
Keesokan harinya, Gea sudah diperbolahkan pulang ke rumah, dan menjalani rawat jalan.
Pagi-pagi mereka sudah tiba di rumah yang langsung disambut girang oleh si Geby yang harus ditinggal di rumah bersama mbak Sri dan Gadis. Mereka menginap disana atas permintaan bu Rita.
Sedangkan Mira tak ikut pulang menghantar Gea, tetapi langsung pulang ke Lampung, karena besok adalah hari bahagia ibunya. Tentu dia harus melihat dan menyaksikan acara sakral itu.
Dihantar kembali oleh Dony yang membawa motor, karena Mira tak mau naik pesawat. Bayang-bayang saat mabuk kemarin, masih melekat. Jadi dia lebih memilih jalur darat.
Lain lagi dengan keluarga Sigit yang berencana akan menyambangi rumah nenek, kini mereka sudah sampai di jalanan depan rumah nenek, yang ramai dengan warga yang datang ke rumah bu Santi untuk merewang.
" Kok ramai, ada apa ya pak?" Tanya bu Reni.
Tentu yang ditanya juga bingung, karena dia juga tidak tahu akan ada acara apa.
Sigit diam saja, hanya ikut berhenti di depan jalan masuk mengikuti orang tuanya yang berdiri disana.
" Permisi mbakyu, ada acara apa ya ini, kok ramai-ramai?" Bu Reni bertanya pada seorang ibu yang ternyata bu Retno.
" Besok mau ada acara kawinan."
Pak Purwadi dan bu Reni saling pandang, jelas mereka bingung siapa yang akan menikah di rumah itu.
" Apa Mira yang mau menikah mbak Retno?" Tanya pak Purwadi.
" Kenapa saya tidak diberi tahu, saya kan bapaknya." Sudah protes saja si bapak, padahal bu Retno belum menjawab.
" Bukan mas Pur, yang menikah itu mbak Santi." jelas bu Retno.
" Santi? Menikah?" Pak Purwadi merasa kaget, tapi demi menjaga perasaan istrinya, dia langsung bersikap biasa saja. Sedangkan Sigit bingung dengan sebuah nama yang tadi disebutkan oleh bapaknya.
" Iya mas Pur, mbak Santi sama pak Subagio. Mari, saya antar." Bu Retno menjadi penunjuk jalan untuk keluarga Sigit masuk ke dalam rumah yang halamannya sudah terpasang tenda dengan dekorasi yang sedang dikerjakan oleh pihak WO.
Bu Retno mencari bu Santi setelah mempersilahkan tamunya duduk di rumah samping.
" Mbak Santi, ada tamu."
Bu Santi yang sedang menyusun souvenir di dalam kardus mendongak melihat bu Retno yang berdiri di pintu.
" Siapa mbak Retno?"
Bu Retno mendekat, membisikkan nama tamu pada bu Santi agar tidak terdengar oleh perewang yang lain.
" Ada di rumah samping mereka mbak Santi."
" Trima kasih mbak Retno, tolong dibantu menyelesaikan ini. Sama minta tolong buatkan minum ya untuk tamu saya."
Bu Retno mengangguk, sedangkan bu Santi bergegas menemui tamu yang ternyata adalah mantan suami dan keluarganya.
" Santi." Pak Purwadi beranjak berdiri melihat bu Santi datang.
" Selamat atas pernikahannya mbakyu." Bu Reni memberi selamat dengan menyalami mantan rivalnya.
Mereka bergantian bersalaman, walaupun setelahnya mereka canggung karena bingung akan berbicara apa.
Bu Retno datang membawa minum sekaligus cemilan untuk disuguhkan.
" Silahkan diminum." Bu Santi mempersilahkan tamunya.
" Kok mendadak kesini, apa ada perlu sama anak-anak mas Pur?" Tanya bu Santi.
" Kalau ada, aku panggilakan dulu, tapi cuma Andre yang di rumah, kalau Mira masih di jalan. Anak bosnya sakit, jadi kemarin dia diminta untuk datang kesana."
" Mira?" Sigit bergumam, tapi masih bisa di dengar oleh semua yang ada disana.
" Mira itu adik kamu dari pernikahan bapak sama bu Santi." Jelas pak Purwadi, sedang Bu Reni hanya terdiam.
" Kok namanya mirip sama teman Sigit ya bu?" ucap Sigit.
