara berjalannya juga kayak terlatih, badannya juga tegap dan sopan gitu."
" Ganteng gak dia?"
" Gantenglah mas, masa iya cantik."
" Kalau mas gimana? Ganteng enggak?"
" Kayaknya Mira pengen istirahat dulu deh mas, capek nih." Mira mengalihkan pembicaraan, membuat Rayyan merasa kesal.
" Gitu kan."
" Ya bener Mira capek banget ini."
" Giliran ditanya tentang mas jadi gitu. Ditanya tentang Dony muji-mujinya selangit." Terdengar nada kesal dari suara Rayyan.
" Ya, udah iya, mas Rayyan ganteng. Wes puas."
Mira akhirnya mengatakan kemauan Rayyan, walaupun sebenarnya dia malu.
" Kepaksa kan ngomongnya."
" Iya."
" Tuh kan, gak ikhlas." Gerutu Rayyan.
" Iya."
" Kok nyebelin sih yank." Omel Rayyan.
" Terus gimana maunya?"
" Ya yang ikhlas gitu bilang mas Rayyan ganteng."
" Mas Rayyan ganteng." Mira menirukan ucapan Rayyan.
" Apa dek." Ucap Rayyan dengan nada sok merdu, yang diikuti oleh Mira.
" Apa dek." Ucap Mira kemudian.
" Kok ngikutin?" Rayyan jadi tambah kesal.
" Katanya suruh bilang gitu."
" Bukan gitu yank, maksud aku cuma bilang mas Rayyan ganteng doank. Udah gitu aja!"
" Udah gitu aja!". Mira menirukan lagi.
" Ya ampun! Karma buat orang tua kesel, ternyata punya cewek lebih bisa buat kesel."
Gerutunya.
" Aku memang lagi kesel mas, badan aku capek semua." Ucap Mira, tak mengerti dengan ucapan Rayyan yang bukan ditujukan untuknya.
" Ya udah deh, istirahat."
" Ya.... Bye mas."
" Hem!"
" Ealah... Ngambek dia." Mira meletakkan hp ke atas ranjang, dan berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Sedangkan Rayyan sedang mendengus kesal seorang diri di kamar hotelnya.
" Karma is real"
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
Yang kangen sama bang Rayyan, yuk udah ditongolin... Sekarang giliran kalian yang kasih jejak. Vote, bunga mawar, like sama komentarnya ya.....
Luv you all....
Fillia..