
Rayyan meletakkan gelas yang sudah ia tenggak habis isinya, demi mendorong makanan yang utuh belum hancur yang menyumpal di tenggorokannya gara- gara ucapan Mira.
" Bercanda mas, peace." Dengan polosnya sang istri mengangkat tangannya dengan dua jari telunjuk dan tengah yang berdiri.
" Kirain minta pulang ke Indonesia beneran." Gerutuan yang membuat mata sang mama mengarah padanya, saat ini oma duduk berhadapan dengan Rayyan. Keluarga besar itu makan dalam satu meja panjang, yang bisa menampung semua anggota, dengan menu khas Indonesia.
" Reaksinya biasa aja Rey."
" Ini udah biasa ma, emang ada yang terlihat luar biasa?" Tanyanya sambil menunggu jawaban mama Sarah.
" Jangan menggerutu begitu, gak kasih jatah syukurin!"
" Jatah kok dikasih, diambillah ma."
" Wes, pinter sekarang. Itu baru anak papa. Urusan yang lain boleh kalah Ray, tapi kalau ranjang, pria harus tetap jadi raja!" Papa Jo tertawa bangga.
" Ada anak kecil pa." Bang Nathan melirik ke arah 2G yang sibuk dengan ayam kremes.
Sementara si ayam kremes kiasan sedang menggendong baby Khansa, bergantian dengan Ajeng yang sedang makan.
" Mereka belum paham, ya kan Met? Paham enggak?" Papa Jo malah tertawa saat Mathew pura-pura tak mendengar, aslinya malu sendiri dia.
" Kamu digigit apa Jeng? Lehermu kok banyak ruamnya?" Mama Sarah bertanya, membuat Ajeng hampir kesedak.
" Kenapa tho makanannya? Kok bikin kesedak terus? Apa karena makanan Indonesia dimakan di Spanyol jadi nyasar salah masuk lubang hidung?" Mama meletakkan gelas di depan Ajeng.
" Itulah kenapa dilarang bicara saat makan mama." Rayyan yang bilang, Mira mencibir.
" Ngapa yank?"
" Enggak papa, lihat apa ada sesuatu di bibir bawah kok aneh rasanya."
Rayyan dengan polosnya langsung meneliti bibir bagian bawah Mira, yang sialnya malah membuatnya ingin melahap bibir merah merona beraroma rempah.
" Lanjut di hotel aja Ray." Mama Sarah menyindir.
Rayyan langsung melepas " Kayak gak da tempat!"
" Sini masih kosong, siapa yang enggak dapet tempat?" Suara Gea, tangan kecil itu menepuk kursi di sampingnya yang ditinggalkan oleh Gaby yang malah asyik bermain di lantai.
Semua langsung kicep, tak ada yang mau menjawab.
" Ayamnya lagi enggak? Mama suwirin lagi ya." Bu Rita langsung mengalihkan topik pembicaraan, membuat suasana kembali mencair.
Andre yang rencana awal akan ikut, ternyata batal gara-gara dia mengikuti tes, dia ternyata bercita-cita jadi Angkatan Laut, dan sekarang sedang berada di Surabaya. Kita doakan saja semoga apapun itu, dia tetap sukses.
Ini Andre Arya Putra Persada
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
" Tidur!" Rayyan mengelus-elus kepala Mira yang tidur membelakanginya, tetapi dalam pelukannya.
Sedari tadi Mira malah asyik berceloteh, padahal Rayyan sudah sangat ngantuk, hingga menguap beberapa kali.
" Belum ngantuk."
Jawaban itu membuat Rayyan diam, berpikir tentang makanan apa yang dimakan Mira sampai belum ngantuk di jam semalam ini, 00:15 waktu Spanyol.
" Mas tidur duluan ya."
" He'em." Mira malah bermain dengan pucuk jemari Rayyan, menyelipkan jarinya dengan jari Rayyan, berarti Mira selalu bergerak, dan Rayyan tak mungkin bisa tidur jika ada gangguan.
" Katanya mau tidur? Kok masih melek." Mira menengok ke belakang mendapati Rayyan yang masih membuka matanya.
" Oh ya, maaf! Mas kan enggak bisa tidur kalau diganggu." Mira beringsut akan menjauh dari tubuh Rayyan, tetapi Rayyan malah menahannya dengan pelukan yang dieratkan.
" Mau kemana? Sini aja!"
" Di sini kok, gak kemana-mana. Mas kan gak bisa keganggu kalau pas tidur." Mira memberi alasan sambil menepuk tempat tidur yang masih luas, bemaksud untuk tidur disana.
" Sini aja." Rayyan gak rela sang istri menjauh. Tubuhnya sudah terbiasa dengan pelukan saat tidur.
" Katanya mas ngantuk."
" Ya... Iya, tapi sini aja, jangan jauh-jauh."
Mira diam, pura-pura terpejam. Tetapi matanya tak bisa diajak kompromi, hingga suara cacing di dalam perutnya membuat Rayyan tahu istrinya itu tidak bisa tidur gara-gara lapar.
