
" Lebih baik tahu sejak dini, daripada nanti-nanti, takutnya malah teledor lho Mir, bisa bahaya." Ajeng membujuk Mira untuk di periksa, ketakutan akan memberi harapan palsu pada semua yang berharap membuat Mira masih enggan untuk memeriksakan dirinya.
" Kalau enggak sini, ikut aku." Ajeng menarik tangan Mira masuk ke dalam kamar.
" Rebahan situ." Ajeng menunjuk tempat tidur di dalam kamar yang dia tempati.
Ajeng menyingkap kemeja bagian bawah Mira, melakukan pemerikasan manual hanya dengan menggunakan tangannya, karena dia tidak membawa alat medis sama sekali, karena tujuannya bukan untuk bekerja, melainkan mengikuti Mathew demi si baby Khansa yang tidak bisa jauh dari papanya.
Sebagai tenaga medis, memeriksa keadaan tubuh manusia adalah keahliannya, walaupun tanpa alat, itu namanya tanggap darurat.
" Biar pasti, besok pagi tes pakai alat ya. Menurut aku sih ada, tapi kalau kamu ragu, bisa pakai alat biar pasti." Saran Ajeng.
" Ada, gimana? Maksudmu, aku hamil Jeng?"
Ajeng mengangguk " Makanya periksa sana. Suami kamu itu baik banget lho Mir, bersyukur punya laki kayak dia, belum positif aja udah perhatiannya kayak gitu, beda sama aku dulu, apa-apa harus dirasakan sendiri, pengen apa cuma diem. Belum lagi kalau pagi harus muntah-muntah sampai lemes banget rasanya, tapi tidak ada yang peduli, rasanya pengen nangis." Ajeng mengenang saat dirinya mengandung Khansa.
" Mas Bobby..."
" Dia mana ada peduli sama aku Mir, yang ada dipikirannya cuma kamu." Potong Ajeng.
" Udah yuk, keluar."
Mereka keluar dari kamar, tetapi Mira tidak ikut Ajeng, dia masuk ke kamarnya sendiri. Tubuhnya yang terasa lemas, membuatnya ingin segera rebahan. Masih ada waktu beberapa jam sebelum acara, jadi Mira memutuskan untuk tidur lebih dulu.
Rayyan menengok, mengalihkan matanya dari layar laptop saat pintu kamar terbuka.
" Darimana?" Tanyanya pada Mira yang berjalan mendekat setelah menutup pintu.
" Dari kamar Ajeng. Mas disini to, aku kira di luar." Mira mengambil tempat, meringkuk di ranjang, memeluk Rayyan yang sedang duduk di atas ranjang sambil memangku laptop. Rayyan hanya membiarkan Mira memeluk perutnya erat, paling bentar lagi juga ditinggal tidur, pikirnya.
" Mas."
" Hem." Rayyan masih fokus dengan pekerjaannya.
" Apa?" Dia berhenti saat Mira tidak bicara lagi.
" Rumah sakit jauh enggak?"
Ucapan Mira Membuat Rayyan menutup laptopnya, meletakkan di atas meja di samping ranjang.
" Apa mau periksa sekarang? Kok berubah pikiran?" Rayyan menatap Mira yang sedang memikirkan suatu.
" Ajeng bilang ada dedek disini." Mira mengambil tangan Rayyan dan meletakkan di atas perutnya yang masih rata.
" Mas juga bilang gitu, tapi kamu enggak percaya. Periksa sekarang ya, mas anterin."
" Tapi nanti telat acaranya kalau kita pergi."
" Yang punya acara kan kita, gak akan mulai kalau kita belum datang."
Mira ragu " Tapi kalau nanti negatif mas jangan kecewa ya."
Rayyan tersenyum " Berarti belum rejeki. Tapi masa iya Ajeng bisa salah periksa. Dia bilang apa?"
" Dia bilang ada."
Rayyan langsung sumringah, wajahnya sangat terlihat bahagia dan itu membuat Mira makin kawatir.
" Kita berangkat sekarang, ayok sini." Rayyan beranjak lebih dulu, ingin menggendong Mira tetapi Mira menolak.
" Aku jalan sendiri mas."
Rayyan mengalah, lebih memilih memeluk pundak Mira, membimbingnya keluar dari kamar.
