I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Keceplosan



Pukul 17:00 wib, keluarga kecil Mira sudah bersiap berada di ruang keluarga untuk menyaksikan siaran langsung balapan motor.


Ibu tak menyinggung tentang ucapan Mira tadi pagi yang ingin memberitahunya tentang pekerjaan teman Mira. Tidak terpikir tepatnya.


" Kak, taruhan yuk siapa yang menang." Andre yang duduk bersebelahan dengan Mira mengajak Mira melakukan taruhan.


" Siapa jagomu? Apa tetap si baby alien?" Tanya Mira.


" Iyalah, siapa lagi! Apa kakak masih tetap sama si RA."


" Pastilah, setiaku padanya tak akan terganti."


" Halah, sok romatis kak. Ini tuh bukan kasih dukungan buat pacar, tapi buat rider." Ucap Andre.


" Rider itu pacarku." celetuk Mira.


" Mimpi!"


Mira tak menghiraukan ucapan Andre, yang ia lihat sekarang adalah wajah tampan Rayyan sedang bersiap dengan pakaian lengkap serta topi yang bertengger di kepalanya sambil mendengarkan arahan dari team yang berseragam biru bercorak kuning.


Ganteng banget, masa sih itu mas Rayyan?


Mira senyum-senyum sendiri, membuat Andre jadi memandang aneh ke arah Mira.


" Kedip kak! Belum mulai juga."


" Ganggu aja."


" Ganteng banget gak Ndre si RA?"


" Ganteng sih iya, tapi aku masih seneng aksinya si baby alien kak, lebih muda kan dia. Masih 19 tahun kalau gak salah."


" Emang kalau RA berapa tahun?" Mira jadi tertarik mendengar Andre mengatakan umur para rider.


" Kalau enggak salah 35, makanya setelah musim ini dia mau pensiun."


Mira mengangguk-angguk. Kemudian menggerak-gerakkan jarinya, menghitung sesuatu.


24-35...... 11 tahun.... Selisihnya banyak banget! Berasa pacaran sama om om, tapi gak papa sih, lebih dewasa, bisa nge-mong aku yang labil.


Lagi, Mira senyum-senyum sendiri.


" Bu, anakmu mulai gila nih." teriak Andre pada ibunya yang beranjak pergi ke dapur. Sebenarnya dia enggan menonton acara tv sore itu, bukan umurnya untuk melihat aksi balapan seperti itu, namun Mira memaksanya untuk duduk disana.


" Hehe...." Mira malah nyengir, merasa bahwa ejekan Andre adalah pujian untuknya.


" Kenapa to? Nonton tv aja kok ribut!"


" Biasa bu, sirik tanda kepengen." ejek Mira.


" Pengen apa?"


" Pengen nabok?" Mira tertawa keras, membuat Andre merasa terganggu.


" Diam kak, mau mulai tuh!"


" Masih klasifikasikan, belum mulai."


" Lihat Ndre, dia senyum." Mira tak berkedip menatap wajah Rayyan yang sedang tersorot kamera.


" Apa perempuan selalu begitu kalau lihat cowok cakep?"


" Maksudmu?"


" Di sekolah banyak cewek kayak kakak kalau lihat aku jalan."


" Maksudmu?"


" Kecentilan, genit, suka cari-cari perhatian."


Buk


Bantal kursi mendarat sempurna di wajah Andre.


" Kau pikir kakakmu cabe-cabean!" Sungut Mira.


" Aku sebel lihat cewek centil." Gerutu Andre.


" Aku enggak centil!"


" Tapi ganjen!"


" Andre!" Teriak Mira.


" Apa!" Andre balas teriak. Terjadilah keributan, membuat bu Santi langsung keluar dari dapur, mematikan tv.


" Lanjutkan berantemnya, bikin drama sendiri, jangan nonton tv!" Ibu marah, anak-anak langsung diam.


" Mau pisau?" Tanya ibu.


" Untuk apa bu?" Jawab Mira dan Andre.


" Bantu ibu kupas bawang." Ibu segera ke dapur, keluar lagi membawa sekresek bawang merah dan tiga pisau.


Mira dan Andre berpandangan, tak mengerti mengapa ibu menyuruh mereka mengupas bawang merah sebanyak 5 kg itu.


" Untuk apa bu? Bawang sebanyak ini?"


" Ada pesanan bawang goreng, lumayan. Daripada dengerin orang ribut." Ibu menggeser kursi, menggelar tikar untuk duduk.


" Bu, tvnya dihidupin ya?" Pinta Mira dengan wajah memerah dan mata berair.


" Cengeng gitu aja nangis!" Andre membersit ingusnya dengan kaus yang ia kenakan.


" Jorok! Ih!" Mira menyingkir dari adiknya.


Ibu melotot, membuat mereka kembali diam.


Mira melirik jam dinding, begitu juga Andre. Sejenak mereka saling berpandangan, berbicara lewat mata.


" Tidak ada lihat TV!" Gertak sang ibu.


Kedua anak menjadi lesu.


Maaf mas, aku gak bisa lagi melihatmu beraksi!


Mira terisak, matanya perih dan mulai berair.


Andre menengadah, mengerjap-ngerjapkan mata, menahan air mata yang hampir tumpah.


Ibu tersenyum dalam hati, merasa menang mengerjai anak-anaknya.


" Ibu..." Rengek Mira. Ibu hanya diam saja.


