I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Dongeng Sebelum Tidur



" Kapan-kapan ke Jogja, ajak istri sama anak ya Ray." Alex melepas pelukan gentle ala laki-laki, saling menepuk bahu, kemudian melepas satu sama lain.


" Ntar kalau anak-anak sudah bisa jalan." Ucap Rayyan.


" Ok, kami pamit. Sampai jumpa lagi ya."


" Mr. Johan, tante, mbak Mira kami pamit." Alex bergantian menyalami satu-satu, diikuti Xandra dan kedua anaknya.


" Salam untuk Mathew ya sama keluarga." Ucap Alex.


" Ok, nanti disampaikan."


Seseorang berlari keluar langsung menuju pada Liam yang berada di belakang bundanya.


" Ndak au amit nyama aku? ( Gak mau pamit sama aku?)" Gaby mengulurkan tangan, tetapi Liam malah bersembunyi di balik tubuh bundanya.


" Ndaaaa...." Rengeknya lagi, apalagi kini Geby memutari bundanya, hingga dia harus ikut memutar untuk menghindarinya.


" Geby!" Bu Rita keluar.


" Mama... Hehehe. Aku yuma au alaman ama oyang anteng ma ( Aku cuma mau salaman sama orang ganteng ma)." Geby meringis memperlihatkan gigi kecil-kecilnya.


" Dia itu takut sama kamu! Sini mama temenin biar temennya gak takut."


" Maaf ya, Geby suka gini kalau bertemu dengan anak laki-laki." Ucap bu Rita pada orang tua Liam sambil tertawa sungkan.


" Namanya anak-anak bu. Ayo Liam, kasih tangannya biar cepet selesai." Xandra mencoba melepas tangan yang melingkar di pinggangnya, tetapi Liam tetap tak mau lepas, malah semakin kencang.


" Gak mau bunda, dia nakal."


" Tapi dia udah sama mamanya, nanti kalau nakal kan mamanya bisa jagain dia." Bisik Xandra pelan pada Liam.


" Mau pulang gak Lee, buruan!" Suara ayah yang khas baru membuat Liam perlahan melepas tangannya, tapi tak mau melihat ke Geby.


Geby dengan sumringah langsung menggenggam tangan Liam yang terulur dengan erat, tapi Liam dengan kuat menghentakkan tangannya ketika mulut Geby hampir menyentuh kulit tangannya, perasaan jijiknya yang membuatnya harus melakukan itu, hingga Gaby terjatuh terjerembab hingga menangis.


" Mamaaaaa.... Huaaa!"


" Lee!" Xandra seketika memarahinya, dan Alexi ikut menangis. Jadilah tangisan Alexi dan Geby bersahutan.


" Maaf bu Rita, maaf."


" Kalau begitu kami langsung pamit saja. Mari." Alex membawa Alexi yang masih menangis, dan Liam di gandeng Xandra agar terhindar dari Geby yang meraung ingin mengejarnya.


Bu Rita dengan sigap membawa masuk si biang kerok. Tak mempan akhirnya papa Nathan turun tangan.


" Nakal! Tidur sama bebek!" Seketika Geby langsung terdiam, karena dia memang takut dengan bebek.


" Bubar." Rayyan mengaggandeng istri masuk ke kamar, tapi bukan Mira yang di dapat melainkan bi Ijah. Lalu kemana Mira?


🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹


Rayyan mencari Mira yang ternyata sedang berada di kamar baby twins, sedang rebahan di ranjang bersama kedua anaknya.


" Kamu disini yank?" Rayyan lega akhirnya bertemu sang istri. Dia ikut mendekat, tiduran di samping baby Azzura, jadi kedua baby itu diapit oleh kedua orang tuanya.


Tak ada sahutan, Rayyan mengangkat kembali kepalanya, melihat keadaan Mira yang ternyata terpejam. Padahal baby Azzura masih melek, apakah anaknya itu terbangun? Sedangkan baby Azzam terlelap juga.


" Sama papa ya, ditinggal tidur mama ya hem?"


Bayi itu hanya melihatnya sambil memainkan lidahnya dan air liurnya, matanya yang bulat seperti milik Mira berkedip-kedip ketika matanya menangkap cahaya lampu yang menyilaukan.


" Belum ngantuk?" Rayyan membawa baby Azzura berdiri, menganyun-ayunkan di dalam dekapannya, tetapi bayi itu malah bermain menepuk-nepuk pipinya.


Sudah pukul 12 malam, Mira membuka mata, melihat sosok menjulang tinggi tengah menggendong putrinya, dia mengerjap untuk menghilangkan rasa berat dimatanya.


" Dia bangun ya mas?" Mira beranjak, menghampiri Rayyan, melihat mata bening baby Azzura.


" Ini sudah malam sayang, kenapa belum tidur? Tadi kebangun apa ya? Perasaan tadi udah tidur semua." Mira mengingat, tapi Rayyan hanya mengangguk.