" Tasnya."
" Oh iya." Mira mengambil tas di atas meja, lalu kembali berjalan bersama Rayyan.
" Ma, aku pergi dulu ya." Pamit Rayyan saat berpapasan dengan Rayyan dan Mira.
" Jangan lama-lama, kalau bisa sebelum acara mulai sudah di rumah." Pesan mama.
" Siap oma!"
Rayyan bergegas pergi ke mobil, membuka pintu untuk Mira sebelum akhirnya dia masuk untuk mengemudi.
Sengaja mereka hanya pergi berdua, karena mereka ingin memastikan apakah benar Mira hamil, jika ya baru mereka akan memberitahu yang lain, tetapi kalau tidak, setidaknya mereka sudah puas setelah memastikan.
" Hati-hati." Rayyan membantu Mira turun dari mobil, sambil memegang tangannya.
" Mas, aku bisa sendiri." Mira merasa aneh Rayyan terlalu kawatir padanya.
" Jangan ngeyel, sini." Rayyan tetap memegangi tangan Mira saat Mira keluar dari mobil, memastikan istrinya sudah keluar, baru tanganya mendorong pintu mobil.
" Duduk sini."
Rayyan membantu Mira duduk di kursi tunggu saat mereka mengantri di ruang tunggu, bahkan sikapnya yang terlalu over, membuat Mira tidak nyaman menjadi pusat perhatian pasien lain yang ikut mengantri. Tapi Rayyan malah cuek, berkali-kali menyiumi tangan Mira yang tak lepas dari tangannya.
" Ny. Mira Adinda." Namanya dipanggil, gilirannya kali ini.
Mereka masuk, di dalam ruangan sudah menunggu dokter cantik yang tersenyum ramah di temani dua orang perawat.
" Timbang dulu ibu."
Seorang perawat mengarahkan Mira untuk menimbang berat badan, setelah itu perawat lain memeriksa tekanan darahnya, baru kemudian dokter cantik itu melakukan pemerikasan terhadap Mira.
" Lemes, mudah capek."Jawab Mira.
" Sudah telat berapa minggu?"
" Baru satu minggu dok."
Dokter mengarahkan tangannya di bagian perut bagian bawah milik Mira.
" Haidnya teratur tidak?"
" Kadang maju, kadang telat."
" Tapi rutin tiap bulan?"
Mira mengangguk. Rayyan dengan setia menunggu di samping tempat Mira berbaring.
" Mual?"
" Tidak."
" Pusing?'
" Sedikit, kalau berdiri tiba-tiba."
" Tanggal pertama haid terakhir bulan kemarin ingat?"
" Tanggal 25 bulan....." Rayyan yang menjawab.
" Suaminya perhatian sekali ya bu, sampai hapal tanggal jadwal bulanannya." Puji sang dokter, membuat Mira malu, sedangkan Rayyan malah bangga.
" Kalau menurut saya ibu memang hamil, jika dihitung usianya... Sebentar." Dokter mengambil kalender kehamilan, menghitung sebentar...
" Sekarang sudah masuk minggu ke 6, tetapi biar pasti kita lakukan USG biar lebih jelas. Bagaimana?" Tanya dokter pada Mira dan Rayyan, tentu keduanya langsung mengangguk.
Dokter itu mengambil alat lain mengoleskan gel pada permukaan perut Mira, lalu menempelkan dopler yaitu alat pendeteksi detak jantung janin.
Suara berisik berkali-kali terdengar, tetapi dokter belum menghentikan pencariannya karena belum menemukan bunyi yang ia cari, hingga ketika tangannya berada di bagian kiri bawah, suara detak jantung mulai terdengar cukup keras, sehingga Mira dan Rayyan bisa ikut mendengar.
" Detak jantungnya ada, berarti anda positif hamil. Belum tes peck ya?"
Mira menggeleng, dokter tetap tersenyum, menggeser lebih agar detak jantung janin makin jelas.
" Kedengaran kan? Jelas banget lho ini."
Mira dan Rayyan saling berpandangan, jika saja tidak sedang berada di ruangan dokter, ingin sekali mereka saling memeluk untuk meluapkan kegembiraan, apalagi suara merdu detak jantung yang sekarang mereka dengar, membuat keduanya berdebar. Tahan Ray! Hanya genggaman tangan keduanya yang kian erat, sebagai saluran kebahagiaan keduanya.