Andre akan beranjak, namun ibunya menahannya untuk tetap duduk.


" Tetap ditempat."


Terpaksa mereka terus mengupas bawang, sambil sesekali menyeka air mata.


" Ibu tiri..... Hanya cinta...... kepada ayahku saja....." Suara Andre itu.


" Ayah.... Kembalilah padaku, ku rindu dirimu....." Sekarang Mira yang gantian bersuara.


Ibu terdiam. Merasakan sesuatu yang berat dihatinya mendengar nyanyian anak-anak.


" Ikut bapakmu sana! Ibumu memang jahat!" Ibu menunduk, menyeka air mata.


Andre dan Mira saling pandang melihat ibunya meneteskan air mata.


Apakah ibu tersinggung dengan nyanyianku tadi? Batin Andre.


Apa ibu merasa aku keterlaluan bernyanyi begitu!


Mereka meletakkan pisau masing-masing, kemudian bergeser mendekat pada sang ibu yang terisak.


" Ibu, maaf." Mira memegang tangan ibunya.


" Andre tidak bermaksud membuat ibu sedih, maaf ya bu." Andre memegang tangan ibu yang lainnya. Jadilah ibu tak bisa bergerak, pisaupun akhirnya ia letakkan, begitu juga dengan bawang yang masih separo terkelupas.


" Kalian kenapa sih?" Ibu memandang bergantian ke kedua anaknya.


" Ibu menangis gara- gara kami kan bu?" Ucap Andre.


Ibu malah bingung.


" Siapa yang menangis?" Ibu mengusap sisa air di ujung matanya.


" Itu ada airnya mata ibu."


Ibu tertawa, ternyata anak-anaknya salah mengira.


" Ini!" Ibu menunjuk matanya.


" Ini karena bawang ini terlalu pedas, membuat mata ibu berair. Lihatlah, kalian jugakan." Ibu tertawa lagi.


" Jadi ibu tidak menangis gara-gara nyanyian kami?"


" Bukan."


" Astaga!"


Kedua anak itu merasa lega, namun juga merasa kesal, ternyata ibunya mengerjai meraka.


Beringsut kembali ke tempat masing-masing, mengambil pisau masing-masing dan mulai mengupas bawang dalam diam. Tidak ada yang bersuara.


Ibu melirik anak-anaknya yang menunduk, memandang biji bawang di tangan mereka.


" Kenapa diam?" Tanya ibu.


" Sedang membayangkan balapan bu." Jawab Andre.


Ibu menjadi kasihan mendengarnya. Ia berdiri, mengambil remot dan menyalakan televisi.


Tepat saat itu balapan sudah mulai, dan sudah memasuki lap ke-3.


Dua rider jagoan Mira dan Andre berada di posisi ke 2 dan ke 3, sedangkan posisi pertama adalah reader dari merek motor berwarna orange.


Mira dan Andre langsung menghadap ke televisi, sambil memegang pisau dan bawang di masing-masing tangan mereka. Melihat tanpa berkedip, merasakan perut mereka menegang karena aksi kejar-kejaran para riders.


" Ayo mas, kamu pasti bisa." Mira keceplosan, membuat ibu dan Andre memandang heran padanya. Seolah tak peduli, Mira terus memberi semangat pada RA, yang hampir menyalib si babby alien, sayangnya keadaan belum memungkinkan, sang babby alien ternyata lebih bisa menguasai keadaan, hingga RA tetap berada di belakangnya.


3 lap terakhir, pertarungan semakin sengit. Karena jarak antara motor 1, 2, dan 3 Begitu dekat. Tidak seperti biasanya, motor pertama memiliki jarak yang cukup jauh. Namun balapan kali ini, ke -3 motor itu saling berebut posisi, sehingga membuat para penonton dan team merasa sangat tegang. Kadang mereka menahan nafas.


" Ayo mas, kamu pasti bisa!" Mira terus mengoceh sendiri dengan menyebut nama Rayyan dengan panggilan mas, membuat ibu geleng-geleng dan Andre melirik sadis terhadapnya, namun Mira tak peduli, dia tetap memantapkan pandangannya pada sang kekasih yang bertarung dengan gagahnya di atas kuda besi berwarna biru bercorak kuning fluorescent light, atau kuning menyala dibagian nomor motor.


Detik-detik terakhir atau last lap, Mira semakin menegang, karena saat ini Rayyan berada di depan baby alien, dengan jarak waktu hanya sekitar 5 detik.


Ke-2 motor itu meninggalkan satu motor yang tadinya berada di urutan pertama menjadi ke-3, karena mengalami insident kecil.


Hingga detik-detik terakhir menuju garis finish, gerakan laju motor berubah menjadi slow, membuat detak jantung para penonton seakan ikut berdetak melambat, dan......


3


2


1


" Yes!"


Mira berdiri, melonjak kegirangan menyaksikan RA menjadi juara pertama kali ini. Ia bahkan menitikkan air mata, menyekanya berkali-kali, dan tanpa sadar mengucapkan kalimat yang membuat ibu dan Andre melongo.


" LOVE YOU MAS RAYYAN!" teriaknya.


" Ibu, anakmu benar-benar sudah gila." Andre menggeleng-geleng, kemudian meraup kulit bawang dan mengguyurkannya di atas kepala Mira.


" ANDREEEEE!!!!"