
Percakapan yang membuat telinga Mira serasa gatal akhirnya berakhir dengan opa yang menerima panggilan. Opa langsung keluar kamar Rayyan dan tak kembali. Oma menyusul setelah mengatakan pamit mau ke toko.
" Apa toko sudah buka oma?" Tanya Mira mencegah oma melangkah.
" Emang pernah tutup?" Jawab oma dengan nada santainya.
" Mas Dony bilang selama oma pergi, toko tutup." Jelas Mira dengan nada heran.
" Kenapa harus tutup, yang pergi kan oma bukan karyawannya. Oma datang sama enggak gak ada pengaruhnya. Tari bisa handle semuanya."
" Hah! Jadi aku dibohongi?" Gumam Mira, tapi oma masih bisa mendengar dengan jelas, begitu juga Rayyan.
" Bukan bohong, tapi menipu." Ralat oma.
" Sama saja ma." timpal Rayyan.
" Yang nyuruh oma bohong siapa? Kamu kan?" Tuduh oma, padahal kenyataannya toko memang tutup dan baru buka hari ini.
" Kok aku?!" Rayyan tak terima disalahkan.
" Ya kamu. Sudah ya, oma mau berangkat." Pamit oma bersiap melenggang pergi begitu saja, meninggalkan Rayyan yang mendapat tatapan tajam dari Mira.
" Sumpah yank, mas gak nyuruh oma bohong." Rayyan mengangkat tangannya membentuk huruf V dengan jari telunjuk dan jari tengahnya, bahkan wajahnya sudah ketakutan.
Mira kesal, dia pergi meninggalkan Rayyan di kamar sendiri.
" Yank." Teriak Rayyan memanggil Mira yang tak menggubrisnya.
Tak lama Mira kembali sudah mengenakan pakaian rapi dan wajah berhias make up.
" Kamu mau kemana yank?"
" Ikut oma ke toko." Jawab Mira dengan suara datar.
Ia menggeser meja agar mendekat ke ranjang Rayyan, kira-kira bisa dijangkau oleh Rayyan tanpa bantuan orang lain.
Rayyan mengikuti Mira dengan gerakan mata, kemanapun Mira bergerak. Dia tahu Mira marah padanya karena ulang oma, makanya dia tak berani mengajak bicara, salah ngomong sedikit bisa fatal akibatnya.
Sudah selesai, minuman, cemilan dan obat semua sudah Mira siapkan di atas meja.
" Makan siang nanti bi Ijah yang nyiapin, sekalian kalau mau minta suapin sama bi Ijah. Aku berangkat dulu." Tanpa menghiraukan wajah Rayyan yang seperti tertekan, Mira melenggang pergi meninggalkan Rayyan di kamar sendiri.
" Yaaaannk." Teriak Rayyan lagi. Sebenarnya Mira mendengar, tapi karena hasutan oma Mira jadi kesal.
" Sudah siap?" Tanya oma yang menunggu Mira di bawah.
" Sudah oma."
" Ayo berangkat."
Rasain, emang enak dikerjain!
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
" Bik....." Rayyan memanggil bi Ijah yang sedang ada di halaman depan, jelas panggilannya tak terdengar di telinga bi Ijah, makin dongkol aja hati Rayyan.
" Kemana sih bi Ijah?!" Gerutu Rayyan.
" Apa iya aku harus telpon Dony?" pikirnya, tapi dia butuh. Mau tak mau ia menggapai ponselnya dan menghubungi Dony yang sedang apel pagi, jelas tak ada jawaban.
" Kemana sih Dony? Kenapa hari ini semua nyebelin!"
Rayyan menggulir mencari kontak yang mungkin bisa ia hubungi untuk ia mintai tolong memapahnya ke kamar mandi, panggilan alam yang sudah mendesak, membuat keringatnya keluar.
" Mathew? Dia kan lagi sakit juga."
" Tomy.... Ya, dia ajalah."
Rayyan menunggu beberapa saat setelah memilih nomor dokter Tomy untuk ia hubungi.
" Hallo." Suara dokter Tomy mulai terdengar.
" Tom, aku jatuh, gak ada orang di rumah." dustanya.
" Hah! Jatuh, kok bisa?"
" Kebelet, mau ke kamar mandi gak ada yang bantuin."
" Susternya kemana?"
" Dia bukan suster, dia pergi ke toko sama mama." Ketus nada ucapan Rayyan, mengingat kelakuan oma.
" Kasiiiiaaan." ejekan lagi yang dokter Tomy ucapkan membuat Rayyan makin geram.
" Rese lu! Buruan kesini."
" 30 menit." Sahut dokter Tomy.
" Ngompol gimana kalau kelamaan?"
" Ya kalau gak malu ngompol aja."
" Amit-amit, dah buruan, gak pake lama."
Rayyan langsung menekan tombol merah, kemudian melempar ke samping benda persegi yang baru saja ia gunakan.
Kesal tingkat dewa nih orang.... 😂
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
Sementara itu, oma memarkirkan mobil di depan bangunan dua tingkat yang bertuliskan Royal bakery.
" Kesini dulu ya, yuk turun." Ajak oma.
