
Ajeng menghela nafas. Kehidupannya kenapa serumit ini!
" Apa?"
Tanya Mathew yang sedang menepuk-nepuk baby Khansa di gendongannya.
" Enggak papa." Ajeng menggeleng.
" Sudah tidur belum dia?"
Mathew membalik badannya agar Ajeng bisa melihat wajah baby Khansa yang berada di atas bahunya.
" Bawa ke kamar sekalian."
Ajeng mendahului untuk menyiapkan tempat tidur untuk baby Khansa, dan Mathew mengikuti dari belakang.
" Kita perlu bicara." Ajak Mathew, Ajeng mengangguk.
Mereka keluar dari kamar, tanpa menutup pintu kamar agar mudah mengawasi baby Khansa yang sudah terlelap. Duduk di ruang tengah terpisah oleh meja, kini mereka berhadapan.
Suasana hening untuk cukup waktu yang lama, hingga Mathew memulai terlebih dahulu.
" Ada pikiran yang membebanimu?" Tanya Mathew.
" Entahlah, aku bingung!" Ajeng menggeleng lalu menyender ke belakang, memijat pelipisnya untuk meredakan kepalanya yang terasa berdenyut.
Mathew berpindah tempat, mengambil duduk di samping Ajeng.
" Apa keputusanmu untuk ikut denganku itu yang membuatmu ragu?"
" Aku seperti kehilangan arah mas, rumit sekali pikiranku saat ini." Keluh Ajeng.
" Bapak, begitu membenciku, tak peduli lagi padaku. Dan aku juga menjadi penyebab ibu dipersalahkan."
Mathew mengangguk paham, itu cukup berat untuk Ajeng. Keluarga seharusnya bisa menjadi tempat untuk berbagi, tempat pulang ketika tersesat, tapi kini pintu rumah tertutup disaat itu hanya satu-satunya yang ingin dituju.
" Kemarilah." Mathew menepuk pahanya agar Ajeng meletakkan kepalanya disana.
Sambil memijit lembut kepala Ajeng, mereka melanjutkan pembicaraan mereka.
" Maafkan aku, itu salahku."
Ajeng menggeleng " Jangan melulu menyalahkan diri sendiri mas, aku juga ikut andil. Seandainya malam itu aku tidak ikut temanku, mungkin ini tidak akan terjadi. Tapi nyatanya semua terjadi, dan kita bertemu, aku anggap itu sudah takdir untuk kita."
" Kamu tidak menyesal memilih hidup denganku?"
" Apa yang perlu disesali. Jika memang jalannya seperti ini, aku harus bagaimana? selain mengikuti."
" Walaupun kamu harus dihujat oleh orang-orang karena meninggalkan keyakinanmu untuk ikut denganku?"
" Sebelum ini aku bukan orang suci mas. Aku tak terlalu menjalani itu, hanya menganggapnya sebagai status di kartu identitas. Apa bedanya jika nanti aku bisa lebih baik setelah bersamamu." Ajeng menatap mata Mathew yang juga menatapnya.
" Hidup denganku itu berarti siap untuk menghadapi peliknya hidup Ajeng. Akan banyak persoalan juga bisa jadi bahaya yang mengancam dari mereka yang masih ingin aku menuruti keinginan mereka. Itu berarti kamu harus kuat, harus sanggup ketika masa itu tiba."
" Asal mas ada bersamaku, aku pasti bisa."
" Senyakin itu?"
" Hmmm... Kita belajar mas, jadikan keluarga sebagai kekuatan disaat kita terpuruk. Jangan menghindari yang seharusnya terjadi. Jangan mengulang kesalahan yang sama."
" Ingin minum teh, biar sakitnya berkurang?" Mathew mengelus lembut rambut Ajeng.
" Pijit aja, udah lumayan enggak sakit."
" Aku kadang iri dengan keluarga Rayyan." Mathew bergumam.
" Kenapa?" Sahut Ajeng.
" Mereka itu kaya, tetapi tidak melulu memikirkan harta. Tidak menjadikan anak sebagai aset, tetapi memberi kebebasan pada anak-anak. Tetapi justru disaat mereka diberi kebebasan, mereka malah menurut pada orang tuanya."
" Itu namanya mereka bertanggung jawab mas. Bertanggung jawab atas kebebasan yang diberikan oleh orang tuanya."
" Terus kenapa mas malah kabur dari keluarga mas?"
" Kalau hidupmu ditukar dengan harta, nilaimu disamakan dengan aset perusahaan, apakah kamu sanggup menjalaninya?"
" Tapi Yusril bisa."
" Dia hanya bermain dibelakang Ajeng."
" Maksudmu apa mas?"
" Dia hanya mempermainkan perusahaan papa, dan pernikahan yang dia jalani juga hanya permainan. Nanti kamu akan tahu sendiri."
" Bisa begitu?"
" Perempuan itu, yang sekarang menikah dengan Yusril, itu hanya memanfaatkan harta yang keluargaku berikan untuk foya-foya, bahkan dia tidak peduli dengan Yusril akan berbuat apa, yang penting di depan keluarga besar mereka terlihat baik-baik saja."
" Karena itu mas menolak dijodohkan?"
" Bagiku, pernikahan itu bukan permainan, sesuatu yang tidak bisa ditukar dengan apapun, dan hanya bisa terjadi sekali seumur hidup, terikat karena saling mencintai, bukan karena paksaan ataupun karena keadaan."