" Tadi mas masuk dia gak tidur." Jawabnya.


" Berarti dia kebangun. Sini sama mama." Mira meminta baby Azzura dan membawanya kembali ke ranjang, sambil duduk menyender, Mira memberikan ASI untuk baby Azzura. Rayyan membantu dengan menyusunkan bantal untuk Mira bersender.


" Ma kasih mas."


Benar saja, tak lama baby Azzura langsung terlelap.


" Tidur dia, kenapa tadi gak nangis kalau haus." Rayyan tersenyum melihat putrinya yang pulas dalam dekapan Mira.


" Minta tolong suster aja buat jagain mereka malam ini, kamu pasti capek banget yank seharian ini." Ucap Rayyan.


" Iya... Susu untuk mereka juga sudah ada di kulkas." Mira membaringkan tubuh baby Azzura di samping baby Azzam. Menutup kelambu sebelum memanggil pengasuh baby mereka. Sengaja mereka mempekerjakan 2 asisten, agar tidak terlalu repot.


" Istirahatlah." Rayyan tersenyum sambil mengelus punggung Mira.


Tapi bukannya istirahat ternyata mereka malah membahas masalah yang sempet dibongkar oleh Alex beberapa waktu lalu.


" Maksudnya?"


" Seperti yang dibilang oleh pak Alex." Ingat Mira.


" Masa-masa puber itu yank."


" Emang iya mas kayak gitu?" Mira mendongak hanya untuk melihat wajah Rayyan yang memeluknya.


" Cuma iseng yank, buat hiburan biar gak bosen."


" Bukannya hidup di asrama banyak temen mas, kok bosen?"


" Asrama semua laki-laki, sekolah juga semua laki-laki. Gak ada seni. Makanya waktu ada cewek yang lewat ya langsung godain aja. Rame-rame lho yank, gak sendiri. Alex juga, makanya dia bisa punya cewek."


" Emang mas enggak?"


" Tertarik doang, tapi pacaran masih mikir-mikir. Males bagi waktu yang cuma sedikit."


" Emang kegiatannya apa aja kok sampai waktunya cuma dikit?"


" Di asrama itu, semuanya udah di time yank, jadwalnya udah terinci dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, jadi sayang aja waktunya kalau cuma buat pacaran, mending buat latihan nge-track."


" Resmi apa liar tuh?"


" Ya namanya nge-track ya liarlah yank, makanya waktu papa tahu mas punya hobby begitu, papa kasih tantangan."


" Apa tantangannya?"


" Mau masukin mas kelas balap asal bisa juara umum 3 tahun berturut-turut."


" Mas bisa?"


" Enggak.... Hehehe." Rayyan terkekeh mengenang masa-masa sekolahnya dulu.


" Alex, dia yang selalu jadi juara umum. Kalau mas masuk 10 besar...."


" Lumayanlah mas 10 besar."


" Dari bawah tapi... Hehehe."


Mira tertipu, jadi kesal dia.


" Kirain beneran."


" Mas dulu bandel banget, gak pernah serius belajar. Selalu cari alasan biar bisa bolos. Makanya waktu SMA papa kirim mas ke Jogja. Tapi sampai Jogja juga sama aja. Kalau ada hari free, mas langsung kabur."


" Nakal banget ya berarti." Mira menyimpulkan.


" Yang penting happy. Begitu dulu motto hidup mas, tapi untungnya papa sadar kalau mas itu bukan orang yang bisa dikekang, makanya begitu lulus SMA, mas langsung masuk kelas balap."


" Mama waktu itu gak setuju, tapi begitu mas mulai debut dan bisa masuk ke kelas international, mama akhirnya dukung. Sampai mas berumur 30 tahun, mama mulai ribut."


" Ribut kenapa?"


" Ribut nyuruh mas nikah."


" Mas gak mau?"


" Belum mau, kan belum ketemu kamu."


" Kenapa gak cari yang lain, kan banyak model cantik, sexy, berprestasi."


" Bukan tipe mas yang begituan. Gak seneng yang udah bukan rahasia."


" Apalagi senengnya pakai baju dalem terus jalan sana sini, malah geli mas lihatnya."


" Tapi kalau aku yang pakai baju dalem kok usil." Protes Mira.


" Bedalah yank, malah mas seneng kalau kamu gak pake apa-apa, bisa langsung cuzzz..."


" Iih... Mas nih." Mira menyubit perut Rayyan, membuat Rayyan terkekeh sambil menggeliat.


" Lagi gak bisa lho."


" Ya kapan-kapan kan bisa. Bobo yuk, capek kan?"


" Banget." Mira membetulkan posisi kepalanya agar nyaman di pelukan Rayyan.


" Ya udah, bobo... Cup." Rayyan mengecup lembut puncak kepala Mira.


" Luv you mas."


" Luv you sayank."