" Pesanan atas nama Rayyan Aquino." Tanya oma pada bagian kasir.
" Mari silahkan."
Karyawan itu mengantarkan oma ke ruangan khusus penyimpanan kue. Mira tentu mengekor di belakang oma.
" Sini." Tarik oma, menggandeng tangan Mira.
Mereka masuk ke ruangan yang beraroma khas wangi kue, dan suguhan pemandangan kue tart dengan berbagai ukuran dan hiasan yang menarik juga cantik menurut Mira kini terpampang.
" Yang ini." Karyawan tadi memperlihatkan kue dengan desain miniatur pembalap dengan nomor seperti milik Rayyan, bahkan warna dan bentuk motornya begitu mirip, yang membuat unik adalah lintasan sirkuit yang dibuat di atas sebagai hiasan.
" Good." Puji oma.
" Lilinnya mbak?"
" Angka berapa bu?"
" 36."
" Sebentar."
Karyawan tadi keluar dari ruangan itu.
" Oma kawatir, umur segitu dia belum menikah, dan kayaknya tidak ada tanda-tanda untuk kesana. Susahnya oma membujuk, tapi dia sama seperti sirkuit, keras dan berliku, berbelit-belit." Curhat oma, Mira hanya mendengarkan.
" Untung kamu datang kelewat waktu, harusnya kamu datang dari dulu, jadi dia gak ketuaan." Nada oma bersungut, menyasali sesuatu yang ingin membuat Mira tertawa, tapi hanya dalam hati.
Nemu mertua begini? Hadew 😑
Setelah mendapat semua, Mira dan oma kembali ke mobil.
" Memang kapan mas Rayyan ulang tahun oma?"
Oma terkejut mendengar pertanyaan Mira.
" Kamu enggak tahu kapan dia ulang tahun?"
Mira menggeleng dengan polosnya. Oma menepuk jidatnya.
Oh no! Kalau papa pasti udah murka kalau sampai mama lupa ulang tahunnya. Sabar ya Ray.... 😣
" Hari ini." Jawab oma kemudian.
" Oh... my.... God!"
Mira melemas di kursi yang ia duduki di dalam mobil, oma menggeleng lagi.
" Kita cari hadiah, udah 5 tahun oma gak kasih hadiah sama dia. Udah kayak anak yang terlupakan, karena seringnya dia pergi berbulan-bulan tanpa ingat pulang."
Oma memutar menjalankan kemudi mobil.
" Tapi dompet Mira ada di bengkel oma."
" Kamu gak perlu kasih hadiah buat dia, kasih cium aja dia udah seneng kayak menang balapan satu musim penuh." Celetuk oma.
Mira jangan ditanya, langsung malu, dan memerah. Bagaimana tidak, calon mertuanya mengatakan begitu dengan entengnya tanpa mengerti perasaan yang bersangkutan.
" Dia itu kayak papanya, jadi oma paham betul. Hadiah barang cuma disimpen, tapi kalau tindakan minta nambah."
" Hah!" Mira terkejut, langsung menatap oma dengan pandangan tak percaya.
" Laki-laki itu lebih suka sentuhan."
Mira membuang muka, malu dia dengan ucapan oma, karena dia sendiri belum punya bayang-bayang sampai sejauh itu.
Beruntung oma berbelok lagi ke sebuah gedung yang ia tahu itu resto.
Dengan di gandeng oma, mereka kini masuk ke dalam.
" Yen, jangan lupa buat nanti malam." oma menghampiri seorang wanita cantik yang keluar mengenakan celemek.
" Beres. Masuk dulu."
" Enggaklah, besok aja, mau jalan lagi."
" Oh ok, nanti aku kirim jam setengah 6 ya."
" Ya, kasih ke bi Ijah aja kalau aku belum pulang." Bu Yeni mengangguk, kemudian pandangannya beralih ke Mira.
" Siapa Sar?"
Oma tersenyum menengok ke Mira.
" Calonnya Rayyan." dengan bangga oma memperkenalkan Mira sebagai calonnya Rayyan. Entah harus senang atau malu, yang jelas Mira sedang merasakan keduanya.
" Disegerakan aja Sar, jangan lama-lama." Bu Yeni tak melepas pandangannya dari Mira yang tersenyum malu.
" Nunggu sembuh dululah Yen, gak lucu masa iya pertama, perempuan suruh di atas." Celetuk oma.
Oh... My.. God! Sumpah batal puasaku, padahal baru hari ini mulai, tapi harus batal gara-gara sepanjang hari harus tercemar telingaku.
" Yang sabar ya... Punya mertua kayak gini bisa bikin panjang umur lho.... Aduh siapa namanya?"
" Mira tante." sahut Mira.
" Iya Mira... Kamu harus terbiasa dengar begituan kalau masuk rumah keluarga Aquino, mereka itu gesrek semua." Bisik bu Yeni pelan saat oma sedang menerima panggilan.
Mira mengangguk, sambil tersenyum membenarkan.
Bukan hanya gesrek, tapi sableng, tambah somplak, apalagi ya..... 🤔🤔🤔🤔