" Apa itu berarti mas...." Ajeng ragu ingin melanjutkan ucapan, karena dia sendiri tak cukup punya nyali untuk bertanya tentang perasaan Mathew.
" Apa?" Mathew menunggu melanjutkan ucapan Ajeng.
" Enggak, enggak jadi." Ajeng beranjak bangun. Dia jadi kikuk sekarang, karena tahu Mathew pasti menuntut kelanjutan kalimatnya.
" Apa? Aku kenapa?" Mathew menjadi bingung.
" Enggak. Maaf aku harus ke kamar, takut Khansa bangun."
Ajeng melangkah, tetapi tangannya sekarang berada di genggaman Mathew.
" Bilang dulu mau ngomong apa?" Mathew menarik Ajeng untuk duduk kembali.
Kenapa dia menatapku begitu? Bikin deg-dengan.
" Kamu mau tanya apa tadi, berarti aku kenapa?"
" Lihat sini!" Mathew menahan wajah Ajeng untuk menatapnya.
" Biar aku cari sendiri apa yang ingin kamu tanyakan." Mathew memeriksa mata Ajeng yang bergerak-gerak tak beraturan, menolak untuk menatap langsung mata Mathew.
" Lihat sini." Pinta Mathew sekali lagi.
Ajeng terpaku ketika mata Mathew mengunci pandangannya. Dia tak bisa berbicara, hanya debar jantungnya yang kian tak beraturan dan seluruh tubuhnya terasa panas.
" Kamu ingin bertanya apa hem."
" Aku lupa." Ajeng mengelak.
" Aku mencintaimu."
Ajeng hampir tersedak, mendengar Mathew mengucap dua kata yang ingin dia tanyakan tadi.
" Kamu ingin menyimpulkan ucapanku tadi kan?"
" Kesimpulanmu tidak salah Ajeng, aku hanya ingin menikah dengan cinta, bukan dengan paksaan."
" Jadi sekarang jika aku memutuskan untuk menikah denganmu, itu berarti aku mencintaimu."
" Bukan karena Khansa?" Tanya Ajeng.
" Khansa itu bukti dari cintaku." Jawab Mathew.
" Bohong! Dia ada karena ketidaksengajaan mas."
" Tapi tetap saja anak adalah buah cinta Ajeng. Aku mencintai Khansa sabagai anakku, dan sekarang aku mencintaimu sebagai ibu dari anakku."
Serrr... Ya Tuhan! Turunkan aku, jangan biarkan aku melambung. Sadarkan aku jika aku sedang berhayal, bangunkan aku jika sedang bermimpi!
Ajeng mencubit lengan Mathew.
" Aduh!" Mathew berteriak.
" Kenapa malah mencubit." Mathew mengusap kulit merahnya akibat ulah Ajeng.
" Aku kira aku bermimpi."
" Bermimpi bertemu orang ganteng!" Mathew menaik turunkan alisnya, menggoda Ajeng.
" Kepedean!" Ajeng bersungut.
" Modal hidup itu!" Ucap Mathew menimpali.
" Terserah mas lah!" Ajeng beranjak bangun lagi.
Mathew menarik lagi, kini Ajeng jatuh dipangkuannya. Membuat Ajeng terjingkat, tetapi Mathew langsung menguncinya dengan memeluk erat.
" Mas, lepas." Pinta Ajeng sambil menggeliat.
" Jawab dulu pertanyaanku."
" Apa?" Ajeng kini diam.
Mathew menatap mata Ajeng, kini mereka saling beradu pandang, saling mengunci.
" Apa?"
" Apakah kamu mencintaiku?"
Deg! Ajeng membisu.
" Apa kamu mencintaiku?" Ulang Mathew.
" Kita tidak akan menikah jika kita tidak memiliki perasaan yang sama Ajeng. Jawab aku!" Mathew menuntut.
" Apakah harus dikatakan?" Ajeng.
" Katakan!" Mathew.
" Tapi aku malu." Ajeng.
" Hanya ada aku." Mathew.
Diam, hening, sunyi, suara jangkrik jadi backsound.
Satu detik
Dua detik
Tiga detik
" Aku juga mencintaimu." Ajeng.
" Really?" Mathew.
" Yeah!" Ajeng.
Pelukan semakin erat, namun harus terganggu saat baby Khansa menangis. Secepat kilat Ajeng langsung melompat dari pangkuan Mathew, berlari menuju kamar, meninggalkan Mathew yang menggeleng-geleng gemas dengan tingkah Ajeng. Dia kemudian beranjak menyusul anak dan ibunya di kamar, menutup pintu setelah dia masuk, agar tak dilihat oleh cicak-cicak di dinding, diam-diam merayap... Ngintip dari celah, apa kira-kira yang mereka lalukan?! Hanya Tuhan dan mereka yang tahu!
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
Sampai jumpa di novel selanjutnya kisah Mathew dan Ajeng, kalau berkenan! Mungkin ada yang ilfill gara-gara Ajeng yang pindah keyakinan, tapi itulah pilihan hidupnya. Jadi yang kecewa dengan Ajeng, otornya mohon maaf ya 🤗✌
Part selanjutnya kita kembali lagi ke babang Rayyan dan Mira, cekidot!