" He'em."
" Kenapa enggak bilang?" Rayyan bangkit, tidak lupa memakai kembali pakaiannya, diikuti Mira yang melakukan hal yang sama.
" Mau apa?" Rayyan membuka kulkas, Mira ikut melihat isinya, tetapi tidak menemukan apa yang ingin dia makan, dia duduk tanpa mengambil makanan.
" Kok enggak ambil, emang pengen apa?" Rayyan memperhatikan Mira, sedang duduk malas di sofa.
" Masih lama enggak mas disini? Pulang ke Indonesia kapan?" Tanya Mira tanpa menjawab pertanyaan Rayyan, membuat Rayyan mengernyit aneh.
" Minggu depan. Kan belum ke rumah opa, nanti setelah dari sana baru pulang. Nunggu om Lukas, belum bisa datang juga kesini." Jawab Rayyan sambil menyusul Mira duduk, tangannya membawa makanan, siapa tahu Mira berubah pikiran.
" Kenapa? Enggak betah ya disini?" Rayyan mengelus rambut panjang istrinya.
" Kangen ibu."
" Kan bisa telpon." Saran Rayyan.
" Pengen makan bubur sum-sum buatan ibu, masa iya lewat telpon." Mira beranjak, mengambil minuman dingin di dispenser. Rayyan menyusul, mengambil alih gelas dari tangan Mira, menyampurnya dengan air panas, jadilah air itu menjadi hangat.
" Gak bagus malam-malam minum dingin."
Reaksi Mira membuat Rayyan terkejut sekaligus bingung, karena detik itu juga air mata Mira meleleh.
" Kok malah nangis?"
" Ya udah nih, mas ambilin." Rayyan mengganti gelas dan mengisi dengan yang dingin. Tetapi mood Mira sudah rusak, dia malah mengambil gelas yang berisi air hangat lalu meminumnya sampai habis.
Rayyan semakin bingung sekarang, kenapa dia jadi aneh!
Sudah hampir sebulan, Mira menahan untuk tidak merengek minta pulang ke Indonesia. Karena Rayyan yang masih menyelesaikan beberapa hal di negara kelahiran sang papa, dan kata mama Sarah, mereka akan mengadakan pesta kecil-kecilan merayakan pernikahan Rayyan bersama anggota keluarga besar Aquino yang ada di Spanyol. Tapi sampai sekarang, belum ada realisasinya. Mira entah, dia sendiri sudah tidak bisa membendung rasa rindunya dengan ibu, karena ada banyak hal yang dia inginkan saat ini detik ini juga, yaitu makan bubur sum-sum buatan ibu, sayur lodeh, sayur asem, dan bacem buatan ibu Santi. Ingin menangis dia rasanya saat ini, malam ini juga!
Rayyan dibuat kualahan, karena Mira tak bisa dibujuk. Seperti bukan Mira yang dia kenal.
" Kamu kenapa sih yank?!" Rayyan berusaha untuk tetap sabar.
" Kangen ibu."
" Seminggu lagi ya, kita pulang."
Mira diam, tak ada jawaban itu berarti Mira ingin pulang secepatnya.
" Met, bisa pulang ke Indo besok enggak?" Rayyan menelpon Mathew untuk mencari info pilot yang mengoperasikan jet pribadi keluarga Aquino.
" Kayaknya belum deh Ray, kan jadwalnya seminggu lagi? Kenapa?" Tanya Mathew via telpon.
" Mira ngajak pulang, nangis dia."
" Hah! Kok tumben dia aneh? Biasanya dia luar biasa nurut sama lu."
" Gue juga enggak ngerti, dia kangen sama ibunya, pengen makan bubur sum-sum gitu katanya."
" Gue pesenin aja mau enggak? Atau aku minta Ajeng buat bikinin."
Saat ini Mathew dan Ajeng sudah ada di rumah papa Jo yang di Spanyol beserta mama dan papa, juga keluarga bang Nathan. Rayyan dan Mira tetap menginap di hotel, karena Rayyan masih ada beberapa hal yang harus dia selesaikan di hotel itu.
" Mau enggak yank, dibuatin buburnya sama Ajeng?"
Mira menggeleng " Maunya ibu."
" Nggak mau dia." Kata Rayyan pada Mathew.
" Kok dia jadi aneh gitu Ray?" Mathew ikut heran.
" Tau! Sudah ya, lu cari infonya, tanyain pilotnya bisa besok enggak? Kalau enggak pesen tiket pesawat aja."
" Serius lu mau pulang besok?"
" Hem."
" Ya udah, gue cari infonya."
" Thanks Met." Rayyan berjalan lunglai menghampiri Mira yang sudah tidur pulas si sofa.
" Kenapa kamu jadi aneh gini?" Rayyan mengusap-usap kepala Mira setelah membawanya kembali ke kamar, mengecup pelan puncak kepalanya, sebelum akhirnya ikut tertidur di samping sang istri.