" Nama aja yang mirip, orangnya belum tentu." Jawab bu Reni, mencoba untuk menutupi, sedang matanya menatap pada suaminya yang menunduk.
" Apa ini anakmu mas?" Tanya bu Santi pada pak Purwadi, yang diangguki oleh pak Purwadi.
Mirip sekali dengan Mira, mudah-mudahan Mira jangan pulang dulu.
Bu Santi mengamati Sigit dengan kawatir. Perasaannya tentu berkecamuk tak karuan. Dia merasakan ketakutan yang sekian lama dipendamnya. Namun ia mencoba untuk tenang.
" Aku panggilakan Andre dulu."
Bu Santi pergi mencari Andre, sebenarnya ia ingin menghindar untuk menenangkan perasaannya. Dia begitu tak tenang melihat kedatangan mantan suaminya yang tak biasanya, apalagi ada bu Reni dan tentu Sigit yang ia sendiri tahu bahwa Sigit adalah kembaran Mira.
" Bukannya mas Pur sudah janji untuk merahasiakan kebenaran ini, tapi mengapa sekarang dia datang bersama mbak Reni dan Sigit, apa dia mau membongkar semuanya?"
" Ya Allah, kuatkanlah hambaMu." Bu Santi meremas-remas jari-jemarinya sambil berlalu lalang di dalam ruang tamu.
" Ada apa bu?" Andre yang datang menanyakan mengapa dia dicari.
" Bapak?!" Andre terkejut mendengar nama bapaknya. Dia ingin berbalik, bermaksud pergi namun ibunya menahan tubuhnya.
" Kamu mau kemana?" Sergah bu Santi.
" Andre malas menemui dia. Semenjak dia pergi meninggalkan kita, Andre sudah mengikhlaskan bu. Dia sudah tidak ada untuk Andre." Ucapnya dengan penuh penekanan. Emosi yang tertutup dari perkataannya yang tidak keras, namun cukup mengisyaratkan bahwa hati seorang anak ini telah terluka.
" Setidaknya temui bapakmu, dia datang jauh-jauh untuk bertemu denganmu." Ibu mengelus pundak anaknya yang kian menjulang.
" Sejauh-jauhnya jarak, hubungan keluarga itu tak mengenal jarak ibu. 7 tahun pergi tanpa ingat kembali. Apa selama itu dia ingat kita?" Protes Andre.
" Ibu paham maksudmu, tetapi cobalah jangan menjadi sepertinya. Jadilah dirimu dibawah asuhan ibumu."
Andre terdiam mendengar ucapan ibunya yang bernada lembut itu. Ucapan yang mengandung kebenaran. Disaat benci, tetapi mengikuti sifat manusia yang dibenci, tiada bedanya kita dengan mereka. Terkadang ingin berpijak pada kebaikan, namun rasa sakit membuat dinding untuk berbuat baik semakin tinggi. Ada kalanya memang butuh pribadi yang selalu memberikan dorongan positif agar tetap berada di jalur yang positif juga. Namun kembali lagi pada siapa kita, apakah akan tetap berada pada lingkaran dendam, atau pada keihlasan menerima bahwa segala sesuatu bisa terjadi, walaupun kita sulit untuk menerimanya.
" Jika kamu anak ibu, temui bapakmu."
Ibu keluar lebih dulu, kembali pada keluarga yang menunggunya di rumah samping. Melihat ibunya, tentu dengan tatapan tulus ibunya, Andre mau tak mau keluar juga menyusul ibunya.
Pandangannya terpaku pada bapak yang langsung berdiri menyambutnya dengan rentangan tangan, namun Andre hanya terpaku di ambang pintu.
" Sini nak." Bapak berjalan mendekat, namun saat akan sampai, Andre mundur. Tak membiarkan tubuhnya tersentuh oleh tangan bapaknya.
" Bapak duduk saja."
Andre menerjang tubuh bapaknya, melewatinya begitu saja dan langsung duduk di samping ibunya.
Tangan bapak seketika turun, dan dengan langkah gontai duduk kembali di tempatnya.
" Beri salam untuk mereka Ndre!" Pinta ibu.
Hanya dari tempat duduknya Andre mengangguk ke arah Sigit dan ibunya.
" Lakukan dengan benar."