" Kita ke ruangan USG ya." Ajak dokter, setelah selesai melakukan pemerikasan.
Masih berlaku seperti biasa kedua pasutri itu, mengikuti kemana dokter dan perawat mengantar keduanya. Dan sekarang di ruang lain, Mira lagi-lagi berbaring di atas meja, di samping mesin besar dengan layar di atas meja lain.
Dokter melakukan seperti tadi, yaitu menempelkan alat setelah mengoleskan gel ke permukaan perut Mira, sambil melihat ke arah layar, hingga dia menangkap kantung hitam dengan titik di tengahnya. Sebagai awam Mira dan Rayyan tidak terlalu paham dengan itu, tetapi penjelasan dokter membuatnya mengerti bahwa itu adalah gambaran kondisi janin di dalam rahim.
" Ya, sesuai dengan keterangan, kalau usianya sekarang masuk 6 minggu. Dan secara keseluruhan semua normal dan sehat."
" Selamat ya, bapak ibu... Tolong dijaga kondisi ibunya pak, biar sehat dua-duanya."
Selanjutnya dokter menjelaskan apa saja yang harus diperhatikan, yang diperbolehkan dan tidak boleh dilakukan selama masa kehamilan dari semester awal hingga akhir. Rayyan tentu adalah orang yang paling mendengarkan penjelasan rinci yang diberikan oleh dokter.
" Usahakan tetap makan saat usia 3 bulan pertama, walaupun mual, muntah tetapi asupan sangat gizi sangat penting di awal karena pembentukan otak saat usia ini dimulai dan ini sangat berpengaruh untuk kecerdasan sang baby ya ibu, bapak"
" Tapi kalau tidak doyan daging bagaimana dok?" Mira yang bertanya.
" Masih bisa diakali dengan makan sayur-sayuran, buah juga penting. Perbanyak minum air putih. Susu ibu hamil juga baik jika bisa mengonsumsinya, tapi jika tidak bisa meminumnya, tidak apa, bisa diganti dengan makan makanan yang lain yang lebih bergizi. Karena tidak semua ibu hamil bisa minum susu, sensitifitas sering dirasakan saat hamil ya pak, mood yang sering berubah-ubah, kelakuan yang aneh bisanya sering dialami oleh ibu hamil. Jadi saran saya dimaklumi, kalau bisa dibuat enjoy saat ibu sedang berada disituasi ini, jika tidak tentu bapak bisa sangat stress."
Rayyan baru paham sekarang kenapa Mira berlaku aneh dari kemarin malam.
" Ada yang ingin ditanyakan?"
" Apa baik dok kalau saat hamil selalu ingin tidur?"
" Tidak apa, karena itu bawaan, lemes, mudah lelah dan terasa capek serta mudah marah, itu karena perubahan hormon ibu hamil, jadi jangan kawatir. Diusia hamil muda tidak apa sering istirahat tetapi jangan lupa olah ringan seperti jalan pagi hari, sedikit-sedikit saja biar fresh, dan otot lebih rileks. Berjemur di bawah matahari pagi juga sangat baik."
" Kalau bisa untuk urusan ranjang, jangan dulu ya pak, karena usia semester pertama masih rentan, tapi kadang nih ya ibunya yang suka ngajak duluan, sekali lagi itu pengaruh hormon. Jika memang sangat ingin, pelan-pelan saja pilih posisi yang aman. Pahamkan maksud saya." Dokter kembali tersenyum memandang keduanya yang mengangguk.
" Ada lagi yang mau ditanya?"
Mira dan Rayyan cukup paham dengan penjelasan dokter, hingga keduanya tidak Ada yang mau bertanya lagi.
" Resep vitamin silahkan di ambil di ruang administrasi, kemudian ambil di apotek ya pak."
" Trima kasih dokter." Rayyan menjabat tangan dokter, begitu juga dengan Mira.
" Dijaga baik-baik bu, semoga sehat dan lancar sampai lahir.
" Amin, trima kasih dokter."
" Sama-sama."
" Kami permisi, sekali terima kasih."
" Sama-sama, silahkan."