" Ibu, beri Andre waktu." Tatapan mata Andre pada ibunya, cukup untuk membuat ibunya terdiam mendengar permintaan Andre, walaupun dia juga tak membenarkan sifat anaknya itu.
" Dia adalah adikmu Sigit, dan satu lagi masih belum pulang." Ucap pak Purwadi.
" Maafkan bapak yang tidak mengenalkan kalian sedari dulu. Ada banyak hal yang tidak bisa bapak lakukan, selain menutupi kebenaran bahwa kalian memiliki saudara lain."
" Bapak memang melakukan banyak kebohongan pada kalian, dan sekarang bapak hanya ingin kalian tahu kebenarannya. Bapak tidak ingin lagi ada kesalahan."
Ibu Santi terkejut mendengar ucapan terakhir mantan suaminya.
Apa Mas Pur mau membongkar semuanya. Ya Allah, bagaimana ini. Untung Mira tidak di rumah.
Bu Santi cemas dalam diamnya. Tangannya meremas kuat jarinya yang bertautan. Sedang pak Purwadi sendiri masih terus berbicara dengan Andre dan Sigit.
" Maksud bapak kesini, memang ingin kalian tahu bahwa kalian mempunyai saudara lain selama ini. Sigit, ini Andre adikmu, dan Andre dia abangmu Sigit. Sayangnya satu diantara kalian tidak ada disini."
Pak Purwadi menatap pada bu Santi, dan bu Santi menggeleng. Memohon untuk tidak mengatakan apapun menyangkut anaknya Mira. Sayangnya, memang itulah tujuan kedatangan pak Purwadi dan bu Reni. Ingin memberitahukan dan menjelaskan sejelas-jelasnya hubungan antara anak-anak mereka, mengingat Sigit telah salah jatuh cinta pada adiknya sendiri.
Sigit yang sebelumnya sudah tahu bahwa dia memiliki adik dari pernikahan bapaknya dengan orang lain selain ibunya tak terkejut, begitu pula dengan Andre. Namun pertanyaan yang muncul dari tadi hanyalah satu nama yang berkali-kali disebut oleh orang tua dan ibunya Mira, yaitu 'Mira'.
" Apakah dia akan pulang hari ini Santi?" Tanya pak Purwadi.
Bu Santi tentu bingung. Bagaimana jika Mira tahu bahwa dirinya bukanlah ibu kandungnya, dan bagaimana dia harus menjelaskan pada Mira bahwa dia tak bermaksud membohongi putrinya itu.
Ketenangan yang selama ini ia rasakan, ternyata terusik juga. Dia tak pernah membayangkan bagaimana dia harus kehilangan Mira seandainya semua terbongkar.
Tepat saat itu, sebuah motor dengan deru asing, berhenti di depan rumah Mira. Semua orang tentu diam mendengar suara motor itu. Hanya saling pandang, mengingat belum ada orang di desa mereka yang memiliki motor dengan suara khas motor lintasan.
Namun, semua pertanyaan terjawab ketika seorang gadis dan pemuda yang menghantarkannnya masuk ke rumah samping setelah bertemu bu Retno yang memberitahunya bahwa keluarganya ada disana.
" Assalamualaikum."
" Waalaikum Salam."
Serentak semua yang ada menjawab salam dari gadis itu, bahkan mata seseorang tak berkedip, manatap lekat tak percaya pada sosok berjaket dan membawa helem yang ia tahu adalah milik adik bosnya, karena nama yang tertera jelas disana, yaitu RAYYAN AQUINO. Dan ia begitu shock, mengetahui bahwa ayahnya mengenalkan sosok itu sebagai adiknya.
" Sigit, dia Mira adik kandungmu."
Dunianya seakan berhenti, atap rumah itu seolah runtuh, ketika dia mendengar bahwa sosok yang selama ini dicarinya, dan dicintainya ternyata adalah adiknya, dan apa kata bapaknya barusan? DIA ADIK KANDUNGMU?!
*Kebohongan itu menorehkan luka terdalam disini, di dalam hati ini bapak!
Dan aku berharap, kau berbohong lagi mengatakan bahwa dia adalah adikku. Jika berharap pada kebohongan itu baik, maka sekarang aku lebih memilih bahwa kau berbohong, ya.... Berbohong bahwa dia bukanlah adikku!
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹*
Selamat malam, maaf mengecewakan kalian 😢😢